Pertumbuhan Ekonomi
( 471 )Ekonomi Indonesia Timur Tumbuh Impresif
Perlu Terobosan Agar Kembali Tumbuh di Atas 5%
Penggerak Roda Ekonomi di Tahun Politik
Angin sakal ekonomi, belum juga mereda. Potensi pertumbuhan ekonomi yang seharusnya terjadi di tahun politik karena dorongan konsumsi, berbenturan dengan eskalasi politik dan ketidakpastian ekonomi yang tengah terjadi saat ini. Akankah setiap musim Pemilu, kinerja Produk Domestik Bruto (PDB) nasional selalu dirundung tulah? Itulah sekelumit kegelisahan yang terpantik, saat membaca judul artikel harian Bisnis Indonesia edisi 26 Oktober 2023 “Membalik Tulah Tahun Politik” Dus, sejak Pemilu 2004—2019, pertumbuhan ekonomi selalu memperlihatkan kinerja melambat dari tahun-tahun sebelumnya. Padahal, idealnya, sepanjang Pemilu, sejatinya konsumsi pemerintah dan konsumsi Rumah Tangga (RT) menderukan mesin ekonomi, sehingga pertumbuhan ekonomi melaju di tahun-tahun politik tersebut. Namun, pada kenyataannya, bak jauh panggang dari api. Dari data kinerja ekonomi yang dipaparkan Bisnis Indonesia, grafik pertumbuhan ekonomi selalu melambat sejak Pemilu 2004—2019. Jika kita menengok ke belakang, kontribusi konsumsi Rumah Tangga (RT) dan konsumsi pemerintah terhadap PDB, pun selalu mengalami koreksi di tahun politik. Hal ini menunjukkan ada faktor-faktor politik yang memengaruhi perilaku konsumsi masyarakat, seperti ketidakpastian, eskalasi politik, atau kekhawatiran terkait dengan hasil Pemilu dan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi dan sosial. Konsumsi RT merupakan indikator penting untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi RT menyumbang lebih dari separuh PDB Indonesia, yaitu sekitar 56%. Namun, porsi konsumsi RT terhadap PDB terus menurun dari tahun ke tahun, dari 61,6% pada 2004 menjadi 51,5% pada 2019. Salah satu faktor yang diduga berpengaruh adalah adanya siklus politik lima tahunan yang berdampak pada dinamika konsumsi masyarakat. Dari dalam negeri, fluktuasi pasar juga terlihat dari arus modal keluar (capital outflow) dan tekanan terhadap saham yang masih terombang ambing dengan IHSG di bawah 7.000. Kurs Rupiah yang bergerak tembus level psikologis baru Rp16.000/US$ adalah impak dari ketidakpastian ekonomi saat ini. Dari krisis geopolitik Rusia-Ukraina dan Israel Palestina yang meluas ke kawasan Timur Tengah, fluktuasi harga minyak mentah dunia (crude price), fluktuasi harga pangan dan kebijakan suku bunga global (policy rate) adalah gambaran kondisi yang mencemaskan. Jalur transmisi dari momok ketidakpastian tersebut, berdampak pada ekspektasi inflasi dan terkereknya suku bunga kebijakan dalam negeri yang berkonsekuensi pada mahalnya beban pembiayaan usaha ke depan. Sementara dari sisi kebijakan moneter, diarahkan untuk menjaga stabilitas. Inflasi terkendali dalam sasaran 3%±1%, adalah bagian dari upaya menjaga daya beli masyarakat. Kebijakan makroprudensial, yang longgar melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dan Rasio Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM), diharapkan dapat mengoptimalkan fungsi intermediasi sektor perbankan untuk mendukung realisasi kredit ke sektor produktif untuk memacu laju pertumbuhan ekonomi.
