;
Tags

Inflasi

( 547 )

Inflasi, Suku Bunga, & Indonesia

HR1 15 Nov 2022 Bisnis Indonesia

Sinyal yang ditunggu akhirnya datang juga. Amerika Serikat (AS) baru saja merilis data inflasi bulan Oktober. Dalam rilis tersebut, inflasi di AS tercatat sebesar 7,7% (year-on-year/YoY) atau lebih rendah dibandingkan dengan ekspektasi pasar. Di sisi lain, laju inflasi inti juga mulai melambat. Tingkat inflasi inti, atau inflasi di luar volatile foods dan energi, berada pada level 6,3%, turun dibanding bulan sebelumnya sebesar 6,6%. Ini menjadi sinyal positif bahwa inflasi di AS telah mulai meninggalkan puncaknya, dan perlahan melandai. Dalam beberapa waktu terakhir, AS sedang menghadapi situasi yang tak mudah. Laju inflasi berada pada level tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Harga-harga kebutuhan pokok, seperti bensin, listrik, dan bahan makanan melonjak tajam. Kondisi tersebut diperparah dengan kenaikan suku bunga oleh the Fed.Laju inflasi yang terus menanjak tinggi harus direspons dengan kenaikan suku bunga yang agresif. Bahkan, kebijakan saat ini dianggap sebagai salah satu kebijakan paling agresif dalam sejarah The Fed. Tak heran apabila dianggap agresif, mengingat sepanjang 2022 The Fed telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 375 bps. Yang terbaru, pada pertemuan bulan November ini, The Fed kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 bps ke level 3,75%—4,0%.

Sebagai negara dengan perekonomian paling berpengaruh di dunia, apa yang terjadi di AS tentu akan merambat ke negara lain, termasuk Indonesia. Sebagai contoh, ekspansi PMI manufaktur Indonesia mulai melambat seiring dengan melambatnya pesanan baru dari luar negeri dan menguatnya Dolar AS. Contoh lain juga terjadi di pasar keuangan. Sama dengan yang terjadi di banyak negara berkembang lainnya, telah terjadi aliran modal asing keluar di pasar Surat Berharga Negara (SBN) cukup deras, yaitu sebesar Rp176,29 triliun hingga pekan pertama bulan November. Derasnya aliran modal asing keluar tersebut berdampak pada pelemahan nilai tukar Rupiah yang menyentuh level Rp14.600an per dolar AS, atau melemah di kisaran 9% (YtD). Pelemahan rupiah tergolong masih moderat dan terkendali bila dibandingkan dengan banyak negara berkembang lainnya. Tetap saja ini harus diwaspadai karena dikhawatirkan dapat mendorong kenaikan inflasi, terutama yang berasal dari imported inflation akibat pelemahan nilai tukar. Meskipun inflasi masih terkendali dan lebih rendah dari perkiraan awal, Indonesia akan terus mewaspadai risiko tersebut dengan terus melakukan upaya stabilisasi nilai tukar.Dampak dari agresivitas kebijakan moneter The Fed memang tak bisa dihindari oleh negara mana pun. Beruntungnya, dampak yang ditimbulkan oleh agresifnya kebijakan moneter The Fed masih sangat manageable di Indonesia. Tidak hanya bermodal keberuntungan, resiliensi perekonomian Indonesia utamanya juga didukung oleh kredibilitas kebijakan ekonomi dan sektor keuangan, sehingga gelombang risiko yang datang mampu dimitigasi dengan baik.

Produk Berharga Murah Jadi Pilihan

KT3 15 Nov 2022 Kompas

Survei McKinsey pada Oktober 2022 menyebutkan, 63 % responden konsumen mengalihkan belanjanya ke merek lain yang harganya lebih murah. Terkait survei itu, anggota Dewan Penasihat Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia, Tutum Rahanta, Senin (14/11) mengatakan, perubahan pola belanja terjadi pada kelompok masyarakat menengah-bawah. Mereka lebih berhati-hati mengelola pengeluaran di tengah meningkatnya inflasi. (Yoga)

