Pertumbuhan Ekonomi
( 471 )Pertumbuhan Industri Pengolahan Melambat
Sepanjang triwulan I-2023 pertumbuhan produk domestik bruto pada industri pengolahan melambat dibanding triwulan IV-2022 ataupun periode sama tahun 2022. Perlambatan ini dipengaruhi melemahnya permintaan pasar domestik dan global karena tekanan ekonomi global. BPS merilis, Jumat (5/5) nilai PDB Indonesia pada triwulan I-2023 sebesar Rp 2.961,2 triliun berdasarkan harga berlaku atau Rp 5.071,7 triliun berdasarkan harga konstan, tumbuh 5,03 % dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Meskipun demikian, nilai PDB itu lebih rendah 0,92 % dibanding triwulan-IV 2022. Berdasarkan lapangan usaha, industri pengolahan jadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi tahunan pada triwulan I-2023 dengan andil 18,57 %. Secara tahunan, PDB industri pengolahan tumbuh 4,43 %. Pertumbuhan itu lebih lambat dibanding triwulan IV-2022 yang mencapai 5,64 % dan triwulan I-2022 sebesar 5,07 %.
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Maritim, Investasi, dan Luar Negeri Kadin Indonesia Shinta W Kamdani berpendapat, situasi global 2023 tergolong sulit lantaran laju inflasi, pengetatan keuangan, dan tingginya risiko krisis ekonomi menyebabkan pertumbuhan permintaan pasar dalam dan luar negeri relatif lambat dibanding tahun lalu. ”Apalagi, pemerintah menerapkan kebijakan neraca komoditas yang secara riil memengaruhi kelancaran suplai bahan baku/penolong impor untuk industri manufaktur. Kombinasi (situasi itu) membentuk kondisi yang sangat tidak ideal untuk meningkatkan keyakinan dan pertumbuhan kinerja manufaktur nasional,” katanya saat dihubungi pada Jumat (5/5). Untuk mendongkrak kinerja manufaktur dalam waktu singkat, Shinta berpendapat, Indonesia tidak dapat hanya mengandalkan permintaan pasar dalam negeri akibat lambatnya pertumbuhan daya beli domestik.Ekspansi pasar ekspor menjadi kunci. Produk manufaktur Tanah Air perlu ditingkatkan secara signifikan agar berdaya saing di pasar ekspor. Kelancaran rantai pasok industri juga mesti ditingkatkan. (Yoga)
Sederet Hambatan Menuju Pertumbuhan
JAKARTA – Target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,3 persen pada keseluruhan tahun ini diperkirakan gagal tercapai. Salah satu penyebabnya adalah net ekspor yang akan melambat lantaran harga-harga komoditas ekspor cenderung melemah di tengah perlambatan ekonomi global. "Sementara itu, investasi juga cenderung tumbuh moderat mempertimbangkan normalisasi investasi non-bangunan dan masih terbatasnya investasi bangunan," ujar Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, kepada Tempo, kemarin. Di sisi lain, perekonomian masih akan mendapat dukungan dari normalisasi aktivitas ekonomi setelah pelonggaran mobilitas masyarakat. Josua memperkirakan ekonomi Tanah Air hanya bertumbuh 4,9-5 persen pada keseluruhan tahun ini. Jika prediksi tersebut menjadi kenyataan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya tak mencapai target pemerintah, tapi juga melambat dari pertumbuhan pada 2022 yang sebesar 5,31 persen. (Yetede)
PDB Kuartal I Tumbuh 5,03%, Tapi Deindustrialisasi Berlanjut
