LEDAKAN SMELTER, Mengejar Mimpi ke Morowali
Tahun 2024 mestinya bakal penuh makna bagi Irfan Bukhari
(26), asal Polewali Mandar, Sulbar, yang berencana meminang kekasihnya.Tapi
ledakan tungku smelter di PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS) di
kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park, Minggu (24/12) mengakhiri rencananya.
Irfan salah satu dari 19 korban tewas dalam insiden tersebut. Kaharuddin Qasyim
(31) bercerita sudah setahun keponakannya, Irfan, bekerja di ITSS, tiap bulan
Irfan mengirim uang ke orang tuanya. Dia juga membiayai sekolah adik bungsunya.
Ayahnya petani dan ibunya berjualan kue.
“Irfan sudah meminta bapak dan ibunya berhenti bekerja” katanya, Kamis (28/12).
Namun, tekad Irfan pupus secara tragis.
Bekerja dan menopang keluarga juga dilakoni Martinus (26)
korban ledakan smelter yang masih dirawat di ruang ICU RSUD Morowali. Menurut
adik Martinus, Hendra (25), sejak bekerja di PT ITSS, kakaknya rutin mengirim
sebagian gajinya untuk membantu orangtua. ”Harusnya akhir tahun ini kami
berkumpul bersama orangtua. Ternyata, ceritanya lain. Sampai sekarang ibu belum
datang karena shock,” katanya. Menyebut Morowali berarti menyebut tambang,
industri nikel, dan peluang hidup. Beberapa tahun terakhir, usaha tambang dan
industri nikel tumbuh pesat di daerah ini, Morowali serupa tanah harapan. Tak hanya
pencari kerja, perintis usaha kecil dan besar turut berharap berkah dan peluang
di tengah maraknya industri.
Kamis (28/12), suasana sekitar PT Indonesia Morowali Industrial
Park (IMIP) di Bahodopi riuh. Pekerja masuk keluar kawasan industri. Ribuan
sepeda motor pekerja diparkir dan tersebar di beberapa lokasi. Truk besar hilir
mudik menjemput dan mengambil material. Saat pertukaran sif kerja, kemacetan
panjang terjadi di jalan-jalan kawasan industri. Sepanjang jalan Bungku ke
Bahodopi, warung makan, toko penjual berbagai keperluan, bengkel, kos-kosan, penginapan,
dan tempat usaha lain memadati kiri kanan jalan. Di jalan yang tak seberapa
lebar itu, setiap truk besar melintas, sebagian kendaraan lain harus menepi. Alfian
(26) dari Tana Toraja, Sulsel, sudah sebulan menumpang di kamar kos kerabatnya
yang telah bekerja di PT IMIP. ”Saya memasukkan lamaran dan menunggu jadwal interview.
Saya tak tahu sampai kapan akan menunggu, akan diterima atau tidak. Semoga
nanti ada jawaban,” katanya.
Ledakan tungku smelter di PT ITSS, tenant di bawah PT IMIP,
tak jadi soal bagi pencari kerja. Mereka tetap berharap bisa bekerja di sana. Kadisnakertrans
Sulteng Arnold Firdaus menyampaikan, Morowali hingga Morowali Utara menjadi
magnet tenaga kerja. Di IMIP, ada 72.000 tenaga kerja, 87 % adalah pekerja local,
selebihnya pekerja asing. ”Pekerja lokal sebagian besar dari luar daerah, baik
dari Sulsel, Sultra, Gorontalo, maupun Jawa. Pekerja dari Sulteng berkisar 20 %,”
ujar Arnold, kemarin. Jumlah pekerja itu belum termasuk ribuan pekerja di perusahaan
lainnya. Di Morowali Utara, ada perusahaan lainnya yang memiliki hingga 15.000
tenaga kerja. Kehadiran industri ini menekan tingkat pengangguran terbuka
Sulteng. Pada Agustus 2023 sebanyak 47.080 orang menganggur atau 2,95 % dari
total angkatan kerja. Jumlah ini turun 2.000 orang dibandingkan Agustus 2022. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023