;
Tags

Saham

( 1717 )

IHSG Mengawali Perdagangan Tahun 2025 Dengan Kuat

KT1 02 Jan 2025 Investor Daily (H)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan mengawali perdagangan tahun 2025 dengan kuat, untuk menguji level psikologis 7.100, dari posisi penutupan akhir 2024 di 7.079. Berbagai sentimen positif akan menjadi katalis IHSG dalam memulai perjalanan di tahun Ular Kayu ini, diantaranya kebijakan PPN 12% untuk barang mewah, data manufaktur, hingga January Effect. "Penutupan di level 7.079 pada akhir 2024 memberikan dasar yang solid untuk optimisme, didukung oleh sentimen positif dari kebijakan domestik. Sentimen domestik yang positif diharapkan mendorong optimisme awal tahun, termasuk kemungkinan terjadinya January Effect," kata Founder Stocknow.id Hendra Wardana. Hendra menyebutkan, salah satu faktor pendukung langkah IHSG adalah keputusan pemerintah menaikkan tarif PPN menjadi 12%, yang hanya berlaku untuk barang dan jasa super mewah seperti jet pribadi, yacth, dan hunian di atas Rp 30 miliar. Kebijakan ini dinilai strategis karena tetap menjaga daya beli masyarakat umum. Sementara barang kebutuhan pokok, kesehatan, pendidikan, dan transportasi tetap dikenakan PPN 11% atau bahkan bebas PPN. (Yetede)

Efek Januari: Pasar Saham Mulai Bersinar

HR1 02 Jan 2025 Kontan (H)
Fenomena January Effect, yakni lonjakan pasar saham di bulan Januari, diharapkan terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun ini. Reyhan Pratama, Analis BRI Danareksa Sekuritas, memproyeksikan bahwa IHSG memiliki peluang mengalami technical rebound, dengan pergerakan di area support 6.931 dan resistance 7.210 selama Januari. Lonjakan ini didorong oleh optimisme pelaku pasar, akumulasi saham undervalued, dan aksi korporasi emiten, serta kebijakan kenaikan PPN 12% yang hanya berlaku untuk barang dan jasa mewah, menjaga daya beli masyarakat.

Namun, efek ini tidak konsisten setiap tahun. Hendra Wardana, Pendiri Stocknow.id, dan Daniel Agustinus, Certified Elliott Wave Analyst, mengingatkan bahwa arus dana asing yang masih keluar dapat membatasi potensi penguatan IHSG. Daniel memprediksi IHSG akan bergerak di rentang 6.800-7.200 pada Januari, sementara Oktavianus Audi, Vice President Marketing, Strategy, and Planning Kiwoom Sekuritas, menilai peluang penguatan terbatas dengan rentang support 6.925 dan resistance 7.255.

Secara historis, peluang January Effect terjadi hanya sekitar 44%. Audi menyarankan investor fokus pada saham blue chip seperti TLKM (target harga Rp 3.200) dan BMRI (target harga Rp 7.250). Hendra menjagokan saham sektor barang konsumsi primer seperti JPFA (Rp 2.030), ICBP (Rp 12.225), dan MYOR (Rp 2.910), mengingat prospek positif dalam sektor ini. Investor diingatkan untuk tetap berhati-hati, mengingat risiko tekanan eksternal, termasuk arah kebijakan The Fed dan arus modal asing.

Prospek Saham Bank Cerah Jika Suku Bunga Mulai Turun

HR1 02 Jan 2025 Kontan
Kinerja saham emiten bank besar pada tahun 2024 kurang memuaskan, dengan indeks sektor keuangan turun 4,51%. Meski demikian, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat kenaikan 2,93% dan tetap konsisten menguat selama 16 tahun terakhir. Sebaliknya, saham bank pelat merah, seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), mengalami penurunan paling dalam sebesar 28,73%.

Menurut Andrey Wijaya, Head of Research RHB Sekuritas, prospek sektor perbankan di 2025 tetap positif, terutama jika Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan, yang dapat meningkatkan margin bunga bersih dan mendorong pertumbuhan kredit.

Arinda Izzaty Hafiya, Junior Equity Analyst Pilarmas Investindo, juga memprediksi penurunan suku bunga oleh The Fed hingga 100 basis poin dapat mendorong BI untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut, mendukung permintaan pembiayaan. Arinda merekomendasikan beli saham BBRI dengan target harga Rp 5.625, BBCA Rp 12.025, dan BBNI Rp 6.350.

Namun, Rahmanto Tyas Raharja, Investment Analyst Lead Stockbit, mencatat kinerja BBRI tertekan oleh peningkatan biaya kredit yang mencapai 3,25% pada 2024, lebih buruk dari panduan maksimum manajemen sebesar 3%. Meski pertumbuhan kredit BBRI hanya 5%—di bawah rata-rata industri 9,6%—BBRI menunjukkan pertumbuhan positif dana murah. Manajemen BBRI menargetkan percepatan pertumbuhan kredit hingga 10%-12% di akhir 2024.

Saham-saham bank KBMI 4 tetap dianggap menarik, namun investor perlu mencermati fundamental, khususnya pada emiten seperti BBRI.

Siap Melantai 21 Perusahaan di Bursa RI

KT3 02 Jan 2025 Kompas
Sebanyak 21 perusahaan dalam daftar calon perusahaan tercatat baru di Bursa Efek Indonesia kemungkinan akan melantai tahun 2025 ini. Otoritas bursa menargetkan 66 perusahaan melaksanakan penawaran saham perdana di tahun baru ini setelah melalui tahun 2024 yang menantang. Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna dalam keterangan kepada wartawan, Selasa (31/12/2024), menyampaikan hingga akhir penutupan perdagangan BEI tahun 2024, Senin (30/12/2024), terdapat 21 perusahaan dalam daftar prospek penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO). ”Dari jumlah itu, tiga perusahaan di antaranya merupakan lighthouse (perusahaan berkapital besar).

Adapun mayoritas berasal dari sektor-sektor prospektif tersebut, menandakan optimisme pemulihan minat IPO di tahun mendatang,” ujarnya. Secara rinci, ia menyebutkan, ada 18 perusahaan aset berskala besar atau di atas Rp 250 miliar. Kemudian, dua perusahaan aset skala menengah di antaraRp 50 miliar sampai Rp 250 miliar, dan satu perusahaan aset kecil di bawah Rp 50 miliar. Jumlah ini akan menyumbang sepertiga target IPO 2025 yang sebanyak 66 perusahaan. Target tersebut lebih besar dari pencapaian di 2024 yang hanya mencatatkan sebanyak 41 perusahaan baru dengan total dana yang dihimpun sebanyak Rp 14,3 triliun. Jumlah ini turun drastis dari 79 kegiatan IPO di 2023 yang berhasil menghimpun dana hingga Rp 54,1 triliun.

Sementara itu, tahun ini, otoritas pasar modal menilai prospek IPO pada tahun 2025 diharapkan tetap menarik, terutama untuk perusahaan di sektor konsumen dan energi yang tahun lalu melakukan banyak aksi IPO. Harapan itu juga diperkuat optimisme akan stabilitas ekonomi domestik dengan target pertumbuhan ekonomi dan proyeksi inflasi yang terkendali. Selain target IPO, BEI juga menetapkan peningkatan target jumlah penerbitan beragam efek, seperti saham, obligasi, sukuk, waran terstruktur, dana tukar dagang atau exchange traded fund (ETF), dana investasi real estat (DIRE), dana investasi infrastruktur (DINFRA), efek beragun aset (EBA) dari 340 penerbitan di 2024 menjadi sebanyak 407 penerbitan sepanjang 2025. (Yoga)

Tutup Tahun, Bursa dan Rupiah Kurang Menggembirakan

KT3 31 Dec 2024 Kompas
Kinerja bursa saham dan nilai tukar rupiah pada akhir 2024 kurang menggembirakan. Rupiah ditutup melemah dan tembus ke level Rp 16.000 per dollar AS. Sementara itu, kinerja bursa saham pada hari perdagangan terakhir melemah 2,56 persen dibandingkan pada awal tahun ini. Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (30/12/2024) ditutup sebesar Rp 16.162 perdollar AS. Meski cenderung menguat 89 poin dibandingkan hari sebelumnya, rupiah tercatat melemah 1,61 persen dibandingkan pembukaan awal Desember 2024 yang berada dilevel Rp 15.905 per dollar AS. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Edi Susiato menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah terjadi seiring menguatnya mata uang dollar AS. Dalam beberapa bulan terakhir, indeks dollar AS (DXY) menguat terhadap hampir semua mata uang dunia, baik mata uang negara utama maupun terhadap mata uang negara berkembang. ”Penguatan DXY tersebut didorong oleh faktor-faktor, antara lain adanya divergensi ekonomi. Di satu sisi ekonomi Amerika Serikat cukup berdaya tahan, sementara di sisi lain ekonomi negara-negara Eropa dan China cenderung melambat.

Resiliensi ekonomi AS menyebabkan agresivitas pemangkasan suku bunga menurun,” katanya saat dihubungi di Jakarta, Senin. Selain itu, terpilihnya kembali Donald Trump sebagai Presiden AS atau dikenal sebagai fenomena Trump 2.0 juga menambah ketidakpastian global seiring dengan penerapan kebijakan tarifnya. Kemudian, isu geopolitik di Suriah serta kondisi politik di Perancis dan Korea Selatan turut menyebabkan ketidakpastian. Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah Redjalam berpendapat, pelemahan nilai tukar rupiah cen- derung dipengaruhi oleh faktor global, yakni menguatnya dollar AS. Penguatan kurs dollar AS tersebut tidak lepas dari kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan Trump. ”Sebenarnya bukan rupiah yang melemah, melainkan dollar AS yang menguat dan semua mata uang dunia juga melemah. Itu karena ekspektasi terhadap kebijakan Trump yang diperkirakan lebih mementingkan AS,” tuturnya. Oleh sebab itu, Piter melanjutkan, rupiah diperkirakan dapat kembali menguat seiring dengan perkembangan dinamika global ke depan. Hal itu terkait dengan pelantikan Trump sebagai presiden AS dan kejelasan arah kebijakannya. Ditengah ketidakpastian global tersebut, arah kebijakan pemerintah RI di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto justru belum menunjukkan upaya untuk meyakinkan pasar. (Yoga)

Badai Pasar Saham Belum Berlalu

KT1 31 Dec 2024 Investor Daily (H)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) turun 2,65% ke level 7.079 sepanjang 2024, terpuruk di Asean. Indeks terpukul oleh maraknya sentimen negatif global terutama labilnya kebijakan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS), Federal Funds Rate (FFR). Berdasarkan data BEI, indeks FTSE Bursa Malaysia KLCI Index naik 12,58% tahun ini, sedangkan PSEi Index 1,22%, Strait Times Index 1714%, SET Index turun 1,1% dan VN Index 12,95%. Di Asia, IHSG merupakan terburuk kedua setelah Kopsi Korea Selatan yang turun 9,63%. Memasuki 2025, badai pasar saham diprediksi belum berlalu.

Bahkan tantangan ke depan makin berat. Selain situasi global yang belum kondusif, dari dalam negeri, daya tahan indeks diuji oleh imbas kenaikan PPN 12% mulai 1 Januari 2025. Namun, masih ada secercah harapan di tahun depan. Syaratnya, pemerintah bisa meramu kebijakan tepat untuk menjaga fundamental ekonomi yang ada angun segar dari AS. Beberapa analis mematok IHSG akhir 2025 di level 8.000, berdasarkan skenaripo optimistis. Founder Stock.id Hendra Wardana menyatakan, PPN 12% diperkirakan membawa dampak signifikan pada berbagai sektor ekonomi, terutama yang bergantung pada  konsumsi domestik, seperti ritel, otomotif, dan properti. Kenaikan PPN akan menjadi pukulan keras bagi daya beli masyarakat. (Yetede)

Peluang Window Dressing Masih Terbuka di Penghujung 2024

KT1 28 Dec 2024 Investor Daily (H)
Peluang window dressing masih terbuka di penghujung 2024, seiring banyaknya saham big cap yang sedang murah. Ini tak lepas dari aksi jual besar-besaran asing terhadap saham big cap, terutama bank besar. Merujuk data RTI, asing net sell Rp 2,4 triliun di semua pasar dalam sepekan terakhir, sedangkan sepanjang 2024 masih net buy Rp15,2 triliun. Akibatnya, pasar saham sulit keluar dari zona merah, karena asing banyak memegang saham berkapitalisasi pasar besar. Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah, 0,41% ke level 7.036,57, kemarin, dan turun 1% dalam sepekan terakhir. Sejumlah faktor global dan domestik terus menekan indeks. 

Founder Stocknow.id Hendra Wardana optimistis terhadap potensi penguatan IHSG pada perdagangan Senin pekan depan, didukung oleh aksi window dressing. IHSG berpeluang menguat dengan resistance di level 7.120 dan support di level  7.120 dan support di level 7.000. "Selama window dressing, manager investasi menerapkan strategi untuk mempercantik kinerja portfolio menjelang penutupan akhir tahun," tutur dia. 

Kebijakan PPN 12% Mulai Diberlakukan pada 1 Januari 2025 Diyakini Berdampak ke Berbagai Sektor

KT1 24 Dec 2024 Investor Daily (H)
Kebijakan PPN 12% yang mulai diberlakukan pada 1 Januari 2025 diyakini akan berdampak ke berbagai sektor, termasuk pasar saham. Beberapa saham diperkirkan bakal tertekan akibat kebijakan PPN 12% yang berpotensi menggerus kinerja keuangan emiten bersangkutan. Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar dapat mendiversifikasi portfolionya ke saham-saham defensif terjadap kenaikan PPN. "Pemberlakukan PPN 12% mulai 1 januari 2025 diperkirakan memberikan dampak signifikan pada pasar saham, terutama pada sektor yang sangat tergantung pada konsumsi domestik seperti ritel, otomotif, dan properti. Diversifikasi portfolio menjadi strategis penting untuk mengurangi risiko dari volatilitas pasar," kata Founder Stocknow.id Hendra Wardana. Hendra menilai, kebijakan PPN 12% berpotensi menekan daya beli masyarakat yang telah tertekan oleh tren deflasi selama delapan bulan terakhir. Penurunan daya beli dapat memengaruhi penjualan dan laba perusahaan di sektor tersebut, sehingga menekan valuasi saham. (Yetede)

Market Cap BEI Menuju US$ 1 Triliun

KT1 21 Dec 2024 Investor Daily (H)
Bursa Efek Indonesia (BEI) memproyeksikan kapitalisasi pasar modal Indonesia akan mengukir sejarah baru dengan menembus Rp 16 ribu triliun atau ekuivalen US$ 1 triliun pada 2025. Kebijakan pemerintah akan menjadi katalis kunci bagi pemulihan IHSG. Menurut Kepala Divisi Riset BEI Verdi Ikhwan, proyeksi cerah ini tercermin dari berbagai indikator  kunci seperti peningkatan aktivitas transaksi, stabilitas kinerja emiten, hingga keseimbangan antara permintaan dan penawaran di pasar. "Kami optimistis 2025 masih akan mencatatkan pertumbuhan signifikan, baik dari sisi harga saham maupun  kapitalisasi pasar," jelas Verdi. Dia menambahkan. hingga kuartal III 2024, total pendapatan seluruh sektor di BEI tumbuh sebesar 3,70% secara tahunan (yoy), naik dari 2,30% dibanding periode sebelumnya. Namun, beberapa sektor seperti teknologi dan dan energi menunjukkan kontraski masing-masing sebesar 5,44% dan 1,6%. "Kendati ada penurunan di sektor tertentu, secara umum emiten masih mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang sehat. Hal ini menjadi salah satu fondasi utama bagi kapitalisasi pasar yang lebih besar," tambah Verdi. (Yetede)

IHSG Diperkirakan Sulit Bangkit Pada Akhir Tahun 2024

KT3 19 Dec 2024 Kompas

Indeks Harga Saham Gabungan yang sempat menunjukkan perbaikan jelang pengujung tahun terus melorot ke level 7.100. Analis membaca, kecil kemungkinan ada sentimen positif yang dapat mendongkrak harga saham domestik dalam waktu kurang dari dua minggu ke depan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (18/12/2024) ditutup di level 7.107, turun 0,7 persen dibandingkandenganperdaganganhari sebelumnya danturun 2,27 persen dari posisi di awal tahun 2024. Pergerakan IHSG juga anjlok sekitar 5 persen dari pekan lalu atau 11 Desember di level 7.529. Kebangkitan IHSG pekan lalu menandai periode window dressing sebagai upaya investor besar untuk mempercantik saham berkapitalisasi besar di pergantian tahun. ”Tetapi, ternyata kita balik lagi ke 7.100 dan kayaknya mesti mencoba level psikologis di 7.000. Mudah-mudahan ada manajer-manajer aset yang mau mendorong agar IHSG di atas 7.000,” kata Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia (NHKSI) Liza Camelia Suryanata dalam acara Market Outlook 2025: New Year New Nationalism di Jakarta hari ini. 

Liza memprediksi, pergerakan IHSG secara teknikal bisa berbalik arah jika berhasil menembus level di bawah 7.000. Namun, sentimen positif dalam waktu kurang dari dua pekan sebelum akhir tahun dibutuhkan. Untuk sementara, Liza pesimistis, sentimen positif datang dari faktor eksternal. Ia menilai, investor asing masih akan cenderung menunggu. Hal ini melihat nilai tukar rupiah yang masih lemah di level harga Rp 16.000 per dollarAS. Kondisi ini, menurut Liza, dipengaruhi penguatan mata uang dollar AS yang tidak hanya disebabkan kebijakan ekonomi AS, tetapi juga peningkatan permintaan dollar AS oleh korporasi dalam negeri dan masyarakat menjelang liburan Natal dan Tahun Baru. Perusahaan sekuritas Mirae Asset Sekuritas baru-baru ini juga mengubah proyeksi IHSG ke level 7.500 di penutupan perdagangan akhir tahun 2024, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya di 7.915. Faktor depresiasi rupiah, pelantikan Donald Trump sebagai Presiden AS, dan implementasi kenaikan PPN menjadi 12 persen membuat investor cenderung menunggu hingga Januari 2025. (Yoga)