Industri lainnya
( 1857 )Produsen Emas PT Archi Indonesia Bidik Pertumbuhan Produksi 25%
Produsen emas PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) menargetkan pertumbuhan produksi 25% pada 2025, dibandingkan 2024 sebesar 93,4 kilo ons (koz). Adapun penjualan emas tahun lalu mencapai 97,1 koz. Kenaikan produski 2025 Archi bakalan ditopang penambangan kembali di pit Araren, pembukaan pit baru di bagian utara konsesi, serta dimulainya penambangan bawah tanah. Pada 2024, ARCI mencetak kenaikan pendapatan sebesar 14,2% menjadi US$ 287,6 juta, naik dari 2023 sebesar US$ 249,6 juta. Perseroan mencetak laba bersih sebesar US$ 10,4 juta. Dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST), manajeman Arci menjabarkan strategi solid untuk meningkatkan pertumbuhan produksi dan memperkuat diversifikasi bisnis ke sektor energi terbarukan. Direktur Utama ARCI Rudi Suhendra menyampaikan, hasil 2024 mencerminkan soliditas kinerja operasional dan keuangan Perusahaan. Fokus perseroan ke depan adalah akselerasi produksi dan pengembangan strategi. Dia menegaskan, sepanjang 2024, ARCI melakukan kegiatan eksplorasi secara intensif dan berkelanjutan pada 427 titik pengeboran dengan total 75.807 meter. Salah satu temuan paling signifikan dari pengeboran eksploirasi terindentifikasi di bagian utara konsesi pada kuartal III-2024. "Ditemukan bijih emas kadar tinggi sebesar 60 gr per ton dengan ketebalan 36m di kedalaman 178-214 m meter. Pengambangan tambang sawah tanah pit Kopra menunjukkan hasil yang positif pada 5 Desember 2024," kata dia. (Yetede)
Kebijakan Stimulus Diskon Tarif Angkutan Laut Telah Diterapkan Pemerintah
Kebijakan Stimulus Diskon Tarif Angkutan Laut Telah Diterapkan Pemerintah
Tuntaskan PR Penggangu Terciptanya Kepastiaan Berusaha
Tantangan Besar Industri Film Indonesia dengan Potensi yang Besar
Film animasi, Jumbo, tak hanya menjadi film Indonesia terlaris tahun ini yang mampu meraup pendapatan ”jumbo”. Seiring keberhasilan film itu, ada momentum untuk mengembangkan ekosistem industri film animasi dalam negeri. Sejak Jumbo tayang perdana pada 31 Maret hingga 9 Juni 2025, film animasi karya sutradara Ryan Adriandhy itu telah ditonton 10,15 juta penonton dan meraup pendapatan domestik 23,7 juta USD (Rp 252,8miliar). Jumbo menggeser film genre horor, KKN di Desa Penari, yang sebelumnya menjadi pemegang rekor jumlah penonton terbanyak, yakni 10,06 juta orang. Penghasilan Jumbo akan semakin jumbo karena akan ditayangkan di 17 negara Asia Tengah dan Eropa, seperti Rusia, Belarus, Ukraina, Moldova, Tajikistan, Turkmenistan, Estonia dan Latvia. Menurut Ketua Umum Asosiasi Industri Animasi dan Konten Indonesia (Ainaki) Daryl Wilson, Jumbo berhasil mencetak jumlah penonton dan pendapatan tinggi karena menawarkan narasi dan visualisasi tiga dimensi yang apik.
Kesuksesan Jumbo tak lepas dari keterlibatan komunitas, artis, penyanyi dan investor. Secara umum industri film animasi dalam negeri masih memiliki banyak tantangan mulai soal investasi biaya produksi, kreativitas cerita, hingga penciptaan karakter penokohan yang kuat, tapi belum banyak investor yang melirik industri film animasi. Padahal, animator Indonesia memiliki kualitas yang tidak kalah dari negara lain. Ainaki mencatat, Indonesia memiliki 250 studio animasi dari skala besar, menengah dan kecil. ”Industri animasi Indonesia belum maksimal dan terangkat, karena secara bisnis berisiko sebab produksinya butuh waktu lama yang membuat cost production (biaya produksi) tinggi. Hal ini yang menjadi pertimbangan investor, apakah setelah selesai dan tayang, filmnya akan sukses,” ujarnya.
