Pertumbuhan Ekonomi
( 471 )Pertumbuhan Ekonomi Melambat, Defisit Anggaran Melebar
Perlambatan
ekokomi global berdampak pada perekonomiam Indonesia. Kemkeu mencatat,
defisit anggaran Rp 101 triliun atau 0,63% dari PDB. Angka ini melebar
dibanding periode sama 2018 sebesar Rp 54,9 triliun atau 0,37% dari PDB.
Perlambatan ekonomi setidaknya memengaruhi dua hal: penerimaan pajak dan
PNBP. Direktur Jenderal Pajak menjelaskan, melambatnya penerimaan pajak
terutama PPN dipengaruhi perlambatan ekspor. Sementara itu, sektor jasa
keuangan dan transportasi tumbuh positif, namun tidak mampu mem-boost
penerimaan dikarenakan tidak kena PPN. Selain itu, pelemahan harga komoditas
memengaruhi penerimaan PNBP. Menkeu mengatakan pihaknya mulai mewaspadai
ancaman perlambatan ekonomi global yang semakin nyata. Pemerintah menjaga
agar defisit anggaran tetap dalam kisaran target 1,84% dari PDB.
Ekonomi China Mulai Kronis
Secara mengejutkan pertumbuhan penjualan ritel dan produk industri China merosot pada bulan April 2019. Meskipun masih naik 7,2% dari tahun sebelumnya, namun ini merupakan pertumbuhan terendah sejak Mei 2003. Data menunjukkan, konsumen sekarang mulai mengurangi pengeluaran untuk produk sehari-hari seperti perawatan pribadi dan kosmetik, sambil terus menghindari barang-barang yang lebih mahal seperti mobil. Ekspor China juga menyusut pada bulan April 2019.
Efek Perang Dagang, Pertumbuhan Ekonomi Berpotensi Meleset
Ambisi pemerintah untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 5,3% pada tahun ini dinilai sulit seiring dengan berlarutnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Indef memproyeksikan bahwa makin meningkatnya tensi perang dagang AS dan CHina pascarencana Presiden Trump yang menaikkan tarif impor China menjadi 25%, bakal berimbas pada menurunnya pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini. Indikasi lemahnya pertumbuhan ekonomi tahun ini terlihat dari kinerja ekspor pada kuartal pertama tahun ini secara year-on-year sudah negatif. Posisi Indonesia dalam rantai pasok global tidak diuntungkan dengan adanya eskalasi perang dagang antara AS versus China.
Namun, Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution masih optimistis target pertumuhan ekonomi tahun ini sebesar 5,3% tetap bisa diraih dengan baik, meski ditengah tensi perang dagang AS dan China yang makin memanas. Saat ini pemerintah berkomitmen untuk terus berupaya mendorong ekspor dari sejumlah kelompok industri prioritas, terutama seperti yang telah diputuskan oleh Kemenperin dalam Industri 4.0, yaitu Industri Makanan dan Minuman, Industri Tekstil dan Pakaian, Industri Elektronik, Industri Otomotif, dan Industri Kimia. Selain itu, pemerintah juga terus mendorong pengolahan sumber daya alam seperti pembangunan smelter dan pengolahan kelapa sawit, serta tidak lagi menambah proyeksi infrastruktur strategis terbaru, tetapi hanya penyelesaian sehingga tambahan investasinya tidak terlalu banyak.
Kendati demikian, pihaknya saat ini mewaspadai perkembangan yang lebih jauh atas keputusan Presiden Trump yang menaikkan tarif impor China sebesar 25%. Apabila berlangsung makin memburuk maka pada ujungnya bisa menimbulkan multiplier efek bagi negara lainnya selaku mitra dagang kedua negara yang sedang bertikai tersebut.
