Industri Manufaktur
( 226 )PERFORMA MANUFAKTUR : Pemilu Picu Optimisme Pengusaha
Juru bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif mengatakan, optimisme pelaku usaha terus mengalami peningkatan pada semester II/2023. Hal tersebut diyakini bakal berlanjut seiring dengan banyaknya momentum yang bisa memacu peningkatan produk manufaktur pada tahun depan. “Mayoritas responden yang menjawab optimistis menyampaikan keyakinannya terhadap kondisi pasar bakal terus membaik, dan kepercayaannya ditopang oleh kebijakan pemerintah yang lebih baik,” katanya, Kamis (28/12). Berdasarkan survei yang dilakukan Kementerian Perindustrian tercatat bahwa 62,4% responden menyatakan optimismenya terhadap kondisi usaha di dalam negeri hingga 6 bulan ke depan. Kepercayaan tersebut juga sejalan dengan persentase pelaku usaha yang menyebutkan kondisi kegiatan usahanya meningkat yang mencapai 31,8% pada Desember 2023, dan 46,8% lainnya menyatakan kondisi usahanya stabil. Setidaknya ada 15 subsektor yang mengalami ekspansi pada kuartal III/2023, di antaranya makanan, kendaraan bermotor trailer, minuman, dan tembakau.
LEDAKAN SMELTER, Mengejar Mimpi ke Morowali
Tahun 2024 mestinya bakal penuh makna bagi Irfan Bukhari
(26), asal Polewali Mandar, Sulbar, yang berencana meminang kekasihnya.Tapi
ledakan tungku smelter di PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS) di
kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park, Minggu (24/12) mengakhiri rencananya.
Irfan salah satu dari 19 korban tewas dalam insiden tersebut. Kaharuddin Qasyim
(31) bercerita sudah setahun keponakannya, Irfan, bekerja di ITSS, tiap bulan
Irfan mengirim uang ke orang tuanya. Dia juga membiayai sekolah adik bungsunya.
Ayahnya petani dan ibunya berjualan kue.
“Irfan sudah meminta bapak dan ibunya berhenti bekerja” katanya, Kamis (28/12).
Namun, tekad Irfan pupus secara tragis.
Bekerja dan menopang keluarga juga dilakoni Martinus (26)
korban ledakan smelter yang masih dirawat di ruang ICU RSUD Morowali. Menurut
adik Martinus, Hendra (25), sejak bekerja di PT ITSS, kakaknya rutin mengirim
sebagian gajinya untuk membantu orangtua. ”Harusnya akhir tahun ini kami
berkumpul bersama orangtua. Ternyata, ceritanya lain. Sampai sekarang ibu belum
datang karena shock,” katanya. Menyebut Morowali berarti menyebut tambang,
industri nikel, dan peluang hidup. Beberapa tahun terakhir, usaha tambang dan
industri nikel tumbuh pesat di daerah ini, Morowali serupa tanah harapan. Tak hanya
pencari kerja, perintis usaha kecil dan besar turut berharap berkah dan peluang
di tengah maraknya industri.
Kamis (28/12), suasana sekitar PT Indonesia Morowali Industrial
Park (IMIP) di Bahodopi riuh. Pekerja masuk keluar kawasan industri. Ribuan
sepeda motor pekerja diparkir dan tersebar di beberapa lokasi. Truk besar hilir
mudik menjemput dan mengambil material. Saat pertukaran sif kerja, kemacetan
panjang terjadi di jalan-jalan kawasan industri. Sepanjang jalan Bungku ke
Bahodopi, warung makan, toko penjual berbagai keperluan, bengkel, kos-kosan, penginapan,
dan tempat usaha lain memadati kiri kanan jalan. Di jalan yang tak seberapa
lebar itu, setiap truk besar melintas, sebagian kendaraan lain harus menepi. Alfian
(26) dari Tana Toraja, Sulsel, sudah sebulan menumpang di kamar kos kerabatnya
yang telah bekerja di PT IMIP. ”Saya memasukkan lamaran dan menunggu jadwal interview.
