Industri Manufaktur
( 226 )PMI MANUFAKTUR : Pelaku Usaha Makin Percaya Diri
S&P Global dalam keterangannya menyebut, PMI Manufaktur pada bulan lalu melanjutkan ekspansi yang sudah terjadi selama 20 bulan berturut-turut. Pekerjaan baru yang datang pun berhasil naik pada laju paling tajam selama 7 bulan terakhir. “Perbaikan kuat pada volume pesanan sebagian besar menggambarkan permintaan domestik yang kuat, karena penjualan ekspor turun pada April,” tulis S&P Global dalam risetnya, Selasa (2/5). Tim Moore, Economics Director S&P Global Market Intelligence, mengatakan sektor manufaktur terus mendapatkan momentum setelah awal yang kurang baik pada tahun ini. Kondisi bisnis yang membaik juga menggambarkan permintaan domestik yang menguat, serta berhasil mendorong kenaikan tercepat pada permintaan baru dan volume produksi selama 7 bulan. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, tren positif PMI Manufaktur dan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) mencerminkan optimisme pelaku industri dan investor di Indonesia dalam menjalankan usahanya. Dia membeberkan, hingga kini sektor industri di sebagian negara maju masih mengalami kontraksi, seperti Jerman yang PMI Manufakturnya ada di level 44,0, Prancis 45,5, Inggris 46,6, Korea Selatan 48,1, dan Jepang 49,5.
Kinerja Manufaktur Bakal Tertahan Libur Lebaran
Memasuki periode Ramadan dan jelang Lebaran tahun ini, kinerja industri manufaktur makin tancap gas. Namun demikian, tren tersebut diprediksi tidak berlangsung lama. Sebab, ekspansi kinerja manufaktur diperkirakan kembali menurun di bulan April 2023 sejalan dengan momen libur panjang Lebaran.
S&P Global mencatat,
Purchasing Manager's Index
(PMI) Manufaktur Indonesia pada Maret 2023 berada di level 51,9. Angka ini meningkat 0,7 poin jika dibandingkan pada bulan sebelumnya yang tercatat 51,2.
Tren PMI Manufaktur Indonesia itu melanjutkan perbaikan selama 19 bulan berturut-turut. Economics Associate Director S&P Global Market Intelligence, Jingyi Pan, mengatakan, PMI Manufaktur Indonesia bulan lalu menunjukkan bahwa sektor manufaktur terus membaik. Hal ini, ditopang kenaikan produksi yang didukung aktivitas pembelian yang kian membaik.
Tim Ahli Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir memperkirakan, kinerja manufaktur bakal naik di bulan April 2023. Ia melihat, ada peningkatan kebutuhan Lebaran sehingga industri manufaktur akan meningkatkan produksinya.
"Diperkirakan akan meningkat sampai dengan April ini untuk memenuhi kebutuhan Idul Fitri mulai minggu ketiga sampai dengan akhir bulan. Industri akan berproduksi hingga minggu kedua sebelum libur lebaran," ujar Iskandar kepada KONTAN, kemarin.
Persoalannya, panjangnya libur Lebaran pada April ini berdampak negatif terhadap kinerja manufaktur. "Kinerja manufaktur akan menurun di bulan ini karena ada lantaran libur panjang Lebaran," ujar Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi S.Lukman, kemarin.