Berkolaborasi Jaga Ekonomi Tetap Tumbuh Tinggi
Geliat Dunia Usaha Melambat di Akhir Tahun
Sejalan dengan potensi melemahnya konsumsi masyarakat, geliat dunia usaha juga akan terhambat di kuartal keempat tahun ini. Lagi-lagi, pemerintah perlu waspadai hal ini. Bisa jadi, pertumbuhan ekonomi tak sekencang perkiraan. Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha yang Bank Indonesia (BI) lakukan menunjukkan, Saldo Bersih Tertimbang (SBT) dunia usaha pada kuartal IV 2023 hanya sebesar 13,08%. Angka ini lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya yang mencapai 15,65%. Berdasarkan survei BI, penurunan geliat dunia usaha terjadi di sejumlah lapangan usaha. Misalnya, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang ditandai kontraksi SBT pada kuartal IV 2023 sebesar 1,03%. Padahal, kuartal sebelumnya, SBT masih tercatat positif, 1,18%, meski menurun dari kuartal kedua yang tercatat sebesar 2,34%. Penyebabnya, pola musim tanam pada sublapangan usaha tanaman pangan dan sublapangan usaha perkebunan. Selain itu, "Perkiraan peningkatan curah hujan, diyakini akan menurunkan kinerja sublapangan usaha hortikultura," terang BI dalam laporannya yang rilis kemarin. Tak hanya sektor pertanian, perlambatan juga terjadi di sektor lain, yakni pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, konstruksi, real estat, dan jasa konstruksi. Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta Diana Dewi masih optimistis, kondisi dunia usaha akan membaik di kuartal IV 2023. Tapi, pemerintah harus mewaspadai kondisi politik jelang pemilu. "Butuh upaya lebih keras mendorong ekonomi dan konsumsi masyarakat dengan menjaga stabilitas harga pangan," katanya. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual juga optimistis, pertumbuhan kegiatan dunia usaha pada akhir tahun 2024 akan tetap positif seiring menjelang momen pemilu. "Ada masa kampanye yang biasanya mengungkit permintaan. Ini juga peluang bagi kenaikan kinerja dunia usaha," ujar dia.
Ramalan 2024, Ekonomi Indonesia Akan Stagnan
Ancaman geopolitik dan ketidakpastian global masih akan membayangi perekonomian Indonesia pada tahun depan. Di tahun politik 2024, sejumlah lembaga internasional memproyeksikan ekonomi Indonesia cenderung stagnan. Beberapa lembaga dunia melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2024 belum bisa melampaui pencapaian di tahun ini. Terbaru, Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2024 sebesar 5,0% year-on-year (yoy) atau sama dengan perkiraan tahun 2023. Dalam laporan World Economic Outlook edisi Oktober 2023, lembaga itu mewanti-wanti masih ada dampak ketidakpastian global yang salah satunya datang dari kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Hanya saja, IMF bilang efek terhadap negara berkembang lebih terukur, seiring dengan tingkat inflasi yang lebih teregulasi, juga komponen harga komoditas dalam perhitungan inflasi inti yang tak terlalu besar. Tak jauh berbeda, Bank Dunia (World Bank) juga melihat adanya potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan dibandingkan tahun ini. Bank Dunia mengingatkan salah satu hal yang perlu dicermati Indonesia adalah perlambatan ekonomi China, sehubungan dengan berbagai peristiwa yang terjadi di negara Tembok Raksasa itu. Dalam Asian Development Outlook yang terbit bulan lalu, Senior Country Economic ADB Henry Ma menyebutkan, salah satu hal yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi stagnan adalah tahun politik yang akan menghambat kinerja investasi. Jika melihat pola musiman, biasanya menjelang pemilu atau sebelum ada kepastian politik, para pelaku usaha cenderung mengerem ekspansi. Henry melihat, pertumbuhan investasi yang akan tersendat adalah investasi bangunan. "Kalau investasi mungkin akan lemah, dan khususnya investasi di bangunan akan lemah selama setahun ke depan.," kata dia. Agak berbeda, Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) cukup optimistis memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh 5,2% yoy tahun depan, atau lebih tinggi dari perkiraan pertumbuhan 2023 yang sebesar 4,9% yoy.
