Industri Manufaktur
( 226 )Industri Unggulan Tumbuh Melambat
Pertumbuhan industri unggulan Indonesia, yakni makanan dan minuman, pada triwulan II-2023 tercatat 4,62 % secara tahunan. Pertumbuhan itu lebih rendah dibandingkan triwulan I-2023 di 5,33 %. Momentum Ramadhan dan Lebaran tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan di sektor makanan dan minuman. ”Saat menjelang Lebaran, masih ada pertumbuhan (permintaan), tetapi sedikit lambat. Berdasarkan hasil survei kami, terdapat pergeseran pola pengeluaran konsumen yang mengurangi makanan yang tergolong sekunder untuk belanja pengalaman, seperti travelling,” tutur Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia Adhi S Lukman saat dihubungi, Senin (7/8) di Jakarta.
Tak hanya industri makanan dan minuman yang tumbuh melambat saat Ramadhan-Lebaran, industri tekstil dan pakaian jadi justru terkontraksi lebih dalam pada triwulan II-2023, yakni minus 1,7 %. Kondisi tersebut lebih buruk dibandingkan triwulan I-2023 yang tumbuh minus 0,07 %. Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, percepatan penyelesaian Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU-CEPA) menjadi cara menguatkan pertumbuhan PDB industri manufaktur nonkomoditas lewat peningkatan ekspor. Saat ini ekspor Indonesia ke Uni Eropa dikenai biaya masuk 10-17 %. ”Padahal, negara yang sudah memiliki perjanjian dagang dengan UE, seperti Vietnam,tidak dikenai bea masuk,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin. (Yoga)
AS Berencana Relokasi Pabrik ke Indonesia
Industri alas kaki Tanah Air mendapat peluang pemulihan dari imbas perang dagang AS dan China. AS berencana merelokasi sejumlah pabrik sepatu di China dan Vietnam ke Indonesia. Indonesia menjadi pilihan karena pemilik merek dari AS melihat kinerja produksi sejumlah jenama besar sepatu di Indonesia. Menurut Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) sekaligus Ketua Confederation of International Footwear Association (CIFA) Eddy Widjanarko, AS menyoroti China yang dinilai cenderung mendukung Rusia. Imbasnya, di tengah perang dagang di antara kedua negara itu, AS mengurangi permintaan dari China, termasuk sepatu.
”AS mencari negara baru untuk relokasi dan investasi (alas kaki). Indonesia menjadi salah satu pilihan. Di saat yang sama, sejumlah pabrik sepatu di China tutup akibat resesi,” ujar Eddy di sela International Footwear Conference ke-40 di Jakarta, Jumat (4/8). Indonesia menjadi pilihan karena AS menilai kinerja jenama besar sepatu di Tanah Air sangat kuat, seperti Nike, Adidas, dan Reebok.
Di Indonesia, terdapat 44 pabrik Nike dan 20-30 pabrik Adidas. AS juga berencana merelokasi sejumlah pabrik sepatu dari Vietnam ke Indonesia, disebab kan kebijakan karantina wilayah (lockdown) saat pandemic Covid-19 di Vietnam yang membuat industri negara itu tidak mampu memenuhi per-mintaan pembeli. Sebaliknya, Indonesia dinilai dapat mengelola produksinya di tengah pandemi sehingga dapat memenuhi permintaan pembeli. (Yoga)
KINERJA SEKTOR INDUSTRI : Perbaikan Manufaktur Pacu Lapangan Kerja
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan peningkatan purchasing managers’ index (PMI) manufaktur Indonesia pada Juli menjadi 53,3 dari bulan sebelumnya 52,5 menunjukkan bahwa pelaku usaha meyakini penjualan akan meningkat seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi. “Pertumbuhan industri masih baik, berada di level ekspansif. Kontribusi terhadap PDB juga masih yang tertinggi dibandingkan dengan sektor lainnya, termasuk kontribusi dari ekspor dan pajak,” katanya, Selasa (1/8). S&P Global Market Intelligence mencatat peningkatan PMI manufaktur Indonesia pada Juli ditopang oleh naiknya permintaan, baik dari dalam maupun luar negeri. Untuk menjaga momentum tersebut, Kementerian Perindustrian bakal terus memastikan iklim usaha tetap kondusif, seperti dengan mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan bermotor listrik. Jingyi Pan, ekonom S&P Global Market Intelligence, mengatakan percepatan total pertumbuhan pesanan baru tidak hanya didukung oleh kenaikan permintaan domestik, tetapi juga didukung oleh pertumbuhan bisnis baru dari luar negeri.
Terjebak Pertumbuhan 5% Akibat Deindustrialisasi
Pemerintah Indonesia menargetkan untuk menjadi negara maju pada tahun 2045 nanti. Namun mimpi Indonesia bakal sulit tercapai jika fenomena deindustrialisasi tak segera diatasi.
