Industri lainnya
( 1875 )Motor Baru Ekonomi dari Luar Jawa: Strategi Hilirisasi Lintas Sektor Danantara
JAKARTA, 13 Februari 2026 – Kebijakan hilirisasi tidak lagi hanya menjadi slogan, melainkan mesin utama pertumbuhan ekonomi daerah. Danantara Indonesia melaporkan bahwa sepanjang tahun 2025, realisasi investasi di sektor hilirisasi telah mencapai Rp 584,1 triliun. Angka ini tumbuh pesat 43,3 persen secara tahunan dan kini berkontribusi sebesar 30,2 persen terhadap total realisasi investasi nasional.
Dampak
paling nyata dari masifnya investasi hilirisasi adalah pergeseran pusat
pertumbuhan ke Luar Jawa. Tercatat, 71,1 persen atau senilai Rp 415,4 triliun
dana hilirisasi mengalir ke wilayah Luar Jawa. Sulawesi Tengah memimpin sebagai
lokasi utama dengan nilai Rp 110 triliun, disusul Maluku Utara sebesar Rp 74,8
triliun. Kondisi ini berbanding terbalik dengan wilayah Jawa yang hanya
menyerap Rp 168,7 triliun atau 28,9 persen dari total investasi hilirisasi.
Diversifikasi
Sektor: Dari Mineral hingga Pangan
Sektor
mineral masih menjadi primadona hilirisasi dengan total investasi Rp 373,1
triliun. Nikel menyumbang porsi terbesar senilai Rp 185,2 triliun, diikuti
tembaga (Rp 65,8 triliun) dan bauksit (Rp 53,1 triliun). Namun, Danantara mulai
memperluas cakupan ke sektor lain untuk menciptakan ketahanan ekonomi yang
lebih stabil.
Sektor
Perkebunan dan Kehutanan mencatatkan nilai investasi Rp 144,5 triliun, yang
mencakup pengolahan kelapa sawit (Rp 62,8 triliun) dan kayu log (Rp 62,2
triliun). Sektor Minyak dan Gas Bumi juga turut berkontribusi Rp 60 triliun,
sementara sektor Perikanan dan Kelautan mulai digarap dengan fokus pada
komoditas seperti udang, rumput laut, hingga ikan Tilapia.
Target
Proyek Strategis 2026
Memasuki tahun 2026, Danantara telah menyiapkan 20 proyek hilirisasi lintas sektor dengan total nilai investasi mencapai USD 26 miliar. Dari jumlah tersebut, enam proyek senilai USD 7 miliar telah dilakukan groundbreaking pada 6 Februari 2026. Beberapa proyek unggulan antara lain:
- Transformasi alumina menjadi aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat.
- Pengembangan produksi bioavtur dari minyak jelantah (UCO).
- Pembangunan kilang gula terintegrasi di Cilacap, Jawa Tengah.
Proyek-proyek
ini diproyeksikan mampu menciptakan lebih dari 600.000 lapangan kerja baru.
Dengan strategi ini, Danantara berupaya memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi
tidak hanya terkonsentrasi di pusat industri manufaktur Jawa, tetapi juga
menyentuh pelosok daerah melalui pengolahan sumber daya alam langsung di lokasi
asalnya.
Ekspor Otomotif 2025 Tembus 518.000 Unit, Tantangan Struktural Membayangi
Pemerintah baru saja mengumumkan sejumlah kebijakan insentif pajak terkait sektor otomotif. Seperti penghentian keringanan pajak penjualan barang mewah, pajak pertambahan nilai dan bea masuk mobil listrik impor utuh. Perubahan kebijakan ini sejalan dengan mimpi untuk menjadikan Indonesia basis produksi otomotif, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk tujuan ekspor. Data menunjukkan, pada 2025 terdapat penurunan penjualan mobil di pasar domestik, sebaliknya terdapat peningkatan ekspor mobil.
Volume ekspor mobil utuh atau Completely Built Up (CBU) dari Indonesia mencatatkan rekor tertinggi baru sepanjang tahun 2025 dengan total pengapalan mencapai 518.000 unit. Capaian yang tumbuh hampir 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya ini mempertegas posisi Indonesia sebagai basis manufaktur strategis bagi pasar internasional.
Kendati demikian, di balik angka pertumbuhan yang impresif, industri otomotif nasional masih menghadapi pekerjaan rumah besar terkait aspek struktural, mulai dari tingginya biaya logistik, minimnya pendalaman teknologi, hingga tantangan regulasi hijau di negara tujuan ekspor.
Dominasi merek-merek besar, seperti Toyota, dalam arus ekspor membuktikan kepercayaan prinsipal global terhadap kapabilitas perakitan di Indonesia. Daya saing ini tidak lepas dari dukungan fiskal pemerintah, utamanya melalui fasilitas perpajakan untuk Kawasan Berikat dan Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE). Instrumen ini dinilai efektif menjaga efisiensi biaya produksi sehingga harga jual kendaraan rakitan Indonesia tetap kompetitif di pasar global.
