Pertumbuhan Ekonomi
( 471 )Optimisme Pertumbuhan Triwulan Ketiga
Pertumbuhan ekonomi pada triwulan III 2022 diprediksi tetap positif meski dibayangi tren inflasi tinggi dan kenaikan suku bunga. Ekonom dari Institute for Demographic and Poverty Studies (Ideas), Askar Muhammad, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi secara tahunan di kisaran 5,2-5,4 %, tak jauh dari capaian triwulan II 2022 di 5,44 %. “Penopangnya masih sektor komoditas yang ekspornya cukup tinggi dan sektor industri logam yang menerima penanaman modal atau investasi tinggi,” ujar Askar kepada Tempo, kemarin. Lonjakan harga komoditas menjadi berkah bagi kinerja ekspor Indonesia, khususnya batu bara dan minyak sawit, yang melejit hingga menembus harga tertinggi dengan kenaikan penjualan rata-rata dua kali lipat. Emiten tambang batu bara Adaro Energy Indonesia Tbk, misalnya, mencatatkan laba bersih US$ 1,90 miliar pada periode Juli-September 2022, tumbuh 352,21 % dibanding periode yang sama tahun lalu. Pendapatan perusahaan pun melonjak 130 %, dari US$ 2,56 miliar menjadi US$ 5,91 miliar.
Askar melanjutkan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan III belum akan banyak dipengaruhi oleh kenaikan inflasi dan suku bunga. Sebab, dampak tren tersebut baru akan muncul dan terefleksi pada akhir triwulan III. “Ini yang patut diwaspadai dan kita akan lebih jauh melihat dampaknya pada pertumbuhan ekonomi triwulan IV,” ujarnya. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, berujar pertumbuhan ekonomi pada triwulan III mungkin akan mengalami perlambatan, tapi tidak signifikan. Sebab, tingkat konsumsi masyarakat secara umum masih meningkat dan bakal menjadi penopang pertumbuhan ekonomi. “Walau pergerakan ekonomi kita lebih banyak didorong oleh kalangan menengah dan atas, serta 83 % konsumsi domestik digerakkan oleh mereka,” ucapnya. (Yoga)
Kemenkeu Prediksi Ekonomi Kuartal III Tumbuh 5,75%
Kementerian Keuangan (Kemkeu) optimistis pertumbuhan ekonomi di kuartal III bakal moncer. Bahkan, ekonomi periode Juli hingga September 2022 diyakini bisa tumbuh lebih tinggi dibanding kuartal II-2022, yang saat itu didorong oleh momentum Ramadan dan Idul Fitri.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemkeu Febrio Kacaribu memperkirakan, pertumbuhan ekonomi RI di kuartal III-2022 tembus 5,7%, lebih tinggi dari kuartal sebelumnya yang sebesar 5,44%.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga mengatakan, bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III akan meningkat. Salah satu pendukung pertumbuhannya adalah ekspor.
IMF dan Kebijakan Adaptif-Seimbang
IMF memperbarui peringatannya tentang resesi dunia 2023. IMF juga menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi dunia dari 2,9 % ke 2,7 %. Hal menarik dari pernyataan ini adalah bagaimana IMF mencoba menjaga keseimbangan di antara pengendalian ekspektasi inflasi tanpa terlalu mengorbankan potensi pertumbuhan. Selain itu, IMF juga mencoba meredam announcement effect dengan menyeimbangkan prospek suram, harapan, dan solusi. Hal ini merupakan alternatif sikap ortodoksi Bank Sentral AS (TheFed) yang punya target ketat membawa kembali inflasi ke 2 %, apapun risikonya. Posisi IMF yang mengambil jalan tengah ini sesuai dengan prediksi bahwa pengambil kebijakan pada saat ketidakpastian tinggi lebih suka menghindari risiko (Arrow; 1965 dan Holcombe; 1989). Hal ini merupakan adaptasi kebijakan setelah melihat dunia yang baru saja dilanda pandemi Covid-19 serta diterpa krisis energi dan pangan akibat konflik Rusia-Ukraina.
