Industri Manufaktur
( 226 )EKSPANSI SEMU MANUFAKTUR
Kinerja manufaktur nasional kembali kinclong, jika merujuk pada Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia periode Maret 2024, lansiran S&P Global. PMI tercatat ekspansif dengan angka indeks 54,2 atau tertinggi sejak Oktober 2021. Capaian moncer itu disokong oleh peningkatan pesanan yang diterima perusahaan, khususnya dari pasar domestik yang belakangan menjadi penopang manufaktur nasional. Kinerja PMI Manufaktur Indonesia tergolong baik dibandingkan dengan negara Asia lainnya, seperti Korea Selatan yang turun menjadi 49,8 dari 50,7 pada Februari, dan Jepang yang masih terkontraksi meski mampu naik menjadi 48,2 dari 47,2. Kemudian juga Taiwan yang manufakturnya masih dalam zona kontraksi meski mampu tumbuh menjadi 49,3 dari 48,6, serta China yang naik tipis menjadi 51,1 dari 50,9 pada Februari. Kendati demikian, capaian positif itu dibayangi fakta bahwa sebagian pelaku industri masih bergulat dengan berbagai tekanan yang mengimpit usaha mereka.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, performa manufaktur dalam negeri bisa lebih bergeliat apabila pemerintah konsisten memberikan dukungan kepada pelaku industri, seperti dengan kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) untuk seluruh sektor industri. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, HGBT sangat berkorelasi positif dengan kinerja industri di dalam negeri. Kenaikan pajak dari industri pengguna HGBT sepanjang tahun lalu pun mencapai 32% dibandingkan dengan 2019. Dampak positif lainnya, selama 2020 hingga 2023 adalah peningkatan ekspor sebesar Rp84,98 triliun, peningkatan penerimaan pajak Rp27,81 triliun, peningkatan investasi Rp31,06 triliun, dan penurunan subsidi pupuk mencapai Rp13,3 triliun.
Perihal kinerja PMI yang kinclong di tengah berbagai tekanan yang dialami pelaku usaha manufaktur, Kementerian Perindustrian menjelaskan bahwa PMI Manufaktur dan Indeks Kepercayaan Industri yang dirilis oleh pemerintah memang hanya menggambarkan kondisi industri secara makro. “Perusahaan industri yang menjadi responden surveinya banyak, dan sebagian besar mereka optimistis, dan sedang mengalami ekspansi, sehingga banyak yang merekrut tenaga kerja,” kata Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif. Jika ditengok, penutupan fasilitas produksi atau pabrik, khususnya di sektor tekstil dan produk tekstil atau TPT, alas kaki, dan olahan karet masih terjadi di tengah tren ekspansi manufaktur yang sudah terjadi dalam 31 bulan terakhir. Pemulihan aktivitas yang belum merata diklaim menjadi salah satu penyebab masih ada pabrik yang tutup di tengah tingginya optimisme pelaku industri.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani mengatakan, mayoritas manufaktur yang terpaksa menutup fasilitas produksi adalah perusahaan dengan orientasi ekspor atau telah mengalami koreksi permintaan secara besar-besaran pascapandemi.
Senada, Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakrie mengatakan, penutupan pabrik sepatu di dalam negeri terjadi karena pelaku usaha masih terjerat dampak pelemahan ekonomi dan pandemi Covid-19.
Adapun, Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengatakan, industri hulu dan intermediateindustri TPT masih memerlukan waktu untuk pulih, meski pemerintah telah mengeluarkan kebijakan larangan terbatas impor.
Sementara itu, Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan, ekspansi manufaktur di Indonesia masih terbatas pada subsektor tertentu, seperti industri makanan dan minuman (mamin) akibat peningkatan permintaan pada Ramadan dan Idulfi tri.
Deindustrialisasi Dini
Ekonomi Indonesia pernah mengalami industrialisasi pada masa
Orde Baru yang diawali dengan pembangunan berencana 1970-an. Sejak 1996, Indonesia
sudah tergolong negara berkembang yang berhasil menjalankan industrialisasi
meski masih tahap awal. Peranan sektor industri yang tinggi itu bahkan masih bertahan
setelah Indonesia mengalami krisis moneter 1997/1998. Peranan sektor industri
meningkat sampai 29,6 % PDB pada 2001 karena sektor tersier dan primer melambat
lebih besar. Pasca-2001, peranan sektor industri terus menurun. Deindustrialisasi dini yang terjadi di Indonesia
mirip beberapa negara Amerika Latin. Di Brasil, peranan sektor industri
terhadap PDB mencapai puncaknya sebesar 34 % tahun 1984, kemudian menurun tajam
hanya 11 % pada 2022.