Namun, efisiensi dari insentif fiskal tersebut kerap tergerus oleh tantangan operasional. Tingginya biaya logistik nasional dan kebutuhan investasi besar untuk adopsi teknologi baru masih menjadi hambatan. Selain itu, dukungan industri komponen lokal juga dinilai perlu dioptimalkan agar rantai pasok tidak terlalu bergantung pada impor bahan baku.
Jebakan Basis Perakitan
Selain aspek biaya, tantangan paling krusial terletak pada struktur industri yang masih didominasi aktivitas perakitan. Peningkatan volume ekspor belum sepenuhnya berbanding lurus dengan peningkatan nilai tambah dan kemandirian teknologi.
Hingga kini, desain dan pengembangan teknologi inti umumnya masih dikendalikan penuh oleh prinsipal global. Kondisi ini memicu urgensi perlunya optimalisasi insentif pajak yang lebih spesifik seperti potongan pajak untuk kegiatan riset lokal. Hal ini diperlukan guna mendorong transisi industri dari sekadar basis produksi menjadi pusat inovasi.
Ironisnya, fasilitas super deduction tax untuk riset dan pengembangan (litbang) yang telah tersedia sejak 2021 belum dimanfaatkan secara optimal. Data Kementerian Keuangan menunjukkan partisipasi pelaku industri dalam skema insentif ini masih minim, mengindikasikan adanya kesenjangan antara kebijakan dan kesiapan industri dalam melakukan riset mandiri dengan memanfaatkan super deduction tax.
Riset dan pengembangan tidak hanya semata merupakan domain para principal pemegang merek, namun juga perlu dilakukan untuk mendorong kemandirian teknologi bagi industri komponen pendukung otomotif. Pelaku usaha nasional yang bergerak dibidang usaha komponen kendaraan perlu didorong untuk memanfaatkan super deduction tax. Sehingga mendukung ekosistem rantai pasok dalam negeri. Untuk itu, diperlukan langkah nyata dari Kementerian Perindustrian, Kementerian Keuangan, Kementerian Investasi, Asosiasi Industri komponen otomotif serta pihak terkait lainnya, untuk memfasilitasi pelaku usaha memanfaatkan super deduction tax. Hambatan Non-Tarif dan Isu Lingkungan Di sisi eksternal, penetrasi pasar mancanegara kini diadang tantangan baru berupa regulasi lingkungan yang kian ketat serta hambatan perdagangan nontarif (non-tariff barriers). Negara negara tujuan ekspor mulai menerapkan standar emisi yang tinggi, yang menuntut produk otomotif Indonesia untuk segera beradaptasi.
Sinkronisasi kebijakan insentif masa depan, seperti kredit investasi hijau, dengan kesiapan manufaktur dalam mengadopsi teknologi rendah emisi menjadi mutlak diperlukan. Tanpa percepatan transisi ke teknologi ramah lingkungan, produk Indonesia berisiko kehilangan daya saing di pasar global yang semakin selektif.
Pada akhirnya pencapaian ekspor tahun 2025 seyogianya menjadi momentum, bukan sekadar angka statistik. Ke depan, konsistensi pertumbuhan volume ekspor harus dibarengi dengan pembenahan infrastruktur logistik dan penguatan rantai pasok. Sinergi antara kemudahan fiskal dari pemerintah dan efisiensi teknologi dari pelaku industri akan menjadi penentu apakah industri otomotif nasional mampu bertahan sebagai penggerak ekonomi utama di tengah dinamika global.
Koperasi Desa Siap Terlibat dalam Program Gentengisasi Nasional
Pemerintah Indonesia kini
mendorong implementasi program gentengisasi dengan memanfaatkan koperasi
desa sebagai pelaku utama produksi genteng. Program ini diluncurkan Presiden
Prabowo Subianto sebagai bagian dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat,
Resik, Indah) dan difokuskan pada penggantian atap seng dengan genteng tanah
liat di seluruh wilayah Indonesia.
Pemerintah Dorong Koperasi
Desa Bangun Pabrik Genteng
Presiden Prabowo menyampaikan
bahwa koperasi desa, termasuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) akan
didorong untuk membangun pabrik genteng di tingkat desa. Menurut pernyataan
tersebut, peralatan produksi genteng relatif sederhana dan bahan bakunya mudah
diperoleh dari tanah lokal, sehingga koperasi dapat menjadi ujung tombak
pelaksanaan program ini.
Program ini bertujuan tidak hanya
mengubah tampilan fisik atap rumah tetapi juga menggerakkan ekonomi desa dan
membuka peluang usaha baru sehingga koperasi desa tidak hanya menjadi lembaga
simpan pinjam, tetapi juga unit produksi genteng lokal.