Indonesia disebutkan IMF sebagai salah satu titik terang dunia. Begitu pula India. Melihat keduanya, ada persamaan karakter dari keduanya, yakni luas wilayah dan jumlah populasi kelas menengahnya, serta bagian dari perekonomian yang merupakan sektor non-traded (non-exportable) cukup besar walaupun tetap ada segmen yang berorientasi ekspor atau campuran antara ekspor dan dalam negeri. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahunan 5,44 % pada triwulan II-2022 didukung pertumbuhan sektor-sektor yang notabene adalah non-traded, seperti transportasi dan pergudangan (21,27 %), akomodasi dan makanan-minuman (9,76 %). Di tengah menguatnya dollar AS, surplus neraca dagang Indonesia yang sudah 28 bulan berturut-turut menginsulasi perekonomian dalam negeri, exchange rate passthrough, dan inflasi global. Sebagai akibatnya, laju depresiasi rupiah akibat menguatnya indeks dollar AS tidak terlalu cepat sehingga tidak terlalu jauh dari keseimbangan alamiahnya. Beberapa produk manufaktur di luar minyak nabati, seperti besi, baja, mesin perlengkapan elektrik dan perlengkapannya, serta kendaraan dan bagiannya, merupakan produk-produk yang tertinggi pertumbuhannya. (Yoga)
Menko Airlangga: Pertumbuhan Ekonomi RI Nomor Dua di G20
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di posisi tertinggi kedua di antara negara-negara anggota G20, setelah Arab Saudi. Tren ini terus dipertahankan sepanjang 2022, didukung dengan faktor eksternal yang masih cukup aman. “Alhasil, Indonesia tidak termasuk negara yang rentan terhadap masalah keuangan. Memiliki pasar domestik yang cukup kuat, perekonomian Indonesia juga relatif aman dari sisi internal dan diprediksi tahun depan tumbuh 4,8- 5,2%," kata Airlangga, Sabtu (15/10).
Dia menambahkan, untuk terus melanjutkan kinerja impresif perekonomian nasional dan mengantisipasi berbagai tantangan ke depan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian melakukan pemantauan dan evaluasi kinerja berbagai program prioritas dengan menyelenggarakan kegiatan Leaders’ Offsite Meeting (LOM) kuartal III-2022 di Semarang, Jawa Tengah, 13-14 Oktober 2022. Kegiatan yang dipimpin langsung oleh Menko Airlangga tersebut diselenggarakan untuk mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan kebijakan atau program yang telah diambil Kemenko Perekonomian. Dengan evaluasi kinerja menyeluruh, berbagai pembenahan secara komprehensif juga akan dapat dilakukan untuk mendapatkan solusi terbaik dari berbagai tantangan yang ada. (Yoga)
Optimisme Pulihkan Ekonomi
Di tengah situasi ketidakpastian global yang kian meningkat, optimisme tetap harus dijaga. Demikian pernyataan Presiden Joko Widodo saat memberikan pengarahan kepada seluruh menteri, kepala lembaga, kepala daerah, pimpinan BUMN, Pangdam, Kapolda dan Kajari di JCC, Jakarta beberapa waktu lalu. Diakui Presiden Jokowi bahwa tahun ini situasi sedang sulit dan bahkan tahun depan akan gelap seiring makin tingginya ketidakpastian global. Namun, Presiden tetap optimis momentum pemulihan ekonomi nasional dapat terus berlanjut karena kondisi ekonomi Indonesia yang baik. Sikap optimis yang diperlihatkan Presiden bukan tanpa dasar. Realisasi pendapatan negara hingga akhir Agustus 2022 tercatat mencapai Rp1.764 triliun, tumbuh 49% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Indonesia tercatat mencapai pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2020 sebesar 5,44% (year-on-year/YoY)—tertinggi di antar negara dan kawasan anggota forum G20 yang mengindikasikan pemulihan di Tanah Air masih berjalan on the track. Menurut laporan perusahaan keuangan Amerika Serikat, Bloomberg, Indonesia disebut-sebut sebagai salah satu dari 15 negara yang berpotensi mengalami resesi, seperti Sri Lanka, Selandia Baru, Korea Selatan, China, Pakistan, dan lain-lain. Dibandingkan dengan sejumlah negara lain, kondisi ekonomi Indonesia sesungguhnya masih lebih baik.
Ekonomi ASEAN+3 Diramal Hanya Tumbuh 3,7%
Tim Riset Ekonomi Makro Regional ASEAN+3 (Amro) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi wilayah ASEAN+3. ASEAN+3 terdiri dari negara-negara di kawasan ASEAN plus China, Jepang, dan Korea. Kepala Ekonom Amro Hoe Ee Khor memperkirakan, pertumbuhan ekonomi ASEAN+3 pada tahun 2022 sebesar 3,7%, lebih rendah dari perkiraan semula yang sebesar 4,3%.
OPTIMISME EKONOMI MENINGGI
Risiko konsumsi lesu akibat kenaikan inflasi yang dipicu penaikan harga bahan bakar minyak (BBM), rupanya tak membuat optimisme terhadap ekonomi Indonesia mengendur. Sejumlah lembaga internasional malah menilai prospek ekonomi Indonesia pada tahun ini masih moncer. Asian Development Bank (ADB) misalnya, mengerek proyeksi ekonomi Indonesia dari 5% menjadi 5,4%, sedangkan World Bank mempertahankan ekspektasi pertumbuhan di dalam negeri pada posisi 5%. Pun dengan Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) yang dengan mantap menempatkan Indonesia pada posisi pertumbuhan 5%, sedangkan International Monetary Fund (IMF) 5,3%. Secara umum, lembaga-lembaga tersebut memandang Indonesia mampu mengelola krisis energi dengan baik melalui kebijakan penebalan subsidi dan perlindungan sosial, sehingga relatif mampu menjaga gerak inflasi. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, mengatakan ada dua komponen yang mampu menjaga momentum pemulihan ekonomi di tengah risiko lonjakan inflasi, yakni investasi dan ekspor. “Kalau kita lihat sumber pertumbuhan dari ekspor, dari investasi, kita masih melihat adanya momentum kuartal III/2022,” katanya, Selasa (27/6). Menkeu meyakini, realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2022 mencapai 5,6%—6% seiring dengan kinerja ekspor serta performa penanaman modal yang kian menanjak.
