OPTIMISME EKONOMI MENINGGI
Risiko konsumsi lesu akibat kenaikan inflasi yang dipicu penaikan harga bahan bakar minyak (BBM), rupanya tak membuat optimisme terhadap ekonomi Indonesia mengendur. Sejumlah lembaga internasional malah menilai prospek ekonomi Indonesia pada tahun ini masih moncer. Asian Development Bank (ADB) misalnya, mengerek proyeksi ekonomi Indonesia dari 5% menjadi 5,4%, sedangkan World Bank mempertahankan ekspektasi pertumbuhan di dalam negeri pada posisi 5%. Pun dengan Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) yang dengan mantap menempatkan Indonesia pada posisi pertumbuhan 5%, sedangkan International Monetary Fund (IMF) 5,3%. Secara umum, lembaga-lembaga tersebut memandang Indonesia mampu mengelola krisis energi dengan baik melalui kebijakan penebalan subsidi dan perlindungan sosial, sehingga relatif mampu menjaga gerak inflasi. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, mengatakan ada dua komponen yang mampu menjaga momentum pemulihan ekonomi di tengah risiko lonjakan inflasi, yakni investasi dan ekspor. “Kalau kita lihat sumber pertumbuhan dari ekspor, dari investasi, kita masih melihat adanya momentum kuartal III/2022,” katanya, Selasa (27/6). Menkeu meyakini, realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2022 mencapai 5,6%—6% seiring dengan kinerja ekspor serta performa penanaman modal yang kian menanjak.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023