;
Tags

Industri Manufaktur

( 226 )

Deindustrialisasi Dini dan Ancaman Jabatan Kelas Menengah

KT1 21 May 2025 Investor Daily (H)

Akhir-akhir ini perhatian kita begitu terpecah pada bebagai isu yang memang menarik untuk diperbincangkan, yakni kebijakan tarif Donald Trump, premanisme,  tindak pidana korupsi yang terus bertambah, pembentukan berbagai dewan dan task force untuk menangani isu-isu itu, pengelolaan makan bergizi gratis (MBG), ijazah, dan gelar akademik, harapan di pundak Danantara, pemaknaan pertemuan tokoh-tokoh politik negeri, dan lain-lain. Ketika Indonesia memasuki era baru kepemimpinan nasional pasca-Pemilu 2024, maka satu isu krusial yang kerap luput dari sorotan publik  adalah fenomena deindustrialisasi dini, yakni merosotnya kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB sebelum negara  mencapai tingkat pendapatan tinggi.

Fenomena ini bukan sekedar gejala ekonomi biasa, melainkan sinyal kuat dan nyata bahwa Indonesia terancam terjebak dalam middle income trap, yakni suatu kondisi di mana pertumbuhan ekonomi stagnan di tingkat menengah karena gagal mengembangkan basis industri dan inovasi. Menurut data BPS, kontribusi sektor industri manufaktur terhadap PDB Indonesia terus menurun dalam dua dekade terakhir. Pada tahun 2001,sektor manufaktur menyumbang sekitar 29% dari PDB. Namun, pada tahun 2023, angka tersebut merosot menjadi sekitar 18,3%. (Yetede)

Tekanan dalam Penyaluran Kredit Industri Manufaktur

KT3 19 May 2025 Kompas

Di tengah tantangan ekonomi domestik dan global, penyaluran kredit terhadap industri manufaktur diperkirakan mengalami tekanan. Namun, industri penopang perekonomian nasional dan penyerap tenaga kerja ini membutuhkan dukungan pembiayaan. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, Minggu (18/5) mengatakan, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) sebagai sektor manufaktur padat karya tengah mengalami tekanan berat yang memengaruhi kelayakan penyaluran kredit perbankan. Dalam jangka pendek hingga menengah, Josua memperkirakan, prospek penyaluran kredit ke sektor TPT akan bersifat selektif dan konservatif.

Ini mempertimbangkan daya saing industri, kondisi keuangan perusahaan, serta risiko struktural dan kebijakan eksternal. ”Industri TPT mengalami pelemahan struktural dan siklikal sekaligus, mulai dari penurunan produktivitas, ketergantungan pada tenaga kerja tidak terampil, hingga tekanan likuiditas dan beban utang tinggi,” katanya. Di sisi lain, bank mengantisipasi risiko kredit dan gagal bayar akibat tingginya utang (leverage) dan tekanan likuiditas yang dialami perusahaan tekstil. Ada pula risiko regulasi Permendag No 8 Tahun 2024 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor yang justru mengakibatkan pasar dalam negeri dibanjiri produk impor sehingga memperlemah daya saing industri domestik.

Selain itu, risiko eksternal berupa volatilitas harga bahan baku global, pelemahan rupiah, dan rencana tarif resiprokal AS turut menambah ketidakpastian terhadap daya saing dan keberlanjutan ekspor. Menurut Josua, kepercayaan bank terhadap kemampuan industri TPT dalam memenuhi kewajiban finansial jangka panjang sejalan dengan pailitnya PT Sri Rejeki Isman (Sritex). Bank cenderung hanya  menyalurkan kredit ke perusahaan TPT yang memiliki rekam jejak kuat, struktur permodalan sehat, serta strategi bisnis ekspor-impor yang terdiversifikasi. (Yoga)