Saya tak tahu sampai kapan akan menunggu, akan diterima atau tidak. Semoga
nanti ada jawaban,” katanya.
Ledakan tungku smelter di PT ITSS, tenant di bawah PT IMIP,
tak jadi soal bagi pencari kerja. Mereka tetap berharap bisa bekerja di sana. Kadisnakertrans
Sulteng Arnold Firdaus menyampaikan, Morowali hingga Morowali Utara menjadi
magnet tenaga kerja. Di IMIP, ada 72.000 tenaga kerja, 87 % adalah pekerja local,
selebihnya pekerja asing. ”Pekerja lokal sebagian besar dari luar daerah, baik
dari Sulsel, Sultra, Gorontalo, maupun Jawa. Pekerja dari Sulteng berkisar 20 %,”
ujar Arnold, kemarin. Jumlah pekerja itu belum termasuk ribuan pekerja di perusahaan
lainnya. Di Morowali Utara, ada perusahaan lainnya yang memiliki hingga 15.000
tenaga kerja. Kehadiran industri ini menekan tingkat pengangguran terbuka
Sulteng. Pada Agustus 2023 sebanyak 47.080 orang menganggur atau 2,95 % dari
total angkatan kerja. Jumlah ini turun 2.000 orang dibandingkan Agustus 2022. (Yoga)
Sektor Riil Jadi Daya Ungkit
Kebijakan tepat untuk menggerakkan sektor riil pada 2024
menjadi kunci menggairahkan konsumsi masyarakat yang tahun ini melemah.
Pemerintahan dituntut untuk dapat merespons dengan cepat berbagai siklus krisis
global dan domestik yang diprediksi masih akan terjadi beberapa tahun ke depan.
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef)
Aviliani berharap di tahun 2024 transisi pemerintahan dapat berjalan mulus.
Pasalnya, kebijakan ekonomi dalam beberapa tahun kedepan diharapkan bisa
adaptif untuk mengakomodasi dinamika perekonomian ke depan. Tahun ini berbagai
dinamika dan krisis, baik di sektor ekonomi maupun politik global, telah
berdampak terhadap pelemahan aktivitas konsumsi dan sektor riil, yang imbasnya
turut menghambat pertumbuhan ekonomi nasional. Berbagai krisis, lanjut Aviliani,
masih akan terjadi di tahun 2024 dan 2025.
”Untuk merespons berbagai krisis ke depan seharusnya tak
perlu menunggu undang-undang. Karena siklus krisis ke depannya akan semakin pendek dan dinamis.
Regulator harus membuat kebijakan lebih cepat dan fleksibel,” ujarnya dalam ”Diskusi
Ekonom Perempuan Indef” yang berlangsung secara daring, Kamis (28/12). Geliat
sektor riil yang mampu menyerap tenaga kerja menjadi syarat utama pertumbuhan konsumsi
masyarakat secara berkelanjutan. Oleh karena itu, kebijakan moneter, fiskal,
dan perbankan harus berjalan bersama-sama untuk menopang setiap aktivitas di
sektor riil. Berbagai insentif fiskal perlu diarahkan dan dipertajam sesuai
sasaran kebutuhan sektor riil. Di sisi lain, kebijakan moneter dan perbankan diharapkan
bisa bergerak secara fleksibel untuk meningkatkan akses keuangan dari
sektor-sektor penyerap tenaga kerja. (Yoga)
Hilirisasi Masih Terhambat Transformasi Industri
Hilirisasi yang digenjot Pemerintah Indonesia lima tahun
terakhir, khususnya di sektor tambang mineral, dinilai sudah menunjukkan hasil
positif. Namun, belum mampu menggenjot kontribusi industri pengolahan terhadap
ekonomi Indonesia. Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi)
Rizal Kasli mengatakan, hilirisasi saat ini, terutama untuk nikel, sudah
mengalami kemajuan. Indonesia sejauh ini masih lebih banyak berinvestasi untuk memberi
nilai tambah pada produk tambang nikel. ”Hal ini dapat dilihat dari menjamurnya
smelter nikel di Indonesia, terutama di Sulawesi dan Maluku Utara. Indonesia
saatini sudah menjadi produsen nikel terbesar di dunia dengan tingkat produksi 1,8
juta ton per tahun,” katanya saat dihubungi, Kamis (28/12) di Jakarta. Menurut
data Badan Geologi Kementerian ESDM, total sumber daya nikel Indonesia 17,3 miliar
ton dengan jumlah cadangan 5,08 miliar ton, yang diolah di 44 smelter lewat pemrosesan
nikel dengan pirometalurgi atau ke arah produk stainless steel, dengan produk
akhir feronikel, nikel matte, dan nickel pig iron (NPI). Sebagian lagi diolah
di tiga smelter hidrometalurgi atau ke arah baterai untuk kendaraan listrik.
Rizal berpendapat, sebaiknya kapasitas pengolahan produk
antara menjadi barang jadi dimaksimalkan. Saat ini, Indonesia masih banyak
mengekspor produk antara ke negara lain untuk diolah menjadi produk jadi,
seperti alat kesehatan, alat rumah tangga, alat transportasi seperti pesawat,
kapal, kendaraan termasuk kendaraan listrik, dan produk pertahanan. ”Dengan
menjadikan industrialisasi produk turunan ini, nilai tambah yang didapat Indonesia akan
jauh lebih besar. Bahkan, Indonesia akan menjadi negara industri. Untuk itu diperlukan
visi dan misi pemimpin bangsa ke depan yang dapat mentranformasi industrialisasi
ini menjadi kekuatan bangsa,” kata Rizal. Kepala Center of Industry, Trade, and
Investment Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry
Satryo Nugroho berpendapat, konsep hilirisasi yang dilakukan pemerintah masih pada
upaya menghentikan ekspor barang mentah dan menarik permodalan untuk membangun
industri pengolahannya. (Yoga)
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
Ledakan tungku smelter nikel di Morowali, Sulawesi Tengah,
menggambarkan minimnya perhatian terhadap kesehatan dan keselamatan kerja.
Ledakan tungku ini pun bukan kali pertama terjadi. Peningkatan kompetensi dan
jumlah tenaga pengawas mendesak dilakukan. Kemenaker mengusulkan peningkatan
kompetensi sekaligus penambahan tenaga pengawas agar insiden seperti ledakan
tungku smelter di Morowali, Sulteng, tidak terulang. Hingga saat ini, penyebab
insiden yang mengakibatkan belasan pekerja tewas dan puluhan pekerja luka-luka
itu masih didalami. Berdasarkan data yang dikumpulkan lembaga Trend Asia dari
pemberitaan di media, pada 2015-2022, sebanyak 53 pekerja smelter tewas, yang
terdiri atas 40 pekerja Indonesia dan 13 warga negara China. Adapun pada
Januari-September 2023, ada 19 kecelakaan di smelter nikel yang membuat 16
orang tewas dan 37 orang terluka. Ledakan smelter nikel di Sulteng terjadi di
PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS), salah satu perusahaan tenant atau
penyewa yang beroperasi di kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park
(IMIP), Minggu (24/12) pukul 05.30 Wita.
Saat itu pekerja memperbaiki tungku pembakaran dan memasang
pelat di bagian tungku formasi nomor 41. Sekjen Kemenaker Anwar Sanusi, Rabu (27/12),
di Jakarta, mengakui, ledakan itu tidak lepas dari belum optimalnya pengawasan
sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja (SMK3). ”Memang betul (pengawasan
belum optimal) karena pengawasan ketenagakerjaan itu harus linier dengan
perkembangan teknologi yang digunakan sehingga kami sebagai pengawas juga harus
linear secara kompetensi. Oleh sebab itu, kami mengusulkan update kompetensi
dan penambahan jumlah tenaga pengawasan kepada Kementerian PAN dan RB karena aturannya
harus PNS,” katanya. Terkait insiden ledakan tungku smelter di Morowali, Kemenaker
menugaskan tim pengawas ketenagakerjaan ke lokasi sejak Senin (25/12) untuk
melakukan investigasi. Pihaknya mengumpulkan data mengenai penerapan SMK3
secara lebih lengkap. ”Data yang kami minta, antara lain, job safety analysis (JSA),
prosedur standar operasional (SOP), terutama saat memperbaiki tungku smelter,”
katanya. (Yoga)
Disnakertrans Akui Lemah Awasi Smelter
Korban tewas akibat ledakan tungku peleburan nikel di
Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, bertambah lima orang. Total korban tewas
menjadi 18 orang dan puluhan lainnya dirawat secara intensif. Disnakertrans
Sulteng mengakui adanya kelemahan dalam pengawasan keselamatan dan kesehatan
kerja. Ledakan tungku smelter itu terjadi di PT Indonesia Tsingshan Stainless
Steel (ITSS), Minggu (24/12), salah satu tenant atau penyewa yang beroperasi di
kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Kadisnakertrans
Sulteng Arnold Firdaus mengatakan, pihaknya cukup rutin mengawasi dan memantau
lokasi industri, termasuk di wilayah IMIP. Terbaru, tim telah ditugasi
melakukan pengecekan berkala pada awal Desember lalu. ”Berdasarkan pemantauan
dan pengawasan selama ini, sistem K3 (keselamatan dan kesehatan kerja) di IMIP
lumayan bagus, tidak ada masalah dan berjalan sesuai aturan. Hanya saja, harus
diakui juga pengawasan kami belum sempurna,” kata Arnold, dihubungi Selasa
(26/12) petang dari Kendari, Sultra.
Menurut Arnold, pemantauan dan pengawasan di wilayah
Morowali dilakukan UPT Wilayah II. Unit kerja yang beranggotakan lima orang ini
mengawasi tujuh kabupaten. Di sisi lain, kawasan industri dan fasilitas
pemurnian nikel di beberapa kabupaten tersebut tidak hanya IMIP. ”Untuk IMIP saja
itu tidak cukup satu hari untuk pantau semua. Jadi, memang ada keterbatasan
dari kami juga, baik operasional maupun anggaran,” ucapnya. Saat ini Disnakertrans
Sulteng fokus pada pemantauan bersama tim Kemenaker yang telah tiba di lokasi
kejadian. Hal itu untuk mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan terjadinya
kecelakaan kerja yang merenggut banyak nyawa itu. ”Ke depan, agar kawasan industri
besar seperti IMIP diawasi secara terpadu bersama pemerintah pusat karena kami di
daerah memiliki banyak keterbatasan untuk memantau kawasan, apalagi yang masuk dalam
kategori Proyek Strategis Nasional,” ujarnya. (Yoga)
INDUSTRI MANUFAKTUR, Kian Ekspansif Jelang Akhir Tahun
Momen liburan akhir tahun diperkirakan akan meningkatkan
belanja masyarakat. Hal ini diantisipasi oleh dunia usaha dan industri
manufaktur dengan berekspansi. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo)
Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, menjelang akhir tahun sentimen ekspansi
kinerja dunia usaha meningkat. ”Hal ini disebabkan adanya kenaikan konsumsi
masyarakat di momentum liburan akhir tahun, seperti halnya periode Idul Fitri,”
ujar Shinta yang dihubungi pada Selasa (5/12) di Jakarta. Ia menambahkan,
konsumen juga masih memiliki daya beli dan keyakinan akan kondisi ekonomi. Hal
ini lantaran inflasi dan nilai tukar rupiah juga relatif terkendali. Semua hal
ini sangat mendukung adanya kinerja sektor manufaktur yang lebih tinggi.
Ekspansi dunia usaha dan manufaktur tersebut tecermin dari
Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia pada November 2023 di posisi 51,7,
meningkat dibanding Oktober 2023 di posisi 51,5. PMI merupakan indeks yang
dirilis lembaga riset pemeringkat kinerja perekonomian S&P Global untuk
melihat geliat dunia usaha merespons permintaan pasar. Indeks di atas 50
mengindikasikan dunia usaha atau industri manufaktur dalam posisi ekspansi. Menurut
data PMI, ekspansi sektor manufaktur Indonesia akan bertahan terus sampai
triwulan keempat tahun ini. Kenaikan produksi didukung kenaikan permintaan baru
dan kenaikan jumlah tenaga kerja. ”Kinerja sektor industri manufaktur nasional
menjelang akhir tahun 2023 ini masih berada di fase ekspansi meski mendapat
tekanan dari kondisi ekonomi global. Artinya, capaian positif PMI Indonesia ini
bertahan hingga 27 bulan berturut-turut,” kata Menteri Perindustrian Agus
Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, akhir pekan lalu. (Yoga)
Produsen Elektronik Lokal Belum Jadi Tuan di Negeri Sendiri
Pelaku industri barang elektronik merek lokal membutuhkan
dukungan agar bisa bersaing di sektor pasar barang elektronik dalam negeri. Dengan
masyarakat membeli dan menggunakan barang elektronik produk lokal turut mendorong
pertumbuhan pabrik lokal dan memperluas kapasitas atau menambah tenaga kerja
yang pada akhirnya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi. Direktur Operasional PT
Adi Pratama Indonesia Tri Isyanta mengatakan, saat ini pelaku industri barang
elektronik merek lokal hanya mendapatkan 2 % pasar barang elektronik dalam
negeri. Selebihnya masih dikuasai barang elektronik merek global atau asing. Tri
menambahkan, pelaku industri barang elektronik merek lokal membutuhkan dukungan
keberpihakan negara dan diberikan kesempatan lebih luas untuk meningkatkan volume
penjualannya.
”Beri kesempatan dan kepercayaan kepada merek lokal barang
elektronik ini. Kualitasnya bisa bersaing dengan merek global,” ujar Tri saat
ditemui di kantornya di Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (1/12). PT Adi
Pratama Indonesia merakit dan memproduksi berbagai barang elektronik, seperti
laptop, televisi, CCTV, dan interactive flat pannel (IFP). Dengan membeli dan
menggunakan produk elektronik merek lokal, lanjut Tri, bisa membantu pelaku
industri ini untuk terus bertumbuh. Melalui peningkatan kapasitas produksi dan bisnis,
pelaku industri merek lokal ini bisa berekspansi dan menambah serapan tenaga kerja
sehingga harapannya bisa mendorong perekonomian nasional. (Yoga)
DERU MANUFAKTUR SAMBUT NATARU
Deru mesin pabrik manufaktur berpacu lebih kencang menjelang tutup tahun demi menangkap momentum permintaan yang lebih kuat pada perayaan Natal dan Tahun Baru 2024. Kendati sederet pekerjaan rumah masih belum selesai, industri manufaktur tetap menunjukkan tren positif. Sejumlah subsektor manufaktur yang sebelumnya sempat mengalami perlambatan dan kontraksi, menjelang libur Natal dan tahun baru (Nataru) ini berhasil rebound. Tren positif ini setidaknya tecermin dari penguatan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia edisi November 2023 dan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada bulan yang sama. Momentum perbaikan ekonomi di dalam negeri juga dibarengi dengan tingkat inflasi yang terkendali, sehingga menjadi katalis positif dalam meningkatkan daya beli masyarakat. Dengan catatan inflasi pada November 2023 sebesar 0,38%, inflasi Indonesia mencapai 2,86% secara tahunan (Year-on-Year/YoY) dan 2,19% (YtD). Tingkat inflasi pada November 2023 sesuai dengan konsensus ekonom yang meramal terjadi peningkatan, baik secara bulanan maupun tahunan. Realisasi inflasi ini juga masih dalam rentang target yang ditetapkan yaitu 3% +/- 1%. Adapun, berdasarkan catatan S&P Global, PMI Manufaktur Indonesia menguat ke level 51,7 pada November 2023, meningkat 0,2 poin dari 51,5 pada Oktober 2023. Padahal, dalam 2 bulan terakhir industri manufaktur sempat terkontraksi meski tetap ekspansif. Menurut S&P Global, pesanan baru yang akan datang untuk barang produksi Indonesia kembali naik pada November 2023, yang didukung oleh perbaikan kondisi permintaan dan ekspansi basis pelanggan. Economics Associate Director S&P Global Market Intelligence Jingyi Pan menyebut tingkat kepercayaan bisnis naik dibandingkan dengan bulan sebelumnya, meskipun masih di bawah rata-rata jangka panjang. Sementara itu, Kemenperin meyakini persiapan libur Nataru mendorong industri pengolahan untuk rebound pada November 2023. Permintaan pemenuhan pesanan pada akhir tahun juga diyakini mendorong peningkatan ketersediaan lapangan pekerjaan. Namun, menurut Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif, laju pertumbuhan IKI sejatinya bisa lebih tinggi dengan adanya pengendalian impor, serta penegakan hukum terkait dengan produk impor ilegal. Seperti yang diungkapkan Ketua Umum Asosasi Pengusaha Indonesia Shinta Kamdani, tren PMI yang positif disebabkan oleh stabilitas daya beli masyarakat dan appetite konsumsi pasar domestik yang masih sangat encouraging, khususnya karena mendekati momentum konsumsi akhir tahun. Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat & Benang Filamen Indonesia Redma G. Wirawasta menyoroti banyaknya produk impor yang mengambil porsi pasar dalam negeri sehingga membuat para pelaku UMKM menjerit. Di sisi lain, Ketua Bidang Perdagangan Apindo Anne Patricia Sutanto mengungkapkan pelaku usaha masih menantikan dampak dari kenaikan upah minimum provinsi (UMP) yang bakal berlaku efektif per 1 Januari 2024 terhadap tren rebound PMI akhir tahun ini. Dalam kesempatan terpisah, Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita mengingatkan perlunya mewaspadai risiko ketidakstabilan global meskipun kondisi kegiatan usaha pada November 2023 lebih baik dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Setoran Pajak dari Sektor Usaha Andalan Melambat
Setoran pajak dari industri pengolahan dan perdagangan
melambat sepanjang tahun ini, bahkan terkontraksi selama dua triwulan berturut-turut.
Lesunya sumbangan pajak dari kedua sektor andalan itu patut diwaspadai karena
keduanya menyumbangkan hingga lebih dari separuh total penerimaan pajak negara.
Berdasarkan laporan kinerja APBN Oktober 2023, sektor industri pengolahan dan
perdagangan menyumbangkan penerimaan pajak tertinggi dibandingkan dengan sektor
lain. Setoran pajak dari kedua sektor ini berkontribusi lebih dari separuh
total penerimaan pajak. Pada Oktober 2023, industri pengolahan berkontribusi
27,3 % terhadap total penerimaan pajak sebesar Rp 1.523,7 triliun. Sementara sektor
perdagangan menyumbangkan 24,2 %. Akan tetapi, sumbangsih kedua sektor itu
terpantau melemah sepanjang tahun ini. Setoran pajak dari industri pengolahan
tumbuh minus selama dua triwulan berturut-turut, yaitu minus 7 % pada triwulan
II-2023 dan minus 9,4 % pada triwulan III-2023.
Pada Oktober 2023, penerimaan pajak dari sektor manufaktur
mulai tumbuh positif, yaitu 6,7 %. Namun, pertumbuhan itu masih jauh di bawah
pertumbuhan pajak industri pengolahan pada periode yang sama tahun lalu, yaitu
13,4 % pada Oktober 2022. Sektor perdagangan yang menjadi kontributor pajak kedua
terbesar juga mengalami kontraksi selama dua triwulan berturut-turut, yakni
minus 1,6 % (triwulan II) dan minus 0,3 % (triwulan III), kemudian anjlok
semakin dalam pada Oktober 2023 hingga minus 28,5 %. Kepala Center of Industry,
Trade, and Investment di Institute for Development of Economics and Finance
(Indef) Andry Satrio Nugroho, Senin (27/11) menduga, turunnya penerimaan pajak
dari industri pengolahan itu karena beberapa faktor. Selain efek basis yang
tinggi (high-based effect) akibat lonjakan harga komoditas pada tahun 2022,
penerimaan pajak tergerus karena kinerja ekspor-impor yang menurun tajam di
tengah pelemahan ekonomi dunia. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Alarm Inflasi Mengancam Sektor Retail
11 Oct 2022









