;
Tags

Saham

( 1717 )

Sektor Teknologi Siap Unjuk Gigi di 2024

HR1 03 Feb 2025 Kontan
Suku bunga rendah dan penerapan kecerdasan buatan (AI) berpotensi menjadi katalis positif bagi emiten sektor teknologi di Indonesia, terutama di bidang e-commerce dan fintech.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang stabil di 5% dapat meningkatkan konsumsi domestik dan menopang sektor e-commerce. Hal ini terlihat dari penurunan kerugian PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) sebesar 29% yoy pada kuartal ketiga 2024, meskipun secara keseluruhan sektor ini masih dalam tren negatif.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Niko Margaronis, optimistis bahwa gross merchandise value (GMV) e-commerce akan tumbuh lebih tinggi, didukung oleh media sosial, kredit konsumen, serta produktivitas berbasis AI. Menurut laporan Google, ekonomi internet diperkirakan tumbuh dengan CAGR 14% hingga 2030, dengan Tiktok dan Shopee sebagai pemimpin pasar dalam belanja online.

Adopsi AI dalam layanan on-demand service (ODS) dan fintech juga akan memperkuat bisnis teknologi. Contohnya, Tiktok Shop-Tokopedia kini mempromosikan layanan Gojek, dan meningkatnya penggunaan paylater serta pinjaman digital semakin mendukung pertumbuhan e-commerce. Analis Samuel Sekuritas, Farras Farhan, menilai bahwa perubahan perilaku konsumen yang lebih berorientasi pada fungsi daripada insentif dapat meningkatkan profitabilitas emiten teknologi, meskipun pendapatan sektor ini mungkin masih negatif dalam dua tahun ke depan.

Namun, terdapat beberapa risiko yang membayangi sektor teknologi, seperti sentimen negatif dari kasus eFisheries yang dapat memperburuk persepsi investor.

Emiten Komoditas Dibayangi Ketidakpastian

HR1 31 Jan 2025 Bisnis Indonesia (H)

Rencana pemerintah untuk mewajibkan retensi devisa hasil ekspor (DHE) komoditas sumber daya alam (SDA) hingga 100% dalam waktu setahun, yang mulai berlaku pada Maret 2025, diperkirakan akan menimbulkan tantangan signifikan bagi emiten sektor komoditas, terutama dalam pengelolaan arus kas dan likuiditas. Direktur PT Bumi Resources, Dileep Srivastava, menyatakan bahwa kebijakan ini dapat membebani perusahaan karena membatasi akses terhadap dana yang biasanya digunakan untuk operasional dan investasi. Beberapa emiten, seperti PT Bumi Resources dan PT Bukit Asam, menyatakan kesiapan untuk mematuhi kebijakan ini, namun berharap adanya kompensasi berupa insentif dari pemerintah, seperti fasilitas pajak 0% untuk pendapatan bunga dari penempatan DHE. Analis juga memperingatkan bahwa kebijakan ini bisa berdampak negatif, terutama bagi emiten dengan liabilitas besar dan kebutuhan likuiditas cepat. Namun, insentif yang disiapkan pemerintah dapat meredam dampak tersebut.



Indeks Tekno Perkasa Kala Deepsek Gebuk Raksasa Global

KT1 31 Jan 2025 Investor Daily (H)
Gelembung bubble platform kecerdasan buatan (artificial intelegence/AI) asal China, Deepseek, menggebuk beberapa indeks saham global. Indeks sektor teknologi atau IDX Techno justru perkasa. Raksasa teknologi dalam negeri bersiap melanjutkan investasi di bidang AI untuk mempertebal keuntungan. Indeks saham global yang terpapar turbulensi Deepssek semisal Nasdaq S&P 500, dan Dow Jones Industrial Average. Terakhir kali dilihat, kinerja ketiganya longsor ke teritori merah. Nasdaq ambles 96,21 poin (0,49%), S&P 500 jeblok 29,09 poin (0,32%). Merahnya indeks tersebut akibat ambruknya kinerja saham-saham produsen chipset & teknologi seperti Nvidia, Raecle, Dell, Microdoft, dan Alphabet. Di sisi lai, IDX Techno pada perdagangan Kamis (30/1/2025), malah menunjukkan penguatan sebesar 1,06% ke posisi 4.335. 01 atau tumbuh 8,43% secara year-to-date (ytd). Penguatan indeks  yanga dihuni emiten itu terjadi setelah saham-saham berbasis teknologi seperti PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Surge berkinerja hijau hingga masuk barisan top gainers dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 35% dan 25%. Begitupun dengan saham DCII dan EMTK yang outperform dengan penguatan harga masing-masing 3,44% dan 6,48%. (Yetede)