Panasonic, Mengumukan Rencana PHK Terhadap 10.000 Karyawan Global

KT1 13 May 2025 Investor Daily (H)
Raksasa elektronik asal jepang, Panasonic, mengumukan rencana PHK terhadap 10.000 karyawan global. Menanggapi itu, Juru Bicara Kementerian perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arief menerangkan, bahwa PHK tersebut tidak terjadi di Indonesia. "PHK yang terjadi di Panasonic Holsings tidak berdampak pada operasi Panasonic di Indonesia. Pabrik di Indonesia justru menjadi basis ekspor ke lebih dari 80 negara yang mencerminkan daya saing industri elektronik nasional yang sangat kuat," ujar dia. Febri mengakui bahwa utilitass industri elektronik saat ini sedang berada pada level yang rendah, yakni 50,64% pada kuartal 1-2025. Sedangkan, sebelum masa pandemi Covid-19, utilitas  sektor ini mencapai 75,6%. Kondisi ini menjadi pengingat bagi seluruh pelaku industri dan para karyawan untuk terus beradaptasi dan melakukan transformasi agar tetap kompeititif. "Persaingan global di sektor elektronok semakin ketat. Ini adalah peringatan bahwa transformasi teknologi, peningkatan produktivitas, dan efisiensi operasional adalah kunci untuk bertahan hidup," ucap dia. Lebih lanjut, Febri menegaskan, Indonesia memiliki keunggulan besar sebagai pasar domestik yang kuat. Pasar dalam negeri Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di kawasan, dan pemerintah mendukung penuh penguatan industri melalui kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri. (Yetede)

Kinerja Manufaktur Lunglai setelah Lebaran

KT1 05 May 2025 Investor Daily
Setelah mencatatkan laju positif selama 4 bulan berturut-turut, kinerja manufaktur justru lunglai pada April. Hal ini terlihat dari merosotnya Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur  Indonesia pada April 2025, yang berada di level 46,7 atau berada di fase kontraksi (di bawah poin 50), sesuai hasil laporan S&P Global. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menerangkan, kontraksi kinerja manufaktur secara tidak langsung dikontribusikan oleh kebijakan tarif AS dan dampaknya terhadap nilai tukar.  "Ini menyebabkan cost push inflation di sisi impor bahan baku/penolong sektor manufaktur, dan menurunkan confidence konsumsi di pasar global yang mempengaruhi demand ekspor Indonesia," terang Shinta kepada Investor Daily. Dia menambahkan, terjadinya koreksi dan normalisasi dalam hal ini penurunan demand pasar domestik pasca periode Ramadhan-Lebaran juga memberikan pengaruh yang besar. "Apalagi inflasi di Maret hanya 1,03% (yoy) atau di bawah target inflasi nasional," kata Sintha. Keseluruhan faktor ini menyebabkan rendahnya confidence di sisi pelaku usaha sektor manufaktur untuk melakukan ekpansi kerja. "Selain beban produksi yang meningkat, demand di pasar dalam dan luar negeri juga terjadi sluggish," imbuh dia. (Yetede)

Kinerja Manufaktur Lunglai setelah Lebaran

KT1 05 May 2025 Investor Daily
Setelah mencatatkan laju positif selama 4 bulan berturut-turut, kinerja manufaktur justru lunglai pada April. Hal ini terlihat dari merosotnya Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur  Indonesia pada April 2025, yang berada di level 46,7 atau berada di fase kontraksi (di bawah poin 50), sesuai hasil laporan S&P Global. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menerangkan, kontraksi kinerja manufaktur secara tidak langsung dikontribusikan oleh kebijakan tarif AS dan dampaknya terhadap nilai tukar.  "Ini menyebabkan cost push inflation di sisi impor bahan baku/penolong sektor manufaktur, dan menurunkan confidence konsumsi di pasar global yang mempengaruhi demand ekspor Indonesia," terang Shinta kepada Investor Daily. Dia menambahkan, terjadinya koreksi dan normalisasi dalam hal ini penurunan demand pasar domestik pasca periode Ramadhan-Lebaran juga memberikan pengaruh yang besar. "Apalagi inflasi di Maret hanya 1,03% (yoy) atau di bawah target inflasi nasional," kata Sintha. Keseluruhan faktor ini menyebabkan rendahnya confidence di sisi pelaku usaha sektor manufaktur untuk melakukan ekpansi kerja. "Selain beban produksi yang meningkat, demand di pasar dalam dan luar negeri juga terjadi sluggish," imbuh dia. (Yetede)

Melemahnya Industri Manufaktur

KT3 03 May 2025 Kompas (H)

Industri manufaktur dalam negeri tengah menghadapi tekanan berat akibat meningkatnya ketidakpastian di pasar global, tercermin dari melemahnya Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia dan menurunnya Indeks Kepercayaan Industri. Survei PMI Manufaktur merupakan survei persepsi terhadap pelaku industri yang menunjukkan tingkat keyakinan (optimistis atau pesimistis) menjalankan usahanya saat ini. Para pelaku usaha mendesak pemerintah untuk memberikan pelindungan lebih bagi industri nasional dari gempuran produk impor. PMI Manufaktur Indonesia pada April 2025 turun ke level 46,7, yang berarti berada dalam fase kontraksi karena berada di bawah ambang batas 50, berdasarkan laporan S&P Global. Padahal, pada Maret 2025, PMI masih berada di zona ekspansif dengan nilai 52,4.

