Industri Manufaktur
( 226 )Sektor Manufaktur Belum Maksimal Sokong Ekonomi
Sektor manufaktur Indonesia mulai ekspansif. Namun pemerintah belum boleh berpuas diri, hal ini lantaran kontribusi manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) kian melorot.S&P Global mencatat, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Agustus 2023 di level 53,9. Angka ini naik 0,6 poin dibandingkan bulan sebelumnya di level 53,3.Laju PMI Manufaktur Agustus 2023 merupakan yang paling cepat dalam kurun waktu hampir setahun. Pendorongnya adalah pertumbuhan permintaan baru yang lebih cepat dan peningkatan kapasitas.Economics Associate Director S&P Global Market Intelligence, Jingyi Pan mengatakan, permintaan meningkat, termasuk dari luar negeri. Bahkan permintaan global menjadi kekuatan utama yang mendorong percepatan ekspansi produksi. "Bisnis baru dari luar negeri mengalami peningkatan dalam 15 bulan terakhir," tulis dia dalam keterangan resminya, Jumat (1/9).Selain itu, optimisme produsen meningkat disertai pertumbuhan aktivitas perekrutan staf dan pembelian. Dengan jumlah tenaga kerja yang lebih tinggi, manufaktur Indonesia mampu merampungkan pekerjaan yang belum selesai. Alhasil, tumpukan pekerjaan dalam dua bulan berturut-turut menurun.Menurut S&P Global, manufaktur Indonesia memperlihatkan optimisme terkait produksi 12 bulan ke depan. Hal ini mendorong perusahaan mencapai kondisi paling optimistis dalam 10 bulan dengan keyakinan pebisnis mendekati rerata jangka panjang."Pemerintah mendukung dengan berbagai insentif fiskal dan non fiskal untuk memperkuat daya saing produk manufaktur nasional", kata Febrio Kacaribu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF).Namun Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono khawatir PMI Manufaktur akan kembali menurun di akhir tahun atau tak setinggi tahun lalu.
MESIN MANUFAKTUR MENDERU
Kinerja industri manufaktur yang berkilau menjadi stimulan penting untuk menopang pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun ini. Namun, pemerintah perlu mewaspadai gejolak eksternal yang bisa melemahkan daya ungkit ekonomi. Beberapa indikator ekonomi berhasil menunjukkan rapor positif, yang salah satunya tecermin dari keberlanjutan ekspansi manufaktur. Rekam jejak ini terlihat dari Purchasing Manager's Index (PMI) yang dipublikasikan S&P Global. Pada Agustus, PMI manufaktur Indonesia mencapai 53,9. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan Juli yang sebesar 53,3. Laju ekspansi tersebut menjadi yang tercepat dalam periode hampir setahun terakhir. Selain itu, indikator dari Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Agustus juga masih terkendali. Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi tercatat sebesar 3,27% (year-on-year/YoY), naik dari sebulan sebelumnya sebesar 3,08% (YoY). Artinya, masih berada di rentang target Bank Indonesia sebesar 2%-4%. Economics Associate Director S&P Global Jingyi Pan mengatakan data PMI manufaktur Indonesia memperlihatkan ekspansi yang solid pada produksi barang menuju akhir kuartal III/2023. “Sebab waktu tunggu pesanan sedikit lebih cepat pada Agustus, sedangkan tekanan harga pada umumnya menurun," katanya, Jumat (1/9). Capaian itu juga sejalan dengan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang dirilis Kementerian Perindustrian. IKI pada Agustus terus ekspansif, yaitu menyentuh angka 53,22. Produk manufaktur yang mengalami peningkatan indeks di antaranya kendaraan bermotor, alat angkut lainnya, dan produk makanan minuman. Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Yusuf Rendy Manilet melihat adanya permintaan ekspor yang meningkat di tengah pelemahan ekonomi China sebagai mitra dagang utama. Tak hanya China, permintaan ikut terangkat dari pasar non-tradisional. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan survei PMI manufaktur dan IKI sudah sejalan dengan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2023. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengingatkan momentum transisi kepemimpinan pada akhir tahun ini perlu menjadi perhatian agar jangan sampai menimbulkan keresahan publik secara sosial dan politik sehingga melemahkan konsumsi. Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan kinerja investasi dan ekspor cukup menantang mengingat tren pelemahan harga komoditas tambang dan perkebunan. “Faktor eksternal dari China, AS dan Eropa sangat memengaruhi net ekspor,” ungkap Bhima.
