;
Tags

Saham

( 1722 )

Mengembalikan Kilau LQ45 di Pasar Saham

HR1 24 Jan 2025 Bisnis Indonesia

Perubahan konstituen pada indeks LQ45 di awal tahun 2025 membuka harapan untuk peningkatan performa indeks saham unggulan Indonesia, yang sebelumnya mengalami kinerja buruk pada tahun lalu. Meskipun indeks LQ45 turun 14,83% YoY pada 2024, tanda-tanda kebangkitan terlihat pada 2025 dengan kinerja IHSG yang positif dan LQ45 yang mulai menunjukkan perbaikan.

Perubahan konstituen LQ45 pada awal tahun ini dengan memasukkan PT Ciputra Development Tbk. (CTRA), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA), dan PT Map Aktif Adiperkasa Tbk. (MAPA) diharapkan dapat memperkuat kinerja indeks tersebut. Sektor-sektor seperti konsumsi, properti, dan energi diperkirakan mendapat dampak positif dari kebijakan moneter yang lebih longgar, seperti penurunan BI Rate. Ekky Topan, analis dari Infovesta Utama, berpendapat bahwa sektor-sektor tersebut memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi, terutama karena program-program pemerintah yang mendukung daya beli masyarakat.

Meskipun perubahan konstituen ini penting, performa LQ45 juga sangat bergantung pada emiten-emiten berbobot besar seperti perbankan dan telekomunikasi. Para analis menyarankan investor untuk memanfaatkan momentum ini dengan fokus pada saham blue-chip yang memiliki fundamental kuat, seperti BBRI, BMRI, TLKM, dan saham-saham di sektor energi seperti PTBA dan ITMG.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, juga menekankan pentingnya memperkuat ekosistem pasar modal Indonesia untuk memaksimalkan potensi pertumbuhannya. Secara keseluruhan, meskipun tantangan global tetap ada, tahun 2025 menawarkan kesempatan bagi pasar saham Indonesia untuk bangkit, terutama dengan dukungan dari sektor-sektor unggulan dan kebijakan yang mendukung stabilitas ekonomi domestik.


Banjir Sentimen Positif, IHSG Kembali Melanjutkan Penguatan

KT1 23 Jan 2025 Investor Daily (H)
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali melanjutkan penguatan ke level 7.257 (+1,05%) pada perdagangan Rabu (22/01/2025), menyusul pergerakan naik dalam beberapa hari terakhir. Banyaknya sentimen positif yang mulai membanjiri pasar, seperti arus masuk (inflow) dana asing, penurunan suku bunga bank BI rate, hingga penguatan nilai  tukar rupiah, menjadi tenaga baru bagi IHSG untuk mencoba menuju 7.500. "Kami perkirakan, pergerakan IHSG sedang berada di fase uptrend dalam jangka  pendek terlebih dahulu. Karena kami masih memiliki  skenario akan adanya koreski dari IHSG," kata Senior Research Analyst MNC Sekuritas Herditya Wicaksana kepada Investor Daily. Didit mengungkapkan, penguatan IHSG dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adanya beberapa sentimen revisi aturan devisa hasil ekspor (DHE). Dimana revisi ini mewajibkan menempatkan DHE sebesar 100% dalam negeri dalam kurun  waktu satu tahun. Selain itu, sambung dia IHSG ini juga didukung oleh penguatan emiten-emiten perbankan, penguatan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS dan kenaikan bursa global dan mayoritas regional Asia. (Yetede)

Tahun 2025 Menyongsong Minat IPO

KT3 21 Jan 2025 Kompas
Memasuki tahun 2025, delapan emiten baru sudah melaksanakan penawaran saham perdana atau IPO di Bursa Efek Indonesia. Setelah melalui tahun 2024 yang menantang, otoritas bursa menargetkan 66 perusahaan akan melaksanakan IPO pada 2025. Sepanjang 2024, tercatat hanya 41 perusahaan baru dengan total dana yang dihimpun sebanyak Rp 14,3 triliun. Jumlah ini turun dibandingkan dengan 79 penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) pada 2023 yang berhasil menghimpun dana Rp 54,1 triliun. Kondisi ini bahkan disebut terendah dalam lima tahun terakhir. Analis pasar modal Stocknow.id, Hendra Wardana, menyebut beberapa faktor, seperti ketidakpastian ekonomi global, volatilitas pasar, serta tingginya biaya dan regulasi dalam proses IPO yang menjadi tantangan utama. ”Meski begitu, BEI optimistis dengan target 66 perusahaan yang akan IPO di 2025, dengan memastikan bahwa kualitas perusahaan yang melantai tetap terjaga sehingga minat investor dapat terus meningkat dan pasar modal Indonesia semakin berkembang,” tutur Hendra, Jumat (17/1/2025).