Deindustrialisasi dini, termasuk yang terjadi di Indonesia,
disebabkan beberapa faktor pokok, antara lain, pertama, fenomena Dutch disease,
dimana industrialisasi negara yang kaya SDA terhambat karena naiknya harga
komoditas di pasar global, mengakibatkan perdagangan komoditas primer jauh
lebih menguntungkan daripada membangun industri. Pembangunan ekonomi yang
sebelumnya mulai bertumpu pada industri beralih kembali ke sektor primer. Kedua,
meningkatnya persaingan global di bidang manufaktur. Sejak awal dekade 1990-an,
persaingan produk manufaktur dunia meningkat dengan pesatnya pembangunan
industri di China. Industri manufaktur China yang awalnya mengandalkan biaya
murah jadi pesaing berat produk manufaktur global. Ketiga, tidak adanya
strategi pengembangan industri yang terarah.
Dari perkembangan manufaktur global dan Indonesia, pemerintah
mendatang perlu mengembalikan sektor industri sebagai penggerak utama ekonomi. Tak
ada jalan lebih cepat dari industrialisasi untuk jadi negara pendapatan tinggi
dan maju. Dua langkah pokok perlu diambil. Pertama, revitalisasi industri secara
konkret dan berspektrum luas (broad based). Kedua, pengembangan industri berbasis
SDA. Hilirisasi yang dijalankan perlu dikembangkan lebih lanjut. Tidak hanya
berhenti pada barang antara, tetapi juga pada barang akhir yang bernilai tinggi
agar nilai tambah yang dihasilkan dapat dimanfaatkan oleh nasional. Di sini
penguasaan teknologi menjadi tantangan besar. Dengan posisi tawar berupa
penguasaan SDA yang kuat, transfer teknologi bisa diwujudkan dengan baik. (Yoga)
Vietnam Pacu Ekonomi Baru
Vietnam, tengah melangkah lebih maju. Mereka mulai memasuki
penggerak ekonomi baru, yaitu basis teknologi digital. Vietnam punya ambisi
besar: mencetak 50.000 insinyur elektronika, untuk menjadikan Vietnam salah satu
produsen semikonduktor global. Generasi Z jadi tumpuan ambisi tersebut.
Industri semikonduktor menjadi salah satu fokus aras baru kemitraan Vietnam
dengan AS. AS akan membantu Vietnam mengembangkan ekosistem industri, infrastruktur,
dan keterampilan pekerja semikonduktor, dengan investasi 2 juta USD untuk
pelatihan perakitan, pengujian, dan pengemasan semikonduktor (Kompas.id,
19/3/2024). Vietnam menyadari bahwa mereka harus mulai melepas penggerak
ekonomi lama, seperti produksi pakaian, sepatu, dan perabot murah.
Karena itu, mereka melangkah ke depan dengan ekonomi yang
lebih memberi nilai tambah. Semikonduktor menjadi inti dari ekonomi digital
karena produk ini menjadi komponen penting dalam pemrosesan komputer. Vietnam
menyadari fungsi penting ini, apalagi di tengah pasokan semikonduktor yang
kadang bermasalah, sehingga mereka ingin memastikan ekosistem digital bisa lengkap
di negara itu mulai dari hulu hingga hilir. Vietnam telah lama menyiapkan mulai
dari bekerja sama dengan produsen semikonduktor, menjadi tempat atau bagian dari
rantai pasok semikonduktor, hingga mengirim anak-anak muda untuk studi di luar
negeri yang mulai kembali ke Vietnam.