PERFORMA MANUFAKTUR : Kinerja Industri China Jadi Tantangan
Febri Hendri Antoni Arif, Juru Bicara Kementerian Perindustrian, mengatakan bahwa kondisi market global memiliki pengaruh cukup signifikan terhadap manufaktur dalam negeri, karena 30% produk nasional masih dilempar ke pasar ekspor, sedangkan 70% sisanya diserap pasar domestik. “China memang itu harus kita perhatikan, dampaknya cukup besar, tapi industri manufaktur kita itu lebih banyak ke dalam negeri. Kita tetap mesti hati-hati ke depan,” katanya, Rabu (31/8). Meski masih menghadapi tantangan di pasar global, Febri menilai daya beli masyarakat masih terjaga. Hal tersebut tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang masih berada di level optimistis pada Juni 2023 mencapai 123,5. Di sisi lain, industri pengolahan nonmigas juga masih menunjukkan pertumbuhan positif, yakni sebesar 4,56%. Dari segi realisasi investasi, sektor industri berkontribusi 39,8% atau Rp270,3 triliun terhadap realisasi investasi semester I/2023 sebesar Rp687,7 triliun. Terdapat 16 subsektor industri yang mengalami ekspansi dengan kontribusi 82,7%. Tiga subsektor yang ekspansif yaitu kendaraan bermotor, alat angkutan lainnya, serta makanan dan minuman.
Kinerja Industri Manufaktur Melambat
Indeks Kepercayaan Industri Agustus 2023 berada di posisi 53,22, lebih rendah 0,09 poin dibandingkan bulan sebelumnya. Sekretaris Ditjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kemenperin Yan Sibarang Tandiele, Kamis (31/8/2023), mengatakan, subsektor yang mengalami kontraksi adalah subsektor industri logam dasar serta industri reparasi, pemasangan mesin dan peralatan. (Yoga)
RANTAI PASOK KENDARAAN LISTRIK : OPSI CIAMIK MANUFAKTUR ASEAN
Siapa sangka negara-negara di kawasan Asean merupakan salah satu produsen utama mineral kritis yang sangat dibutuhkan baik untuk transisi energi maupun pengembangan ekosistem kendaraan listrik. Tak ayal, wilayah ini digadang-gadang menjadi sentra manufaktur untuk kebutuhan rantai pasok kendaraan berbasis setrum.
Setidaknya keyakinan itulah yang terlintas dalam benak Ketua Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli. Ia menilai peluang negara-negara kawasan Asia Tenggara atau Asean untuk menjadi pusat rantai pasok bahan baku kendaraan listrik terbilang besar. Pasalnya, dia mengungkapkan bahwa Asean memiliki potensi cadangan mineral kritis bahan baku kendaraan listrik yang masif. Apalagi, imbuhnya, iklim investasi di Asean belakangan makin menarik bagi investor global.“Iklim investasi di negara-negara Asean sangat mendukung untuk investasi. Sekarang banyak pabrik kendaraan bermotor pindah ke negara di Asean seperti Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Indonesia,” katanya saat dihubungi Bisnis, Senin (28/8). Bahkan, imbuhnya, kompetisi antara negara-negara di kawasan ini juga akan makin ketat untuk memperebutkan investasi baru pada penghiliran mineral logam kendaraan listrik di masa mendatang.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menilai bahwa dengan banyaknya kerja sama antara negara-negara di kawasan Asean maka akan terbuka peluang yang sangat besar bagi pelaku usaha sektor energi untuk ambil bagian dalam proyek energi di wilayah ini.
Dia mengungkapkan bahwa negara-negara Asean a.l Indonesia, Malaysia, Filipina, Myanmar, dan Vietnam memiliki sumber daya mineral dengan jumlah yang sangat besar seperti nikel, timah, bauksit, dan elemen tanah jarang, yang bisa digunakan untuk mendukung transisi energi.
Sementara itu, Koordinator Khusus Partnership for Global Infrastructure & Investment (PGI) Amerika Serikat Helaina Matza memandang bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama di kancah global.
ASEAN Diharapkan Jadi Hub Manufaktur
Besarnya potensi energi surya di Asia Tenggara diharapkan memicu pertumbuhan industri manufaktur panel surya terintegrasi di kawasan ini. Sebagai Ketua ASEAN 2023, Indonesia didorong mencetuskan inisiasi itu dalam pertemuan-pertemuan, baik ditingkat menteri maupun pemimpin negara. Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menyampaikan usul itu dalam diskusi ”Menakar Ambisi Iklim Asia Tenggara di Bawah Keketuaan Indonesia padaASEAN 2023” yang digelar oleh IESR di Jakarta, Selasa (15/8). ASEAN diharapkan jadi hub produksi teknologi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang terintegrasi.