Deputi Bidang Ekonomi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, Indonesia terlalu lama menjadi kelompok negara berpendapatan menengah. Untuk bisa menjadi negara maju, pertumbuhan ekonomi RI harus bisa mencapai kisaran 6%-7%. Nah, untuk mencapai itu, industrilisasi menjadi kunci.
Dia bilang, saat ini Indonesia justru mengalami deindustrialisasi dini. Deindustrialisasi adalah proses kebalikan dari industrialisasi, yaitu penurunan kontribusi sektor industri pengolahan nonmigas terhadap produk domestik bruto (PDB).
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi industri pengolahan terhadap PDB lima tahun belakangan di bawah angka 20%. Pada 2022 kontribusinya hanya 18,34%. Padahal ekonomi RI tahun lalu mulai pulih setelah terhantam pandemi Covid-19.
Tim Ahli Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan pemerintah berupaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan memacu produktivitas, tenaga kerja yang terampil, serta barang modal berteknologi tinggi dan tepat guna. "Selain itu, dengan mempermudah konektivitas juga prasyarat dengan perbaikan jalan, pelabuhan udara, laut, darat yang terintegrasi untuk menurunkan biaya logistik," kata dia kepada KONTAN, kemarin.
Kepala Pusat Ekonomi Makro dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengatakan, pertumbuhan ekonomi akan meningkat sejalan dengan tumbuhnya industri manufaktur, khususnya padat karya. Hal tersebut akan merangsang daya beli sehingga dapat meningkatkan konsumsi masyarakat.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menambahkan, dengan deindustrialisasi yang semakin dalam dan meluas, ada risiko pertumbuhan konsumsi domestik tidak diimbangi pasokan barang lokal. Akibatnya Indonesia makin tergantung impor, baik barang olahan setengah jadi maupun barang jadi. Bukan hanya itu, pendapatan per kapita penduduk juga sulit naik karena lapangan kerja di sektor industri terbatas.
Kontribusi Pajak dari Manufaktur Menurun
Sumbangan penerimaan pajak dari industri pengolahan mengalami tren menurun. Di luar efek basis penerimaan yang tinggi tahun lalu, melambatnya setoran pajak dari manufaktur diduga akibat gejala deindustrialisasi dini serta pemberian fasilitas perpajakan yang belum setimpal dengan hasil yang diinginkan. Berdasarkan Laporan Realisasi APBN Semester I Tahun 2023 oleh Kemenkeu, industri pengolahan masih menyumbang penerimaan pajak tertinggi dibandingkan sektor lain. Pada Januari-Juni, industri pengolahan memberikan kontribusi 27,4 % terhadap total penerimaan pajak, disusul perdagangan (23,1 %) dan pertambangan (12,7 %). Meski demikian, dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemi, sumbangsih sektor manufaktur terhadap penerimaan pajak melemah. Pada semester I-2019, kontribusi industri pengolahan 28,7 %. Pada semester I-2018, kontribusi sektor ini 30,3 %. Pertumbuhan penerimaan pajak dari industri pengolahan juga menurun.
Pada semester I-2023, penerimaan pajak dari manufaktur tumbuh 8 %, anjlok dari pertumbuhan penerimaan pajak semester I-2022 sebesar 51,6 %, yang terkerek momentum lonjakan harga komoditas dunia. Dibandingkan dengan kondisi prapandemi, tren penerimaan pajak dari manufaktur juga menurun. Pada semester I-2019, pertumbuhan penerimaan pajak dari industri pengolahan adalah 12,4 %, menurun dari pertumbuhan 12,64 % pada semester I-2018 dan 17,57 % pada semester I-2017. Menurut Kepala Center of Trade Investment and Industry di Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho, turunnya penerimaan pajak dari sektor manufaktur tidak lepas dari gejala deindustrialisasi dini. ”Itu patut diwaspadai karena sektor manufaktur ini andalan untuk menyumbang penerimaan perpajakan. Setiap tahapan pengolahan ada pungutan pajak, dari impor bahan baku sampai ekspor produk jadi, belum lagi sumbangan dari Pajak Penghasilan karena sektor ini banyak menyerap tenaga kerja,” ujarnya, Minggu (23/7/2023). (Yoga)
Penjualan Emiten Semen Masih Kokoh
Menutup semester pertama tahun 2023, penjualan semen nasional masih terkontraksi. Pada periode Juni 2023, volume penjualan semen domestik hanya sebanyak 5,3 juta ton, turun tipis 1,1% secara tahunan.
Meski begitu, secara bulanan, penjualan semen domestik masih tumbuh 8,5%. Secara keseluruhan, jika diakumulasi di sepanjang semester I-2023, penjualan semen nasional mencapai 27,4 juta ton, turun 4,9% secara tahunan dibandingkan tahun 2022.
