;
Tags

Saham

( 1722 )

Derasnya Arus Asing Masuk Pasar Saham

KT1 05 Dec 2024 Investor Daily (H)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) melesat 3,97% dari 7.046 menjadi 7.326 hanya dalam tempo dua hari terakhir, sejalan dengan derasnya arus masuk (inflow) asing ke pasar saham. Tercatat, asing membukukan net buy total Rp2,08 triliun pada Selasa (3/12/2024). Pergerakan IHSG makin diuntungkan dengan dimulainya window dressing pada awal Desember ini. "IHSG sudah menyentuh level psikologisnya kemarin di 7.046, dan berpotensi menuju 7.500-7.600 diakhir tahun ini. Pasar modal Indonesia tetap menarik di mata asing, dan sekarang mereka sudah kembali lagi ke saham," kata Head of investment Nawasena Abhipraya Investama Kiswoyo Adi Joe kepada Investor Daily. Dalam catatan Kiswoyo, IHSG hanya memerah lima kali dalam 25 tahun terakhir, dan Desember biasanya menjadi bulan terbaik bagi IHSG. Dengan pertimbangan hak tersebut dan melihat perkembangan yang terjadi saat ini, dia optimistis IHSG masih bisa mencatatkan pertumbuhan pada 2024. "Meski, dalam perjalanannya IHSG juga tetap rawan penurunan. Karena kenaikan yang cukup tinggi juga biasanya akan diwarnai koreksi," tuturnya. (Yetede)

Saham Perbankan Tetap Jadi Pilihan Utama

HR1 04 Dec 2024 Kontan (H)
Pergerakan saham perbankan di kuartal akhir 2024 cenderung tertekan meski kinerja fundamental perbankan hingga Oktober 2024 solid. Tim Analis OCBC Sekuritas menilai pelemahan ini lebih disebabkan oleh keluarnya dana asing setelah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS, yang memengaruhi potensi perubahan kebijakan The Fed. Namun, secara fundamental, kredit perbankan diprediksi tumbuh di atas 10% pada 2025.

Sigit Prastowo, Direktur Keuangan Bank Mandiri, optimistis kredit konsolidasi Bank Mandiri dapat tumbuh 16%-18% hingga akhir tahun 2024, dengan segmen wholesale sebagai pendorong utama. Royke Tumilaar, Direktur Utama BNI, juga yakin target pertumbuhan kredit 9,5%-10% akan tercapai, meskipun faktor likuiditas menjadi tantangan besar.

Presiden Direktur BBCA, Jahja Setiaatmadja, dan Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menyebut persaingan memperoleh dana pihak ketiga (DPK) semakin berat. Sementara itu, prospek pertumbuhan kredit tetap besar, terutama di segmen kredit korporasi dan konsumer, termasuk proyek hilirisasi. Namun, Lani mengingatkan perlunya menjaga kualitas kredit agar tidak meningkatkan risiko non-performing loan (NPL) dan beban pencadangan (CKPN).

Miftahul Khaer, analis dari Kiwoom Sekuritas, menilai sektor perbankan masih menarik karena mencerminkan pemulihan ekonomi pasca-pandemi. Ia merekomendasikan akumulasi saham BBRI dengan target harga Rp 4.440 dan BBCA di Rp 10.600, menilai potensi pertumbuhan sektor usaha yang kembali ekspansif.

Meskipun likuiditas menjadi tantangan utama, optimisme pertumbuhan kredit perbankan tetap tinggi dengan harapan belanja pemerintah yang lebih cepat akan meningkatkan peredaran uang dan mendukung pertumbuhan sektor ini di 2025.

BEI Perluas Saham

KT1 03 Dec 2024 Investor Daily (H)

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memperluas deretan saham yang dapat ditransaksikan saat pre opening atau sebelum pembukaan perdagangan pukul 9 pagi hari. Menurut Direktur BEI Irvan Sudandy, peraturan tersebut diterapkan untuk memperluas kesempatan bagi saham-saham lain agar dapat berada pada harga terbaiknya pada pembukaan perdagangan. "Pertimbangan BEI unuk memperluas saham-saham dalam sesi pre opening adalah untuk memberikan kesempatan bagi kelompok di luar konstituen indeks LQ45 untuk melakukan price discovery, sehingga harga pembukaaan saham berada pada harga terbaik sesuai dengan informasi pasar sebelum sesi perdagangan dimulai, " kata Irvan.