Menteri Koperasi: Koperasi
Desa Bisa Produksi Genteng
Menteri Koperasi, Ferry
Juliantono, menegaskan bahwa produktion genteng bisa dijalankan oleh Koperasi
Desa Merah Putih dengan memanfaatkan bahan baku yang tersedia di setiap
daerah, termasuk kemungkinan penggunaan limbah batu bara sebagai campuran untuk
meningkatkan kualitas genteng. Ferry menyatakan bahwa koperasi desa siap
memproduksi genteng sebagai bagian dari dukungan terhadap program gentengisasi.
Ia juga menambahkan bahwa
koperasi tidak harus memproduksi dari nol. Alternatif kolaborasi dengan perajin
genteng setempat yang telah memiliki pengalaman produksi juga dapat dilakukan
sebagai strategi awal produksi genteng di desa.
Gentengisasi Dipandang Sebagai
Motor Penggerak Ekonomi Desa
Berbagai pihak menganggap gentengisasi
bukan semata perubahan material atap rumah, tetapi juga motor penggerak ekonomi
di tingkat desa. Dengan memberikan peran produksi genteng kepada koperasi desa,
pemerintah berharap program ini dapat menciptakan lapangan kerja, memperkuat
lembaga ekonomi desa, dan memperluas kegiatan ekonomi lokal.
Untuk mencapai hal ini,
pemerintah sedang menyusun skema pendanaan kolaboratif yang melibatkan koperasi
desa, swasta, dan pemerintah pusat serta daerah agar program ini tidak
sepenuhnya bergantung pada anggaran negara.
Ambisi Indonesia Mengubah Bumbu Dapur Menjadi Bahan Baku Industri Dunia
JAKARTA –
Indonesia, negeri yang dikenal sebagai "Mother of Spices", tengah
bersiap melakukan lompatan besar dalam peta ekonomi global. Memiliki 275 dari
sekitar 500 spesies rempah dunia, Indonesia kini tidak lagi hanya ingin dikenal
sebagai pengekspor bahan mentah, melainkan sebagai pusat industri pengolahan
rempah yang bernilai tambah tinggi.
Pemerintah pada akhir 2025 telah menetapkan Peta Jalan
Hilirisasi Rempah 2025-2045. Langkah strategis ini bertujuan mengamankan nilai
tambah ekonomi di dalam negeri, dengan fokus pada enam komoditas utama: pala,
lada, cengkeh, kayu manis, vanili, dan temulawak. Transformasi ini dipicu oleh
tren gaya hidup sehat global yang menempatkan rempah bukan lagi sekadar bumbu
dapur, melainkan bahan baku esensial untuk industri farmasi, kosmetik, hingga
pangan fungsional.
Potensi Raksasa yang Terfragmentasi
Meski menduduki posisi puncak sebagai produsen
dunia—peringkat kedua untuk pala dan peringkat ketiga untuk lada dan
vanili—pangsa pasar ekspor rempah Indonesia di pasar global baru menyentuh
angka 2,7 persen. Rendahnya angka ini disinyalir akibat struktur industri yang
masih didominasi oleh petani skala kecil dan pelaku UMKM ( sebanyak 45 persen)
yang memiliki keterbatasan teknologi.
Selain itu, rantai pasok yang panjang dan ketergantungan
pada tengkulak membuat margin keuntungan petani seringkali tertekan. Hal ini
menjadi tantangan besar dalam upaya modernisasi industri dari hulu ke hilir.
Namun, titik terang mulai terlihat di sejumlah daerah sentra. Lampung kini
memasok 90 persen lada nasional, sementara Sumatera Barat menguasai 90 persen
pasar dunia dan menjadi pusat ekspor kayu manis.
Laju Positif Produk Olahan
Data menunjukkan fluktuasi tajam pada kinerja ekspor
rempah mentah. Menurut data UN Comtrade, nilai ekspor sempat melonjak ke angka
US$2 miliar pada 2024 setelah sempat turun pada tahun-tahun sebelumnya. Di
tengah fluktuasi harga komoditas global, ekspor bumbu dan rempah olahan justru
menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan 17,29 persen pada periode
Januari-Mei 2024, mencapai nilai USD 422,7 juta.
Langkah hilirisasi terbukti memberikan margin yang jauh
lebih menguntungkan. Sebagai contoh, mengekspor pala dalam bentuk minyak atsiri
atau ekstrak murni jauh lebih bernilai dibanding menjual biji mentah. Hal ini
memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen bahan baku industri kelas dunia
yang mulai mengadopsi standar internasional.
Proyeksi Pasar 2029
Ironi Nikel: Kita Kasih Karpet Merah Pajak, Tapi Bahannya Impor dari Filipina?
Indonesia
merupakan salah satu negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia. Meskipun
demikian, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya peningkatan
volume impor bijih nikel (nickel ore) yang cukup signifikan dari Filipina dalam
beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan
catatan statistik, volume impor dari Filipina pada tahun 2023 berada di angka
374 ribu ton. Namun, angka tersebut mengalami peningkatan menjadi 10,18 juta
ton pada tahun 2024, dan diproyeksikan dapat mencapai 15 juta ton pada akhir
tahun 2025. Nilai transaksi impor ini diperkirakan mencapai US$ 600 juta atau
setara dengan Rp9,4 triliun. Fenomena ini bukan sekadar masalah logistik,
melainkan sinyal adanya lubang besar dalam strategi hilirisasi kita.
