Mewaspadai Datangnya Inflasi Impor
Tingkat inflasi diprediksi masih akan melaju hingga akhir tahun. Meski pada Oktober inflasi tahunan turun ke 5,71 % dari 5,95 % di bulan sebelumnya, tingkat inflasi masih di luar ambang batas target inflasi BI di 4 %. Perwakilan senior IMF di Indonesia, James P. Walsh, mengatakan kondisi ini tak dapat dihindari. Sebab, banyak dipicu oleh faktor eksternal, yakni perekonomian global yang masih diliputi ketidakpastian. Belum lagi, penguatan indeks dolar AS membuat kurs rupiah terus melemah, sehingga berpotensi menimbulkan risiko baru dari sisi inflasi impor atau imported inflation. “Kondisi ini patut kita waspadai dan cermati, karena akan terjadi kenaikan harga barang dan jasa karena naiknya biaya produk-produk bahan baku impor,” ujarnya saat berkunjung ke kantor Tempo, kemarin.
Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan meski inflasi melandai pada Oktober 2022, bukan berarti tren penurunan inflasi akan terus berlanjut. Terlebih, efek kenaikan harga BBM masih dirasakan pada sebagian besar komponen dan komoditas penyumbang inflasi utama, terutama bahan makanan, karena ongkos angkutan yang mengalami kenaikan. Tingkat inflasi di atas 5 % ini diprediksi akan terus bertahan hingga awal tahun depan, sehingga pemerintah harus terus mempersiapkan langkah antisipatif. Ihwal ancaman inflasi impor, menurut Bhima pemerintah perlu berkoordinasi dengan pelaku usaha, khususnya makanan dan minuman, tentang risiko lanjutan pelemahan kurs dan risiko gangguan rantai pasok terhadap stabilitas harga pangan di dalam negeri. “Mungkin bisa dicari substitusi lokalnya, atau mencari negara asal impor lainnya.” Ujar Bhima, (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023