Menurut Fabby, hal itu penting karena dalam berbagai skenario jangka panjang transisi energi di ASEAN, PLTS diproyeksikan berkontribusi signifikan. ”Apabila panas bumi hanya ada di Indonesia dan Filipina, energi surya ada di seluruh kawasan ASEAN,” katanya. ASEAN berpotensi jadi hub manufaktur PLTS karena sejumlah negara telah mengembangkannya kendati masih terbatas di cell dan modulnya, seperti Vietnam dan Malaysia. Sementara Indonesia memiliki hasil tambang berupa pasir silika sebagai bahan baku. Fabby mengusulkan agar inisiasi itu dibahas dalam Pertemuan Menteri-Menteri Energi ASEAN pekan depan. Apabila terlaksana, isu itu diharapkan dibawa ke KTT Ke-43 ASEAN yang berlangsung di Jakarta, 5-7 September 2023. (Yoga)
KONTRIBUSI DUNIA USAHA : AKSELERASI INDUSTRI TOPANG EKONOMI
Dunia usaha termasuk manufaktur terus menunjukkan tajinya sebagai pendorong perekonomian utama perekonomian nasional selepas pandemi Covid-19. Kerja sama yang solid antara pelaku usaha dan pemerintah pun berhasil membawa pertumbuhan ekonomi nasional kelevel yang progresif. Kementerian Perindustrian mencatat industri pengolahan nonmigas sebagai sektor yang berkontribusi paling besar terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, dengan porsi 16,3% pada kuartal II/2023.Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, tingginya kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB mencerminkan industri dalam negeri masih bergeliat di tengah perlambatan ekonomi global.“Kinerja positif ini juga sejalan dengan capaian PMI [Purchasing Managers’ Index] Manufaktur Indonesia dan Indeks Kepercayaan Industri yang masih berada di level ekspansi,” katanya, beberapa waktu lalu.Laju PMI Manufaktur Indonesia pada Juli 2023 memang menunjukkan peningkatan kesehatan sektor manufaktur dalam 23 bulan terakhir, dengan peningkatan tercepat dalam rekor sejak September 2022. PMI Manufaktur bulan lalu menguat ke level 53,3 dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang ada di angka 52,5.PMI Manufaktur Indonesia pada Juli 2023 juga mampu melampaui sejumlah negara Asean, seperti Malaysia yang masih berada di zona kontraksi 47,8, dan Vietnam di level 48,7. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, manufaktur masih menjadi kontributor tertinggi terhadap PDB Indonesia sebesar 18,25% pada kuartal II/2023.
Di sisi lain, sektor komoditas primer masih tumbuh.Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani mengatakan, ekspansi kapasitas produksi belakangan lebih didominasi oleh sektor komoditas primer, seperti pertanian, perkebunan, perikanan, serta hortikultura.
Secara agregat, kinerja garmen dan alas kaki juga mengalami kontraksi, meski terdapat peningkatan permintaan atas produk apparel dan sepatu dari dalam negeri pada kuartal II/2023. Hal tersebut juga divalidasi dari sisi ritel yang mengalami peningkatan pada periode Lebaran, tetapi mengalami penurunan drastis hingga stagnan pada Mei 2023.
Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa mengatakan, pelambatan ekonomi yang dialami China dalam beberapa pekan terakhir mengkhawatirkan industriawan garmen domestik. Sebab, China berpotensi memperluas pasarnya ke luar teritori, termasuk Indonesia.“China stok barangnya banyak dan berusaha menjual ke negara yang lemah dalam hal perlindungan dagang. Salah satu yang disasar adalah Indonesia. Saat ini semua negara berusaha melindungi pasar masing-masing. Indonesia harus melakukan hal yang sama,” katanya.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Arsjad Rasjid menyampaikan, alih-alih bersinergi, BUMN dan swasta lebih banyak bersaing di medan yang sama, misalnya pada sektor-sektor yang sudah berkembang.
Pasar Lesu, Eksportir Coba Beragam Cara
Permintaan dari negara mitra dagang utama Indonesia masih lesu. Eksportir coba mempertahankan usaha dengan beragam cara. Di sisi lain, pasar alternatif baru dan perjanjian dagang belum sepenuhnya dapat menggantikan permintaan yang hilang. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani, Kamis (10/8) mengatakan, hampir semua industri manufaktur berorientasi ekspor masih terdampak pelemahan permintaan global, khususnya industri yang memproduksi barang konsumsi tahan lama, seperti pakaian, sepatu, dan furnitur.
”Dalam kondisi saat ini, mengalihkan pasar atau mengikat kontrak dengan pembeli baru dari luar negeri tidak mudah, yang bisa dilakukan untuk bertahan adalah meningkatkan efisiensi produksi dengan konsekuensi penurunan produktivitas atau kapasitas terpakai,” ujarnya. Selain itu, tak sedikit perusahaan pengekspor yang mengalihkan produksi untuk menyediakan produk yang bisa dijual di dalam negeri. Adapun yang tidak bisa umumnya terus berkoordinasi dengan pembeli dari luar negeri, terutama yang memiliki kontrak penjualan atau rantai pasok untuk meminimalkan potensi stop produksi. Ada juga yang mulai mendiversifikasi pasar ke negara yang permintaannya lebih baik meski daya belinya lebih rendah. Mereka yang semula ekspor ke AS dan Uni Eropa, memindah pasar ke China, India, dan beberapa negara di Afrika. (Yoga)
Industri Otomotif Didorong Tumbuh Lebih Besar
Industri otomotif Tanah Air mencatatkan pertumbuhan positif beberapa tahun terakhir. Namun, capaian itu dinilai belum cukup. Tren kendaraan listrik bisa jadi kesempatan bagi industri otomotif Indonesia berkiprah lebih signifikan di pasar global. Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan hal itu saat membuka pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) ke-30 di ICE BSD, Tangerang, Banten, Kamis (10/8). Airlangga menambahkan, saat ini ada 21 perusahaan yang memproduksi hingga 1,6 juta unit kendaraan bermotor di Indonesia.
Organisasi Produsen Kendaraan Bermotor Internasional (Organisation Internationale des Constructeurs d’Automobiles/OICA) mencatat, Indonesia memproduksi 1,47 juta unit kendaraan bermotor pada 2022. Dari sisi jumlah, Indonesia merupakan negara produsen kendaraan bermotor terbanyak ke-11 dunia. Pemerintah terus mendorong pertumbuhan sektor otomotif agar naik peringkat di 10 besar. Airlangga berharap industri otomotif menunjukkan daya saing yang kuat, terutama dalam menjangkau 93 negara tujuan ekspor. Industri ini turut menopang pertumbuhan industri manufaktur. Hal itu tecermin dalam kinerja industri pengolahan yang tumbuh 4,88 % pada triwulan II-2023 dan industri manufaktur menjadi kontributor utamanya. (Yoga)
Hilirisasi Tak Cukup Atasi Deindustrialisasi
Gejala deindustrialisasi dini semakin nyata dihadapi Indonesia, strategi hilirisasi yang digencarkan pemerintah dinilai masih jauh panggang dari api. Manfaat hilirisasi lebih banyak dinikmati negara lain seperti China. Indonesia butuh kebijakan industrialisasi yang komprehensif, bukan sekadar hilirisasi yang tanggung. Gejala deindustrialisasi prematur, atau penurunan kontribusi industri manufaktur, terhadap PDB nasional mulai terlihat sejak tahun 2002. Namun, laju penurunan itu semakin cepat terjadi sejak tahun 2009. Sebagai perbandingan, pada 2008, porsi industri manufaktur terhadap PDB nasional masih 27,8 %. Pada 2010, kontribusinya mulai turun ke 22 %. Saat pandemi Covid-19, peran sektor pengolahan semakin mengecil ke 19,8 % pada 2020, turun lagi menjadi 19,25 % pada 2021, 18,34 % pada 2022, dan 18,25 % pada triwulan II tahun 2023.
Gejala deindustrialisasi juga tampak dari pertumbuhan industri pengolahan yang ada di bawah laju pertumbuhan ekonomi. Data BPS, pada triwulan II-2023, industri pengolahan tumbuh 4,88 %, di bawah pertumbuhan ekonomi yang 5,17 %. Ekonom Senior Indef Faisal Basri menambahkan, untuk membangkitkan kembali industri pengolahan, Indonesia butuh kebijakan industrialisasi yang komprehensif dengan pemetaan potensi sektoral yang jelas. Sayangnya, Indonesia belum memiliki strategi industrialisasi yang jelas, contohnya, hilirisasi nikel saat ini masih sebatas mengolah bijih nikel(ore nickel) menjadi nickel pig iron (NPI) atau feronikel. ”Lalu 90 % diekspor ke China. Jadi, hilirisasi di Indonesia mendukung industrialisasi di China. Kita sendiri hanya menikmati 10 %-nya, 90 %-nya ke China,” kata Faisal. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Upaya Menegakkan Jurnalisme Berkeadilan
01 Aug 2022 -
Hati-hati Rekor Inflasi
02 Aug 2022 -
Kegagalan Sistem Pangan Indonesia
06 Aug 2022