Apakah Pembangunan Smelter
terlalu banyak?
Pusat persoalannya ada di kawasan pengolahan
nikel yang berada di Morowali dan Weda Bay. Pertumbuhan smelter di kawasan ini
sangat agresif, namun tidak sebanding dengan ketersediaan bahan baku yang bisa
keluar dari mulut tambang. Berdasarkan data Asosiasi Penambang Nikel Indonesia
(APNI), saat ini terdapat 73 smelter nikel yang telah beroperasi di Indonesia.
Selain itu, sebanyak 73 smelter masih dalam tahap konstruksi, dan 17 smelter
lainnya berada dalam tahap perencanaan dengan estimasi total kebutuhan bijih
735,2 juta ton. Sementara itu, rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) nikel
yang disetujui untuk 2025 mencapai 364 juta ton, naik dari tahun 2024 sebanyak
319 juta ton.
Pemerintah belakangan mulai memperketat atau
membatasi kuota dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan
tambang demi menjaga umur cadangan nikel nasional. Akibatnya, terjadi supply
gap. Smelter raksasa yang mesinnya harus terus menyala 24 jam tidak punya
pilihan selain mengimpor dari Filipina. Kita membangun smelter yang terlalu
banyak, namun lupa memastikan apakah stok bahan baku di lokasi tambang bisa
diambil dengan cepat.
Efektifitas Insentif Pajak.
Di sinilah letak ketimpangannya. Industri
smelter nikel selama ini menikmati status Industri Pionir dengan fasilitas
perpajakan yang cukup banyak diantaranya:
a. Tax Holiday: Pembebasan
Pajak Penghasilan (PPh) Badan hingga 100% untuk jangka waktu 5 hingga 20 tahun.
b. Tax Allowance:
Pengurangan penghasilan neto sebesar 30% dari nilai investasi.
c. Pembebasan Bea Masuk:
untuk mesin dan barang untuk produksi khususnya di industri pionir.
Pertanyaannya: Apakah insentif ini masih
relevan? Fasilitas pajak tersebut awalnya diberikan untuk menarik investasi di
sektor yang dianggap berisiko tinggi. Namun, saat ini smelter nikel sudah
menjadi industri yang sangat mapan . Ketika negara merelakan potensi penerimaan
pajak yang seharunya dapat digunakan untuk kepentingan rakyat, namun smelter
tersebut malah mengimpor bahan baku dari luar negeri, maka nilai tambah ekonomi
yang diharapkan bagi publik menjadi tergerus. Uang negara melalui subsidi pajak
seolah-olah justru membiayai efisiensi perusahaan yang mendatangkan bahan baku
dari luar negeri ketimbang mengoptimalkan rantai pasok dalam negeri.
Kenaikan impor ini adalah alarm bagi kebijakan
hilirisasi kita. Pemerintah perlu melakukan audit ulang. Jika jumlah smelter
sudah melebihi kapasitas daya dukung cadangan nikel yang diizinkan dalam RKAB,
maka pemberian izin smelter baru serta pemberian tax holiday harus
dipertimbangkan untuk dilakukan evaluasi yang komprehensif.
Kita tidak boleh membiarkan hilirisasi hanya
menjadi sekadar angka investasi di atas kertas, sementara di lapangan kita
kehilangan kedaulatan bahan baku dan kehilangan potensi pajak secara bersamaan.
Jangan sampai Indonesia hanya menjadi pengolah bijih nikel milik negara
tetangga dengan fasilitas gratis dari pajak rakyat kita sendiri. (Zain).
Lubang di Balik Angka Manis Surplus Perdagangan
Indonesia mencatatkan surplus perdagangan yang gemuk sepanjang 2025. Namun, ketergantungan pada Tiongkok, Australia, dan Brasil menunjukkan rapuhnya struktur industri kita. Di tengah upaya pemerintah mengejar kedaulatan pangan dan hilirisasi, angka defisit ini menjadi rapor merah yang menuntut terobosan kebijakan, bukan sekadar janji.
Di atas kertas, neraca perdagangan Indonesia 2025 adalah sebuah pesta. Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menyuguhkan angka yang sanggup membuat pengambil kebijakan bernapas lega, surplus USD 41,05 miliar. Namun data menunjukkan sebuah ironi. Di balik total angka hijau tersebut, kantong perdagangan kita justru bocor di tiga titik utama. Kita kalah bertarung dengan Tiongkok, Australia, dan Brasil. Defisit dengan ketiga negara ini bukan sekadar urusan kalah angka, melainkan cermin dari ketergantungan menahun yang belum sepenuhnya tuntas meski berbagai program penguatan domestik telah digulirkan.