Vietnam, mengembangkan ekonomi baru yang menjadi tumpuan pada masa depan. Karena itu, mereka memprioritaskan generasi Z untuk mendukung ekonomi ini. Melihat secara keseluruhan, Vietnam benar-benar telah menyiapkan ekonomi masa depan. Kita mungkin bisa belajar dari cara-cara mereka mulai dari berpartner dengan perusahaan yang sudah memiliki keahlian dan kemudian membangun SDM. Beberapa cara sudah ditempuh oleh Indonesia, tetapi sepertinya kita masih perlu belajar dalam banyak hal, termasuk kultur mereka yang ulet dan keberanian mereka untuk memasuki sumber-sumber ekonomi baru. Ekonomi ke depan lebih mengandalkan otak. (Yoga)
Ekspor Manufaktur Triwulan I-2024 Diperkirakan Turun
Sejalan dengan tren melemahnya permintaan global, performa
ekspor industri pengolahan nasional pada triwulan pertama I-2024 diperkirakan
turun dibanding periode sama tahun lalu. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Ekspor
Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno memperkirakan, kinerja ekspor industri
pengolahan pada triwulan I-2024 akan turun dibandingn periode yang sama tahun
lalu. ”Kinerja ekspor bakal lesu,” ujarnya yang dihubungi Minggu (17/3). Benny
menjelaskan, penurunan ini disebabkan melemahnya permintaan dari negara tujuan
ekspor seiring melambatnya perekonomian global. Namun, Benny meyakini Indonesia
masih akan mencatat surplus neraca perdagangan pada triwulan I-2024. Alasannya,
impor Indonesia juga akan turun, baik volume maupun harga.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja
Kamdani mengatakan, kinerja ekspor industri pengolahan triwulan I-2024
kemungkinan besar akan turun atau stagnan. Menurut Shinta, hal ini karena tidak
ada tanda-tanda peningkatan permintaan yang signifikan di pasar tujuan ekspor utama.
Selain itu, Shinta juga tidak melihat ada peningkatan diversifikasi tujuan
ekspor yang signifikan. Indikasi penurunan kinerja ekspor industri pengolahan
pada triwulan I-2024 sudah terendus dari data ekspor dua bulan pertama tahun
ini. Berdasarkan data BPS, ekspor Industri pengolahan pada dua bulan pertama tahun
ini mencapai 28,66 miliar USD atau lRp 446,93 triliun, turun 11,49 % dibanding
periode yang sama pada 2023. (Yoga)
EKSPANSI MANUFAKTUR : Merealisasikan Investasi di Luar Jawa
Pelaku usaha pelumas diminta untuk lebih berani membangun fasilitas produksinya di luar jawa untuk memenuhi tingginya kebutuhan dan mobilitas kendaraan yang cukup masif di sejumlah wilayah di Tanah Air. Direktur Kimia Hilir dan Farmasi Kementerian Perindustrian Emmy Suryandari mengatakan sebagian besar industri pelumas di Indonesia masih terpusat di Jawa. Padahal, saat ini setidaknya sudah ada 52 produsen pelumas dengan kapasitas terpasang 2 juta liter per tahun, dan produksi 1,2 juta liter per tahun.
Dia menjelaskan, masifnya kegiatan investasi di luar Jawa akan berimpak kepada rantai pasok industri dapat dijangkau lebih cepat, dan menciptakan pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah yang merata. Terlebih, industri pelumas dapat menyerap tenaga kerja dengan jumlah yang cukup besar. Berdasarkan catatan Kementerian Perindustrian, penyerapan tenaga kerja di industri pelumas hingga 2023 mencapai 4.898 orang.
Menangkap peluang tersebut, Shell Indonesia memulai pembangunan pabrik pengolahan pelumas gemuk atau grease manufacturing plant (GMP) pertama di Indonesia. Pabrik itu akan menjadi manufaktur grease terbesar ketiga yang dimiliki Shell secara global. Global Executive Vice President Shell Lubricants Jason Wong mengatakan, pabrik tersebut akan memiliki kapasitas produksi hingga 12 juta liter grease per tahun, dan akan memenuhi permintaan produk tersebut di Indonesia.
Manufaktur terbaru Shell Indonesia tersebut akan melengkapi fasilitas pabrik pelumas atau lubricants oil blending plant (LOBP) Shell yang berada di Marunda, Bekasi, Jawa Barat.