JAKARTA, ID — Di tengah ancaman resesi ekonomi dunia, laju pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal pertama 2023, yoy, sebesar 5,03%. Namun, sektor industri hanya bertumbuh 4,43%, sementara perannya terhadap PDB 18,57%, turun dari 21,28% kuartal keempat 2014. Kondisi deindustrialisasi ini cukup mencemaskan karena sektor industri diharapkan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi yang mampu menyerap tenaga kerja lebih besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada triwulan IV-2014, pertumbuhan PDB manufaktur tercatat hanya 4,24% secara year on year (yoy), lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi secara umum 5,01% yoy. Kondisi yang sama masih terjadi pada kuartal I-2023, dengan pertumbuhan PDB manufaktur 4,43% yoy dan pertumbuhan ekonomi RI 5,03% yoy. Dalam sembilan tahun terakhir, tercatat hanya satu kali, pada kuartal IV-2022, pertumbuhan manufaktur lebih besar yakni 5,64% yoy dibanding ekonomi nasional 5,01%. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, industri manufaktur tercatat konsisten mengalami deindustrialisasi dini, dengan porsi menurun tajam dari 19,21% terhadap PDB Indonesia kuartal I-2022 menjadi 18,57%. Porsi industri pengolahan turun sejalan dengan pertumbuhannya yang rendah hanya sebesar 4,43%, di bawah pertumbuhan ekonomi triwulan I tahun ini. Kondisi itu mengancam jutaan pekerja di sektor manufaktur, khususnya manufaktur yang terimbas pelemahan pasar ekspor,” ujar Bhima ke pada Investor Daily. (Yetede)
Perekonomian Diperkirakan Melambat
Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2023 diperkirakan bakal sedikit melambat. Konsumsi rumah tangga yang belum pulih betul serta turunnya kinerja ekspor akibat normalisasi harga komoditas global jadi risiko yang perlu diantisipasi sepanjang paruh awal 2023. Sejumlah ekonom memproyeksikan, perlambatan pertumbuhan ekonomi pada tiga bulan pertama tahun ini berada di bawah 5 %, yakni di kisaran 4,8 %-4,9 %. Kondisi itu turun dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV-2022 sebesar 5,01 % serta sepanjang tahun 2022 sebesar 5,31 %. Perkiraan itu dikemukakan menjelang pengumuman data produk domestik bruto (PDB) Indonesia triwulan I-2023 oleh BPS, Jumat (5/5).
Menurut Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal, Kamis (4/5), konsumsi rumah tangga masih akan jadi tumpuan utama pertumbuhan ekonomi awal tahun ini, terutama di tengah kinerja ekspor yang melemah akibat menurunnya harga komoditas global. Meski demikian, terjadi tren pelambatan pada laju konsumsi rumah tangga ketimbang sebelumnya. Hal itu terlihat dari Indeks Penjualan Riil (IPR) atau Survei Penjualan Eceran per triwulan I-2023 yang dirilis BI pada 12 April 2023. IPR triwulan I-2023 diperkirakan tumbuh 1,6 % secara tahunan, melambat dibandingkan dengan IPR triwulan IV-2022 sebesar 1,9 %. Survei BI memprediksi, penjualan eceran di hampir semua kategori barang masih terkontraksi pada triwulan I-2023, kecuali sektor makanan dan minuman yang tumbuh 4,5 %. Meski tumbuh positif, penjualan eceran di sektor makanan dan minuman itu hanya naik tipis dari 4,4 % pada triwulan sebelumnya. (Yoga)
Konsumsi Rumah Tangga Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2023
JAKARTA, ID – Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2023 akan berada di atas 5% yang ditopang oleh konsumsi masyarakat. Di tengah global demand yang melambat, domestic demand diperkirakan akan menjadi penopang ekonomi baik pada kuartal I dan II, sampai dengan akhir 2023. “Memperhatikan berbagai indikator dan juga pada kuartal I dan II yang mengalami momen Ramadan dan Idulfitri, maka pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih mampu tumbuh di atas 5%, ”kata Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Ferry Irawan kepada Investor Daily, Kamis (4/5/2023). Dia mengatakan, aktivitas masyarakat mulai kembali normal dengan telah dicabutnya PPKM, diharapkan perekonomian akan terus menggeliat. Berbagai leading indikator seperti indeks penjualan riil, indeks keyakinan konsumen, dan juga PMI manufaktur menunjukkan prospek yang baik sampai dengan bulan April 2023. “Industri pengolahan masih akan menjadi kontributor utama ekonomi kuartal I, kendati demand global melambat. (Yetede)