”Penurunan sangat signifikan hingga 5,7 poin dibanding Maret lalu. Ini sekaligus menandakan bahwa optimisme atau kepercayaan diri dari para pelaku industri manufaktur di dalam negeri semakin menurun di tengah situasi ketidakpastian saat ini,” kata Jubir Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, Jumat (2/5). Sejumlah pelaku industri manufaktur di Indonesia masih menunggu kepastian dari hasil negosiasi perwakilan Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah AS. Sebab, dengan adanya kepastian hukum melalui kebijakan dari pemerintah, pelaku industri akan dapat percaya diri untuk menjalankan usahanya sehingga tidak dalam kondisi menunggu dan melihat situasi (wait and see). (Yoga)


Mendorong Industri Maritim Agar Melaju Lebih Kencang

KT1 29 Apr 2025 Investor Daily
Industri maritim merupakan lokomotif yang akan membawa ekonomi Indonesia melaju lebih kencang. Untuk itu, diperlukan investasi asing untuk mendorong kemadirian industri. Direktur pemasaran PT PAL Indonesia (Persero) Wiyono Komodjojo menjelaskan, salah satu gol utama perusahaan adalah membangun industri perkapalan dalam negeri, yang selama ini masih sangat bergantung pada impor. Dia menerangkan, dengan semangat kemandirian industri perkapalan dalam negeri, yang selama ini masih sangat bergantung pada impor. Dia menerangkan, dengan semangat kemandirian inovasi, PT PAL mendorong seluruh mitra dan pemangku kepentingan untuk memberikan kontribusi aktif didalam mewujudkan industri maritim yang maju, mandiri, dan kompetitif. "Sehingga timbul manufaktur atau pabrik mesin di dalam negeri dengan engine, gearbox, propulsion system, generator, kemudian pompa, pipa, fitting, valve dan itu yang selama ini kita impor bisa diproduksi di dalam negeri," kata Wiyono. Untuk menumbuhkan industri maritim dibutuhkan investasi yang tidak sedikit. Dia mengungkapkan, industri perkapalan memiliki nilai yang cukup besar. Satu mesin saja harganya cukup besar. Satu mesin saja harganya dapat mencapai US$ 25 juta atau sekitar Rp412,47 miliar (kurs Rp16.858,60). (Yetede)

Batalnya Investasi LG di Indonesia

KT3 23 Apr 2025 Kompas

Perusahaan asal Korsel, LG Energy Solution atau LGES, dilaporkan menarik investasi senilai ratusan triliun rupiah untuk proyek rantai pasok baterai kendaraan listrik di Indonesia. Cabutnya LG dinilai menjadi kerugian bagi proyek hilirisasi nikel Tanah Air. Pemerintah diminta menjelaskan secara terbuka duduk masalah yang sebenarnya terjadi di balik kegagalan investasi penting itu. Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, Senin (21/4) mengatakan, pihaknya saat ini masih mempelajari duduk perkara di balik penarikan investasi LG. ”Saya belum mengetahui  persis sudah sampai sejauh mana penarikan investasinya. Saya akan cek dulu, berhubung ini koordinasinya di Kementerian Investasi/BKPM,” ujar Yuliot. 

Mengutip berita dari kantor berita Yonhap, media asal Korsel, yang ditayangkan Jumat (18/4) konsorsium Korsel yang dipimpin LG memutuskan menarik proyek senilai sekitar 11 triliun won atau 7,7 miliar USD itu. Nilai itu setara Rp 129 triliun. Konsorsium itu meliputi LG Energy Solution, LG Chem, LX International Corp, dan mitra lainnya, yang selama ini telah bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia dan perusahaan milik negara untuk membangun rantai pasokan baterai kendaraan listrik (EV) di Indonesia.

