KONTRIBUSI DUNIA USAHA : AKSELERASI INDUSTRI TOPANG EKONOMI
Dunia usaha termasuk manufaktur terus menunjukkan tajinya sebagai pendorong perekonomian utama perekonomian nasional selepas pandemi Covid-19. Kerja sama yang solid antara pelaku usaha dan pemerintah pun berhasil membawa pertumbuhan ekonomi nasional kelevel yang progresif. Kementerian Perindustrian mencatat industri pengolahan nonmigas sebagai sektor yang berkontribusi paling besar terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, dengan porsi 16,3% pada kuartal II/2023.Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, tingginya kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB mencerminkan industri dalam negeri masih bergeliat di tengah perlambatan ekonomi global.“Kinerja positif ini juga sejalan dengan capaian PMI [Purchasing Managers’ Index] Manufaktur Indonesia dan Indeks Kepercayaan Industri yang masih berada di level ekspansi,” katanya, beberapa waktu lalu.Laju PMI Manufaktur Indonesia pada Juli 2023 memang menunjukkan peningkatan kesehatan sektor manufaktur dalam 23 bulan terakhir, dengan peningkatan tercepat dalam rekor sejak September 2022. PMI Manufaktur bulan lalu menguat ke level 53,3 dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang ada di angka 52,5.PMI Manufaktur Indonesia pada Juli 2023 juga mampu melampaui sejumlah negara Asean, seperti Malaysia yang masih berada di zona kontraksi 47,8, dan Vietnam di level 48,7. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, manufaktur masih menjadi kontributor tertinggi terhadap PDB Indonesia sebesar 18,25% pada kuartal II/2023.
Di sisi lain, sektor komoditas primer masih tumbuh.Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani mengatakan, ekspansi kapasitas produksi belakangan lebih didominasi oleh sektor komoditas primer, seperti pertanian, perkebunan, perikanan, serta hortikultura.
Secara agregat, kinerja garmen dan alas kaki juga mengalami kontraksi, meski terdapat peningkatan permintaan atas produk apparel dan sepatu dari dalam negeri pada kuartal II/2023. Hal tersebut juga divalidasi dari sisi ritel yang mengalami peningkatan pada periode Lebaran, tetapi mengalami penurunan drastis hingga stagnan pada Mei 2023.
Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa mengatakan, pelambatan ekonomi yang dialami China dalam beberapa pekan terakhir mengkhawatirkan industriawan garmen domestik. Sebab, China berpotensi memperluas pasarnya ke luar teritori, termasuk Indonesia.“China stok barangnya banyak dan berusaha menjual ke negara yang lemah dalam hal perlindungan dagang. Salah satu yang disasar adalah Indonesia. Saat ini semua negara berusaha melindungi pasar masing-masing. Indonesia harus melakukan hal yang sama,” katanya.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Arsjad Rasjid menyampaikan, alih-alih bersinergi, BUMN dan swasta lebih banyak bersaing di medan yang sama, misalnya pada sektor-sektor yang sudah berkembang.
Tags :
#Industri ManufakturPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023