Tiongkok tetap menjadi raksasa yang tak terelakkan. Dari negeri itu, mesin-mesin pabrik dan bahan baku penolong mengalir deras. Ini adalah paradoks industri kita, semakin kencang pabrik di Karawang atau Morowali berputar untuk mengekspor barang, semakin besar pula kita harus merogoh kocek untuk membeli "otak" dan komponen dari Beijing. Pemerintah sebenarnya telah mencoba membendung ini dengan kebijakan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN). Namun nyatanya, rantai pasok lokal kita masih tertatih mengejar spesifikasi teknologi Negeri Panda.
Cerita dari Australia dan Brasil memiliki kerumitan berbeda. Dari Australia, keluarnya devisa kita bukan karena kegagalan cetak sawah, melainkan karena ketergantungan abadi pada gandum, komoditas yang tak punya basis produksi di tanah air namun menjadi nyawa bagi industri mi instan dan roti kita. Di sini, program ketahanan pangan menghadapi tembok alam, kita mengonsumsi apa yang tidak bisa kita tanam. Sementara dari Brasil, aliran pakan ternak dan produk agrikultur lainnya terus mengalir, menunjukkan bahwa efisiensi produksi di seberang samudera masih jauh melampaui kemampuan industri hulu kita.
Agar surplus dapat berkelanjutan, pemerintah perlu berani mengambil langkah ekstrem. Pertama, kebijakan hilirisasi harus bergeser dari sekadar mengolah bahan mentah menjadi penguasaan teknologi komponen. Insentif pajak tidak boleh lagi diberikan secara borongan, melainkan dikunci khusus bagi investor yang mau membangun pabrik mesin hulu di Indonesia, guna memutus ketergantungan pada Tiongkok.
Kedua, menghadapi defisit gandum dari Australia, strateginya bukan lagi memaksakan tanam, melainkan diversifikasi pangan secara radikal. Pemerintah harus serius mendorong industri pengolahan tepung berbasis singkong atau sagu agar bisa mensubstitusi sebagian kebutuhan gandum. Tanpa insentif bagi industri yang mau beralih ke bahan baku lokal, kita akan terus menjadi "nasabah tetap" bagi petani Australia.
Kini, bola panas ada di tangan pemerintah. Menutup celah defisit ini bukan soal membarikade impor dengan birokrasi, melainkan memastikan program kedaulatan pangan dan industri benar-benar mematikan mesin impor di titik pangkalnya. Surplus memang layak dirayakan, tapi lubang-lubang dagang ini adalah sinyal bahwa kemandirian ekonomi kita masih harus diperjuangkan di setiap jengkal lantai pabrik dan piring makan rakyat.
Gentengisasi: Misi Ganda Mempercantik Wajah Indonesia dan Menggerakkan Roda Ekonomi Nasional
JAKARTA – Program "Gentengisasi" yang dicanangkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto bukan sekadar proyek perbaikan estetika hunian semata. Di balik rencana penggantian atap seng menjadi genteng tanah liat secara massal ini, tersimpan strategi ekonomi makro yang dirancang untuk menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi industri daerah hingga potensi peningkatan pendapatan negara dari sektor perpajakan.
Langkah ini diambil pemerintah sebagai respons atas kondisi permukiman di berbagai wilayah yang masih didominasi atap seng. Presiden Prabowo menilai penggunaan material tersebut sudah tidak relevan dengan visi Indonesia modern karena selain membuat suhu ruangan panas, atap seng yang mudah berkarat memberikan kesan kumuh. Melalui program ini, pemerintah ingin memastikan rakyat mendapatkan hunian yang lebih sejuk dan layak, sekaligus mengubah wajah kota-kota di Indonesia menjadi lebih asri.
Stimulus Ekonomi dan Potensi Pajak
Dari kacamata ekonomi, proyek gentengisasi diproyeksikan menjadi angin segar bagi geliat ekonomi kerakyatan. Legislator Jawa Timur dan kalangan industri optimistis program ini akan mendongkrak ekonomi desa, khususnya di sentra-sentra produksi genteng seperti Jatiwangi dan wilayah lainnya.
Mekanismenya bekerja melalui lonjakan permintaan bahan baku. Ketika proyek ini berjalan, industri genteng rakyat dan pabrikan keramik nasional akan dipacu untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita meyakini hal ini membuka peluang besar bagi industri dalam negeri untuk melakukan ekspansi.
Selain itu, pelibatan Koperasi Merah Putih dalam rantai pasok produksi dan distribusi genteng diharapkan dapat memformalkan ekonomi desa yang selama ini tak tersentuh pajak, mengubahnya menjadi aktivitas ekonomi produktif yang berkontribusi pada pendapatan daerah maupun negara.
Efisiensi Anggaran untuk Dampak Maksimal
Terkait pendanaan, pemerintah memastikan tidak akan membebani APBN secara berlebihan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa alokasi dana untuk program ini diperkirakan tidak sampai menembus angka Rp 1 triliun.
