Pertumbuhan Ekonomi
( 471 )Pertumbuhan 5,3% Bisa Dicapai
JAKARTA, ID – Pemerintah dan pelaku bisnis optimistis, target 5,3% laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini bisa dicapai meski Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan dari 5,1% ke 4,8%. Turunnya penerimaan ekspor akibat jatuhnya harga komoditas bisa dikompensasi dengan pulihnya kegiatan ekonomi seiring terkendalinya pandemi. Konsumsi dalam negeri yang cukup kuat, meningkatnya investasi, belanja pemerintah yang tepat sasaran, dan ruang fiskal yang masih lebar akan menjadi faktor pendorong laju pertumbuhan ekonomi tahun 2023. Indonesia sudah cukup belajar dari pandemi Covid-19 tahun 2020 dan 2021 yang memukul dua sisi sekaligus, yakni supply side dan demand side. Pada dua tahun itu, aktivitas manusia dibatasi, sehingga ekonomi mengalami kontraksi serius. Namun, tahun ini, tidak ada lagi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). (Yetede)
Perempuan, Kesetaraan, dan Pertumbuhan Ekonomi
Pada Kongres Perempuan pertama, 22-26 Desember 1928 di Yogyakarta, yang sekaligus patokan peringatan Hari Ibu, dirumuskan sebagai berikut. ”Zaman sekarang adalah zaman kemajuan, sudah waktunya mengangkat derajat kaum perempuan agar kita tidak terpaksa duduk di dapur saja. Kecuali harus menjadi nomor satu di dapur, kita juga harus turut memikirkan pandangan kaum laki-laki sebab sudah menjadi keyakinan kita bahwa laki-laki dan perempuan mesti berjalan bersama-sama dalam kehidupan umum.” Pernyataan liberatif itu menegaskan, kian terbukanya aksesibilitas bagi perempuan ke sumber daya ekonomi akan menjamin terangkatnya derajat perempuan. Ihwal itu penting untuk menjaga resiliensi, pemulihan, pemerataan hingga pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. Sayang sekali, aktivitas ekonomi perempuan, banyak yang masuk dalam kategori unreported economy, seperti usaha kaki lima, pembantu rumah tangga, buruh, kuli, petani, nelayan, dan lainnya. Belum ada data resmi, berapa jumlah perempuan di usaha ultramikro seperti itu.
Mengonfirmasi BRI Research Institute (2021), ada 45 juta pelaku usaha ultramikro di Indonesia, 30 juta di antaranya belum tersentuh layanan keuangan formal. Besarnya jumlah perempuan dalam usaha ultramikro itu menjadi kekuatan aktual jika mampu menggerakkan pertumbuhan ekonomi secara inklusif. Mereka perlu dioptimalkan seperti usulan riset Yaron, Yacob, Benjamin, dan Piprek (1997), dengan pendekatan formal dan informal. Dalam kegiatan pendukung (side event) KTT G20 di Bali November lalu, seminar internasional tentang ”Transformasi Digital Inklusi Keuangan Perempuan, Anak Muda, dan SMEs untuk Mempromosikan Pertumbuhan Inklusif” merekomendasikan agar kokohnya resiliensi perempuan, terutama pada basis ekonomi masyarakat termarjinalkan, menjadi fondasi pemulihan dan pertumbuhan ekonomi berkualitas ke depan. Bahkan, usaha berbasis daring (internet) menjadi peluang yang bisa mendorong perempuan mengembangkan usaha di tengah transisi usaha global ke ekonomi digital. Apalagi, sejumlah riset menunjukkan 54 persen UMKM perempuan memakai internet, lebih besar dari pria yang hanya 39 %. Selamat Hari Ibu ke-94 dalam tema tahun ini: ”Perempuan Berdaya, Indonesia Maju. (Yoga)
Pertumbuhan Ekonomi 2023 Butuh Berbagai Jenis Insentif
JAKARTA, ID – Laju pertumbuhan ekonomi 2023, yang diharapkan sedikitnya 5,3%, membutuhkan insentif fiskal dan penghapusan berbagai kebijakan yang menghambat kemajuan industri manufaktur dan ekspor. Insentif fiskal dan berbagai kemudahan bagi pelaku usaha dibutuhkan karena tahun depan, Bank Indonesia (BI) masih menaikkan suku bunga acuan mengikuti langkah The Federal Reserve (Fed). Gubernur BI Perry Warjiyo mengingatkan sejumlah risiko global yang patut diwaspadai Indonesia tahun depan, khususnya tingkat suku bunga Bank Sentral AS yang tetap tinggi. “Tahun depan, Fed funds rate atau suku bunga acuan The Fed akan mencapai 5% untuk merespons inflasi,” kata Perry saat membuka acara seminar nasional Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) secara daring, Selasa (14/12/2022). Kendati inflasi AS sudah menurun dalam lima bulan berturut-turut ke level 7,1% pada November lalu, namun masih jauh dari sasaran 2%. Untuk memerangi inflasi, The Fed diperkirakan kembali menaikkan bunga acuan 50 bps menjadi 4,25-4,50% pada Rabu (14/12/2022) waktu setempat dan mencapai 5% tahun depan. (Yetede)
Ekonomi Indonesia Masih Bertumbuh
Di tengah perlambatan ekonomi global, BI memprediksi perekonomian Indonesia pada 2023 dan 2024 masih bertumbuh. Pertumbuhan ini akan ditopang oleh konsumsi, investasi, dan ekspor. BI juga memprediksi inflasi bisa terkendali. Hal ini mengemuka dalam Pertemuan Tahunan BI 2022 di Jakarta, Rabu (30/11) yang bertajuk ”Sinergi dan Inovasi Memperkuat Ketahanan dan Kebangkitan Menuju Indonesia Maju”. Presiden Jokowi dalam sambutan pada acara ini mendorong seluruh jajarannya tetap optimistis menghadapi kondisi perekonomian global tahun depan yang masih diwarnai ketidakpastian. Namun, Presiden juga mewanti-wanti agar tetap waspada dan berhati-hati menyusun kebijakan.
