;
Tags

Saham

( 1717 )

Saham Grup Barito Kembali Rebound IHSG Setelah Mengalami Penurunan Tajam

KT1 09 Nov 2024 Investor Daily (H)

Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali rebound setelah mengalami penurunan tajam dalam beberapa hari terakhir, imbas kencangnya arus keluar (outflow) asing pasca kemenangan kandidat Partai Republik Donald Trump dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS), IHSG yang sebelumnya terus berada di zona merah, mampu kambali hijau di akhir pekan ini, dan ditutup menguat 0,6% ke posisi 7.287. Faktor penopang kenaikan IHSG, salah satunya berasal dari saham-saham Grup Barito milik konglomerat Prajogo Pangestu yang kompak menguat. "IHSG akhirnya berhasil rebound setelah mengalami koreksi selama sepekan, dengan saham-saham dari grup Prajogo Pangestu menjadi pendorong utama," kata Founder Stocknow.id Hendra Wardana. Tercatat, saham-saham Grup barito seperti PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Chandra Asri Pacific Tbk (CUAN), dan PT Petrosea Tbk (PTRO) serentak menghijau pada penutupan  perdagangan Jumat (8/11/2024). Saham BRPT mampu  menguat 5,62% ke Rp 940, disusul TPIA yang naik 8,58 ke Rp 7.275, BREN melesat 14,58 ke Rp 7.000,dan PTRO naik 2,67% ke Rp18.250. Dua saham Barito  bahkan masuk dalam 10 besar kapitalisasi pasar di BEI, yakni BREN dengan market cap Rp 920 triliun dan TPIA Rp 629 triliun. "Dengan kapitalisasi pasar yang besar, BREN menjadi penopang IHSG yang signifikan, apalagi setelah OJK memberikan klarifikasi bahwa tidak ada masalah terkait konsentrasi kepemilikan BREN meskipiun sahamnya sebelumnya gagal masuk indeks FTSE Russel karena aturan  free float. Hal ini memperkuat sentimen positif terhadap BREN dan menarik minat investor," ungkap Hendra. (Yetede)

Pasar Finansial Indonesia Tertekan

KT1 08 Nov 2024 Investor Daily

Kemenangan Donald Trump pada pemilihan presiden (pilpres) Amerika Serikat (AS) menjadi mimpi buruk pasar finansial Indonesia. Indeks harga saham gabungan (IHSG)  Bursa Efek Indonesia (BEI) roboh, imbal hasil (yield) surat utang negara beri benchmark naik, dan rupiah terkapar.  Tekanan ke pasar finanasial diprediksi masih kuat dalam jangka pendek. Jika capital outflow terus berlanjut, IHSG diorpyeksikan bisa menyentuh levell 7.000, sedangkan rupiah bisa bertengger di level Rp16 ribu per dolar AS. Meski begitu, analisis dan pelaku pasar menilai, masih ada peluang di pasar finansial domestik.

Sebab, berkaca pada pengalaman 2016-2020 saat Trump menjadi Presiden AS, IHSG terbukti masih bisa tumbuh. Artinya, indeks berpeluang bangkit begitu sentimen negatif mereda. Itu sebabnya, investor diminta lebih agresif melihat peluang dipasar dengan memborong saham-saham unggulan yang kini sedang murah (buy on weakness/BoW). Pada titik ini, saham bank besar berfundamental solid yang selama ini menjadi pengerak IHSG patut dicermati, seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS). Investor juga bisa melirik salah defensif seperti TKLM dan konsumer. (Yetede)

Agresif, Petrindo Agresif Mencaplok Tambang Batu Bara

KT1 08 Nov 2024 Investor Daily (H)
Emiten pertambangan milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) makin agresif melakukan ekspansi anorganik dengan terus menambah portfolio baru. Kali ini, emiten Grup Barito tersebut mengakuisisi 100% saham perusahaan tambang batu bara di kalimantan Tengah. "Pada tanggal 6 November 2024, perseroan dan PT Kreasi Jasa Persada (KPJ), anak perusahaan yang dimiliki 99,99% oleh perseroan, telah menandatangani perjanjian pengikatan jual beli (PPJB) saham PT Borneo Berkat Kutai (BBK) dan PT Intan Bumi Persada (IBP)," kata Corporate Secretary Petrindo Jaya Kreasi Robertus Maylando Siahaya. Robertus mengatakan, IPB merupakan perusahaan pemegang Izin Usaha Pertambangan Batu Bara (IUP) dengan wilayah kerja di kalimantan Tengah. Sedangkan BBK merupakan pemilik 80% saham di dalam IPB. Dia menjelaskan, perseroan bersama KJP menekan PPJB sehubungan dengan penjualan atas 25 juta lembar saham atau 100% saham BBK dan Herry Hermanto. Pada saat bersamaan, Petrindo dan KJP juga menandatangani PPJB Saham Lunas sehubungan dengan penjualan atau 2.400 lembar saham atau 20% saham IBP milik PT Herlindo Prima Jaya. (Yetede)