KINERJA INDUSTRI : Manufaktur Lanjutkan Ekspansi
Sektor manufaktur Indonesia melanjutkan ekspansi pada Februari 2024 terdorong peningkatan stok dan pesanan baru. Pemilu yang telah berlangsung dan Ramadan yang segera datang membuat optimisme pengusaha terhadap perekonomian menguat. S&P Global melaporkan Indonesia Manufacturing Purchasing Manager’s Index (PMI) pada Februari 2024 berada di level 52,7. Meski sedikit turun dari posisi awal tahun 52,9, sektor manufaktur Indonesia tetap melanjutkan ekspansi. “Kondisi operasional sektor manufaktur Indonesia terus membaik sejak awal tahun. Permintaan domestik yang kuat mendukung pertumbuhan pesanan dan output baru,” kata Jingyi Pan, Direktur Asosiasi Ekonomi S&P Global Market Intelligence, Jumat (1/3). Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang dirilis Kementerian Perindustrian juga menunjukkan ekspansi sektor manufaktur, bahkan pada tingkat yang akseleratif. IKI Februari 2024 mencapai 52,56, meningkat 0,21 poin persentase dibandingkan dengan Januari 2024. Febri Hendri Antoni Arif, Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin), mengatakan kenaikan IKI Februari 2024 terdorong oleh ekspansi di 15 subsektor industri, yang mengontribusi PDB triwulan IV 2023 sebesar 87,91%. Dilihat dari variabel pembentuknya, ekspansi IKI berasal dari peningkatan variabel persediaan produk dan pesanan baru.
Sektor industri minuman tercatat paling ekspansif, disusul oleh industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki; dan industri makanan. “Kondisi umum kegiatan usaha pada Februari 2024 lebih baik dibanding Januari 2024,” katanya, Kamis (29/2). Optimisme pelaku usaha terhadap prospek 6 bulan ke depan juga sangat baik.
VinFast dan Keberanian Vietnam Mendobrak Panggung Otomotif
VinFast, pemain baru dalam pasar otomotif global dan produsen
kendaraan listrik asal Vietnam, Kamis (15/2) mengumumkan pencapaiannya. Mereka telah
mengirimkan 35.000 kendaraan listrik ke konsumen global. Wakil CEO Penjualan
dan Pemasaran VinFast Tran Mai Hoa menyebut, perbedaan
kecepatan adopsi teknologi kendaraan listrik di setiap negara berdampak pada
penjualan mereka. Selain memasarkan produknya di Vietnam, VinFast memasukkan AS
sebagai pasar asing pertama incaran mereka. Setahun setelah VinFast berdiri
tahun 2017, manajemen memutuskan mengembangkan sayap dengan mendirikan pabrik
di AS. Dana 4 miliar USD telah disiapkan pendiri VinFast, Pham Nhat Vuong, direncanakan
berproduksi tahun 2025. Untuk sementara waktu, semua model yang ada di pasar AS
dikirim dari pabrik utama VinFast di Vietnam. Untuk memuluskan niatnya menjadi
salah satu pemain otomotif global, VinFast juga berencana mengembangkan sayapnya
di India dan Indonesia.
VinFast telah mempersiapkan dana 1,2 miliar USD untuk membangun pabrik di Indonesia, untuk pasar India, VinFast menyiapkan dana 2 miliar USD, termasuk untuk pembangunan pabrik berkapasitas produksi 150.000 unit per tahun. Meski keberuntungan belum berpihak dalam hal penjualan, VinFast telah membuat para pesaingnya terbelalak. Valuasi mereka setelah perdagangan saham perdana di bursa Nasdaq, Agustus 2023, menembus 190 miliar USD, melebihi valuasi perusahaan otomotif legendaris, seperti Volkswagen, Ford, atau General Motors, yang angka penjualannya sudah menembus jutaan unit. VinFast hanyalah satu dari puluhan bisnis di bawah payung Vingroup yang didirikan Pham Nhat Vuong. Pham semula menemukan jalannya dengan membuat mi instan di Ukraina yang diberi nama Mivina. Tahun 2010, perusahaan itu diakuisisi Nestle. Pham mengantongi uang 150 juta USD.
Ia pulang ke Vietnam, berinvestasi di bidang properti dan real estat. Dia juga mengembangkan bisnis ke bidang lain, antara lain hiburan, ritel, kesehatan, pendidikan, dan teknologi, termasuk industri teknologi telekomunikasi. VinHomes, VinSchool, VinAI hingga VinBrain adalah beberapa nama perusahaan di bawah payung Vingrup. Pada 2021 Pham meninggalkan industri gawai pintarnya dan memfokuskan diri pada pengembangan kendaraan listrik untuk pasar global di bawah bendera VinFast yang didirikannya tahun 2017. Seperti dilansir Financial Times, Agustus 2023, kelompok usaha Vingroup membukukan pendapatan 130,5 triliun dong atau 5,4 miliar USD. CEO VinFast Le Thi Thu Thuy mengatakan, keinginan Pham adalah menjadikan produk mereka berkualitas dan bisa diakses oleh semua kalangan. ”Misi kami ialah membuat kendaraan listrik dapat diakses oleh semua orang,” kata Le, dikutip dari laman Forbes India.
