Fenomena Baru Inflasi Global
Ketegangan antara AS dan China sudah terjadi sejak perang dagang pada masa Presiden Donald Trump. Perkembangan terbaru, eskalasi ketegangan ini tecermin dari istilah ”tech-war”, ”chip-war”, atau ”semi-conductor war” yang pada dasarnya adalah perebutan supremasi teknologi. Baru-baru ini China membatasi ekspor mineral langka germanium dan galium yang merupakan elemen penting dalam produksi semikonduktor. Sementara AS baru saja mengumumkan pembatasan bagi entitas AS untuk berinvestasi bidang hi-tech di China, termasuk di cip komputer, mikro-elektronik, teknologi informasi kuantum, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Dampak dari fragmentasi rantai pasokan dunia semakin kompleks sejak konflik Ukraina-Rusia pecah Februari 2022, yang terlihat dari inflasi biaya produksi sektor manufaktur global di angka 75 pada awal tahun 2022. Angkanya berangsur turun,tetapi sampai Maret 2023 masih di atas 50, yang berarti kenaikan biaya masih terjadi walaupun inflasinya makin melandai. Harga jual produk manufaktur juga naik sejak akhir 2021, mencapai puncaknya pada kisaran 63 dan 64 di awal 2022. Namun, kenaikan harga jual produk manufaktur lebih rendah dari kenaikan biaya produksinya. Disebabkan sisi permintaan tidak dapat mengakomodasi perubahan perilaku masyarakat pascapandemi. (Yoga)
Postingan Terkait
Eskalasi Konflik Amerika Serikat – Iran
KETIKA PERAK TAK LAGI SEKADAR LOGAM
Perdagangan AS-China
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Harga Energi Naik-Turun, Investor Perlu Cermat
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023