Jadi Pendatang Baru Saham Rahayu Efendi Terbang 521%

KT1 25 Jan 2025 Investor Daily (H)
Saham emiten pendatang baru, PT Raharja Energy Cepu Tbk (RATU) langsung melejit sejak resmi tercatat (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Januari 2025. Saham anak usaha PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) ini, telah melesat 521,74% dari harga listing perdana di Rp 1.150 menjadi Rp7.150 di penutupan perdagangan Jumat (24/1/2025). Kapitalisasi pasar (market cap) RATU yang saat ini sebesar Rp19,41 triliun, bahkan telah menyalip induk bahkan telah menyalip induk usahanya, RAJA senilai Rp16,49 triliun. Pada perdagangan kemarin, RATU kembali menyentuh batas auto reject atas (ARA) setelah menguat 10% ke level Rp 7.150. Saham emiten holding migas tersebut ditransaksikan  sebanyak 4.472 kali dengan nilai Rp23,7 miliar. Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan menilai, kenaikan saham RATU lebih banyak didorong oleh sentimen spekulatif. "Sebagai emiten yang baru IPO, saham ini menarik perhatian investor yang ingin mengejar momentum kenaikan harga saham dalam  waktu singkat," kata dia kepada Investor Daily. (Yetede)

Mengembalikan Kilau LQ45 di Pasar Saham

HR1 24 Jan 2025 Bisnis Indonesia

Perubahan konstituen pada indeks LQ45 di awal tahun 2025 membuka harapan untuk peningkatan performa indeks saham unggulan Indonesia, yang sebelumnya mengalami kinerja buruk pada tahun lalu. Meskipun indeks LQ45 turun 14,83% YoY pada 2024, tanda-tanda kebangkitan terlihat pada 2025 dengan kinerja IHSG yang positif dan LQ45 yang mulai menunjukkan perbaikan.

Perubahan konstituen LQ45 pada awal tahun ini dengan memasukkan PT Ciputra Development Tbk. (CTRA), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA), dan PT Map Aktif Adiperkasa Tbk. (MAPA) diharapkan dapat memperkuat kinerja indeks tersebut. Sektor-sektor seperti konsumsi, properti, dan energi diperkirakan mendapat dampak positif dari kebijakan moneter yang lebih longgar, seperti penurunan BI Rate. Ekky Topan, analis dari Infovesta Utama, berpendapat bahwa sektor-sektor tersebut memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi, terutama karena program-program pemerintah yang mendukung daya beli masyarakat.

Meskipun perubahan konstituen ini penting, performa LQ45 juga sangat bergantung pada emiten-emiten berbobot besar seperti perbankan dan telekomunikasi. Para analis menyarankan investor untuk memanfaatkan momentum ini dengan fokus pada saham blue-chip yang memiliki fundamental kuat, seperti BBRI, BMRI, TLKM, dan saham-saham di sektor energi seperti PTBA dan ITMG.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, juga menekankan pentingnya memperkuat ekosistem pasar modal Indonesia untuk memaksimalkan potensi pertumbuhannya. Secara keseluruhan, meskipun tantangan global tetap ada, tahun 2025 menawarkan kesempatan bagi pasar saham Indonesia untuk bangkit, terutama dengan dukungan dari sektor-sektor unggulan dan kebijakan yang mendukung stabilitas ekonomi domestik.