120 Triliun Mengucur ke Daerah Selama Periode Mudik Lebaran 2023
JAKARTA, ID – Permintaan yang tertahan (pent up demand) selama dua tahun pandemi tertumpah selama periode mudik Lebaran 2023. Sekitar Rp 100-120 triliun dana pemudik diguyur ke berbagai daerah di Indonesia. Ledakan permintaan tersebut akan mendongkrak konsumsi masyarakat sehingga pertumbuhan ekonomi kuartal II-2023 bakal melejit. Pola konsumsi ala Lebaran ini merupakan konsumsi berbasis mobilitas. Ke depan, pertumbuhan ekonomi berbasis mobilitas inilah yang akan memperkokoh perekonomian nasional. Dukungan infrastruktur dan akomodasi yang bagus menjadi katalis pertumbuhan ekonomi berbasis mobilitas. Ekonom senior yang juga Rektor Universitas Indonesia Ari Kuncoro mengatakan, kondisi pandemi Covid-19 beberapa tahun terakhir menyebabkan tertahannya konsumsi masyarakat (pent up demand).Konsumsi yang tertahan tersebut akan ‘diledakkan’ pada momentum Ramadan dan Lebaran tahun 2023. “Dengan meredanya Covid-19, masyarakat keluar semua. Masyarakat yang tadinya menunda mudik ikut mudik. Uang yang tadinya gak dibelanjakan sekarang dibelanjakan,” ucap Ari saat dihubungi Investor Daily pada Rabu (19/4/2023). (Yetede)
Meningkat Pesat Pembayaran Zakat
Aktivitas bederma masyarakat meningkat selama Ramadan dan Idul Fitri. Potensi penghimpunan zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ziswaf) pun selalu berlipat setiap tahun, dengan porsi yang lebih besar dibanding bulan-bulan selain Ramadan. Baznas mencatat perolehan zakat, infak, sedekah, dan wakaf biasanya meningkat tiga hingga empat kali lipat saat Ramadan. Pada bulan suci tersebut, Baznas dapat mengumpulkan sekitar 40 % dari target tahunan penghimpunan ziswaf. Pimpinan Baznas Bidang Pengumpulan, Rizaludin Kurniawan, menuturkan pada tahun ini lembaganya menargetkan total pengumpulan zakat, infak, dan sedekah secara keseluruhan mencapai Rp 815 miliar. Saat Ramadan, target dana yang dikumpulkan sebesar Rp 301,45 miliar. Pada 2022, total penghimpunan zakat, infak, dan sedekah secara keseluruhan Rp 638,93 miliar, dengan perolehan saat Ramadan sebesar Rp 268,80 miliar.
“Pertumbuhan penghimpunan dana setiap tahunnya sekitar 8-10 %,” ujarnya kepada Tempo, Kamis pekan lalu, 13 April 2023. Meski pandemi melanda, Rizal berujar, tren bersedekah masyarakat tak pernah kendur. Jumlah penghimpunan dana Baznas terus naik. Dari Rp 386,60 miliar pada 2020, penghimpunan dana Baznas meningkat menjadi Rp 516,74 miliar pada 2021 dan Rp 638,83 miliar pada 2022. “Selain motivasi agama, ada banyak motivasi masyarakat untuk bederma dan membantu sesamanya tanpa melihat pengaruh krisis ekonomi sekalipun,” katanya. Kebijakan pemerintah mendorong ASN mengeluarkan zakat melalui Baznas ikut menguatkan basis penghimpunan zakat, infak, sedekah, dan wakaf secara tahunan. Menurut Rizal, saat ini penyaluran zakat ASN, pegawai BUMN, hingga TNI/Polri melalui Baznas semakin intensif dan berdampak positif pada penghimpunan dana. “Di daerah, baik gubernur, bupati, maupun wali kota juga serempak mengimbau penyaluran zakat ke Baznas daerah.” (Yetede)
Inklusi Keuangan UMKM untuk Jaga Momentum Pertumbuhan Ekonomi