”(Otoritas) fiskal, moneter, harus selalu berbicara, harus selalu berdampingan sehingga semua policy yang ada itu betul-betul bermanfaat bagi rakyat dan negara,” ujar Presiden. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2023 diproyeksikan tetap kuat di kisaran 4,5-5,3 %. Pertumbuhan ini akan terus meningkat menjadi 4,7-5,5 % pada 2024. ”Pertumbuhan ditopang oleh konsumsi, investasi yang meningkat karena hilirisasi infrastruktur penanaman modal asing, pariwisata, dan lainnya,” ujar Perry. Inflasi juga diperkirakan akan terkendali sehingga bisa kembali ke sasarannya, yakni 3 % plus minus 1 % pada 2023 dan 2,5 % plus minus 1 % pada 2024. (Yoga)
Melambat, Ekonomi 2023 Diramal Tumbuh 5%
Ekonomi Indonesia masih akan berada di kisaran 5% tahun depan. Berarti selama kurang lebih 10 tahun, ekonomi Indonesia selalu berkutat sekitar 5% saja.
Sejumlah lembaga internasional pun sudah memproyeksi laju ekonomi Indonesia tahun depan di kisaran angka tersebut. Proyeksi tersebut diperkuat dengan prediksi dari Bank Indonesia (BI). Bank Sentral memproyeksi ekonomi Indonesia di kisaran 4,5% - 5,3% di 2023. Gubernur BI Perry Warjiyo mengakui, Indonesia masih punya modal untuk bisa membuat ekonomi tumbuh positif tahun depan. Namun, ketidakpastian global tahun depan menjadi faktor penghambat.
"Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2023 memang tetap kuat, tetapi sedikit melambat ke titik tengah kisaran 4,5% yoy hingga 5,3% yoy tersebut,” terang Perry dalam Pertemuan Tahunan BI 2022, Rabu (30/11) di Jakarta.
Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) memastikan, pemerintah tetap akan hati-hati dalam mengambil langkah.
Efek Resesi, Proyeksi Ekonomi di Bawah 5%
Organization for Economic Co-operation and Development(OECD) kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan menjadi 4,7%. Proyeksi ini turun 0,1% poin dari ramalan sebelumnya sebesar 4,8%.
Penurunan proyeksi ekonomi ini dilakukan di tengah ancaman resesi global tahun depan. Dalam laporan bertajuk
Ecnomic Outlook
Edisi November 2022, prospek pertumbuhan ekonomi tahun depan jauh melambat dibanding tahun ini.
Akan tetapi, pada tahun depan, OECD memandang permintaan domestik dan pertumbuhan konsumsi di sektor swasta akan tertahan karena inflasi yang masih tinggi. Namun, investasi berupa belanja modal masih akan meningkat secara signifikan.
Tak hanya OECD, Bank Indonesia (BI) juga meramal pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan akan melambat. Bahkan, Gubernur BI Perry Warjiyo memperkirakan, ekonomi Indonesia tahun depan tumbuh moderat di level 4,37%, dibanding pertumbuhan ekonomi tahun ini yang diperkirakan mencapai 5,12%.