Pemerintah berencana menggunakan pos anggaran cadangan atau melakukan realokasi dari pos lain yang memungkinkan efisiensi, salah satunya dari pos Makan Bergizi Gratis (MBG). Skema pembiayaan ini dinilai realistis mengingat program ini tidak menyasar seluruh rumah, melainkan difokuskan pada hunian yang masih menggunakan atap seng di kantong-kantong permukiman padat.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menambahkan bahwa gentengisasi akan diintegrasikan dengan program penataan kawasan agar dampaknya lebih holistik. Dengan demikian, program ini menawarkan solusi lengkap: rakyat mendapatkan rumah yang nyaman, industri lokal tumbuh subur, dan negara mendapatkan manfaat fiskal dari perputaran ekonomi yang tercipta.
Eskalasi Konflik Amerika Serikat – Iran
JAKARTA – Situasi di Timur Tengah kembali memanas di awal tahun 2026 ini
Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Ketegangan ini bukan tanpa alasan. Ada beberapa kejadian penting yang membuat suasana memburuk:
Aksi Protes di Iran: Pemerintah Iran menghadapi gelombang protes besar di dalam negerinya
. Penanganan keras aparat yang menyebabkan jatuhnya ribuan korban jiwa (antara 2.600 hingga 5.000 orang) memicu kemarahan AS . Adu Kekuatan Militer: Presiden Trump mengirimkan kapal induk USS Abraham Lincoln, jet tempur canggih F-35, hingga sistem pertahanan rudal ke sekitar wilayah Iran
. Iran pun tidak tinggal diam dan langsung menetapkan status "Siaga Satu" . Dendam Lama: Ternyata, pada Juni 2025 sempat terjadi "Perang 12 Hari" di mana fasilitas nuklir Iran diserang, dan Iran membalasnya dengan menggempur pangkalan AS di Qatar.
Harga Minyak Mulai "Kebakaran"
Dampak dari ketegangan ini paling terasa di kantong masyarakat dunia melalui harga minyak
Berikut adalah posisi harga minyak per 26 Januari 2026:
Minyak Brent: USD 64,8 per barel
. Minyak WTI (AS): USD 60,65 per barel
.
Negara besar seperti China bahkan dilaporkan sudah mulai menimbun minyak dalam jumlah raksasa untuk cadangan selama tiga bulan karena takut perang benar-benar pecah
Mengapa Kita Harus Peduli?
Jika perang total terjadi, risikonya sangat mengerikan bagi dunia
Ekonomi: Harga barang-barang bisa naik (inflasi global) karena jalur pengiriman minyak terganggu
. Keamanan: Perang bisa meluas ke negara tetangga seperti Israel dan Lebanon
. Siber: Ada ancaman serangan siber besar-besaran yang bisa mengincar fasilitas penting
.
Saat ini, Iran tetap bersikeras tidak akan tunduk pada tekanan AS dan menuduh Washington ikut campur urusan dalam negeri mereka
KETIKA PERAK TAK LAGI SEKADAR LOGAM
Lonjakan
Harga Global, Perebutan Pasokan, dan Implikasinya bagi Indonesia
Pada
akhir 2025, pasar komoditas global dikejutkan oleh satu fenomena yang jarang
terjadi. Perak melesat seperti roket. Logam yang selama ini sering dipandang
“adik” dari emas itu tiba-tiba menjadi primadona baru. Harganya menembus rekor
tertinggi sepanjang sejarah, menyentuh 79 dolar AS per troy ons pada akhir
Desember—melonjak tajam dari 56 dolar di awal bulan yakni 29 dolar di awal
tahun yang sama. Dalam rupiah, per gramnya mencapai lebih dari Rp44 ribu, naik
sekitar 44 persen hanya dalam hitungan minggu. Angka-angka ini bukan sekadar
statistik. Ia mencerminkan sebuah pergeseran besar. Perak tak lagi sekadar
logam mulia, tetapi telah berubah menjadi komoditas strategis dunia.
Dari
Safe Haven ke Jantung Industri Modern
Secara
historis, perak memang punya dua wajah. Di satu sisi, ia berperan sebagai aset
lindung nilai, alternatif emas ketika inflasi mengancam atau mata uang melemah.
Namun di sisi lain, perak justru sangat “industri”.
Ia
menjadi bahan penting dalam panel surya, kendaraan listrik, perangkat
elektronik presisi, hingga pusat data. Dalam setiap sel surya fotovoltaik, ada
lapisan tipis perak yang menghantarkan listrik. Dalam kendaraan listrik, perak
membantu sistem kelistrikan bekerja efisien. Di era transisi energi bersih dan
ledakan digitalisasi, kebutuhan ini meningkat eksponensial.
Ketika
dunia berlomba membangun pembangkit surya dan mobil listrik, permintaan perak
otomatis melonjak. Artinya, harga perak kini tidak lagi hanya dipengaruhi
sentimen investor, tetapi juga oleh denyut nadi industri global.
Mengapa
Harganya Meledak?
Beberapa
faktor bertemu dalam waktu bersamaan, menciptakan badai sempurna.