Sepanjang Januari, sebanyak delapan emiten tercatat telah melantai di BEI yang berasal dari beragam sektor dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp 3,6 triliun. Dengan demikian, saat ini, total emiten di bursa mencapai 951 perusahaan. Delapan emiten tersebut adalah PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (kode emiten CBDK), PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG), PT Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk (OBAT), PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII), PT Kentanix Supra International Tbk (KSIX), dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU). Kemudian, PT Raja Roti Cemerlang Tbk (BRRC) dan PT Hero Global Investment Tbk (HGII). Menurut Hendra, pendorong ramainya aksi IPO dan pergerakan positif IHSG di Januari 2025 ialah optimisme pemulihan ekonomi, kebijakan pemerintah yang propasar, serta meningkatnya minat investor dalam membeli saham baru. Semuanya berkontribusi pada sentimen pasar yang positif. 

Sebelumnya, pada Kamis (2/1/2025), ketika perdagangan BEI tahun 2025 resmi dibuka, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Iman Rachman menyampaikan bahwa secara global kinerja BEI masih menunjukkan daya saing yang kompetitif dibandingkan dengan bursa global lainnya. ”Saya bangga melaporkan bahwa pasar modal kita tidak hanya bertahan di tengah ketidakpastian global, tetapi juga terus menunjukkan daya saing yang tinggi, baik di ASEAN maupun dalam skala global,” ucapnya dalam keterangan tertulis di laman BEI. Pencapaian positif terlihat dari meningkatnya antusiasme masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia. Total investor pasar modal yang terdiri dari investor saham, obligasi, dan reksa dana meningkat menjadi 14,84 juta investor. Sementara itu, khusus untuk investor saham, terdapat peningkatan lebih dari 1 juta investor saham menjadi 6,37 juta investor saham (Yoga)


Saham Migas Tersulut Sangsi Rusia

KT1 16 Jan 2025 Investor Daily (H)
Pengenaan sanksi oleh Amerika Serikat terhadap perusahaan minyak Rusia, memicu kenaikan harga minyak dunia hingga mencapai level tertinggi dalam empat bulan terakhir. Harga minyak yang diproyeksi naik terus hingga US$ 90 per barel, dipercaya akan menjadi bahan bakar saham-saham terkait komoditas tersebut untuk terus  menanjak, potensi peningkatan harga saham hingga 425 pun terbuka lebar, dengan analis merekomondasikan buy untuk saham migas. Pada awal pekan ini, harga minyak Brent naik US$ 1,25 (1,6%) menjadi US$ 81,01 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik U$ 2,25 (2,9%) menjadi US$ 78,82 per barel. Kenaikan tersebut membawa Brent mencatatkan  penutupan tertinggi sejak 26 Agustus 2024. Kedua acuan harga minyak itu tetap berada dalam overbought untuk dua hari berturut-turut. Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan memperkirakan, pergerakan harga minyak mentah kedepannya akan ditentukan oleh imbas pengenaan sanksi terhadap Rusia. Dengan harga minyak Bren diperkirakan  terus merangkak naik hingga US$ 90 per barel. (Yetede)

Pasar Saham Bangkit

KT1 16 Jan 2025 Investor Daily (H)
Keputusan Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,75% berdasarkan Rapat Dewan Gubernur (RGD) pada Rabu (15/01/2025) disambut positif kalangan perbankan juga pelaku pasar. IHSG ditutup dengan menguat signifikan 1,77% ke level 7.079. Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI) Royke Tumilaar menilai langkah itu bakal berdampak positif pada perbankan. "Itu berarti sinyal banyak hal lah. Impactnya positif," kata Royke. Meski menyambut baik atas putusan itu, Royke belum dapat berkomentar lebih perihal penurunan suku bunga kredit di BNI. Dia menyebut untuk memutus hal itu dia harus melihat terlebih dahulu Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). "Ya belum, kan itu referensinya BI. Nantinya lihat dari SRBI lagi ya mudah-mudahan. Tapi sih saya berharap SRBI turun, kalau turunkan jumlah uang yang ke BI kan turun dan yang beredar banyak spending pemerintah kan tinggi di awal tahun. Di awal ini SRBI bisa dikecilin dikit bunganya diturunin dikit, itu akan banyak," jelasnya. (Yetede)