JAKARTA,ID- Pemerintah menilai target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,3% pada tahun ini tidak terlepas dari geliat usaha UMKM. Berkaitan itu, momentum pertumbuhan ekonomi harus dijaga salah satunya melalui peningkatan akses terhadap layanan keuangan atau keuangan inklusif bagi pelaku UMKM. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, keunagan inklusif di Indonesia mengalami peningkatan pada 2021 sebesar 83,6% dan pada 2022 sebesar 85,1%. Dia juga menjelaskan, Presiden Jokowi sudah memberikan arahan mengenai target keuangan inklusif yaitu di kisaran 88% sampai 90% pada 2024. Meski demikian, saat ini masih banyak masyarakat yang belum terlayani secara baik, diantaranya UMKM. "Satu dari 10 UMKM masih belum mempunyai akses terhadap sistem keuangan. Oleh karena itu, sistem keuangan digital menjadi penting dan tentu segala macam hambatan diharapkan dapat terselesaikan," kata Airlangga yang juga Ketua Harian Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DNKI) dalam acara Peluncuran Mastercard Strive Indonesia di Thamrin Nine Ballroom, Jakarta, Selasa (4/4/2023). (Yetede)
Tingkat Konsumsi Diperkirakan Tetap Kuat hingga Akhir Tahun
Konsumsi diproyeksikan tumbuh kuat hingga akhir tahun 2023. Menjaga tingkat konsumsi diperlukan agar pertumbuhan tetap tinggi dan daya beli masyarakat terjaga. Ramadhan dan Idul Fitri menjadi momentum yang tepat untuk mulai memacu konsumsi masyarakat hingga akhir tahun 2023. Senior Economist DBS Bank Radhika Rao menjelaskan, konsumsi masyarakat Indonesia mulai membaik sejak awal tahun 2023, dan diproyeksikan tetap kuat hingga akhir tahun. Hal tersebut didasarkan pada Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) BI yang berada di batas optimis, di atas angka 100, sejak Desember 2022-Maret 2023. Hingga awal Maret 2023, IKK berada di angka 122,4. Menjaga tingkat konsumsi penting karena menjadi salah satu pendorong utama bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023.
”Angka IKK ini menunjukkan sentimen terhadap konsumsi terus meningkat, apalagi bila dibandingkan dengan tahun lalu. Angkanya mungkin tidak akan naik tajam, tetapi lebih stabil ke depannya,” ucapnya di Jakarta, Selasa (28/3). Sejumlah hal menjadi pendorong tingkat konsumsi, salah satunya tingkat belanja yang tinggi di periode Ramadhan dan Idul Fitri 2023. Aktivitas jual beli diharapkan terus bergulir serta tidak adanya lagi pembatasan memungkinkan masyarakat untuk berwisata. Selain itu, pihaknya memproyeksikan konsumsi tetap kuat karena tingkat upah minimum akan terus naik setiap tahunnya. Di tahun 2023, upah minimum diprediksikan naik 7 %. (Yoga)
2023, IMF Proyeksikan Ekonomi RI Tetap Kuat dan Tumbuh 5%
JAKARTA, ID Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan ekonomi Indonesia tetap kuat dan tumbuh 5% pada tahun ini. IMF juga menilai pemerintah Indonesia berhasil menekan defisit anggaran tahun 2022 ke bawah level 3% dari produk domestik bruto (PDB), mencapai 2,4% dari PDB atau satu tahun lebih dari jadwal. "Pemulihan yang lebih cepat di Tiongkok atau mereda tekanan inflasi global dapat memperkuat permintaan ekspor Indonesia," jelas Asisten Direktur Departemen Western Hemisphere IMF Cheng Hoon Lim dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Jumat (24/3/2023). Dengan begitu Lim mengungkapkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini sedikit menurun dari capaian tahun 2022 sebesar 5,3% (yoy) lantaran didukung oleh harga yang tinggi untuk sebagian besar ekspor komoditas Indonesia. "Kebijakan Indonesia yang masuk akal, berwawasan kedepan, dan terkordinasi dengan baik membantunya menutup lingkungan global yang sangat menantang di tahun 2022 dengan pertumbuhan yang sehat, penurunan inflasi, dan sitem keuangan yang stabil dan menguntungkan," ungkap dia. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Instruksi Pusat Untuk Rencana Penambangan
21 Feb 2022 -
Separuh Investor Tak Wajib Bayar Bea Meterai
22 Feb 2022 -
Menakar Prospek Usaha Sang Sultan Andara
22 Feb 2022