Awalnya, peraturan penjualan saham pada waktu pre opening hanya diperbolehkan pada saham-saham yang termasuk dalam indeks bergengsi LQ45. Namun, saat ini, selain saham-saham yang bergabung dalam LQ45, ada juga saham-saham papan utama, new economy, dan papan pengembangan yang diperbolehkan. (Penerapan perluasan jumlah saham yang masuk ke dalam sesi pre opening diharapkan dapat membantu mendistribusikan jumlah order secara merata terhadap jumlah order masuk ke dalam sistem perdagangan bursa (JATS) pada detik awal pembukaan sesi satu perdangan, sehingga dapat mengurangi tekanan pada sistem di detik-detik awal sesi perdagangan, Juga menyelaraskan dengan paraktek umum pembukaan perdgangan di bursa regional lainnya," terang dia. (Yetede)

BEI Perluas Saham

KT1 03 Dec 2024 Investor Daily (H)

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memperluas deretan saham yang dapat ditransaksikan saat pre opening atau sebelum pembukaan perdagangan pukul 9 pagi hari. Menurut Direktur BEI Irvan Sudandy, peraturan tersebut diterapkan untuk memperluas kesempatan bagi saham-saham lain agar dapat berada pada harga terbaiknya pada pembukaan perdagangan. "Pertimbangan BEI unuk memperluas saham-saham dalam sesi pre opening adalah untuk memberikan kesempatan bagi kelompok di luar konstituen indeks LQ45 untuk melakukan price discovery, sehingga harga pembukaaan saham berada pada harga terbaik sesuai dengan informasi pasar sebelum sesi perdagangan dimulai, " kata Irvan.

Awalnya, peraturan penjualan saham pada waktu pre opening hanya diperbolehkan pada saham-saham yang termasuk dalam indeks bergengsi LQ45. Namun, saat ini, selain saham-saham yang bergabung dalam LQ45, ada juga saham-saham papan utama, new economy, dan papan pengembangan yang diperbolehkan. (Penerapan perluasan jumlah saham yang masuk ke dalam sesi pre opening diharapkan dapat membantu mendistribusikan jumlah order secara merata terhadap jumlah order masuk ke dalam sistem perdagangan bursa (JATS) pada detik awal pembukaan sesi satu perdangan, sehingga dapat mengurangi tekanan pada sistem di detik-detik awal sesi perdagangan, Juga menyelaraskan dengan paraktek umum pembukaan perdgangan di bursa regional lainnya," terang dia. (Yetede)

IHSG Terpukul di Bursa Saham

KT1 03 Dec 2024 Investor Daily (H)
Pasar saham domestik kembali diterpa tekanan berat menjelang tutup tahun 2024. IHSG anjlok 26,27 poin atau 0,95% pada penutupan perdagangan Senin (02/12/2024),  menetap di level 7.046,9. Ini menjadi hari keempat pelemahan IHSG secara berturut-turut, mengisyaratkan sentimen negatif yang terus membayangi pasar, Seiring dengan pelemahan itu, nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp10,32 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 19,06 miliar saham. Dari total 791 saham yang diperdagangkan, sebanyak 370 saham mengalami penurunan, 222 saham menguat, dan 199 stagnan. Mayoritas sektor saham pun berguguran, dengan sektor barang konsumsi  nonprimer memimpin pelemahan hingga sebesar 2,7%. Disisi lain, sektor energi dan teknologi menjadi satu-satunya sektor yang mencatat penguatan tipis 0,4% dan 03%. Pelemahan IHSG kali ini di terjadi di tengah sentimen negatif dari dalam negeri dan dinamika global yang mengkhawatirkan. Data Purchasing Manager's Indeks (PMI) manufaktur Indonesia untuk November menunjukkan kontraksi di level 49,6- di bawah ambang batas ekspansi 50- menandakan melemahnya aktivitas perekonomian domsetik. (Yetede)