Mempersiapkan Diri Menghadapi Gejolak Bursa

HR1 08 Nov 2024 Bisnis Indonesia (H)

Kemenangan Donald Trump dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2024 memicu ketidakpastian baru di pasar modal global, termasuk di Indonesia. Kemenangan Trump menciptakan gejolak pasar yang ditandai dengan aksi jual besar-besaran oleh investor asing, yang menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia mengalami penurunan signifikan. Menurut Direktur Perdagangan BEI, Irvan Susandy, kebijakan proteksionisme Trump dan kemungkinan perang dagang dengan China dapat berdampak pada ekonomi Indonesia, mengingat hubungan dagang yang erat dengan kedua negara tersebut.

Namun, meskipun ada ketidakpastian, beberapa analis masih melihat peluang dalam kebijakan ekonomi Trump yang berfokus pada penguatan ekonomi domestik AS. Misalnya, Head of Research NH Korindo Sekuritas, Liza Camelia, berpendapat bahwa Trump kemungkinan akan menaikkan suku bunga dan menerapkan kebijakan yang bisa meningkatkan inflasi dan daya beli masyarakat AS. Selain itu, kebijakan proteksionis Trump yang mungkin menaikkan tarif impor terhadap produk Indonesia juga bisa membatasi ekspor ke AS.

Sementara itu, ekonom lain, seperti Maximilianus Nicode-muus dari Pilarmas Investindo, mencatat bahwa kebijakan Trump yang kontroversial, seperti proteksionisme, dapat mengganggu pemulihan ekonomi global dan menyebabkan aliran dana asing keluar dari pasar Indonesia. Meski demikian, masih ada harapan pada kebijakan ekonomi dalam negeri yang dapat menjaga stabilitas, serta program-program dari pemerintah Indonesia yang dapat mendukung kepercayaan pasar.

Dalam jangka menengah, Satria Sambijantoro dari Bahana Sekuritas optimis bahwa Trump mungkin akan mencapai kesepakatan geopolitik yang dapat menurunkan harga minyak dan inflasi global, yang pada gilirannya bisa menurunkan suku bunga The Fed. Investor disarankan untuk fokus pada saham defensif dan perusahaan berpenghasilan dolar AS, sementara saham-saham seperti BBCA, ADRO, dan MYOR diprediksi akan unggul di pasar.

Secara keseluruhan, meskipun kemenangan Trump memunculkan tantangan dan ketidakpastian, masih ada peluang bagi Indonesia untuk mengelola dampaknya melalui kebijakan domestik yang tepat dan strategi investasi yang hati-hati.



Perubahan Indeks MSCI Disorot Investor

HR1 08 Nov 2024 Kontan
Hasil evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk indeks Global Standard, Small Cap, dan Micro Cap Index menunjukkan rotasi yang memengaruhi tiga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). PT Avia Avian Tbk (AVIA) masuk ke dalam MSCI Indonesia Small Cap Index, sementara PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) dikeluarkan dari indeks tersebut. Perubahan ini akan berlaku efektif pada 26 November 2024.

Menurut Budi Frensidy, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, peningkatan likuiditas dan kinerja fundamental AVIA yang solid menjadi faktor utama masuknya emiten cat milik taipan Surabaya Hermanto Tanoko ini ke dalam indeks MSCI. Dampaknya, saham AVIA melonjak 4,34% menjadi Rp 505 pada perdagangan 7 November 2024.

Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, menambahkan bahwa rotasi ini menarik perhatian investor asing. Meski AVIA sempat mencatat aksi jual asing pekan lalu, prospek pembelian kembali oleh investor institusi asing menjadi lebih besar setelah masuknya saham ini ke MSCI. Sebaliknya, BTPS dan SCMA menghadapi tekanan jual jangka pendek karena investor yang berorientasi pada indeks MSCI kemungkinan akan mengurangi kepemilikan mereka.

Masuknya AVIA ke MSCI Indonesia Small Cap mencerminkan kinerja fundamental yang kuat dan prospek pertumbuhan di sektor konstruksi. Menurut Budi Frensidy, perubahan ini dapat meningkatkan minat investor asing dan domestik pada saham AVIA. Sebaliknya, keluarnya BTPS dan SCMA dari MSCI menciptakan tekanan jual jangka pendek, tetapi kedua saham ini tetap memiliki prospek jangka panjang yang menarik menurut Hendra Wardana. Rebalancing indeks MSCI menunjukkan pentingnya evaluasi kinerja fundamental dan likuiditas dalam menarik perhatian investor institusi.

Harga Saham Banyak Dijual, Jangan Terburu Diskon

HR1 08 Nov 2024 Kontan (H)
Kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat memberikan dampak negatif pada pasar saham Indonesia, terutama dengan meningkatnya aksi jual oleh investor asing. Total nilai jual bersih asing mencapai Rp 1,62 triliun, dengan saham-saham bank berkapitalisasi besar menjadi target utama. Saham Bank Central Asia (BBCA) mencatat net sell terbesar senilai Rp 551,04 miliar, menyebabkan penurunan harga saham sebesar 2,63% ke level Rp 10.175. Selain itu, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) juga mengalami aksi jual asing sebesar Rp 385,35 miliar, dengan harga saham turun 1,09% ke Rp 4.550. Saham lainnya seperti Bank Mandiri (BMRI) dan Bank Negara Indonesia (BBNI) juga dilepas dengan nilai masing-masing Rp 268,48 miliar dan Rp 86,51 miliar.

Meski demikian, Bank Syariah Indonesia (BRIS) tetap menunjukkan kenaikan harga saham sebesar 63,79% sejak awal tahun, meskipun mengalami aksi jual asing senilai Rp 12,35 miliar kemarin. Menurut Adityo Nugroho, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, dampak aksi jual ini hanya sementara, karena kinerja bank besar secara umum masih positif.

Oktavianus Audi, VP Marketing, Strategy, and Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai bahwa kemenangan Trump dapat memengaruhi kebijakan moneter AS, dengan kemungkinan suku bunga Federal Reserve tetap tinggi. Jika Trump benar-benar menurunkan tarif pajak perusahaan, inflasi AS mungkin tidak dapat dinormalisasi sepenuhnya, yang mendorong Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tinggi. Saat ini, Fed Fund Rate berada di kisaran 4,75%-5,00%, dan pasar memperkirakan penurunan suku bunga hingga akhir 2025.

Audi merekomendasikan beberapa saham perbankan seperti BBCA, BMRI, dan BRIS untuk dikoleksi. Ia menilai saham BRIS menarik karena pembiayaannya meningkat 15,32% per September 2024, meskipun telah naik tajam sejak awal tahun. Target harga yang direkomendasikan untuk BRIS adalah Rp 3.140 per saham, sementara BBCA dan BMRI masing-masing ditargetkan di Rp 11.150 dan Rp 7.200.

Maximilianus Nicodemus, Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, juga mendukung pembelian saham-saham bank KBMI 4, termasuk BNGA, BRIS, dan ARTO, dengan syarat fundamental yang kuat. Namun, ia mengingatkan pentingnya memastikan valuasi saham untuk potensi jangka panjang.

Adityo menyarankan investor untuk berhati-hati dan mengambil pendekatan wait and see, terutama jika kondisi pasar eksternal tetap tidak stabil hingga akhir tahun. Capital outflow yang terus berlanjut dapat memberikan tekanan tambahan pada pasar saham domestik.

Sektor Energi Terimbas Efek Trump

HR1 08 Nov 2024 Kontan
Saham sektor energi dan tambang mineral logam di sektor barang baku menghadapi tekanan signifikan, seperti tercermin dari koreksi indeks sektor energi sebesar 0,91% ke 2.681,44 dan indeks sektor barang baku yang anjlok 3,47% ke 1.340,66 pada Kamis (7/11). Penurunan ini turut membebani Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang melemah 1,90% ke level 7.243,86. Analis menilai volatilitas ini dipengaruhi oleh sentimen global, terutama kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat.

Miftahul Khaer, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, mencatat bahwa volatilitas saham berbasis komoditas dipengaruhi oleh perubahan harga emas dan respons pasar terhadap kebijakan Trump. Muhamad Heru Mustofa, Research Analyst Phintraco Sekuritas, menjelaskan bahwa kemenangan Trump mendorong investor untuk beralih dari aset safe haven seperti emas ke instrumen dengan imbal hasil lebih tinggi, yang menyebabkan penurunan harga emas ke level US$ 2.670 per ons troi. Produksi minyak AS yang meningkat dan stabilisasi pasokan global juga memberikan tekanan pada harga minyak dan gas. Harga batubara melandai akibat produksi China, namun berpotensi naik karena permintaan musim dingin dan kebijakan Trump yang mendukung energi berbasis fosil.

Ayu Dian dari Reliance Sekuritas menilai kebijakan Trump yang pro-energi fosil dapat menjadi katalis positif bagi sektor energi. Emil Fajrizki dari Stocknow.id menyarankan strategi trading saham dengan rekomendasi beli saham MDKA dan ADRO, sementara investor diminta untuk menunggu momentum pada saham seperti TINS. Heru Mustofa merekomendasikan buy on support untuk MDKA dan ANTM, tetapi menyarankan wait and see untuk saham INCO dan INDY. Miftahul Khaer mengusulkan trading buy untuk ANTM dan UNTR, serta wait and see untuk saham seperti MDKA dan ITMG.

Trump Uji Ketahanan Pasar

HR1 07 Nov 2024 Kontan (H)

Kabar terbaru dari Amerika Serikat (AS) menyebabkan para pelaku pasar keuangan di Tanah Air kembali waspada. Donald Trump, kandidat presiden dari Partai Republik, dipastikan memenangkan pemilihan presiden AS tahun 2024. Trump meraup 277 suara elektoral yang dibutuhkan untuk memenangkan kursi Presiden Negeri Uwak Sam. Kabar kemenangan Trump membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambrol 1,44% ke 7.383,87 pada Rabu (6/11). Dari pasar keuangan, rupiah terpental ke Rp 15.830 per dolar AS. Ini karena indeks dolar menguat sekitar 1,28% hingga penutupan sesi perdagangan di Kawasan Asia. Dana asing pun kembali hengkang. Kemarin, asing tercatat melakukan aksi jual dengan nilai bersih Rp 1,09 triliun di pasar saham reguler. Dalam sebulan, kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) turun Rp 4,06 triliun. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan, kemenangan Trump dalam Pilpres AS 2024 membawa sejumlah dampak signifikan bagi perekonomian dan pasar keuangan Indonesia, khususnya terkait kebijakan proteksionis, hubungan dagang AS-China, dan potensi penguatan dolar AS. 

Josua menuturkan, sekalipun Federal Reserve tetap melanjutkan penurunan suku bunga, kemenangan Trump kali ini akan membuat bank sentral lebih berhati-hati. Sementara treasury bank Eropa d Singapura melihat, tekanan rupiah bukan cuma faktor AS. "Tahun 2025 utang jatuh tempo besar, jadi harus prudent," katanya, kemarin. Ia memperkirakan rupiah di akhir tahun 2024 berada di level Rp 16.100 per dolar AS. Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana mengatakan, sepanjang dolar AS masih berotot, investor akan mengalihkan dana ke negara tersebut. Setali tiga uang, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menilai, kemenangan Trump bakal memperkuat ekonomi AS. "Sehingga meyakinkan pasar berinvestasi di AS," paparnya. Nico meramal pasar saham dalam negeri bakal bergerak lebih volatil usai kabar ini. Target IHSG tidak terlalu optimistis lagi. Kinerja emiten Indonesia yang tumbuh moderat tak bisa banyak mengangkat IHSG. Pengamat Pasar Modal dan Founder WH Project, William Hartanto memperkirakan, IHSG di 7.850-7.900 pada akhir 2024.