Kerja sama itu dijalin lantaran Indonesia merupakan produsen nikel terbesar di dunia. Nikel adalah bahan utama pembuatan baterai EV. Salah satu alasan penarikan proyek itu adalah pergeseran dalam lanskap industri atau yang disebut ”jurang EV” atau EV chasm alias perlambatan sementara atau puncak permintaan kendaraan listrik global. Kendaraan listrik hingga kini baru mampu menarik perhatian segelintir orang.  ”Mempertimbangkan kondisi pasar dan lingkungan investasi, kami telah memutuskan untuk keluar dari proyek tersebut,” kata seorang pejabat dari LG Energy Solution. (Yoga)


Negosiasi Tarif Bak Pertaruhan Besar Industri Padat Karya

KT1 16 Apr 2025 Investor Daily (H)
Negosiasi tarif bea masuk (BM) Indonesia dengan  AS bak menjadi pertaruhan besar industri padat karya yang menggantungkan ekspor ke Paman Sam, seperti tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, dan furnitur. Negosiasi ini akan menentukan nasib tiga sektor yan kini berada di ujung tanduk tersebut. Jika negosiasi berhasil, ketika sektor itu bisa kembali bernafas. Sebaliknya, jika gagal, penurunan ekspor, produksi, utilitas, hingga PHK massal sulit dihindari. Sebagai ilustrasi, ekspor TPT dalam bentuk aparel dan pakaian (HS 61,62) ke AS tahun 2024 sangat besar, mencapai US$ 4,6 miliar, mencapai 15,5% dari total ekspor produk ke AS, dan 55,4% terhadap total ekspor tektil secara keseluruhan. Jika tarif BM produk manufaktur ini dikerek menjadi 32% dari tadinya 10%, ekspor TPT ke AS bisa turun hingga 50% menjadi tinggal US$ 2,3 miliar. Utilitas TPT yang kini hanya 45% bisa tergerus lagi, yang bisa memicu tambahan PHK di sektor TPT mencapai 250 ribu. Tahun ini, jumlahnya dipastikan bertambah, seiring pailitnya Grup Sritex, yang total karyawannya diestimasi berkisar 60-80 ribu. Sementara itu, ekspor alas kaki ke AS (HS 64) mencapai US$ 2,4 miliar pada 2024, 9,1% dari ekspor ke negara itu, dan 33,8% terhadap total ekspor produk. Adapun ketergantungan ekspor furnitur ke AS lebih tinggi. Pada 2024,  ekspor furnitur ke Paman Sam mencapai US$ 1,4 miliar, setara 59% dari total pengapalan produk ini. (Yetede)

Jangan Lumpuhkan TKDN

KT1 11 Apr 2025 Investor Daily H

Pemerintah berencana akan memberikan kelonggaran Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Rencana tersebut dapat memicu kaburnya investasi industri elektronik ke luar negeri. Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel) Daniel Suhardiman mengatakan, kebijakan TKDN dibuat dalam rangka untuk meningkatkan investasi produk industri di Indonesia. "Jadi inilah yang kami sarankan kepada pemerintah untuk tidak terjadi pelonggaran," kata dia. Pemberlakuan TKDN terbukti meningkatkan demand produk manufaktur yang diproduksi di dalam negeri. Daniel menerangkan, implementasi TKDN telah memberikan jaminan kepastian investasi juga kepada investor untuk mau berinvestasi di Indonesia.

"Dan yang tidak kalah pentingnya adalah sudah cukup banyaknya industri yang produknya dibeli setiap tahun melalui kebijakan TKDN ini," ucap dia. Daniel mengimbau agar kebijakan TKDN harus diperkuat untuk menjaga daya saing industri dalam negeri. Apalagi sudah banyak produsen elektronik yang sudah memiliki kemampuan untuk memproduksi lokal. Dia khawatir kalau TKDN dilonggarkan, maka negara atau sektor komoditas lain juga akan minta pelonggaran. "TKDN jangan sampai dilemahkan gitu. Justru harusnya diperkuat TKDN ini. Dan kalau mereka (AS) minta ada kelonggaran untuk handphone, komputer genggam, dan tablet (HKT) ya ini tolong dibahas secara terpisah, di luar elektronika rumah tangga," kata Daniel.