Akhir Tahun Jadi Momentum Emas Emiten Konsumer

HR1 02 Dec 2024 Kontan
Momentum akhir tahun, terutama menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, diprediksi akan memberikan dampak positif bagi emiten konsumer di Indonesia, dengan peningkatan konsumsi masyarakat, terutama di kalangan umat Kristiani yang memanfaatkan momen tersebut untuk berbelanja. Abdul Azis Setyo Wibowo, analis dari Kiwoom Sekuritas Indonesia, dan Patricia Gabriela, Senior Research Analyst dari BNI Sekuritas, sepakat bahwa konsumsi akan melonjak, memberi keuntungan bagi emiten di sektor ini.

Raden Bagus Bima, praktisi pasar modal, juga menilai bahwa sektor konsumer akan tetap prospektif hingga akhir tahun, didorong oleh tradisi peningkatan konsumsi menjelang libur akhir tahun, serta stimulus ekonomi yang meningkatkan daya beli masyarakat. Beberapa emiten, seperti INDF dan ICBP, sudah menunjukkan pertumbuhan laba yang positif.

Namun, Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, memperingatkan bahwa dampak dari momentum ini mungkin terbatas. Daya beli masyarakat yang masih lemah dan perubahan perilaku konsumen pasca-pandemi, di mana prioritas beralih ke kebutuhan dasar, bisa mengurangi dampak positif tersebut. Meskipun begitu, untuk jangka pendek, beberapa saham seperti ACES, ERAA, dan MYOR tetap direkomendasikan untuk dibeli.

IPO Jumbo Hadapi Rintangan Berat

HR1 29 Nov 2024 Bisnis Indonesia (H)

Pasar saham Indonesia tengah menghadapi tantangan besar terkait dengan Initial Public Offering (IPO) di penghujung tahun ini. Meskipun dua emiten besar, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dan PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY), telah mengumumkan rencana IPO, langkah ini menjadi pertaruhan besar mengingat kondisi pasar yang tengah lesu. Sepanjang tahun ini, kebanyakan IPO didominasi oleh emiten kecil dan menengah dengan nilai emisi yang jauh lebih rendah dibandingkan tahun lalu, yang mencatatkan 79 emiten baru. Selain ketidakpastian pasar yang mendorong calon emiten menunda IPO, kualitas IPO juga menjadi sorotan, terutama terkait dengan tindakan oknum yang mencoreng citra pasar modal, yang mendorong Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk lebih selektif dalam meloloskan emiten baru.

Tokoh yang relevan dalam artikel ini adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dan PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY) sebagai dua calon emiten besar yang tengah menyambut kesempatan untuk melaksanakan IPO di tengah situasi pasar yang penuh tantangan.



Window Dressing, Harapan Akhir Tahun Pasar Saham

HR1 29 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Meskipun terdapat harapan akan terjadinya window dressing dan beberapa aksi besar di pasar modal, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir tahun ini cenderung lesu. Pada bulan November, IHSG mengalami penurunan signifikan sebesar 4,94%, meskipun secara tahunan (YoY) masih mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 2,33%. Perdagangan yang lesu ini mencerminkan penurunan gairah investor dan transaksi pasar yang melambat, dengan rata-rata transaksi harian yang jauh di bawah target Bursa Efek Indonesia (BEI).

Namun, terdapat optimisme karena aksi window dressing yang biasanya dilakukan oleh manajer investasi di penghujung tahun, serta adanya dua IPO jumbo yang diharapkan dapat memberikan dorongan positif bagi pasar. Kedua emiten besar tersebut adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dan PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY), yang keduanya berpotensi meraup dana besar melalui IPO mereka, masing-masing sekitar Rp4,59 triliun dan Rp4,71 triliun.

Tokoh yang relevan dalam artikel ini adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dan PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY), yang diharapkan akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pergerakan pasar saham Indonesia menjelang tutup tahun.