Dalam cuitan di akun X resminya, Ryan Adriandhy menyampaikan, Jumbo dibuat dengan anggaran di bawah 2 juta USD atau Rp 30 miliar. Bandingkan dengan film Inside Out 2 karya Disney Pixar yang memakan biaya Rp 3 triliun. Industri animasi Tanah Air sebenarnya menyimpan potensi besar. Menurut catatan ”Indonesia Animation Report 2020”, dalam periode 2015-2019, industri animasi dalam negeri tumbuh 153 % dengan kenaikan rata-rata 26 % per tahun. Pada 2015, industri animasi Indonesia mencetak pendapatan kotor Rp 238 miliar dan terus tumbuh dari tahun ke tahun dan mencapai Rp 602,75 miliar pada 2019. Secara global, pasar animasi diperkirakan bakal tumbuh dari 379,83 miliar USD (2024) menjadi 407,03 miliar USD (2025) dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 7,2 %. (Yoga)
Pemerintah Mengimbau Pelaku Industri Diminta Serap Gula Petani
Kemungkinan Pemerintah Membuka Opsi Impor Gas
Misi Besar Hidupkan Lagi Industri Gula RI
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pertanian yang dipimpin oleh Menteri Amran Sulaiman, menargetkan produksi gula konsumsi sebesar 2,59 juta ton pada 2025, dengan tujuan jangka panjang swasembada gula konsumsi pada 2028 dan gula industri pada 2030. Meskipun target ini menunjukkan ambisi besar untuk memperkuat ketahanan pangan, realitas menunjukkan masih adanya defisit 850.000 ton yang harus dipenuhi lewat impor.
Amran menegaskan enam strategi utama dalam mencapai swasembada, mulai dari penguatan penyuluhan petani, kemudahan akses pupuk, hingga perluasan lahan oleh PTPN Group seluas 176.000 hektare dalam tiga tahun ke depan. Namun, berbagai tantangan klasik seperti rendahnya produktivitas, masalah benih, distribusi pupuk, tata niaga, dan konflik lahan masih menjadi hambatan besar.
Keberhasilan program ini juga sangat bergantung pada kerja sama lintas sektor, termasuk peran BUMN pupuk dan benih serta penggunaan teknologi digital dan kultur meristem. Validasi data, pemetaan lahan yang “clean and clear,” dan skema pembiayaan seperti KUR menjadi kunci percepatan implementasi.
Amran optimistis bahwa dengan komitmen, inovasi, dan koordinasi yang baik, Indonesia dapat keluar dari ketergantungan impor dan mencapai kedaulatan gula nasional lebih cepat dari target yang ditetapkan.
Tantangan Berat Industri Rokok di Tengah Ketidakpastian
Industri Hasil Tembakau (IHT) tengah menghadapi tekanan berat akibat kenaikan ongkos produksi, kebijakan cukai, dan regulasi kesehatan, yang berpotensi menimbulkan gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal. Ketua Umum FSP RTMM SPSI Sudarto A.S. mengungkapkan bahwa hampir seluruh pabrik rokok, terutama yang memproduksi sigaret kretek mesin (SKM) dan sigaret putih mesin (SPM), telah melakukan efisiensi pada awal 2025.
Penurunan produksi rokok sebesar 4,2% hingga Maret 2025, sebagaimana disampaikan Dirjen Bea dan Cukai Askolani, juga turut memperkuat kekhawatiran pekerja. Di sektor hulu, petani tembakau juga terdampak karena penurunan serapan dari pabrikan, terutama di wilayah sentra seperti Temanggung, sebagaimana dikhawatirkan Bupati Agus Setyawan.
Pihak industri, seperti Gudang Garam melalui Maksin Arisandi, mengakui tantangan dari penurunan omzet akibat kenaikan tarif pita cukai sejak 2021. Sementara itu, Ketua Umum Gaprindo Benny Wachjudi meminta pemerintah menerapkan moratorium kenaikan CHT (Cukai Hasil Tembakau) selama 3 tahun ke depan guna memberi ruang pemulihan bagi IHT, yang selama ini berkontribusi signifikan terhadap penerimaan negara—mencapai Rp216,9 triliun dari total cukai Rp226,4 triliun di tahun 2024.
Meskipun tidak ada kenaikan cukai di 2025, sektor ini tetap tertekan oleh kebijakan turunan dari UU Kesehatan No. 28/2024, termasuk rencana penyeragaman kemasan rokok, yang dinilai dapat mengancam keadilan berusaha dan meningkatkan peredaran rokok ilegal.
Dengan total tenaga kerja industri tembakau mencapai 650.889 orang, dan serapan tenaga kerja dari pabrik besar seperti Djarum, Sampoerna, dan Gudang Garam mencapai ratusan ribu orang, keberlangsungan IHT tidak hanya menjadi isu ekonomi tetapi juga isu ketenagakerjaan dan sosial nasional. Oleh karena itu, kebijakan fiskal dan kesehatan yang diambil pemerintah harus mempertimbangkan keseimbangan antara perlindungan kesehatan publik dan keberlanjutan ekonomi, demi mencegah gejolak sosial akibat potensi PHK massal di industri strategis ini.
Harita Nickel Menggelar Obi Fishing Tourment 2025
Pilihan Editor
-
Credit Suisse Tepis Krisis Perbankan
17 Mar 2023 -
Tren Thrifting Matikan Industri TPT
13 Mar 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023








