;

LEDAKAN SMELTER, Mengejar Mimpi ke Morowali

Lingkungan Hidup Yoga 29 Dec 2023 Kompas (H)
LEDAKAN SMELTER, Mengejar Mimpi
ke Morowali

Tahun 2024 mestinya bakal penuh makna bagi Irfan Bukhari (26), asal Polewali Mandar, Sulbar, yang berencana meminang kekasihnya.Tapi ledakan tungku smelter di PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS) di kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park, Minggu (24/12) mengakhiri rencananya. Irfan salah satu dari 19 korban tewas dalam insiden tersebut. Kaharuddin Qasyim (31) bercerita sudah setahun keponakannya, Irfan, bekerja di ITSS, tiap bulan Irfan mengirim uang ke orang tuanya. Dia juga membiayai sekolah adik bungsunya.  Ayahnya petani dan ibunya berjualan kue. “Irfan sudah meminta bapak dan ibunya berhenti bekerja” katanya, Kamis (28/12). Namun, tekad Irfan pupus secara tragis.

Bekerja dan menopang keluarga juga dilakoni Martinus (26) korban ledakan smelter yang masih dirawat di ruang ICU RSUD Morowali. Menurut adik Martinus, Hendra (25), sejak bekerja di PT ITSS, kakaknya rutin mengirim sebagian gajinya untuk membantu orangtua. ”Harusnya akhir tahun ini kami berkumpul bersama orangtua. Ternyata, ceritanya lain. Sampai sekarang ibu belum datang karena shock,” katanya. Menyebut Morowali berarti menyebut tambang, industri nikel, dan peluang hidup. Beberapa tahun terakhir, usaha tambang dan industri nikel tumbuh pesat di daerah ini, Morowali serupa tanah harapan. Tak hanya pencari kerja, perintis usaha kecil dan besar turut berharap berkah dan peluang di tengah maraknya industri.

Kamis (28/12), suasana sekitar PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Bahodopi riuh. Pekerja masuk keluar kawasan industri. Ribuan sepeda motor pekerja diparkir dan tersebar di beberapa lokasi. Truk besar hilir mudik menjemput dan mengambil material. Saat pertukaran sif kerja, kemacetan panjang terjadi di jalan-jalan kawasan industri. Sepanjang jalan Bungku ke Bahodopi, warung makan, toko penjual berbagai keperluan, bengkel, kos-kosan, penginapan, dan tempat usaha lain memadati kiri kanan jalan. Di jalan yang tak seberapa lebar itu, setiap truk besar melintas, sebagian kendaraan lain harus menepi. Alfian (26) dari Tana Toraja, Sulsel, sudah sebulan menumpang di kamar kos kerabatnya yang telah bekerja di PT IMIP. ”Saya memasukkan lamaran dan menunggu jadwal interview. Saya tak tahu sampai kapan akan menunggu, akan diterima atau tidak. Semoga nanti ada jawaban,” katanya.

Ledakan tungku smelter di PT ITSS, tenant di bawah PT IMIP, tak jadi soal bagi pencari kerja. Mereka tetap berharap bisa bekerja di sana. Kadisnakertrans Sulteng Arnold Firdaus menyampaikan, Morowali hingga Morowali Utara menjadi magnet tenaga kerja. Di IMIP, ada 72.000 tenaga kerja, 87 % adalah pekerja local, selebihnya pekerja asing. ”Pekerja lokal sebagian besar dari luar daerah, baik dari Sulsel, Sultra, Gorontalo, maupun Jawa. Pekerja dari Sulteng berkisar 20 %,” ujar Arnold, kemarin. Jumlah pekerja itu belum termasuk ribuan pekerja di perusahaan lainnya. Di Morowali Utara, ada perusahaan lainnya yang memiliki hingga 15.000 tenaga kerja. Kehadiran industri ini menekan tingkat pengangguran terbuka Sulteng. Pada Agustus 2023 sebanyak 47.080 orang menganggur atau 2,95 % dari total angkatan kerja. Jumlah ini turun 2.000 orang dibandingkan Agustus 2022. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :