;

MENJAGA 'KEPUL' MANUFAKTUR

Ekonomi Hairul Rizal 16 Feb 2024 Bisnis Indonesia (H)
MENJAGA 'KEPUL' MANUFAKTUR

Urusan kinerja neraca dagang, Indonesia memang ‘jagonya’. Buktinya, sudah 45 bulan berturut-turut neraca perdagangan nasional surplus. Teranyar, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2024 surplus US$2,01 miliar, yang diperoleh dari nilai ekspor sebesar US$20,52 miliar minus nilai impor US$18,51 miliar. Kendati demikian, jika ditelusuri lebih jauh sejatinya ada hal yang cukup merisaukan. Salah satunya adalah deru mesin produksi manufaktur yang berisiko makin lirih terdengar. Gelagat itu tampak jika melihat data BPS yang menunjukkan bahwa terjadi penurunan nilai impor, terutama bahan baku/penolong. Artinya, suplai bahan baku industri manufaktur tak sekencang periode sebelumnya. Dus, hasil produksi salah satu sektor andalan penopang ekspor itu pun berisiko seret. 

Plt. Kepala BPS Amalia A. Widyasanti mengatakan bahwa impor bahan baku/penolong pada Januari 2024 menyusut 2,96% (year-on-year/YoY) menjadi US$13,48 miliar daripada bulan yang sama 2023 senilai US$13,89 miliar. BPS mencatat, bahan baku/penolong menyumbang 72,81% dari total impor pada Januari 2024 yang mencapai US$18,51 miliar. Mengacu data terdahulu, rupanya penurunan impor bahan baku/penolong sudah berlangsung sejak Januari 2023. Bila dihitung Januari 2023-Januari 2024, total nilai impor bahan baku/penolong telah anjlok 10,51% menjadi US$174,63 miliar, dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Kepala Badan Kebijakan Perdagangan Kementerian Perdagangan Kasan mengungkap sejumlah faktor yang memicu penurunan impor bahan baku/penolong pada awal 2024. Beberapa di antaranya yakni permintaan domestik yang lesu, penurunan harga komoditas impor, serta pola musiman, di mana sebagian perusahaan masih menyimpan sisa stok bahan baku tahun lalu. Kementerian Perdagangan juga segera mengimplementasikan kebijakan dan pengaturan impor melalui Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No.36/2023 pada Maret 2024. 

 Sebaliknya, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Khamdani menyatakan perlambatan pertumbuhan impor bahan baku/penolong pada Januari 2024 dipicu kebijakan restriksi terhadap impor dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 46/2023 sebagai perubahan PP No. 28/2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Perindustrian. Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede berpandangan peningkatan impor barang konsumsi dan barang modal secara tahunan masing-masing sebesar 11,03% YoY dan 10,16% YoY mengindikasikan permintaan domestik yang kuat. Sebaliknya, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira berpendapat pemerintah perlu mewaspadai kenaikan impor barang konsumsi terutama dari China. Pada Januari 2024, nilai impor barang konsumsi naik 11,03% secara tahunan menjadi US$1,77 miliar.

Download Aplikasi Labirin :