Ekspektasi
pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat mendorong investor
berburu aset keras. Dalam sejarah pasar keuangan, ketika bunga turun, logam
mulia cenderung naik daun karena dianggap pelindung nilai terhadap inflasi dan
pelemahan dolar.
Di
saat yang sama, kebijakan China menambah ketegangan. Negara tersebut menaikkan
status perak menjadi material strategis dan membatasi ekspor sejak awal tahun
2026. Langkah ini membuat pasar khawatir pasokan global mengetat, memicu aksi
“berebut fisik” di antara pembeli besar dari Asia.
Belum
lagi ketimpangan struktural antara pasokan dan permintaan. Produksi tambang
tidak bertambah secepat lonjakan kebutuhan industri. Sementara itu, ketegangan
geopolitik membuat investor semakin mencari aset aman.
Hasilnya,
harga melesat cepat, bahkan sejumlah analis memprediksi perak masih berpotensi
naik lebih tinggi pada 2026.
Indonesia
di Tengah Gelombang Perak
Bagi
Indonesia, kabar ini membawa ironi sekaligus peluang. Di atas kertas, Indonesia
bukan pemain kecil. Cadangan bijih peraknya besar dan tersebar di Papua, Nusa
Tenggara, hingga Sumatera. Produksi perak banyak muncul sebagai produk
sampingan tambang emas dan tembaga, seperti yang dikelola PT Freeport
Indonesia di Grasberg dan PT Amman Mineral Nusa Tenggara di Batu
Hijau.
Namun
kinerja ekspor perak selama ini relatif modest. Menurut catatan Kementerian
Perdagangan, ekspor perak Indonesia di kode HS 47114 (Articles of goldsmith
silversmith wares and parts) pada Januari-Desember 2024 hanya mencapai US$10,35
juta.
Meskipun begitu, ekspor perak terpantau mengalami kebangkitan pada Januari-Juni
2025. Nilai ekspor di kategori yang sama melonjak menjadi US$2,467 juta, atau
naik 3.958% yoy. Pendorong utama kebangkitan ini adalah permintaan dari
Thailand, yang menyerap hampir US$2 juta, naik 804,7% dibandingkan periode yang
sama tahun sebelumnya. [1]
Lonjakan harga global bisa menjadi momentum. Jika dikelola tepat, perak dapat
menjadi komoditas strategis baru, melengkapi dominasi nikel dan tembaga dalam
peta hilirisasi mineral nasional.
Efek
Domino ke Manufaktur dan Pajak
Namun,
kenaikan harga tidak selalu berarti kabar baik bagi semua pihak.
Bagi
industri manufaktur, biaya bahan baku meningkat. Produsen panel surya,
elektronik, atau kerajinan perak harus menyesuaikan harga. Di sisi lain, nilai
transaksi membesar, margin nominal meningkat, dan perputaran uang di rantai
pasok ikut melebar.
Di
sinilah aspek fiskal mulai memainkan peran. Secara teoritis, ketika harga jual
naik, dasar pengenaan pajak juga naik. PPN dan pajak penghasilan dari pelaku
usaha berpotensi meningkat. Negara bisa memperoleh tambahan penerimaan.
Namun
demikian, tetap terdapat celah risiko. Fasilitas pembebasan PPN untuk bahan
baku kerajinan perak, misalnya, berpotensi disalahgunakan melalui manipulasi
klasifikasi barang. Selain itu, transaksi fisik perak mudah bergeser ke sektor
informal yang sulit ditelusuri.
Artinya,
lonjakan harga menghadirkan dua sisi mata uang, peluang penerimaan, sekaligus
ancaman penghindaran pajak.
Logam
yang Kini Sarat Politik dan Ekonomi
Perak
hari ini tak lagi sekadar perhiasan atau logam pelengkap. Ia telah menjelma
simbol dari era baru—era energi terbarukan, digitalisasi masif, dan persaingan
geopolitik sumber daya.
Kenaikan
harganya mencerminkan cerita yang lebih besar tentang bagaimana dunia berubah.
Tentang bagaimana logam yang dulu dipandang biasa kini menjadi rebutan negara
dan korporasi. Tentang bagaimana satu komoditas kecil bisa menggerakkan pasar
global, memengaruhi industri, bahkan berdampak pada penerimaan fiskal sebuah
negara.
Bagi
Indonesia, pertanyaannya sederhana namun strategis: apakah kita hanya akan
menjadi penonton kenaikan harga, atau justru memanfaatkan momentum untuk
memperkuat hilirisasi, memperluas ekspor bernilai tambah, dan mengamankan
potensi pajaknya?
Karena
di tengah kilau perak yang memantulkan cahaya pasar dunia, tersembunyi satu
kenyataan: logam ini kini bukan lagi sekadar komoditas. Ia telah menjadi bagian
dari peta kekuatan ekonomi masa depan.