DERU KENCANG MESIN EKONOMI
Mesin ekonomi masih menderu kencang kendati sempat dilanda kecemasan lantaran pelemahan daya beli akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada September 2022, serta lesatan inflasi. Hal itu tecermin dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi kuartal III/2022 di angka 5,72% (year-on-year/YoY), naik dibandingkan dengan kuartal II/2022 sebesar 5,44% (YoY). Capaian itu bahkan malampaui proyeksi pemerintah dan sejumlah ekonom. Beberapa kontributor produk domestik bruto (PDB) pun berhasil mencatatkan pertumbuhan, terutama pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi dan ekspor. Akan tetapi, kewaspadaan patut tetap ditanamkan mengingat kian beratnya tantangan ekonomi pada kuartal terakhir tahun ini. Apalagi, pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang menjadi penyumbang terbesar PDB melandai, yakni dari 5,51% pada kuartal II/2022 menjadi 5,39% pada kuartal III/2022. Kondisi ini pun meningkatkan risiko tereduksinya konsumsi di sisa tahun ini, terutama seiring dengan tren lonjakan inflasi baik yang dipengaruhi faktor domestik maupun global. Kepala BPS Margo Yuwono, mengatakan konsumsi rumah tangga mencerminkan aktivitas ekonomi dalam jangka pendek. Adapun, geliat ekonomi jangka panjang tercermin dari ekspor dan investasi. “Memang yang bagus ke depan, ekspor dan investasi PMTB makin menguat, itu menunjukkan perekonomian yang makin robust,” katanya, Senin (7/11).
Bertumpu pada Konsumsi Rumah Tangga
Meski tumbuh 5,39 % secara tahunan pada kuartal III 2022, konsumsi rumah tangga turun dibanding pada kuartal II 2022 yang mencapai 5,51 %. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan penurunan tersebut terjadi karena pada kuartal II ada momen Lebaran yang membuat konsumsi meningkat. “Konsumsi di kuartal III dibanding kuartal II melambat karena, pada saat Lebaran, demandnya melonjak,” tutur dia dalam konferensi pers via Zoom, kemarin, 7 November. BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2022 naik 5,72 persen secara tahunan atau 1,81 % lebih tinggi dibanding pada kuartal II.
Konsumsi rumah tangga pada triwulan III tahun ini mampu memberikan distribusi sebesar 50,38 persen terhadap perekonomian sehingga menjadi sumber pertumbuhan tertinggi ekonomi yang sebesar 5,72 persen, dengan andil 2,81 persen.Pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal III yang mencapai 5,39 persen dipengaruhi oleh beberapa faktor. Di antaranya, mobilitas penduduk yang mulai naik, peningkatan aktivitas belanja oleh kelompok masyarakat menengah ke atas untuk kebutuhan tersier, serta peningkatan daya beli masyarakat menengah ke bawah yang terbantu oleh adanya realisasi bantuan sosial dan subsidi energi. (Yoga)
PERFORMA PRIMA EKONOMI RI
Soal pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III/2022, sejumlah kalangan enggan mengendurkan optimisme. Bahkan, laju ekonomi pada kuartal III/2022 diestimasi terus mendaki melampaui realisasi kuartal II/2022 yang sebesar 5,44% (year-on-year/YoY). Alasannya, kinerja investasi belakangan terus menanjak. Performa ekspor juga tak kalah gemilang. Kekhawatiran mengenai melambatnya konsumsi akibat penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pun perlahan terkikis. Tangguhnya konsumsi terefleksi dalam data inflasi yang menunjukkan penurunan pada bulan kedua tarif BBM baru yang menandai masih kuatnya daya beli masyarakat. Pemerintah memperkirakan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2022 berada pada rentang 5,5%—5,7%. Pun dengan estimasi ekonom yang masih berada dalam kisaran sasaran pemerintah itu. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, mengatakan soliditas ekonomi pada kuartal III/2022 menjadi amunisi bagi pemerintah untuk menghadapi kuartal IV/2022. Sri Mulyani menuturkan, mayoritas indikator ekonomi pada kuartal III/2022 berada pada teritorial positif. Pertama, menurunnya scarring effect pandemi Covid-19 seiring dengan pelonggaran mobilitas masyarakat. Kedua, konsumsi dan dunia bisnis yang makin menggeliat, tecermin dari kinerja perpajakan yang telah melampaui realisasi sepanjang 2021. Ketiga, aktivitas investasi dan ekspor sebagai sektor utama penopang produk domestik bruto (PDB) juga mencatatkan performa yang cukup ciamik.
Ditopang Ekspor dan Konsumsi, Ekonomi Bisa Tumbuh 5%-6%
Ekonomi pada kuartal III-2022 diyakini tumbuh lebih tinggi, bahkan bisa menyentuh angka 6% year on year (yoy). Penyebabnya konsumsi rumah tangga dan ekspor yang moncer, serta basis produk domestik bruto (PDB) yang rendah pada periode sama tahun lalu. Danareksa Research Institute (DRI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2022 sebesar 5,65% yoy, atau melampaui angka pertumbuhan ekonomi kuartal II-2022 yang sebesar 5,44% yoy. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia Teuku Riefky memperkirakan, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2022 di kisaran 5,77%-5,86% yoy.
Pilihan Editor
-
Orang Kaya Singapura Akan Dikenai Pajak
19 Feb 2022 -
Membabat Para Penentang
19 Feb 2022 -
Euforia Bank Digital Mendongkrak Kekayaan Taipan
21 Feb 2022 -
Tiga Bisnis yang Dibutuhkan Dimasa Depan
02 Feb 2022