Dividen Berlimpah Menanti Pemegang Saham

HR1 15 Jan 2025 Bisnis Indonesia (H)

Musim pembagian dividen untuk tahun buku 2024 yang akan dilakukan pada 2025 diperkirakan akan mengalami penurunan, meskipun tetap menarik untuk dicermati oleh investor. Pembagian dividen pada 2024 diperkirakan mencapai Rp322,4 triliun, turun 11,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini terutama disebabkan oleh tidak adanya dividen spesial seperti yang terjadi pada PT Alamtraya Resources Indonesia (ADRO) di 2024.

Namun, sektor finansial dan energi, terutama emiten besar seperti ADRO, Bank BRI (BBRI), Bank BCA (BBCA), dan Bank Mandiri (BMRI), masih diperkirakan akan memberikan dividen yang cukup menarik. Selain itu, perusahaan BUMN juga tetap diharapkan memberikan dividen besar, mengingat kontribusinya yang signifikan terhadap kas negara.

Felix Darmawan, Equity Research Analyst dari Panin Sekuritas, menambahkan bahwa dividen dapat menjadi faktor yang menggairahkan pasar modal, terutama dalam kondisi ketidakpastian global, karena memberikan pengembalian langsung kepada investor. Investor disarankan untuk memilih emiten dengan fundamental yang kuat dan arus kas yang stabil, yang menjamin pembagian dividen berkelanjutan.

Rekomendasi saham dividen tinggi dari Mirae Asset Sekuritas dan Panin Sekuritas mencakup emiten-emiten seperti BBRI, BMRI, PTBA, PGAS, dan TPMA, yang diperkirakan dapat menjadi pilihan menarik di musim pembagian dividen ini.




Saham Sektor Bank Kena Downgrade dari Over Weight Menjadi Netral

KT1 15 Jan 2025 Investor Daily (H)
Saham sektor perbankan kena downgrade dari overweight (OW)  menjadi netral, menyusul proyeksi perlambatan pertumbuhan kredit dan laba bersih 2025.Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), kredit perbankan diprediksi tumbuh melambat menjadi 9,9% tahun 2025 dari 2024 sebesar 13,4%. Sejalan dengan itu, pertumbuhan laba bersih per saham (EPS) bank diprediksi melambat menjadi 5,8% dari 6,7%. Sumber pertumbuhan kredit 2025, tulis BRIDS, adalah segmen korporasi, sedangkan segmen pertambangan serta UMKM masih dalam fase pemulihan kualitas aset. "Didorong oleh likuiditas yang baik dan cost fund (CoF) resilen, kami memprediksi empat bank besar mencetak pertumbuhan kredit 9,9% dan terus melanjutkan performa di atas industri," tulis BRIDS. BRIDS mempreiksi likuiditas masih ketat tahun 2025, didorong oleh yield dan penerbitan SRBI yang masih tinggi, rasio secondary reserves rendah, dan minimnya imbas insentif giro wajib minimum (GWM). Per September 2024, broker ini mencatat, rasio secondary reserves mencapai 16%, lebih rendah dari rata-rata sebelum pandemi Covid-19 sebesar 20%. Adapun insentif GWM 4% bisa dimanfaatkan bank untuk menarik likuditas maksimal Rp 44 triliun, lebih rendah dari bertahun-tahun sebelum Rp148 triliun. (Yetede)

Menggali Peluang dari Emiten Baru

HR1 14 Jan 2025 Bisnis Indonesia (H)

Minat tinggi investor terhadap aksi Initial Public Offering (IPO) pada awal tahun 2025, yang tercermin dari oversubscription pada beberapa emiten besar, fenomena ini belum cukup untuk mengerek aktivitas transaksi harian di pasar modal Indonesia. Sejumlah IPO seperti PT Bangun Kosambi Sukses Tbk. (CBDK) dan PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) berhasil menarik dana jumbo dan mencatatkan lonjakan harga saham signifikan. Namun, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) masih lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, dan IHSG pun menunjukkan penurunan.