Transformasi Struktural Sektor Pertambangan: Analisis Dampak Hilirisasi Mineral terhadap Resiliensi Fiskal dan Stabilitas Makroekonomi Indonesia
Jakarta – Pergeseran paradigma pengelolaan sumber daya alam (SDA) di Indonesia telah mencapai titik krusial melalui implementasi kebijakan hilirisasi mineral yang agresif. Transformasi ini menandai berakhirnya era ketergantungan pada ekspor komoditas primer dan dimulainya fase integrasi industri berbasis nilai tambah. Dalam perspektif ekonomi fiskal, transisi ini bukan sekadar upaya peningkatan produk domestik bruto (PDB), melainkan strategi komprehensif untuk memperkuat struktur penerimaan negara di tengah volatilitas pasar global.
Hilirisasi sebagai Instrumen
Mitigasi Volatilitas Harga
Secara historis,
postur anggaran negara seringkali terpapar risiko fluktuasi harga komoditas
global yang ekstrem (commodity super-cycle). Kebijakan
hilirisasi, khususnya pada komoditas nikel, berfungsi sebagai mekanisme
stabilisasi fiskal. Dengan mengolah bijih menjadi produk setengah jadi maupun
barang jadi, seperti nikel sulfat dan prekursor baterai, Indonesia berhasil
menciptakan struktur harga yang lebih resilien.
Data pada awal 2026 menunjukkan bahwa apresiasi harga produk hilirisasi pada level US$18.000 hingga US$19.500 per ton memberikan kepastian arus kas masuk ke kas negara melalui Pajak Penghasilan (PPh) Badan dan Bea Keluar yang lebih stabil dibandingkan saat masih bergantung pada ekspor bijih mentah. Hal ini membuktikan bahwa kedalaman struktur industri (industrial deepening) berkorelasi positif terhadap kepastian target penerimaan perpajakan nasional.
Optimalisasi Fiscal Capture
dan Kontribusi Sektoral
Efektivitas hilirisasi
juga dapat diukur dari kemampuannya dalam melakukan fiscal
capture yang lebih presisi. Kawasan industri terintegrasi yang
tumbuh di wilayah strategis seperti Morowali dan Halmahera menciptakan
ekosistem ekonomi baru yang memperluas basis pemajakan (tax base). Kontribusi pajak tidak lagi hanya bersumber
dari royalti atas ekstraksi SDA (PNBP), tetapi berkembang ke sektor-sektor
pendukung lainnya, termasuk pajak atas tenaga kerja, jasa konstruksi, hingga
pajak daerah.
Namun, penguatan
ketahanan fiskal ini menuntut sinkronisasi regulasi yang ketat. Transparansi
dalam pelaporan transaksi lintas batas (cross-border transactions)
dan kepatuhan administratif di kawasan industri menjadi prasyarat mutlak. Tanpa
pengawasan yang integratif, potensi keuntungan ekonomi dari hilirisasi dapat
tergerus oleh inefisiensi administratif. Oleh karena itu, penguatan tata kelola
perpajakan di kawasan industri strategis harus dipandang sebagai upaya
melindungi kedaulatan fiskal negara atas nilai tambah yang dihasilkan di dalam
negeri.
Tantangan Eksternal dan
Substitusi Teknologi
Meskipun profil fiskal
nikel menguat, Indonesia dihadapkan pada dinamika teknologi global, terutama
penetrasi baterai Lithium Ferro Phosphate (LFP).
Tantangan ini memaksa industri domestik untuk tidak hanya berhenti pada
pengolahan tahap awal, tetapi terus bergerak menuju ujung rantai pasok (end-to-end supply chain). Resiliensi fiskal masa depan
akan sangat bergantung pada kemampuan industri nasional dalam mempertahankan
keunggulan kompetitif nikel sebagai komponen utama energi bersih. Pemerintah
dituntut untuk terus memberikan stimulus fiskal yang tepat guna mendorong
inovasi teknologi tanpa mengorbankan target penerimaan jangka panjang.
Langkah strategis Indonesia dalam mengintegrasikan sektor hulu
dan hilir mineral telah meletakkan fondasi yang kuat bagi ketahanan fiskal
nasional. Keberhasilan ini tidak hanya diukur dari besarnya aliran investasi
asing yang masuk, tetapi juga dari seberapa efektif nilai tambah tersebut
dikonversi menjadi penerimaan negara yang berkelanjutan.
Pemerintah perlu
memperkuat sinergi antar-lembaga dalam melakukan pengawasan administratif dan
verifikasi data transaksi secara real-time di
kawasan-kawasan industri strategis. Dengan tata kelola yang transparan dan
akuntabel, hilirisasi mineral akan menjadi motor penggerak utama yang
memastikan kekayaan alam Indonesia memberikan dampak kesejahteraan yang
maksimal dan terdistribusi bagi seluruh lapisan masyarakat melalui pembiayaan
pembangunan yang berkelanjutan.
Pilihan Editor
-
TRANSISI ENERGI : JURUS PAMUNGKAS AMANKAN EBT
26 Dec 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023