Ifex 2023 Dihadiri Pembeli dari 115 Negara
Selama pergelaran Indonesia International Furniture Expo (Ifex) yang berlangsung pada 9-12 Maret 2023, tercatat hadir 12.000 pembeli dari 115 negara. Sepuluh negara dengan jumlah transaksi terbanyak ialah Australia, India, Amerika Serikat, Perancis, China, Belanda, Singapura, Jepang, Malaysia, dan Spanyol. Demikian disampaikan Presiden Direktur Dyandra Promosindo Daswar Marpaung, Minggu (12/3/2023). (Yoga)
PEREKONOMIAN DAERAH : MEMOMPA MANUFAKTUR JAWA TENGAH
Aktivitas manufaktur Jawa Tengah mengendur dalam beberapa tahun terakhir akibat hantaman pandemi Covid-19. Tak pelak, pasar tenaga kerja wilayah ini pun mengalami tekanan. Pemulihan pasar negara tujuan ekspor dan menjelang momen Ramadan serta Idulfi tri mendorong optimisme pelaku usaha di wilayah ini. Sektor usaha manufaktur mengambil porsi hingga 33,93% pada struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Jawa Tengah pada 2022.Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan porsi manufaktur Jawa Tengah pada distribusi PDRB atas dasar harga berlaku masih kuat. Sejak 2010, porsinya selalu lebih besar dari angka 30%. Bahkan, porsi manufaktur mencatat rekor tertingginya pada PDRB Jawa Tengah pada 2014 dengan capaian 35,67%.Kendati, mesin manufaktur memang sempat mengendur dalam beberapa tahun terakhir. Jika menggunakan data yang sama, terlihat tren penurunan dimulai sejak 2019. Hanya saja, kondisi tersebut dapat dipahami sebagai dampak dari pandemi Covid-19 yang menghantam dunia. Pada sektor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT), yang jadi unggulan Jawa Tengah, misalnya. Pelaku industri masih terpukul akibat pelemahan permintaan dari negara utama tujuan ekspor, seperti Amerika Serikat (AS) dan negara-negara di Eropa.
“TPT Jawa Tengah mayoritas adalah assembly yang tergantung pada order internasional. Di sisi lain, bahan bakunya sebagian besar impor. Jadi terkena tekanan dua kali. Dari demand internasional dan juga cost of production karena pelemahan rupiah,” jelas Wahyu Widodo, Ekonom Universitas Diponegoro (Undip) saat dihubungi Bisnis, belum lama ini. Wahyu memperkirakan, dalam waktu dekat manufaktur Jawa Tengah bisa kembali moncer. Indikator tersebut, terlihat dari kinerja perekonomian di negara utama tujuan ekspor, di AS misalnya. Ratna Kawuri, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah, mengungkapkan bahwa relokasi pabrik sudah mulai terjadi. Beberapa daerah yang jadi incaran adalah Kabupaten Klaten, Kabupaten Brebes, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Semarang, juga Kabupaten Purbalingga.Relokasi tersebut jadi momentum positif bagi investasi di daerah, khususnya Jawa Tengah.
KINERJA MANUFAKTUR : Berkah Lahan Industri dari EV
Maraknya investasi kendaraan listrik diperkirakan bakal terus mendongkrak penyerapan lahan industri pada tahun ini. Pelaku usaha kawasan industri pun memperkirakan upaya pengembangan ekosistem kendaraan listrik bakal melecut pertumbuhan serapan lahan industri hingga 10%.Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) Sanny Iskandar mengatakan bahwa peningkatan penyerapan lahan industri manufaktur pada 2023 diproyeksikan bisa mencapai 10%.“Perkiraan [kami bisa] naik sekitar 10%,” kata Sanny, dikutip Kamis (9/2).
Sanny menyebut, salah satu pemicu kenaikan penyerapan lahan industri manufaktur adalah makin masifnya pengembangan kendaraan listrik di Indonesia pada tahun ini.“EV [electric vehicle/kendaraan listrik] ini akan berpengaruh [pada penyerapan lahan industri manufaktur, termasuk yang pertumbuhan 10%,” tambah Sanny.Selain itu, pertumbuhan industri manufaktur juga berperan dalam penambahan penyerapan lahan industri.
