;

Terjebak Pertumbuhan 5% Akibat Deindustrialisasi

Ekonomi Hairul Rizal 28 Jul 2023 Kontan
Terjebak Pertumbuhan 5% Akibat Deindustrialisasi

Pemerintah Indonesia menargetkan untuk menjadi negara maju pada tahun 2045 nanti. Namun mimpi Indonesia bakal sulit tercapai jika fenomena deindustrialisasi tak segera diatasi. Deputi Bidang Ekonomi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, Indonesia terlalu lama menjadi kelompok negara berpendapatan menengah. Untuk bisa menjadi negara maju, pertumbuhan ekonomi RI harus bisa mencapai kisaran 6%-7%. Nah, untuk mencapai itu, industrilisasi menjadi kunci. Dia bilang, saat ini Indonesia justru mengalami deindustrialisasi dini. Deindustrialisasi adalah proses kebalikan dari industrialisasi, yaitu penurunan kontribusi sektor industri pengolahan nonmigas terhadap produk domestik bruto (PDB). Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi industri pengolahan terhadap PDB lima tahun belakangan di bawah angka 20%. Pada 2022 kontribusinya hanya 18,34%. Padahal ekonomi RI tahun lalu mulai pulih setelah terhantam pandemi Covid-19. Tim Ahli Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan pemerintah berupaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan memacu produktivitas, tenaga kerja yang terampil, serta barang modal berteknologi tinggi dan tepat guna. "Selain itu, dengan mempermudah konektivitas juga prasyarat dengan perbaikan jalan, pelabuhan udara, laut, darat yang terintegrasi untuk menurunkan biaya logistik," kata dia kepada KONTAN, kemarin. Kepala Pusat Ekonomi Makro dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengatakan, pertumbuhan ekonomi akan meningkat sejalan dengan tumbuhnya industri manufaktur, khususnya padat karya. Hal tersebut akan merangsang daya beli sehingga dapat meningkatkan konsumsi masyarakat. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menambahkan, dengan deindustrialisasi yang semakin dalam dan meluas, ada risiko pertumbuhan konsumsi domestik tidak diimbangi pasokan barang lokal. Akibatnya Indonesia makin tergantung impor, baik barang olahan setengah jadi maupun barang jadi. Bukan hanya itu, pendapatan per kapita penduduk juga sulit naik karena lapangan kerja di sektor industri terbatas.

Download Aplikasi Labirin :