Saham
( 1717 )Saham Sektor Bank Kena Downgrade dari Over Weight Menjadi Netral
Menggali Peluang dari Emiten Baru
Minat tinggi investor terhadap aksi Initial Public Offering (IPO) pada awal tahun 2025, yang tercermin dari oversubscription pada beberapa emiten besar, fenomena ini belum cukup untuk mengerek aktivitas transaksi harian di pasar modal Indonesia. Sejumlah IPO seperti PT Bangun Kosambi Sukses Tbk. (CBDK) dan PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) berhasil menarik dana jumbo dan mencatatkan lonjakan harga saham signifikan. Namun, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) masih lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, dan IHSG pun menunjukkan penurunan.
Faktor eksternal seperti kebijakan moneter global dan penguatan dolar AS turut mempengaruhi pergerakan pasar, dengan investor asing tercatat melakukan net sell. Meskipun IPO menawarkan alternatif investasi yang menarik, terutama pada emiten yang terafiliasi dengan konglomerasi besar, sebagian investor lebih memilih untuk menunggu dan melihat perkembangan pasar lebih lanjut.
Pakar pasar seperti Irvan Susandy dan Fath Aliansyah mengungkapkan bahwa meskipun IPO menarik minat, tantangan utama adalah sentimen pasar yang lemah, terutama dalam pasar sekunder, serta tekanan dari faktor eksternal. Oleh karena itu, meskipun IPO menunjukkan potensi, keberlanjutan kenaikan pasar tergantung pada faktor-faktor ekonomi dan sentimen pasar yang lebih luas.
Saham Blue Chip Kehilangan Daya Tarik
Mengungkap Kelemahan January Effect
Pasar saham Indonesia pada awal tahun 2025 masih menghadapi tantangan besar, terutama karena minimnya sentimen positif baru yang dapat mendorong penguatan pasar. Tekanan jual dari investor asing terus berlanjut dengan akumulasi net sell yang mencapai Rp2,73 triliun hingga 9 Januari 2025. Selain itu, efek musiman seperti January Effect, yang biasa diharapkan sebagai faktor penguat pasar di awal tahun, dinilai kurang berpengaruh tahun ini, mengingat hanya terjadi lima kali dalam sepuluh tahun terakhir.
Pasar saham Indonesia juga dipengaruhi oleh kondisi pasar global yang lesu, dengan ketidakpastian politik di Amerika Serikat terkait kebijakan tarif impor Donald Trump, yang berpotensi mempengaruhi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Kepala Pasar dan Layanan Sekuritas HSBC Indonesia, Ali Setiawan, menyoroti bahwa meskipun Indonesia bukan target utama tarif Trump, dampak tetap dirasakan melalui tekanan asing yang keluar. Sementara itu, Direktur Utama Mandiri Sekuritas, Oki Ramadhana, menyarankan agar investor fokus pada sektor-sektor tertentu yang potensial, seperti konsumsi, pangan, dan perbankan, meskipun volatilitas pasar diprediksi tetap tinggi.
Para analis pasar, seperti Sukarno Alatas dari Kiwoom Sekuritas dan Abdul Azis Setyo Wibowo, juga mengingatkan bahwa meskipun ada peluang koleksi saham yang murah, faktor sentimen negatif global harus diperhitungkan. Mereka juga menggarisbawahi pentingnya aksi korporasi dan kinerja laporan keuangan emiten dalam mendorong pergerakan saham.
Secara keseluruhan, meskipun pasar saham Indonesia menghadapi tekanan eksternal, sektor-sektor tertentu tetap memiliki potensi untuk memberikan hasil positif jika didorong oleh kinerja emiten yang baik dan aksi korporasi yang signifikan.
Pasar Saham Indonesia Masih Mengalami Tekanan
Saham dengan Dividen Tinggi di Tengah Ancaman Dampak Perang Dagang Global
Investasi Saham di Awal 2025 di Kocok Ulang
IHSG Terkoreksi Signifikan pada Awal Pekan
Indeks harga saham gabungan (IHSG) terkoreksi signifikan
pada awal pekan, tergelincir ke level 7.080,47 atau melemahkan 1,17%. Koreksi
ini memupus harapan terhadap January Effect, yang biasanya menjadi katalis
positif di awal tahun. Pelemahan IHSG juga mencerminkan global yang masih penuh
tantangan. IHSG dibuka pada level 7.176,12 pada Senin (6/1/2025), namun mulai
melemah sejak sesi pertama, menutup hari dengan koreksi sebesar 1,17%. Dalam
perdagangan tersebut, 388 saham tercatat melemah, sementara hanya 221 saham
yang menguat, dan 190 saham lainnya stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp8,06
triliun dengan volume 22,1 miliar saham dan frekuensi perdagangan sebanyak
1.086.728 kali. Hampir semua sektor mengalami koreksi, dengan sektor koreksi,
dengan seksama barang baku mencatatkan
pelemahan terdalam sebesar1,7%. Dalam perdanganan tersebut, 388 saham
tercatat melemah , sementara hanya 221 saham yang menguat, 190 saham
lainnya stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp8,06 triliun dengan volume 22,1 miliar
saham dan frekuensi perdagangan sebanyak 1.086.728 kali. (Yetede)
IHSG Tertekan di Akhir Sesi Pertama Perdagangan Hari Ini
January Effect Diprediksi akan Memompa Penguatan Pasar Lebih Lanjut
Pilihan Editor
-
Pusat Data Kecerdasan Buatan Diluncurkan
04 Jan 2022 -
Tantangan Perbankan 2022
03 Jan 2022