PELEMAHAN PERMINTAAN MANUFAKTUR : Industri Padat Karya Tertahan Ekonomi Global
Adi Mahfudz, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Ketenagakerjaan, mengatakan, lesunya ekonomi global masih akan menekan industri padat karya dan modal di Indonesia. Alasannya, permintaan dari sejumlah negara maju, seperti Amerika Serikat (AS) dan beberapa negara di Eropa terkoreksi akibat lesunya ekonomi. Dia pun memproyeksi tekanan terhadap industri padat karya di dalam negeri belum akan berkurang hingga pertumbuhan negara tujuan ekspor tersebut pulih dan stabil. Salah satu industri yang terdampak penurunan permintaan dari AS dan negara-negara Eropa adalah furnitur. Selama ini, AS menyerap 51% produk furnitur yang diekspor Indonesia, sedangkan negara-negara Eropa membeli 40%. Adapun, 10% sisanya dilepas ke negara-negara di Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Australia.
Industri Manufaktur Makin Ekspansif
Kinerja industri manufaktur diperkirakan bakal menggeliat kuat pada triwulan pertama tahun ini. Selain musim panen pertanian dan perkebunan, pertumbuhan industri manufaktur juga ditopang adanya bulan Ramadhan yang akan meningkatkan permintaan masyarakat. Berdasarkan Prompt Manufacturing Index (PMI) yang dirilis BI, kinerja industri manufaktur atau pengolahan pada triwulan I-2023 berada di level 53,3 %, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya, di 50,06 %. Indeks di atas 50 % menunjukkan sinyal ekspansi dunia usaha, sedangkan angka dibawah 50 % menunjukkan kontraksi. Dalam keterangannya akhir pekan lalu, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono menjelaskan, seluruh subsektor industri pengolahan diperkirakan berada pada fase ekspansi, dengan indeks tertinggi terjadi pada subsektor tekstil, barang kulit, dan alas kaki.
Perkiraan ekspansi dunia usaha juga tertuang dalam Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dirilis BI. Peningkatan kegiatan usaha diperkirakan terjadi pada sektor primer dan sekunder, antara lain sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan sejalan dengan masuknya musim panen yang dimulai pada Maret 2023. ”Sementara itu, peningkatan sektor pertambangan dan penggalian, serta sektor industry pengolahan sejalan dengan mulai meningkatnya permintaan yang didukung kapasitas penyimpanan dan ketersediaan sarana produksi,” ujar Erwin. Wakil Ketua Kadin Indonesia Shinta Kamdani juga memperkirakan kinerja dunia usaha pada triwulan pertama tahun ini lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. (Yoga)
EKSPANSI MANUFAKTUR BERLANJUT
Saat perekonomian dunia dalam ancaman resesi, sektor manufaktur Indonesia diyakini mampu melanjutkan ekspansi pada 2023 meskipun sejumlah afirmasi kebijakan diperlukan untuk memastikan mesin produksi semakin menderu. Proyeksi ekspansi sektor manufaktur tahun ini terungkap dari hasil survei terbaru Bank Indonesia. Optimisme sektor manufaktur juga terungkap dalam Indeks Keyakinan Industri (IKI) akhir 2022, serta diperkuat oleh laporan indeks SP Global IHS Markit. Bank Indonesia memproyeksikan kinerja sektor industri pengolahan akan semakin meningkat pada triwulan I/2023. Hal ini tecermin dari Prompt Manufacturing Index (PMI) BI kuartal I/2023 yang diperkirakan mencapai 53,30%, lebih tinggi dari 50,06% pada kuartal IV/2022. Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Erwin Haryono menyampaikan seluruh subsektor industri pengolahan diperkirakan berada pada fase ekspansi dengan indeks tertinggi pada subsektor tekstil, barang kulit, dan alas kaki. “Subsektor lain yang tercatat meningkat adalah subsektor barang kayu dan hasil hutan lainnya, pupuk, kimia, dan barang dari karet, serta logam dasar besi dan baja,” katanya, Jumat (13/1/2023). Di sisi industri, kalangan pabrikan secara umum optimistis dalam memandang situasi dan kondisi pada 6 bulan pertama tahun ini, setelah pada periode tahun lalu sektor industri pengolahan mencatatkan performa ekspansi.
