Industri lainnya
( 1858 )DMAS Manfaatkan Kredit BMRI untuk Kawasan Industri
PT Puradelta Lestari Tbk. (DMAS) berhasil memperoleh fasilitas pinjaman senilai Rp1,5 triliun dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) untuk mendukung pengembangan Kawasan Deltamas di Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi. Direktur dan Sekretaris Perusahaan DMAS, Tondy Suwanto, menyatakan bahwa pinjaman modal kerja non-revolving ini akan digunakan dalam jangka waktu lima tahun untuk memperkuat operasional perusahaan dan meningkatkan profitabilitas secara berkelanjutan. Pinjaman tersebut dijamin oleh aset tanah di Kawasan Deltamas.
Sepanjang Januari–September 2024, DMAS mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,12 triliun, naik signifikan 84,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Segmen industri menjadi kontributor utama pendapatan usaha sebesar Rp1,5 triliun, dengan sektor pusat data (data center) menyumbang 64,5% dari pendapatan tersebut. Kawasan Greenland International Industrial Center (GICC) terus menarik minat investor asing, menjadikan sektor data center sebagai andalan utama.
Selain itu, segmen hunian berkontribusi Rp92,3 miliar, segmen komersial Rp34,3 miliar, dan segmen sewa serta hotel masing-masing menyumbang Rp12,3 miliar dan Rp12,1 miliar. Secara keseluruhan, DMAS berhasil mencapai 93,6% dari target pendapatan 2024 dengan total pendapatan usaha Rp1,7 triliun, naik 71,8% dibandingkan tahun sebelumnya.
United Bike Genjot Produksi Kendaraan Listrik
Industri Tekstil Masih Kontraksi
Ditengah kondisi tekstil yang masih terpuruk seperti pailitinya PT Sri Rezeki Isman Tbk (Sritex), industri tersebut malah menunjukkan kinerja yang positif berdasarkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Oktober 2024. Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arif mengatakan, subsektor tekstil di IKI berada pada level ekspansif. Hal ini tentu saja kontras dengan kondisi Sritex. Perihal tersebut, dia mengatakan, para pelaku industri belum melihat pengaruhnya dari pailit Sritex saat pengisian kuesioner IKI Oktober ini. Febri menjelaskan, kinerja industri tekstil memang sempat mengalami kontraksi atau merosot direntang Mei-Agustus 2024 lantaran penerapan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 8 Tahun 2024 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor. Namun dalam dua bulan terakhir, kinerja industri telah membaik. "Baru pada September-Oktober ini ekspansi. Di bulan Oktober sedikit naik, lebih tinggi dari kami menilai itu sebagai peningkatan optimisme kawan-kawan industri atas pemerintahan baru," ujar dia. Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin Adie Rochmanto Pandiangan menambahkan industri tekstil masih akan eskpansi sampai dengan Desember 2024. Hal ini karena ada momen natal dan tahun baru (Nataru). (Yetede)
Pertumbuhan Mekar Industri Kosmetik Dalam Negeri
Industri kosmetik lokal memiliki prospek yang cerah dengan menunjukkan pertumbuhan yang menggembirakan. Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menerangkan, berdasarkan data BPOM dan Persatuan Perusahaan Kosmetik Indonesia (Perkosmi), jumlah perusahaan kosmetik di Indonesia pada tahun 2023 diperkirakan sebanyak 1.039 pelaku usaha, dengan 89,2% diantaranya merupakan IKM. Jumlah industri kosmetik yang didominasi oleh IKM ini menunjukkan bahwa sektor ini sangat inklusif dan potensial bagi banyak pelaku usaha, teruatama para pengusaha lokal," kata dia. Mengacu data Statista.com, angka pertumbuhan pasar kosmetik di Indonesia diprediksi mencapai 4,86% per tahun dalam kurun waktu 2024-2029. Pasar yang bertumbuh ini merupakan potensi yang harus dimanfaatkan pelaku usaha kosmetik di Indonesia. Kemenperin menilai keterlibatan IKM dalam industri kosmetik sangat krusial dalam menciptakan lapangan kerja, mendorong inovasi dan kreativitas. Apalagi, banyak IKM kosmetik yang jeli memanfaatkan bahan-bahan alami dari lingkungan sekitar atau asli Indonesia. Selain itu, berbagai produk kosmetik yang ditawarkan oleh IKM juga mencerminkan tradisi lokal yang telah dijalankan dan diyakini efetivitasnya secara turun temurun. (Yetede)
Isu Eksplotasi Pekerja di Industri Nikel Mulai Terendus
Industri Tekstil Menuju Kolaps
Produsen Motor Listrik Gencar Mendorong Ekspor Global
Harga yang Melambung Mendorong Lonjakan Ekspor Kopi
Utilitas Produksi Keramik Ditargetkan Capai 68%
Asosiasi Industri Keramik Indonesia (Asaki) menargetkan peningkatan utilitas produksi keramik nasional yang saat ini berada di level 63%, bisa beranjak naik ke level 67-68% pada akhir tahun nanti. Ketua Umum Asaki Edy Suyanto optimistis target tersebut akan tercapai, setelah pemerintah mengeluarkan pemberlakuan Bea masuk anti dumping (BMAD) keramik dalam lima tahun kedepan. Pemberlakuan ini dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.70/2024 yang berlaku pada 28 Oktober 2024 hingga lima tahun kedepan.
"Asaki sangat mengapresiasi kehadiran dan keberpihakan pemerintah Presiden Jokowi dalam melindungi industri keramik nasional dari tindakan kecurangan perdagangan berupa dumping dari keramik impor asal china," ucap dia kepada Investor Daily. Edi mengakui pihaknya tetap memandang positif, meskipun besaran BMAD yang ditetapkan hanya kisaran 35% sampai dengan 50%. Asaki sebelumnya berharap besaran BMAD bisa seperti negara-negara macam Meksiko dan AS dengan besaran diatas 100%. (Yetede)
Industri Alat Kesehatan dalam Negeri Mengalami Pertumbuhan Pesat Pascapandemi
Pilihan Editor
-
Neraca Komoditas Hapus Rekomendasi Ijin Ekspor
07 Apr 2021 -
IMF Dukung Pajak Minimum untuk Korporasi
07 Apr 2021