Dividen Jadi Andalan di Tengah Ketidakpastian Bursa

HR1 07 Nov 2024 Kontan

Musim pembagian dividen interim bergulir usai rilis laporan keuangan periode sembilan bulan 2024. Aksi ini bisa menjadi pemanis di tengah bursa saham yang sedang menukik cukup dalam. Terbaru, ada tiga emiten yang mengumumkan pembayaran dividen interim. Pertama, PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) yang akan membagikan dividen sebesar Rp 20 per saham. Selanjutnya, PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) yang akan membayar dividen interim Rp 5 per saham. Selain itu, ada PT MPX Logistics International Tbk (MPXL) dengan dividen interim senilai Rp 0,75 per saham. Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi untuk ketiga emiten itu dijadwalkan pada 14 November 2024. Selain deretan deviden interim tersebut, ada PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) yang akan menebar tambahan dividen tunai final dengan jumlah jumbo. Totalnya mencapai US$ 2,63 miliar atau sekitar Rp 41,42 triliun. Selanjutnya ada PT Pelayaran Kurnia Lautan Semesta Tbk (KLAS) yang akan membagikan dividen saham dengan rasio 12:1. Artinya, setiap 12 saham lama akan mendapat 1 saham baru. Praktisi Pasar Modal & Founder Warkop Saham, Raden Bagus Bima mengatakan, pembagian dividen maupun dividen saham umumnya bakal menjadi sentimen positif yang bisa mendongkrak harga saham emiten tersebut. Hanya saja, dampak saat ini kemungkinan tidak akan langsung terasa. Bima menambahkan, pelaku pasar akan lebih memperhatikan pembagian dividen sekaligus aksi korporasi yang dilakukan ADRO. 

Di samping besaran dividen yang jumbo, investor kemungkinan akan tertarik mengikuti Penawaran Umum oleh Pemegang Saham (PUPS) dalam proses divestasi AAI. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi menilai, kemungkinan pelaku pasar akan lebih selektif. Di tengah musim pembagian dividen interim, ada sentimen eksternal yang perlu dicermati. Mulai efek Pemilihan Presiden Amerika Sertikat (AS) hingga harga komoditas. Investor dapat memanfaatkan momentum pembagian dividen dan potensi penguatan harga pada saham-saham tersebut. Rekomendasinya speculative buy ASSA dan TAPG dengan target harga Rp 770 dan Rp 1.000. Kemudian trading buy MARK untuk target Rp 1.220. Founder WH Project, William Hartanto mengingatkan, pembagian dividen tidak selalu meningkatkan minat pelaku pasar. Apalagi jika dividend yield -nya mini. Ada beberapa saham yang harganya naik sesaat, seperti PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE). Ada juga yang sebelumnya sudah naik signifikan seperti KLAS. Kemudian, ada saham yang sedang melandai seperti SCMA. Nah, dengan adanya pembagian dividen, William melihat SCMA berpeluang naik hingga ke level Rp 145.

Optimisme Kinerja Saham BUMN

HR1 06 Nov 2024 Kontan
Pemerintah Indonesia akan meluncurkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BP Danantara) pada 8 November 2024 sebagai superholding BUMN. Superholding ini dirancang untuk mengelola sejumlah perusahaan negara besar seperti PT Bank Mandiri (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (BBNI), PT Telkom Indonesia (TLKM), PLN, Pertamina, Mind Id, dan Indonesia Investment Authority (INA). Dengan perkiraan dana kelolaan awal sebesar US$ 600 miliar yang berpotensi meningkat hingga US$ 982 miliar, Danantara diproyeksikan menjadi SWF terbesar keempat di dunia.

Menurut Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, pembentukan Danantara merupakan katalis positif bagi perusahaan-perusahaan di bawahnya. Koordinasi investasi yang lebih terpadu akan memperkuat pengelolaan aset negara dan mendorong pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Namun, Nico menekankan pentingnya kajian mendalam untuk memastikan dampak positif terhadap entitas yang tergabung.

Adityo Nugroho, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, menyebutkan bahwa Danantara memiliki potensi besar untuk mengoptimalkan pengelolaan aset negara, melanjutkan upaya integrasi sejak era Presiden Joko Widodo. Namun, sentimen ini belum sepenuhnya memengaruhi pergerakan saham BUMN yang tergabung dalam superholding, karena pelaku pasar masih menanti kejelasan lebih lanjut terkait rencana tersebut.

Sementara itu, Budi Frensidy, Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, memandang pembentukan Danantara sebagai peluang investasi. Ia menyarankan investor untuk mempertimbangkan membeli saham BMRI, BBRI, BBNI, dan TLKM, terutama jika integrasi ini berhasil meningkatkan nilai aset dan memoles harga saham BUMN.

Hingga saat ini, beberapa saham seperti BMRI dan BBNI sudah menunjukkan pergerakan positif di zona hijau, sementara BBRI dan TLKM masih mengalami pelemahan.