Lilik Unggul Raharjo, Direktur Utama PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) menilai, permintaan semen pada semester pertama 2023 cukup menantang akibat banyaknya hari libur dan musim penghujan.
Untuk itu, anak usaha PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) ini optimistis, permintaan semen tahun ini bisa tumbuh 2% sampai 4% dibanding tahun lalu. Pada 2022, penjualan semen SMCB 13,14 juta ton, turun 2,32% dibanding tahun 2021 sebanyak 13,45 juta ton.
Sekretaris Perusahaan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), Dani Handajani sepakat, penjualan semen di semester kedua cenderung lebih baik dibandingkan semester pertama. Salah faktor pendukungnya adalah cuaca yang relatif lebih kering.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Daniel Aditya Widjaja memproyeksi, penjualan semen akan membaik pada paruh kedua tahun ini. Secara historikal, sejak tahun 2018, kontribusi penjualan semen nasional pada separuh pertama hanya menyumbang 44%-45% dari penjualan tahunan.
Namun, Daniel memperkirakan, pada semester II-2023, penjualan semen akan mencapai 36 juta ton atau naik 7,6% secara tahunan. Katalis positif penjualan semen, antara lain, adanya momentum pemilihan umum (pemilu) tahun 2024.
RI-JEPANG, Kontribusi pada Rantai Pasok, Kepercayaan pada SDM Lokal
Keberadaan perusahaan-perusahaan manufaktur asal Jepang dinilai menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selain terkait proses alih teknologi dan pengetahuan, eksistensinya dianggap turut mengembangkan perusahaan dalam negeri. Apalagi regulasi mendorong peningkatan komponen dalam negeri. PT Sharp Electronics Indonesia (SEID), di bawah Sharp Corporation di Jepang, misalnya, bermitra dengan PT Yasonta saat hadir di Indonesia tahun 1970. SEID berkembang meraih pangsa pasar Indonesia, khususnya pada alat-alat elektronik, seperti televisi, lemari es, mesin cuci, dan penyejuk ruangan (AC). Setelah pabrik televisi, lemari es, dan mesin cuci di KIIC, Kabupaten Karawang, Jabar, Sharp mengoperasikan pabrik AC sejak April 2023.
”Kami melihat pasar yang luas (di Indonesia) dan juga sebagai adaptasi terhadap kebijakan pemerintah yang mengarah ke produksi lokal dan mengurangi impor,” kata National Sales Senior GM SEID Andry Adi Utomo, di Jakarta, Jumat (23/6). Andry menambahkan, rantai pasok produksi melibatkan perusahaan yang ada di Indonesia kendati sebagian di antaranya terafiliasi dengan perusahaan asal Jepang. Tak dimungkiri, tingginya nasionalisme membuat SEID memprioritaskan perusahaan-perusahaan Jepang. Tapi, jika harganya tak kompetitif, SEID memilih perusahaan asal negara lain. ”Untuk produksi AC, sekarang sudah 50 % lebih komponen (berasal) dari dalam negeri. Kami sedang mencari kompresor buatan lokal. Sebab, saat ini masih impor, seperti dari Malayasia, Thailand, dan China. Kalau ada pabrik kompresor di Indonesia, TKDN (tingkat komponen dalam negeri) AC akan meningkat,” ujarnya.
Dalam perkembangannya, sumber daya manusia (SDM) Indonesia semakin banyak di SEID, sementara SDM Jepang berkurang. Saat ini, karyawan SEID sekitar 3.000 orang, hampir semuanya warga Indonesia. Ekspatriatnya hanya lima orang. ”Artinya, mereka (Jepang) sudah percaya dengan SDM Indonesia. Memang ekspatriat awalnya banyak, setelah berkembang, ada efisiensi biaya. Ternyata dipegang (SDM) lokal pun bisa, bahkan membaik. Sejak 2015, ekspatriat berkurang banyak,” ujarnya. Meski demikian, kata Andry, pengawasan mutu tetap dijaga. Audit pun dilakukan Sharp Corporation setiap tahun dan prosedur standar operasi dipantau agar tetap sesuai dengan standar internasional Jepang. (Yoga)
Kinerja Manufaktur Dikerek Permintaan Lokal
Kinerja manufaktur Indonesia kembali menanjak. Di tengah ketidakpastian pasar global, permintaan domestik menjadi kontributor terbesar produk domestik bruto (PDB) selama ini.
S&P Global mencatat,
Purchasing Managers' Index
(PMI) Manufaktur Indonesia pada Juni 2023 berada di level 52,5. Angka ini meningkat 2,2 poin dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 50,3.
Economics Associate Director
S&P Global PMI Market Inteligence, Jingyi Pan mengatakan, peningkatan indeks manufaktur ini disebabkan adanya kenaikan permintaan baru selama Juni. Hanya saja, permintaan asing terus merosot. "Momentum pertumbuhan di seluruh sektor manufaktur Indonesia kembali mengalami percepatan pada bulan Juni," ujar dia dalam keterangan resminya, Senin (3/7).
Secara keseluruhan, optimisme bisnis masih lemah. Hal ini perlu diperhatikan. "Penting untuk memperhatikan permintaan, terutama permintaan eksternal, yang naik untuk menambah kepercayaan diri di antara para produsen," ucap dia.
Head of Industry & Regional Research
Bank Mandiri Dendi Ramdani mengatakan, sektor manufaktur yang berorientasi domestik justru membaik lantaran permintaan lokal yang masih menguat. Misalnya, industri otomotif. Penjualan mobil per bulan mencapai 80.000 hingga 90.000 unit dan telah mencapai level pra pandemi Covid-19.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, PMI Manufaktur Juni merupakan level tertinggi dalam 1,5 tahun terakhir. "Ini meningkatkan ekspektasi positif pelaku usaha atas kondisi ekonomi Indonesia, sehingga berpeluang menarik investasi baru ke dalam negeri," kata dia, kemarin.
Namun Ketua Umum Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman Indonesia (AKLPI) Yustinus Gunawan meramal, indeks manufaktur Indonesia pada Juli 2023 akan menurun, meski diharapkan masih berada di level ekspansi.
INDEKS KEPERCAYAAN INDUSTRI : Pesanan Baru Kerek Kinerja Manufaktur
Perbaikan pesanan baru dan produksi sepanjang bulan ini membuat Indeks Kepercayaan Industri atau IKI Juni 2023 melesat ke level 53,93. Angka tersebut menjadi indeks tertinggi sejak IKI diluncurkan oleh Kementerian Perindustrian pada November 2022, sekaligus mengakhiri pelambatan yang terjadi selama 3 bulan sebelumnya. Febri Hendri Antoni Arif, Juru Bicara Kementerian Perindustrian, mengatakan dua variabel utama pembentuk IKI, yakni pesanan baru dan produksi yang mengalami ekspansi, sedangkan persediaan produk diketahui melemah. Hal itu mencerminkan bahwa situasi manufaktur dan kondisi pasar mengalami perbaikan. “Industri manufaktur sedang bergerak pada posisi ekspansi. Seluruh variabel pembentuk IKI juga mengalami kenaikan, baik pesanan baru, produksi, maupun ketersediaan produk,” katanya, Selasa (27/6). Febri menjelaskan, 20 subsektor industri dengan porsi terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 96,5% mengalami ekspansi pada Juni 2023. Yang paling kentara adalah perbaikan di industri makanan dan minuman, bahan kimia dan bahan dari kimia, kendaraan bermotor, serta trailer dan semi-trailer. “Dari 23 subsektor yang dibina oleh Kementerian Perindustrian, ada tiga subsektor yang performanya kinclong, seperti otomotif menjadi yang paling bagus, lalu juga industri makanan dan minuman.”
Adopsi Kedisiplinan Talenta Industri Jepang
Kerja sama Indonesia dan Jepang dalam industri manufaktur memantik lahirnya SDM yang mengedepankan disiplin dan komitmen untuk mencapai mutu terbaik. Kerja sama ekonomi kedua negara juga memperkuat teknologi dan peran manufaktur Tanah Air dalam rantai pasok global. Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita mengibaratkan, relasi Indonesia dan Jepang seperti dua sisi pada sekeping mata uang. ”Very very close, baik secara ekonomi maupun diplomatis. Pilihan Indonesia sebagai negara kunjungan pertama Kaisar Jepang menunjukkan pentingnya Indonesia di mata Jepang,” tutur Agus saat dihubungi, Kamis (22/6).
Jalinan hubungan kedua negara ini turut berkontribusi pada pembentukan etos, budaya, dan sikap kerja SDM di Tanah Air. Dia menyebutkan, pemain industri dari Jepang di Indonesia menunjukkan adopsi kultur yang menjunjung kedisiplinan dan produktivitas. Hal ini berbuah pengakuan Jepang atas peningkatan kualitas SDM Indonesia. Sejumlah orang Indonesia pun dipercaya memimpin pabrik besar Jepang di Tanah Air. Hasil survei Japan External Trade Organization (Jetro) menunjukkan, 73 % perusahaan Jepang yang ada di Indonesia memproyeksikan adanya profit pada tahun 2023. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan proyeksi di Thailand dan Vietnam. Agus pun optimistis, Jepang akan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) karena Indonesia sedang memperkuat posisinya dalam rantai pasok dan ekosistem EV. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Digitalisasi Keuangan Daerah
26 Jul 2022 -
Paradoks Ekonomi Biru
09 Aug 2022









