;

Hilirisasi Tak Cukup Atasi Deindustrialisasi

Ekonomi Yoga 09 Aug 2023 Kompas
Hilirisasi Tak Cukup
Atasi Deindustrialisasi

Gejala deindustrialisasi dini semakin nyata dihadapi Indonesia, strategi hilirisasi yang digencarkan pemerintah dinilai masih jauh panggang dari api. Manfaat hilirisasi lebih banyak dinikmati negara lain seperti China. Indonesia butuh kebijakan industrialisasi yang komprehensif, bukan sekadar hilirisasi yang tanggung. Gejala deindustrialisasi prematur, atau penurunan kontribusi industri manufaktur, terhadap PDB nasional mulai terlihat sejak tahun 2002. Namun, laju penurunan itu semakin cepat terjadi sejak tahun 2009. Sebagai perbandingan, pada 2008, porsi industri manufaktur terhadap PDB nasional masih 27,8 %. Pada 2010, kontribusinya mulai turun ke 22 %. Saat pandemi Covid-19, peran sektor pengolahan semakin mengecil ke 19,8 % pada 2020, turun lagi menjadi 19,25 % pada 2021, 18,34 % pada 2022, dan 18,25 % pada triwulan II tahun 2023.

Gejala deindustrialisasi juga tampak dari pertumbuhan industri pengolahan yang ada di bawah laju pertumbuhan ekonomi. Data BPS, pada triwulan II-2023, industri pengolahan tumbuh 4,88 %, di bawah pertumbuhan ekonomi yang 5,17 %. Ekonom Senior Indef Faisal Basri menambahkan, untuk membangkitkan kembali industri pengolahan, Indonesia butuh kebijakan industrialisasi yang komprehensif dengan pemetaan potensi sektoral yang jelas. Sayangnya, Indonesia belum memiliki strategi industrialisasi yang jelas, contohnya, hilirisasi nikel saat ini masih sebatas mengolah bijih nikel(ore nickel) menjadi nickel pig iron (NPI) atau feronikel. ”Lalu 90 % diekspor ke China. Jadi, hilirisasi di Indonesia mendukung industrialisasi di China. Kita sendiri hanya menikmati 10 %-nya, 90 %-nya ke China,” kata Faisal. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :