Saham
( 1717 )IHSG Mengawali Perdagangan Tahun 2025 Dengan Kuat
Efek Januari: Pasar Saham Mulai Bersinar
Prospek Saham Bank Cerah Jika Suku Bunga Mulai Turun
Siap Melantai 21 Perusahaan di Bursa RI
Tutup Tahun, Bursa dan Rupiah Kurang Menggembirakan
Badai Pasar Saham Belum Berlalu
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) turun 2,65% ke level 7.079 sepanjang 2024, terpuruk di Asean. Indeks terpukul oleh maraknya sentimen negatif global terutama labilnya kebijakan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS), Federal Funds Rate (FFR). Berdasarkan data BEI, indeks FTSE Bursa Malaysia KLCI Index naik 12,58% tahun ini, sedangkan PSEi Index 1,22%, Strait Times Index 1714%, SET Index turun 1,1% dan VN Index 12,95%. Di Asia, IHSG merupakan terburuk kedua setelah Kopsi Korea Selatan yang turun 9,63%. Memasuki 2025, badai pasar saham diprediksi belum berlalu.
Bahkan tantangan ke depan makin berat. Selain situasi global yang belum kondusif, dari dalam negeri, daya tahan indeks diuji oleh imbas kenaikan PPN 12% mulai 1 Januari 2025. Namun, masih ada secercah harapan di tahun depan. Syaratnya, pemerintah bisa meramu kebijakan tepat untuk menjaga fundamental ekonomi yang ada angun segar dari AS. Beberapa analis mematok IHSG akhir 2025 di level 8.000, berdasarkan skenaripo optimistis. Founder Stock.id Hendra Wardana menyatakan, PPN 12% diperkirakan membawa dampak signifikan pada berbagai sektor ekonomi, terutama yang bergantung pada konsumsi domestik, seperti ritel, otomotif, dan properti. Kenaikan PPN akan menjadi pukulan keras bagi daya beli masyarakat. (Yetede)
Peluang Window Dressing Masih Terbuka di Penghujung 2024
Kebijakan PPN 12% Mulai Diberlakukan pada 1 Januari 2025 Diyakini Berdampak ke Berbagai Sektor
Market Cap BEI Menuju US$ 1 Triliun
IHSG Diperkirakan Sulit Bangkit Pada Akhir Tahun 2024
Indeks Harga Saham Gabungan yang sempat menunjukkan perbaikan jelang pengujung tahun terus melorot ke level 7.100. Analis membaca, kecil kemungkinan ada sentimen positif yang dapat mendongkrak harga saham domestik dalam waktu kurang dari dua minggu ke depan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (18/12/2024) ditutup di level 7.107, turun 0,7 persen dibandingkandenganperdaganganhari sebelumnya danturun 2,27 persen dari posisi di awal tahun 2024. Pergerakan IHSG juga anjlok sekitar 5 persen dari pekan lalu atau 11 Desember di level 7.529. Kebangkitan IHSG pekan lalu menandai periode window dressing sebagai upaya investor besar untuk mempercantik saham berkapitalisasi besar di pergantian tahun. ”Tetapi, ternyata kita balik lagi ke 7.100 dan kayaknya mesti mencoba level psikologis di 7.000. Mudah-mudahan ada manajer-manajer aset yang mau mendorong agar IHSG di atas 7.000,” kata Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia (NHKSI) Liza Camelia Suryanata dalam acara Market Outlook 2025: New Year New Nationalism di Jakarta hari ini.
Liza memprediksi, pergerakan IHSG secara teknikal bisa berbalik arah jika berhasil menembus level di bawah 7.000. Namun, sentimen positif dalam waktu kurang dari dua pekan sebelum akhir tahun dibutuhkan. Untuk sementara, Liza pesimistis, sentimen positif datang dari faktor eksternal. Ia menilai, investor asing masih akan cenderung menunggu. Hal ini melihat nilai tukar rupiah yang masih lemah di level harga Rp 16.000 per dollarAS. Kondisi ini, menurut Liza, dipengaruhi penguatan mata uang dollar AS yang tidak hanya disebabkan kebijakan ekonomi AS, tetapi juga peningkatan permintaan dollar AS oleh korporasi dalam negeri dan masyarakat menjelang liburan Natal dan Tahun Baru. Perusahaan sekuritas Mirae Asset Sekuritas baru-baru ini juga mengubah proyeksi IHSG ke level 7.500 di penutupan perdagangan akhir tahun 2024, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya di 7.915. Faktor depresiasi rupiah, pelantikan Donald Trump sebagai Presiden AS, dan implementasi kenaikan PPN menjadi 12 persen membuat investor cenderung menunggu hingga Januari 2025. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tantangan Perbankan 2022
03 Jan 2022 -
Waspadai Inflasi, Perkuat Daya Beli dan Industri
03 Jan 2022 -
Arah Baru
03 Jan 2022 -
Kejaksaan Selamatkan Triliunan Uang Negara
31 Dec 2021