Faktor eksternal seperti kebijakan moneter global dan penguatan dolar AS turut mempengaruhi pergerakan pasar, dengan investor asing tercatat melakukan net sell. Meskipun IPO menawarkan alternatif investasi yang menarik, terutama pada emiten yang terafiliasi dengan konglomerasi besar, sebagian investor lebih memilih untuk menunggu dan melihat perkembangan pasar lebih lanjut.

Pakar pasar seperti Irvan Susandy dan Fath Aliansyah mengungkapkan bahwa meskipun IPO menarik minat, tantangan utama adalah sentimen pasar yang lemah, terutama dalam pasar sekunder, serta tekanan dari faktor eksternal. Oleh karena itu, meskipun IPO menunjukkan potensi, keberlanjutan kenaikan pasar tergantung pada faktor-faktor ekonomi dan sentimen pasar yang lebih luas.



Saham Blue Chip Kehilangan Daya Tarik

HR1 14 Jan 2025 Kontan (H)
Pasar saham Indonesia sedang mengalami tekanan, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,02% ke level 7.016,88 pada Senin (13/1). Saham-saham blue chip, seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), melemah meskipun memiliki fundamental yang baik dan valuasi yang murah. Hal ini didorong oleh aksi jual investor asing, meskipun investor lokal masih menunjukkan minat pada saham-saham ini.

Sementara itu, saham-saham growth stock seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Petrosea Tbk (PTRO) mencatatkan kenaikan harga signifikan meskipun valuasinya sudah mahal. Direktur Kanaka Hita Solvera, Daniel Agustinus, menjelaskan bahwa saham-saham ini cenderung lebih stabil karena partisipasi publik yang rendah dan minimnya pengaruh dana asing.

Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia, Budi Frensidy, mencatat bahwa kehadiran market maker memengaruhi pergerakan harga saham growth stock seperti BREN. Di sisi lain, saham blue chip seperti ASII tidak memiliki mekanisme serupa, sehingga harga sahamnya lebih dipengaruhi oleh faktor pasar umum.

Maximilianus Nico Demus, dari Pilarmas Investindo Sekuritas, menyarankan investor untuk memanfaatkan kombinasi analisis fundamental dan teknikal, sambil mempertimbangkan jangka waktu dan profil risiko masing-masing. Daniel Agustinus juga memprediksi bahwa saham-saham blue chip akan kembali pulih saat investor asing kembali masuk, terutama jika The Fed mulai menurunkan suku bunga.

Mengungkap Kelemahan January Effect

HR1 10 Jan 2025 Bisnis Indonesia (H)

Pasar saham Indonesia pada awal tahun 2025 masih menghadapi tantangan besar, terutama karena minimnya sentimen positif baru yang dapat mendorong penguatan pasar. Tekanan jual dari investor asing terus berlanjut dengan akumulasi net sell yang mencapai Rp2,73 triliun hingga 9 Januari 2025. Selain itu, efek musiman seperti January Effect, yang biasa diharapkan sebagai faktor penguat pasar di awal tahun, dinilai kurang berpengaruh tahun ini, mengingat hanya terjadi lima kali dalam sepuluh tahun terakhir.

Pasar saham Indonesia juga dipengaruhi oleh kondisi pasar global yang lesu, dengan ketidakpastian politik di Amerika Serikat terkait kebijakan tarif impor Donald Trump, yang berpotensi mempengaruhi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Kepala Pasar dan Layanan Sekuritas HSBC Indonesia, Ali Setiawan, menyoroti bahwa meskipun Indonesia bukan target utama tarif Trump, dampak tetap dirasakan melalui tekanan asing yang keluar. Sementara itu, Direktur Utama Mandiri Sekuritas, Oki Ramadhana, menyarankan agar investor fokus pada sektor-sektor tertentu yang potensial, seperti konsumsi, pangan, dan perbankan, meskipun volatilitas pasar diprediksi tetap tinggi.

Para analis pasar, seperti Sukarno Alatas dari Kiwoom Sekuritas dan Abdul Azis Setyo Wibowo, juga mengingatkan bahwa meskipun ada peluang koleksi saham yang murah, faktor sentimen negatif global harus diperhitungkan. Mereka juga menggarisbawahi pentingnya aksi korporasi dan kinerja laporan keuangan emiten dalam mendorong pergerakan saham.

Secara keseluruhan, meskipun pasar saham Indonesia menghadapi tekanan eksternal, sektor-sektor tertentu tetap memiliki potensi untuk memberikan hasil positif jika didorong oleh kinerja emiten yang baik dan aksi korporasi yang signifikan.