Tarif Trump Seret Ekonomi Merosot Tajam
Butuh waktu 100 tahun bagi Amerika Serikat (AS) untuk menurunkan tarif rata-ratanya dari 59% pada tahun 1930. Namun, hanya dalam waktu kurang dari 100 hari, Presiden Donald Trump kembali menaikkan tarif ke level tertinggi sejak Depresi Besar. Akibat, PDB riil AS menyusut 0,3% pada kuartal pertama 2025, menandai kontraksi ekonomi dan inflasi yang meningkat. Harga melonjak, rak-rak toko kosong, aktivitas di Pelabuhan Los Angeles anjlok 30%, dan sentimen konsumen merosot tajam. Pasar saham goyah, kepercayaan CEO menurun, dan usaha kecil serta menengah berada di ambang kehancuran. Namun bagi Trump berdampak pada 185 negara. China menghadapi tarif sebesar 245%, sementara negara lain dikenakan tarif antara 10% hingga 60%, menciptakan ketidakpastian yang meningkat. Tarif ini menargetkan ratusan miliar dolar impor, membahayakan penjualan afilaisi AS senilai US$ 8 triliun di luar negeri - mempengaruhi perusahaan besar seperti Apple, Tesla, Starlink, McDonald's, Nike, Ford, dan Intel-serta mengancam puluhan triliun dolar keuntungan korporasi AS yang terlibat dalam rantai pasok global. (Yetede)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023