Industri lainnya
( 1858 )Mengenal PMK 111/2025: Era Baru Pengawasan Pajak yang Berlaku Mulai 2026
Mengenal PMK 111/2025: Era Baru Pengawasan Pajak yang Berlaku Mulai 2026
Tahun 2026 menandai babak baru dalam sejarah perpajakan Indonesia dengan berlakunya secara efektif Peraturan Menteri Keuangan Nomor 111 Tahun 2025 tentang Pengawasan Kepatuhan Wajib Pajak pada tanggal 1 Januari 2026
Dalam regulasi terbaru ini, pengawasan didefinisikan sebagai serangkaian kegiatan penelitian terhadap pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak
Ruang lingkup pengawasan dalam PMK 111/2025 ini sangat luas dan tidak pandang bulu. Otoritas pajak membagi fokus pengawasannya menjadi tiga kategori utama, yaitu pengawasan terhadap Wajib Pajak yang sudah terdaftar, pengawasan terhadap Wajib Pajak yang belum terdaftar, serta pengawasan kewilayahan
Mekanisme pengawasan ini dijalankan melalui pendelegasian wewenang dari Direktur Jenderal Pajak kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP)
Penting untuk dipahami bahwa aturan ini juga menekankan pada integrasi data. Pengawasan dilakukan berdasarkan hasil penelitian atas data dan informasi yang masuk ke dalam sistem informasi DJP
Perjuangan Keras Trump Meloloskan RUU Pajak dan Belanja
Danantara Minta BSI Tarik Masuk dana Asing ke Indonesia
Optimalkan Kekuatan Ekonomi Domestik
Wakil Ketua Komite Hilirisasi Mineral dan Batu Bara Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Djoko Widayatno mendorong hilirisasi nikel ke tahap lanjutan, yakni pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar. "Transportasi masa depan harus ditopang oleh industri yang berkelanjutan. Nikel kita harus menjadi tulang punggung transisi energi hijau, bukan sekedar komoditas ekspor jangka pendek," kata Djoko. Saat ini, Indonesia mulai membangun ekosistem industri baterai EV secara terintegrasi, dari produksi prekusor hingga perakitan sel baterai dan kendaraan listrik. Proyek-proyek besar seperti pembangunan pabrik bateri di Kerawang di Morowali menjadi wujud dari komitmen menciptakan rantai pasok domestik yang kompetitif di pasar global. Jika berhasil diakselerasi, pengembangan ekosistem ini diproyeksikan menghasilkan nilai tambah yang jauh lebih besar. Sebagai pembanding, China, yang membangun rantai pasok EV sejak dekade lalu, pada 2023 mencatatkan kontribusi industri EV dan baterai mencapai lebih dari 150 miliar dolar AS dan menjadikan negara tersebut sebagai eksportir utama kendaraan listrik dunia. (Yetede)
Ekosistem Bateri terintegrasi Terbentuk dalam 3 Tahun
Ekosistem industri baterai terintegrasi terbentuk dalam
3 tahun ke depan. Proyek besutan
konsorsium PT Aneka Tambang Tbk (Antam), Indonesia Battery Corporation (IBC),
dan Konsorsium CATL, Brump, Lygend (CBL) ini terdiri dari 6 proyek dari hulu
hingga hilir. Presiden Prabowo Subianto meresmikan dimulainya proyek tersebut
di Kawasan Artha Industrial Hills (AIH) Kabupaten Karawang, Jawa Barat pada
Minggu (29/06/2025). Lokasi peresmian
itu merupakan sisi hilir lantaran akan dibangun pabrik yang memiliki
kapasitas awal sebesar 6,9 gigawatt hour (gWh) pada fase pertama yang akan
mulai beroperasi pada akhir tahun 2026. Peresmian proyek ini juga dihadiri oleh
Wakil Menteri Mineral (ESDM) Yulio secara hybrid di Desa Buli Asal, Kabupaten
Halmahera Timur, Maluku Utara. Posisi tersebut merepresentasikan sisi hulu
lantaran terdapat proyek pertambangan nikel, proyek produk refined nickel
alloy sebesar 88 ribu ton per tahun. Proyek ini direncanakan mulai produksi
pada tahun 2027. Selain itu juga proyek smelter hidrometalurgi menghasilkan
produk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sebanyak 55 ribu ton per
tahun.(Yetede)
Indonesia Harus Optimalkan Kekuatan Ekonomi Domestik
Indonesia harus mengoptimalkan kekuatan ekonomi domestik
untuk mengadapi ketidakpastian global akibat perang tarif dan inisiasi AS dan
ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Dengan begitu stabilitas makro dan laju
pertumbuhan ekonomi tetap terjaga di tengah guncangan dari kondisi global.
Salah satu kekuatan ekonomi Indonesia adala sumber daya alam (SDA) yang
melimpah. Dalam konteks ini, pengolahan SDA harus dioptimalkan demi menciptakan
nilai tambah besar bagi ekonomi melalui hilirisasi. Dalam kasus hilirisasi
nikel, program ini bisa menaikkan nilai tambah hingga 400%. Selain itu,
investasi smelter nikel sebesar US$ 1 miliar akan menarik 150 tenaga kerja,
yang dapat meningkatkan daya beli dan konsumsi rumah tangga, otot terbesar PDB
Indonesia. Artinya, hilirisasi perlu di genjot saat kondisi dunia dilanda
krisis. Sebab, Indonesia tidak perlu mengimpor SDA semi program ini karena
sudah ada di dalam negeri dan bisa menjaga, bahkan memacu pertumbuhan ekonomi
hingga 8% pada 2029, seperti yang ditargetkan pemerintah. Hilirisasi tak hanya
menjamah produk pertambangan, melainkan juga kelapa sawit. Hilrisasi minyak sawit
mentah yang dibarengi dengan peningkatan produktivitas, sehingga total
produksi bisa menembus 100 juta ton. Ini akan berdampak besar terhadap ekonomi.
(Yetede)
Ketahanan Investasi di Sektor Hulu Migas
Mengendalikan Daya Tarik Eksplorasi Migas
Ekonomi Syariah Harus Jadi Arus Utama Pertumbuhan Ekonomi
Titik Balik Lifting Minyak Bumi
Pilihan Editor
-
TRANSISI ENERGI : JURUS PAMUNGKAS AMANKAN EBT
26 Dec 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023