Inflasi Mereda, Investor Tetap Menunggu Powell Pivot

KT3 11 Nov 2022 Investor daily

Indeks harga konsumen (IHK) di AS tetap naik pada Oktober 2022, namun di bawah perkiraan kalangan ekonom. Data inflasi Oktober ini memberi indikasi bahwa walau masih menjadi ancaman bagi ekonomi AS, tekanan inflasi mulai mereda. Menurut rilis Biro Statistik Tenaga Kerja AS, Kamis, IHK di AS naik 0,4% pada Oktober 2022 dan 7,7% dibandingkan tahun lalu. Kalangan ekonom yang disurvei Dow Jones memprediksikan kenaikan masing -masing 0,6% dan 7,9%. Jika tidak memasukkan biaya makanan dan energi, inflasi inti di AS naik 0,3% pada Oktober dan 6,3% secara tahunan. Dibandingkan perkiraan masing-masing sebesar 0,5% dan 6,5%. Penurunan 2,4% harga kendaraan bekas juga membantu turunnya angka inflasi. Harga pakaian turun 0,7% dan layanan perawatan medis turun 0,6%. Pasar bereaksi tajam terhadap laporan tersebut. Indeks industrial Dow Jones naik lebih dari 800 poin.

Sedangkan imbal hasil Treasury turun tajam jatuh 0,22 poin persentase menjadi 4,41%. “Tren inflasi adalah perkembangan yang disambut baik, jadi itu berita bagus dalam hal laporan. Namun, investor masih mudah tertipu dan mereka masih tidak sabar menunggu poros Powell, dan saya tidak yakin itu akan datang dalam waktu dekat. Jadi saya pikir antusiasme pagi ini sedikit berlebihan,” kata Michael Arone, kepala strategi investasi di State Street Global Advisors, seperti dikutip CNBC. Powell pivot mengacu pada ekspektasi pasar bahwa Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell dan koleganya di The Fed akan segera memperlambat atau menghentikan laju agresif kenaikan suku bunga. Yang telah mereka terapkan untuk mencoba menurunkan inflasi. Bahkan dengan perlambatan tingkat inflasi itu, masih tetap jauh di atas target 2% Fed. (Yoga)


Waspada Melemah Setelah Kuartal Ketiga

KT3 08 Nov 2022 Tempo

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV 2022 diperkirakan tidak sebesar kuartal III. Pasalnya, inflasi tinggi dan melemahnya ekspor bakal terjadi pada trimester IV 2022. “Ancaman inflasi dan perlambatan ekspor akibat perlambatan ekonomi mitra dagang ada pada triwulan IV,” ujar ekonom dari Indonesia Development and Islamic Studies (Ideas), Askar Muhammad, kepada Tempo, kemarin, 7 November. Menurut Askar, dengan ancaman inflasi tinggi 6 % dan melemahnya ekspor, pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2022 diperkirakan sebesar 5,1-5,3 %, dengan proyeksi keseluruhan tahun sebesar 5,2-5,4 persen.

Kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia menembus angka 5,72 persen atau lebih tinggi dari ekspektasi pemerintah sebesar 5,5 persen. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar produk domestik bruto (PDB) dengan tumbuh 5,39 persen secara tahunan. Namun inflasi tinggi yang diperkirakan terjadi pada triwulan IV dikhawatirkan melemahkan daya beli masyarakat. (Yoga)


Bapanas Masifkan Upaya Pengendalian Inflasi Pamgan

KT3 07 Nov 2022 Investor daily

Badan Pangan Nasional/National Food Agency (Bapanas/NFA) terus meningkatkan extra effort pengendalian inflasi pangan untuk mempertahankan tren penurunan inflasi (deflasi) yang terjadi pada Oktober 2022. Upaya yang dilakukan di antaranya dengan terus melakukan operasi pasar dan  pemantauan ketat atas perkembangan stok dan harga pangan harian di tingkat produsen maupun konsumen. BPS melaporkan terjadinya penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 112,87 pada September 2022 menjadi 112,75 pada Oktober 2022 atau terjadi deflasi 0,11% secara bulanan (month-to-month/m-to-m) dengan kontribusi terbesar dari sektor pangan. Deflasi yang terjadi pada Oktober itu merupakan kabar baik, terlebih kondisi tersebut dipicu turunnya inflasi pangan sebesar 0,25% (m-to-m).

“Kami merespons dengan baik per[1]kembangan tersebut, ini menunjukkan keberhasilan kerja keras yang telah dilakukan seluruh stakeholder pangan dari pusat hingga daerah dalam menjaga stabilitas stok dan harga pangan, namun kita jangan sampai lengah,” ujar Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi. Dalam publikasi Bapanas, Minggu (06/11), Arief memastikan, Bapanas bersama seluruh kementerian/lembaga terkait, dinas urusan pangan di 34 provinsi dan 514 kabupaten/kota, serta seluruh stakeholder yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di berbagai daerah akan terus mendorong dan mengawal pelaksanaan extra effort pengendalian in[1]flasi pangan secara konsisten.  (Yoga)


Tim Kemendagri Terus Dorong Realisasi APBD dan Penanganan Inflasi Daerah di Kepri

KT3 06 Nov 2022 Tempo

Kemendagri terus melakukan monitoring evaluasi (monev), asistensi realisasi APBD, dan penganggaran penanganan inflasi daerah di Kepulauan Riau (Kepri). Salah satu upaya adalah turun langsung untuk melakukan Rapat Koordinasi (Rakor) dengan Pemkot Kota Tanjung Pinang dan Kabupaten Bintan pada 23 dan 24 Oktober 2022. Pada kedua pertemuan yang dilaksanakan secara terpisah tersebut, dijelaskan mengenai pentingnya realisasi APBD sejak awal tahun. Tujuannya, agar uang segera beredar di masyarakat, sehingga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah. Dirjen Bina Keuangan Daerah (Keuda) Kemendagri, Agus Fatoni menjelaskan pentingnya pemahaman peraturan perundang-undangan dan peningkatan kapasitas SDM dalam pengelolaan keuangan, termasuk dalam perencanaan, pelaksanaan program, dan kegiatan.

Serangkaian diskusi pun dilakukan dengan menggandeng Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kota Tanjung Pinang. Fatoni mengatakan, tujuan Kemendagri ke Provinsi Kepri untuk mendorong percepatan realisasi APBD, mendorong penanganan dan pengendalian inflasi, termasuk mendorong penggunaan produk dalam negeri. Fatoni mengatakan seharusnya tidak ada alasan pemerintah daerah (pemda) lambat merealisasikan anggaran. Karena lelang sudah dilaksanakan sebelum tahun anggaran. (Yoga)


Stok Pangan Melimpah Picu Deflasi Oktober 2022

KT3 03 Nov 2022 Investor daily

Deflasi 0,11% secara bulanan (month to month/mtm) pada Oktober 2022 dipicu penurunan harga produk hortikultura, karena stok melimpah. Adapun rambatan dampak kenaikan tarif BBM terus mengecil. “Melimpahnya stok pangan hortikultura mendorong penurunan harga, seperti pada aneka cabai, produk unggas, dan tomat. Di sisi lain, harga beras mengalami peningkatan dipengaruhi oleh kelangkaan pupuk dan pengaruh cuaca yang mengganggu produksi panen gadu,” ucap Kepala BKF Kemenkeu Febrio Nathan Kacaribu, Rabu (2/11). Pemerintah, kata dia, terus melakukan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi komoditas  pangan agar inflasi pangan tetap terkendali.

“Dana insentif daerah juga terbukti efektif mendorong daerah untuk lebih bekerja keras lagi dalam pengendalian inflasi di wilayahnya,” ucap Febrio. Dia mencatat, inflasi inti naik secara moderat, mencapai 3,3% secara tahunan (year on year/yoy), sedikit meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 3,2% (yoy), didorong oleh kenaikan inflasi beberapa kelompok pengeluaran, seperti perumahan, transportasi, pendidikan, dan jasa penyediaan makanan dan minuman/restoran. “Kenaikan inflasi inti mencerminkan peningkatan permintaan domestik secara keseluruhan, sejalan dengan membaiknya kondisi pandemi,” kata Febrio. Sementara itu, inflasi administered price bergerak stabil sebesar 13,3% (yoy), didorong oleh dampak lanjutan penyesuaian harga BBM di September 2022. (Yoga)



Mewaspadai Datangnya Inflasi Impor

KT3 02 Nov 2022 Tempo

Tingkat inflasi diprediksi masih akan melaju hingga akhir tahun. Meski pada Oktober inflasi tahunan turun ke 5,71 % dari 5,95 % di bulan sebelumnya, tingkat inflasi masih di luar ambang batas target inflasi BI di 4 %. Perwakilan senior IMF di Indonesia, James P. Walsh, mengatakan kondisi ini tak dapat dihindari. Sebab, banyak dipicu oleh faktor eksternal, yakni perekonomian global yang masih diliputi ketidakpastian. Belum lagi, penguatan indeks dolar AS membuat kurs rupiah terus melemah, sehingga berpotensi menimbulkan risiko baru dari sisi inflasi impor atau imported inflation. “Kondisi ini patut kita waspadai dan cermati, karena akan terjadi kenaikan harga barang dan jasa karena naiknya biaya produk-produk bahan baku impor,” ujarnya saat berkunjung ke kantor Tempo, kemarin.

Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan meski  inflasi melandai pada Oktober 2022, bukan berarti tren penurunan inflasi akan terus berlanjut. Terlebih, efek kenaikan harga BBM masih dirasakan pada sebagian besar komponen dan komoditas penyumbang inflasi utama, terutama bahan makanan, karena ongkos angkutan yang mengalami kenaikan. Tingkat inflasi di atas 5 % ini diprediksi akan terus bertahan hingga awal tahun depan, sehingga pemerintah harus terus mempersiapkan langkah antisipatif. Ihwal ancaman inflasi impor, menurut Bhima pemerintah perlu berkoordinasi dengan pelaku usaha, khususnya makanan dan minuman, tentang risiko lanjutan pelemahan kurs dan risiko gangguan rantai pasok terhadap stabilitas harga pangan di dalam negeri. “Mungkin bisa dicari substitusi lokalnya, atau mencari negara asal impor lainnya.” Ujar Bhima, (Yoga)


INFLASI DAERAH : OPERASI PASAR TETAP JADI ANDALAN

HR1 02 Nov 2022 Bisnis Indonesia

Operasi pasar masih dijadikan andalan pemda untuk mengendalikan laju inflasi hingga akhir tahun ini menyusul strategi pada satu bulan terakhir dinilai efektif untuk meredam gejolak harga. Pemerintah Provinsi Riau misalnya yang menggunakan strategi operasi pasar sembilan bahan pokok (sembako) murah untuk mengantisipasi lonjakan inflasi menjelang akhir tahun dan momen Natal serta Tahun Baru 2023. Gubernur Riau Syamsuar bakal memperbanyak operasi pasar murah, khususnya untuk komoditas beras. Saat ini, menurutnya, di provinsi Riau masih ada dua daerah yang menjadi fokus perhatian yakni Kota Dumai dan Kabupaten Indragiri Hulu, karena wilayah tersebut terjadi kenaikan harga beras dan minyak goreng. Dia menilai kondisi tersebut perlu segera dilakukan intervensi oleh pemerintah daerah kabupaten/kota melalui operasi pasar murah. Kendati, lanjutnya, secara umum naiknya harga beras terjadi di provinsi lainnya di Indonesia. Kepala BPS Riau Misfaruddin menjelaskan bahwa deflasi terjadi karena adanya penurunan harga pada satu indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 2,69%.Di sisi lain, sembilan kelompok mengalami inflasi a.l kelompok transportasi sebesar 0,51%, diikuti kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,46%.

ALARM SUKU BUNGA TINGGI

HR1 02 Nov 2022 Bisnis Indonesia (H)

Jamu fiskal dan moneter peredam kenaikan inflasi agaknya masih manjur sejauh ini. Buktinya, inflasi pada Oktober 2022 tercatat 5,71% (year-on-year/YoY), lebih rendah ketimbang September yang mencapai 5,95% (YoY). Menurut Badan Pusat Statisik (BPS), Selasa (1/11/2022), hal itu di antaranya dipicu oleh penurunan harga Pertamax sebesar 4,14% pada 1 Oktober 2022, pengendalian pasokan, subsidi transportasi, serta adanya operasi pasar. Namun, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) tak boleh buru-buru jemawa. Sebab, jika dilihat lebih jauh, maka inflasi inti pada Oktober 2022 justru menembus angka tertinggi sepanjang tahun ini, yakni 3,31% (YoY). Kenaikan inflasi inti memang menandakan adanya perbaikan daya beli masyarakat. Akan tetapi, dampak inflasi inti cenderung terjadi dalam jangka panjang. Alhasil, jika inflasi inti bergerak tak terkendali, maka berisiko kembali mendorong pengetatan kebijakan moneter salah satunya melalui penaikan suku bunga acuan. Musababnya, inflasi ini menjadi satu-satunya komponen indeks harga konsumen (IHK) yang dijadikan dasar oleh BI untuk mengutak-atik tingkat suku bunga acuan. “BI berkomitmen menurunkan ekspektasi inflasi yang saat ini terlalu tinggi dan memastikan inflasi inti kembali ke dalam sasaran 3% plus minus 1% lebih awal, yaitu paruh pertama 2023,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, Selasa (11/1).