Guna mendukung upaya itu, Pham merogoh koceknya hingga 10 miliar USD untuk mengembangkan produk kendaraan VinFast. Le mengatakan, apa pun kebutuhan untuk pengembangan VinFast, kelompok bisnis Vingroup dan Pham selalu mendukung. Target penjualan mereka ambisius, yakni mampu menjual 1 juta kendaraan listrik dalam kurun waktu enam tahun secara global. Untuk mendukung ambisinya, VinFast bekerja sama dengan perusahaan otomotif Jerman, BMW, mengembangkan platform dan mesin kendaraannya. Beberapa petinggi perusahaan itu juga membantu mengembangkan desain dan produk kendaraan listrik VinFast. Sebut saja Michael Lohscheller, mantan CEO Opel, yang telah berpengalaman di industri otomotif lebih dari dua dekade. Selain itu, ada Jeremy Snyder yang membantu Elon Musk dalam pengembangan kendaraan listrik Tesla. (Yoga)
Indonesia Jangan Kalah dari Vietnam
Selain dimeriahkan produsen kendaraan dari Asia Timur, Indonesia
International Motor Show 2024 di Jakarta juga diramaikan oleh VinFast yang
sangat ambisius. Bulan September 2017, VinFast memulai pembangunan pabrik di Hai
Phong, Vietnam. Hanya dalam 21 bulan, pabrik itu sudah memproduksi mobil, kemudian
sepeda motor listrik hingga bus listrik. Musim gugur 2018, tepatnya di Paris
Motorshow, telah diperkenalkan LUX SA2.0 dan LUX A2.0, dua tipe mobil VinFast,
yang didesain Pininfarina. Sebelum membantu VinFast, Pininfarina telah
berkolaborasi dengan General Motors, Mitsubishi, dan Ferrari. Pada 2021,
VinFast mengumumkan hanya memproduksi kendaraan listrik. Pada IIMS 2024,
VinFast pun memboyong mobil-mobil listriknya dengan harga bersaing. Kuartal I-2022,
VinFast dan pemerintah North Carolina, AS, menyepakati pembangunan pabrik
berkapasitas 150.000 unit kendaraan per tahun. Hari Sabtu (13/1) Presiden Jokowi
telah meninjau pabrikVinFast di HaiPhong,Vietnam.Presiden bahkan sempat duduk
di dalam mobil VinFast.
”Kami mendukung rencana investasi VinFast di Indonesia,” ujar
Presiden. VinFast memang berminat membangun pabrik seluas 240 hektar di Indonesia,
karena potensi pasar di Indonesia besar. Tahun 2024 ini, VinFast berencana
memulai pembangunan pabrik senilai 200 juta USD yang dapat menyerap 3.000
tenaga kerja. Ditargetkan, VinFast memproduksi 50.000 unit kendaraan per tahun.
Langkah VinFast sesungguhnya mengekor Hyundai, Morris Garage (MG), dan Wuling
Motors. Beberapa pabrikan mobil, yang baru-baru ini agresif berinvestasi di
Indonesia, bahkan mengkhususkan diri pada produksi kendaraan listrik. Mereka tak
sekadar menjual produk, tetapi juga mengedukasi pasar. Atas aksi korporasi
sejumlah pabrikan mobil itu, idealnya kita, sebagai bangsa, dapat
berkontemplasi. Mengapa tidak kita sendiri yang memanfaatkan pasar negeri ini. Jangan
kalah dari Vietnam, sedang pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas rata-rata
pertumbuhan ekonomi global. Logikanya, dengan potensi pasar sebesar ini,
korporasi dapat tumbuh lebih besar. (Yoga)
Memasuki Bab Ketiga Industri Otomotif Indonesia
Industri otomotif Indonesia tengah membuka lembaran memasuki
bab baru, yakni era kendaraan listrik, tercermin dalam pameran otomotif
Indonesia International Motor Show (IIMS) 2024. Pameran yang diikuti 53 merek
pabrik mobil di JIExpo Kemayoran, Jakarta, 15-25 Februari 2024, ini banyak
menampilkan berbagai varian mobil elektrik mulai dari mobil listrik berbahan
daya energi baterai hingga mobil hibrida bertenaga baterai dengan bensin. Ajang
ini menjadi kesempatan para pabrikan mobil merilis varian baru kendaraan listrik
mereka. Pabrikan mobil asal Korea Selatan, Hyundai, merilis varian All New Kona
EV. Chief Operating Officer PT Hyundai Motor Indonesia Fransiscus Soerjopranoto
menjelaskan, semakin mejamurnya berbagai pabrikan mobil yang merilis varian
kendaraan listrik menandakan bahwa industri otomotif Indonesia telah memasuki
era baru.