Beberapa Wilayah RI Tumbuh Negatif
BPS mencatat pertumbuhan ekonomi di beberapa wilayah mengalami minus. Misalnya pertumbuhan ekonomi di Pulau Papua minus 10,44% secara tahunan. Penyebabnya sektor tambang yang menjadi andalan sedang melemah. Kondisi ini disebabkan penurunan produksi emas Freeport Indonesia yang mencapai 72% yoy. Tak hanya itu, tembaga juga anjlok 53% secara tahunan. Selain Papua, masih ada wilayah yang kondisinya rentan karena bergantung pada tambang, seperti NTB dan Kalimantan Timur.
Tarif Tiket Pesawat Hambat Laju Ekonomi Nasional
Lonjakan harga tiket pesawat mulai berdampak negatif pada ekonomi Indonesia. Bukan hanya merugikan konsumen, industri terkait seperti perhotelan, pariwisata dan ekonomi daerah ikut terdampak. Puncaknya, pertumbuhan ekonomi triwulan I-2019 hanya 5,07% jauh di bawah prediksi 5,2%. BPS mencatat, penumpang domestik kuartal I-2019 hanya 18,32 juta penumpang atau turun 17,66% dibanding periode sama tahun lalu.
Pemerintah masih mencari solusi. Salah satu opsinya adalah menurunkan tarif batas atas. Untuk itu, pemerintah akan membahas dengan pelaku usaha. KPPU saat ini juga sudah menurunkan investigator untuk mengusut dugaan kartel dalam menetapkan harga tiket. Namun, menurut Komisioner KPPU Guntur Saragih, hingga kini belum ada kesimpulan KPPU.
Belanja Ritel Bergeser
Pertumbuhan penjualan sejumlah perusahaan yang bergerak di sektor ritel melambat. Hal ini diperkirakan terjadi karena masyarakat mengalihkan prioritas belanja ritel ke hal lain. Meski demikian konsumsi masyarakat diyakini masih berpotensi menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Pengajar Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia, Lana Soelistianingsih memperkirakan alokasi dana untuk belanja ritel dialihkan untuk mudik termasuk tiket pesawat. Hal ini tercermin dari inflasi pada sektor transportasi, komunikasi dan jasa keuangan. Peralihan konsumsi tidak akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi hanya saja ke pertumbuhan ritel sebagai salah satu komponen konsumsi masyarakat.
Mesin Ekonomi Perlu Strategi Baru
Presiden terpilih harus mencari strategi baru agar tidak sekedar mengandalkan komoditas sebagai pendongkrak pertumbuhan ekonomi. Untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, Morgan Stanley menilai pemerintah perlu melanjutkan reformasi struktural yang sudah dirintis lima tahun terakhir. Reformasi struktural 2.0 harus fokus pada peningkatan produktivitas dan daya saing di sektor non-komoditas. Wakil Ketua Tetap Kadin Herman Juwono berharap kebijakan penyederhanaan aturan terus dilakukan. Sementara ekonom Indef, Bhima Yudhistira, melihat sektor pariwisata bisa jadi pilihan, dan terus mendorong industrialisasi. Selain itu, pemerintah perlu mengevaluasi online single submission (OSS) yang belum terintegrasi antara pusat dan daerah.
Ekonomi Global Melambat, Perekonomian Indonesia Bisa Tetap Menggeliat
Menepis Moody's, Mengungkit Ekonomi Lebih Tinggi
Hanya, penelitian Moody's berbeda dengan data pemerintah. Pemerintah menyebut, belanja untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masih dalam tren naik, misal belanja infrastruktur, belanja modal, subsidi, hingga belanja sosial. Makanya, lembaga internasional lain seperti World Bank, IMF, dan ADB, sebelumnya memproyeksi ekonomi Indonesia 2019 bakal lebih tinggi dari 2018 yang hanya 5,17%.
Risiko Ekonomi Dunia Meningkat
Pilihan Editor
-
John Riady: Jangan Khawatir Bubble Start-up
06 Sep 2021 -
Kebocoran Data Seolah Dibiarkan Terus Terjadi
04 Sep 2021 -
Perusahaan Rokok Besar Menikmati Insentif Cukai
04 Sep 2021