Sepuluh Tahun Membangun Ekonomi Jateng
Di bidang ekonomi, Ganjar menaruh perhatian kepada pembangunan ekonomi rakyat. Sejumlah program digulirkan untuk mengangkat usaha kecil di Jawa Tengah. Selama menjadi gubernur, Ganjar melakukan revitalisasi dan membangun 84 pasar tradisional sebagai bentuk keberpihakan kepada pedagang tradisional. Revitalisasi bertujuan untuk meningkatkan kegiatan perekonomian masyarakat. Menurut Ganjar, pemerintah dan negara harus terlibat membangun pasar desa. "Kami yang harus membangun, karena investor nanti berebut kios dan harga ditentukan investor. Maka pasar-pasar di desa, kabupaten, kota, akan lebih baik kalau pemerintah yang mendorong," tuturnya. Ganjar juga memprioritaskan pembangunan sektor pariwisata berbasis masyarakat melalui desa wisata. Jumlah desa wisata terus melonjak dari 528 desa wisata pada 2020 menjadi 717 pada 2021 dan sebanyak 818 pada 2022. Bantuan keuangan diberikan kepada 100 desa wisata sebanyak Rp 18 miliar pada 2020. Jumlah bantuan terus bertambah menjadi Rp 32 miliar untuk 260 desa wisata pada 2021. Pada 2022, bantuan yang diberikan kepada 131 desa wisata sebesar Rp 18,5 miliar. (Yetede)
China Melambat Indonesia Sensitif
JAKARTA,ID-Perekonomian China diprediksi tumbuh lebih rendah dari perkiraan sebelumnya pada tahun ini dan tahun depan. Penyebabnya, selain belum pulihnya kondisi ekonomi pasca pandemi Covid-19, juga karena pasar sedang lesu, ditambah utang yang sangat besar akibat investasi infrastruktur selama beberapa dekade. Bagi Indonesia, kondisi ini adalah warning yang harus diantisipasi secara serius, mengingat China adalah tujuan ekspor terbesar bagi Indonesia dengan kontribusi sekitar 24-25%. Perlu ada peningkatan diversifikasi pasar ekspor ke negara tujuan ekspor lain dan diverifikasi sumber investasi untuk meminimalisasi kontraksi realisasi FDI (foreign direct investment) karena pelemahan ekonomi China ini. Biro Pusat Statistik China menunjukkan Ekonomi China pada kuartal II-2023 hanya bertumbuh 0,8% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, pertumbuhan ekonomi China sebesar 6,3%. Data ini menunjukkan performa ekonomi China belum benar-benar pulih dari masa pandemi Covid-19. Pada periode 2010-2019 tercatat rata-rata pertumbuhan ekonomi China berada di atas 7%. (Yetede)
Laba Bersih Bukit Asam Anjlok 55%
JAKARTA,ID-PT Bukit Asam Tbk (PTBA), anggota dari Holding BUMN Pertumbuhan MIND ID, mencatatkan laba sebesar Rp 2,8 triliun pada semester I-2023, anjlok 55% dibanding periode sama tahun lalu yang senilai Rp 6,1. Penurunan laba bersih sebesar tersebut akibat membengkaknya beban pokok pendapatan menjadi Rp14,75 triliun dibanding sebelumnya Rp10,07 triliun. Dalam laporan keuangan perusahaan yang dipublikasi Selasa (29/8/2023), biasa jasa penambangan PTBA naik menjadi Rp 4,4 triliun pada semester I-2023, Sekretaris Perusahaan PTBA Niko Chandra mengatakan, performa keuangan perusahaan mengalami peningkatan secara kuartalan. "Torehan laba bersih pada kuartal II-2023 mencapai Rp 1,6 triliun, menguat 33% dibandingkan kuartal I-2023 sebesar Rp1,2 triliun," kata Niko kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (29/8/2023). Niko menyebutkan, pertumbuhan laba bersih tersebut didukung oleh peningkatan kinerja oprasional PTBA hingga akhir Juni 2023. Tercatat total produksi batu bara perseroan pada enam bulan pertama tahun ini mencapai 18,8 juta ton, tumbuh 18% dari sebelumnya 15,9 juta ton berkat naiknya volume penjualan sebanyak 19% menjadi 17,4 juta ton. (Yetede)
Laba Emiten Bakal Tumbuh Pesat di Semester
JAKARTA,ID-Laba emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama semester I-2023 melampaui konsensus. Analis meyakini, laba emiten bakal tumbuh pesat di semester II tahun ini, ditopang kenaikan konsumsi domestik dan kucuran dana pemilu. Demikian kesimpulan riset RHB Sekuritas Indonesia dan CGS CIMB Sekuritas Indonesia tentang hasil kinerja keuangan semester I dan proyeksi semester II 2023, dikutip Kamis (10/08/2023) CGS CIMB mencatat, secara keseluruhan, kinerja emiten sebesar I-2023 sedikit melampaui konsensus analis. Ini ditopang oleh hasil mengesankan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Astra Internasional Tbk (ASII), dan PT United Tractors Tbk (UT/UNTR). Ini mampu mengompensasi penurunan kinerja PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF). Laba bersih Mandiri semester I-2023 mencapai 53% dari proyeksi setahun penuh konsensus analis dan CGS CIMB dan konsensus analis, sedangkan UT 68% dan 64%. "Kami percaya perlambatan sejumlah sektor ekonomi menekan kinerja emiten market cap menengah, sedangkan emiten big cap relatif lebih kebal," tulis broker itu. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Krisis Ukraina Meluber Menjadi ”Perang Energi”
10 Mar 2022