Likuiditas untuk Pertumbuhan Ekonomi
Likuiditas yang selama ini tersimpan di perbankan kini sudah tersalurkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Hal ini menunjukkan fungsi intermediasi berjalan semakin optimal. Salah satu indikatornya adalah pertumbuhan penyaluran kredit yang lebih tinggi daripada pertumbuhan dana pihak ketiga. Mengutip data BI, penyaluran kredit perbankan pada Agustus 2022 tumbuh 10,62 % secara tahunan. Capaian itu lebih tinggi ketimbang dana pihak ketiga (DPK) Agustus 2022 yang tumbuh 7,77 % secara tahunan. Kepala Eksekutif LPS Lana Soelistianingsih dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (27/9). mengatakan, lebih derasnya pertumbuhan kredit ketimbang pertumbuhan DPK adalah pertanda baik bagi pemulihan ekonomi. Ini artinya likuiditas atau tabungan masyarakat yang saat pandemi disimpan perbankan, kini sudah tersalurkan dalam bentuk kredit untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan, fenomena pertumbuhan penyaluran kredit yang lebih tinggi dari pertumbuhan DPK itu merupakan pertanda baik bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertumbuhan kredit yang cepat menunjukkan bahwa permintaan kredit tengah meningkat. Hal tersebut, menurut Piter, menandakan dunia usaha yang memproduksi barang dan jasa sudah siap kembali ekspansi, lalu membutuhkan permodalan sehingga mengambil kredit perbankan. Pada gilirannya, situasi tersebut diharapkan dapat menciptakan nilai tambah dan mendorong laju pertumbuhan ekonomi. Dengan konsumsi masyarakat yang meningkat, mesin pertumbuhan ekonomi diharapkan bisa berjalan lebih cepat. (Yoga)
BKF Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Diatas 5,4%
JAKARTA, ID – Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (BKF Kemenkeu) memprediksi pertumbuhan ekonomi kuartal III-2022 di atas kuartal II yang sebesar 5,44%. Itu artinya, dampak kenaikan suku bunga acuan BI-7 Day Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 4,25% dan harga bahan bakar minyak (BBM) belum berdampak signifikan terhadap kinerja ekonomi kuartal III. Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro BKF Abdurohman menjelas kan, berbagai indikator ekonomi hingga Agustus 2022 menunjukkan penguatan. Contohnya, indeks manajer pembelian (purchasing managers index/PMI) masih dalam zona ekspansif dengan tren meningkat. PMI adalah indikator kinerja manufaktur suatu negara. Konsumsi masyarakat, kata dia, juga masih kuat, terlihat pada indeks belanja yang dirilis Bank Mandiri, indeks penjualan ritel, dan konsumsi listrik sektor bisnis serta industri. Secara historis, dia menilai, kondisi 2022 mirip tahun 2011. Kala itu, ekonomi Indonesia juga terkerek booming harga komoditas global dalam jangka lama. Keadaan ini biasa disebut commodity supercycle. "Saat itu, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) rata-rata berada di level 6,5%, dengan suku bunga kredit berkisar 12%. Namun, konsumsi rumah tangga mampu tumbuh 5,1%, investasi tumbuh 8,9%, dan ekonomi tumbuh 6,2%," tegas dia kepada Investor Daily, akhir pekan lalu. (Yetede)
Agustus 2022, Uang Beredar Tumbuh Positif
Likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Agustus 2022 tetap tumbuh positif. Posisi M2 pada Agustus 2022 tercatat sebesar Rp 7.894,1 triliun atau tumbuh 9,5 % secara tahunan (YOY) setelah tumbuh sebesar 9,6 % (YOY) pada Juli 2022. Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar dalam arti sempit (M1) sebesar 13,7 % (YOY). Demikian disampaikan Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, Jumat (23/9). (Yoga)
Pilihan Editor
-
Euforia Bank Digital Mendongkrak Kekayaan Taipan
21 Feb 2022 -
Perdagangan, Efek Kupu-kupu
18 Feb 2022 -
Ekspor Sarang Walet Sumut Tembus Rp 3,7 Triliun
24 Feb 2022 -
BUMN Garap Ekosistem Kopi
31 Jan 2022