Daya Tarik Saham LQ45 di Tengah Gejolak

HR1 29 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Kinerja Indeks LQ45 mengalami penurunan signifikan, tertekan oleh sentimen negatif setelah kemenangan Donald Trump dalam Pilpres AS. Dalam periode sebulan terakhir, Indeks LQ45 turun 6,57%, lebih dalam dibandingkan dengan penurunan IHSG yang sebesar 5,69%. Secara year-to-date (YtD), Indeks LQ45 turun 10%. Meskipun demikian, sejumlah analis percaya bahwa masih ada peluang penguatan Indeks LQ45 di bulan Desember 2024, terutama berkat fenomena window dressing yang sering terjadi di akhir tahun.

Angga Septianus, Community Lead Indo Premier Sekuritas (IPOT), optimis bahwa penguatan Indeks LQ45 bisa terjadi pada Desember, meskipun sulit berbalik hijau secara YtD. Ia memprediksi saham-saham bluechip seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI), PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI), PT Telkom Indonesia Persero (TLKM), dan PT Astra International Tbk. (ASII) akan mengalami dorongan positif. Sukarno Alatas, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, juga menilai adanya peluang penguatan teknikal rebound jangka pendek, sementara Nafan Aji Gusta, Senior Market Chartist di Mirae Asset Sekuritas, mengharapkan penurunan suku bunga acuan baik dari Federal Reserve maupun Bank Indonesia dapat mendorong penguatan indeks.

Namun, tantangan terbesar tetap datang dari ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh tensi geopolitik. BRI Danareksa Sekuritas juga mengurangi target IHSG menjadi 7.448 pada akhir 2024, dengan sektor-sektor yang lebih fokus pada pasar domestik, seperti konsumer dan ritel, diharapkan bisa memberikan kontribusi positif karena katalis musiman seperti belanja politik Pilkada dan harga CPO yang tinggi.

Tokoh yang relevan dalam artikel ini adalah Angga Septianus dari Indo Premier Sekuritas (IPOT), Sukarno Alatas dari Kiwoom Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas, dan Erindra Krisnawan serta Wilastita Muthia Sofi dari BRI Danareksa Sekuritas, yang memberikan berbagai pandangan dan proyeksi terkait pergerakan Indeks LQ45 dan IHSG menjelang akhir tahun.


Menjaring Keuntungan dari Window Dressing

HR1 28 Nov 2024 Kontan
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih tertekan pada November 2024 memberi peluang untuk penguatan di Desember melalui fenomena window dressing, yang secara historis memiliki peluang 90% terjadi. William Hartanto, Praktisi Pasar Modal dan Founder WH Project, memprediksi IHSG dapat kembali naik di akhir tahun karena koreksi saat ini dinilai wajar dan bukan karena panic selling.

Menurut Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas, potensi window dressing didukung oleh rebalancing portofolio dari manajer investasi pada indeks mayor seperti IDX30, LQ45, dan MSCI Indonesia. Reza Fahmi Riawan dari Henan Putihrai Asset Management menambahkan bahwa arah kebijakan fiskal dan moneter, baik di Indonesia maupun Amerika Serikat, yang pro-bisnis dapat menjadi pendorong utama, meskipun ada risiko dari ketidakpastian global dan kebijakan ekonomi negara besar.

Namun, Dimas Krisna Ramadhani dari Indo Premier Sekuritas menyebut peluang window dressing tahun ini masih 50:50 karena aliran dana asing yang terus keluar. Saham-saham yang menjadi target window dressing biasanya adalah saham indeks besar seperti LQ45 dan Kompas100, dengan Reza Priyambada dari Reliance Sekuritas menyoroti saham big caps seperti perbankan.

Agung Ramadoni dari Heksa Solution Insurance mengamini potensi saham big caps, seperti BBCA, BMRI, BBNI, TLKM, ISAT, dan EXCL, yang menarik secara valuasi karena tekanan outflow sebelumnya. Audi merekomendasikan pembelian saham BMRI, BBCA, dan TLKM dengan target harga masing-masing Rp 7.100, Rp 10.800, dan Rp 3.050 per saham.

Momentum ini menjadikan Desember sebagai bulan potensial bagi investor yang ingin memanfaatkan window dressing pada saham-saham unggulan.