Seperti halnya sebuah buku, lanjut Soerjopranoto, kini industri
otomotif Indonesia memasuki bab ketiga, yakni kendaraan listrik. Indonesia
telah menyelesaikan bab pertama mengenai pabrikan kendaraan bermotor ber BBM
atau internal combustion engine (ICE). Setelahnya, Indonesia juga telah melewati
bab kedua era produksi kendaraan bermotor roda empat hemat energi dan harga terjangkau
(KBH2) atau low cost green car (LCGC). ”Dua bab tadi sudah kita lewati. Kini,
kita masuk bab tiga, yakni era kendaraan listrik,” ujar Soerjo, panggilan akrabnya,
Kamis (15/2). Ia menjelaskan, posisi Indo nesia sangat strategis untuk pengembangan
ekosistem kendaraan listrik. Dengan jumlah penduduk yang lebih dari 270 juta
orang dan ditopang perekonomian yang terus bertumbuh, Indonesia adalah pasar
yang strategis untuk kendaraan listrik. (Yoga)
MENJAGA 'KEPUL' MANUFAKTUR
Urusan kinerja neraca dagang, Indonesia memang ‘jagonya’. Buktinya, sudah 45 bulan berturut-turut neraca perdagangan nasional surplus. Teranyar, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2024 surplus US$2,01 miliar, yang diperoleh dari nilai ekspor sebesar US$20,52 miliar minus nilai impor US$18,51 miliar. Kendati demikian, jika ditelusuri lebih jauh sejatinya ada hal yang cukup merisaukan. Salah satunya adalah deru mesin produksi manufaktur yang berisiko makin lirih terdengar. Gelagat itu tampak jika melihat data BPS yang menunjukkan bahwa terjadi penurunan nilai impor, terutama bahan baku/penolong. Artinya, suplai bahan baku industri manufaktur tak sekencang periode sebelumnya. Dus, hasil produksi salah satu sektor andalan penopang ekspor itu pun berisiko seret.
Plt. Kepala BPS Amalia A. Widyasanti mengatakan bahwa impor bahan baku/penolong pada Januari 2024 menyusut 2,96% (year-on-year/YoY) menjadi US$13,48 miliar daripada bulan yang sama 2023 senilai US$13,89 miliar. BPS mencatat, bahan baku/penolong menyumbang 72,81% dari total impor pada Januari 2024 yang mencapai US$18,51 miliar. Mengacu data terdahulu, rupanya penurunan impor bahan baku/penolong sudah berlangsung sejak Januari 2023. Bila dihitung Januari 2023-Januari 2024, total nilai impor bahan baku/penolong telah anjlok 10,51% menjadi US$174,63 miliar, dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Kepala Badan Kebijakan Perdagangan Kementerian Perdagangan Kasan mengungkap sejumlah faktor yang memicu penurunan impor bahan baku/penolong pada awal 2024. Beberapa di antaranya yakni permintaan domestik yang lesu, penurunan harga komoditas impor, serta pola musiman, di mana sebagian perusahaan masih menyimpan sisa stok bahan baku tahun lalu. Kementerian Perdagangan juga segera mengimplementasikan kebijakan dan pengaturan impor melalui Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No.36/2023 pada Maret 2024.
Sebaliknya, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Khamdani menyatakan perlambatan pertumbuhan impor bahan baku/penolong pada Januari 2024 dipicu kebijakan restriksi terhadap impor dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 46/2023 sebagai perubahan PP No. 28/2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Perindustrian.
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede berpandangan peningkatan impor barang konsumsi dan barang modal secara tahunan masing-masing sebesar 11,03% YoY dan 10,16% YoY mengindikasikan permintaan domestik yang kuat.
Sebaliknya, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira berpendapat pemerintah perlu mewaspadai kenaikan impor barang konsumsi terutama dari China. Pada Januari 2024, nilai impor barang konsumsi naik 11,03% secara tahunan menjadi US$1,77 miliar.
Pilihan Editor
-
Emiten Baja Terpapar Pembangunan IKN
24 Jan 2023 -
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut Sepekan Lagi
10 Oct 2022