KEGIATAN INDUSTRI NASIONAL : TANTANGAN MENGADANG MANUFAKTUR
Sektor manufaktur Tanah Air menghadapi beragam tantangan di tengah pelemahan permintaan dan bayang-bayang resesi yang membuat kepercayaan diri pelaku usaha sedikit menurun dalam menyongsong 2023.
Pelemahan permintaan yang berlangsung terus-menerus memerlukan lebih banyak campur tangan pemerintah untuk memastikan sektor manufaktur dalam negeri terus berada di zona ekspansif. Muhammad Faisal, Direktur Eksekutif Center of Reform Economics, mengatakan bahwa sektor manufaktur akan berhadapan dengan sejumlah persoalan yang harus segera diselesaikan, seperti peningkatan biaya produksi karena inflasi yang bakal diteruskan ke konsumen. Selain itu, kenaikan harga sejumlah bahan baku karena gangguan rantai pasok, kepastian suplai listrik, dan kenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM juga masih akan memengaruhi kinerja manufaktur ke depannya. Tidak kalah menantang, perlambatan permintaan di hilir, khususnya pada industri yang berorientasi ekspor juga menjadi salah satu persoalan yang harus segera dicarikan jalan keluarnya. Apalagi, terbukti pelemahan permintaan dari pasar utama produk tekstil dan alas kaki langsung menghantam sektor tersebut.
PMI Manufaktur Indonesia tidak jauh berbeda dengan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang baru saja diluncurkan Kementerian Perindustrian. IKI November 2022 tercatat ada pada level 50,89 dan tetap pada jalur ekspansi.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan bahwa pemerintah bakal lebih proaktif melindungi industri di dalam negeri. Apabila IKI menunjukkan level ekspansif, maka pemerintah akan mempertahankan iklim usaha dan kebijakan yang efektif, sehingga industri dan subsektornya bisa mengakselerasi level ekspansinya.
industri Manufaktur Tumbuh 4,83% pada Kuartal III-2922
Industri pengolahan nonmigas mencatat pertumbuhan 4,83% pada kuartal III-2022, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu di 4,12%. Hal tersebut menandakan aktivitas sektor manufaktur di tanah air masih bergeliat di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu. “Alhamdulillah, pertumbuhan industri manufaktur pada kuartal III-2022 juga lebih baik dibandingkan periode sebelumnya pada kuartal II-2022 yang mencapai 4,33%,” kata Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Selasa (8/11). Menperin memberikan apresiasi kepada para pelaku industri di Indonesia yang masih bergairah di tengah lesunya perekonomian global. Kemenperin bertekad untuk terus berupaya menciptakan iklim usaha yang kondusif melalui pelaksanaan berbagai program dan kebijakan strategis. Merujuk data BPS, industri pengolahan nonmigas menjadi sektor yang konsisten dalam memberikan kontribusi paling besar terhadap PDB nasional. Pada Kuartal III-2022, sumbangsih sektor manufaktur mencapai 16,10%, naik dibanding kuartal II-2022 di angka 16,01%.
“Dengan adanya andil besar dari sektor industri manufaktur, ekonomi kita terus tumbuh positif, yang pada kuartal III-2002 mencapai 5,72%, lebih tinggi daripada kuartal sebelumnya 5,45%. Bahkan, naik signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu sekitar 3,51%. Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang kuat dibanding negara-negara lain,” ungkap Menperin. Adapun beberapa sektor industri yang mencatatkan kinerja pertumbuhan yang gemilang pada kuartal III-2022, antara lain industri logam dasar yang tumbuh sebesar 20,16%. Capaian ini didorong peningkatan produksi besi dan baja serta naiknya permintaan dari luar negeri. Selanjutnya, industri mesin dan perlengkapan yang tumbuh sebesar 17,67%, disusul industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik (12,56%), serta industri alat angkutan (10,26%). (Yoga)
Pilihan Editor
-
Paradoks Ekonomi Biru
09 Aug 2022 -
ANCAMAN KRISIS : RI Pacu Diversifikasi Pangan
10 Aug 2022