Banjir Sentimen Positif, IHSG Kembali Melanjutkan Penguatan

KT1 23 Jan 2025 Investor Daily (H)
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali melanjutkan penguatan ke level 7.257 (+1,05%) pada perdagangan Rabu (22/01/2025), menyusul pergerakan naik dalam beberapa hari terakhir. Banyaknya sentimen positif yang mulai membanjiri pasar, seperti arus masuk (inflow) dana asing, penurunan suku bunga bank BI rate, hingga penguatan nilai  tukar rupiah, menjadi tenaga baru bagi IHSG untuk mencoba menuju 7.500. "Kami perkirakan, pergerakan IHSG sedang berada di fase uptrend dalam jangka  pendek terlebih dahulu. Karena kami masih memiliki  skenario akan adanya koreski dari IHSG," kata Senior Research Analyst MNC Sekuritas Herditya Wicaksana kepada Investor Daily. Didit mengungkapkan, penguatan IHSG dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adanya beberapa sentimen revisi aturan devisa hasil ekspor (DHE). Dimana revisi ini mewajibkan menempatkan DHE sebesar 100% dalam negeri dalam kurun  waktu satu tahun. Selain itu, sambung dia IHSG ini juga didukung oleh penguatan emiten-emiten perbankan, penguatan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS dan kenaikan bursa global dan mayoritas regional Asia. (Yetede)

Tahun 2025 Menyongsong Minat IPO

KT3 21 Jan 2025 Kompas
Memasuki tahun 2025, delapan emiten baru sudah melaksanakan penawaran saham perdana atau IPO di Bursa Efek Indonesia. Setelah melalui tahun 2024 yang menantang, otoritas bursa menargetkan 66 perusahaan akan melaksanakan IPO pada 2025. Sepanjang 2024, tercatat hanya 41 perusahaan baru dengan total dana yang dihimpun sebanyak Rp 14,3 triliun. Jumlah ini turun dibandingkan dengan 79 penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) pada 2023 yang berhasil menghimpun dana Rp 54,1 triliun. Kondisi ini bahkan disebut terendah dalam lima tahun terakhir. Analis pasar modal Stocknow.id, Hendra Wardana, menyebut beberapa faktor, seperti ketidakpastian ekonomi global, volatilitas pasar, serta tingginya biaya dan regulasi dalam proses IPO yang menjadi tantangan utama. ”Meski begitu, BEI optimistis dengan target 66 perusahaan yang akan IPO di 2025, dengan memastikan bahwa kualitas perusahaan yang melantai tetap terjaga sehingga minat investor dapat terus meningkat dan pasar modal Indonesia semakin berkembang,” tutur Hendra, Jumat (17/1/2025).

Sepanjang Januari, sebanyak delapan emiten tercatat telah melantai di BEI yang berasal dari beragam sektor dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp 3,6 triliun. Dengan demikian, saat ini, total emiten di bursa mencapai 951 perusahaan. Delapan emiten tersebut adalah PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (kode emiten CBDK), PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG), PT Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk (OBAT), PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII), PT Kentanix Supra International Tbk (KSIX), dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU). Kemudian, PT Raja Roti Cemerlang Tbk (BRRC) dan PT Hero Global Investment Tbk (HGII). Menurut Hendra, pendorong ramainya aksi IPO dan pergerakan positif IHSG di Januari 2025 ialah optimisme pemulihan ekonomi, kebijakan pemerintah yang propasar, serta meningkatnya minat investor dalam membeli saham baru. Semuanya berkontribusi pada sentimen pasar yang positif. 

Sebelumnya, pada Kamis (2/1/2025), ketika perdagangan BEI tahun 2025 resmi dibuka, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Iman Rachman menyampaikan bahwa secara global kinerja BEI masih menunjukkan daya saing yang kompetitif dibandingkan dengan bursa global lainnya. ”Saya bangga melaporkan bahwa pasar modal kita tidak hanya bertahan di tengah ketidakpastian global, tetapi juga terus menunjukkan daya saing yang tinggi, baik di ASEAN maupun dalam skala global,” ucapnya dalam keterangan tertulis di laman BEI. Pencapaian positif terlihat dari meningkatnya antusiasme masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia. Total investor pasar modal yang terdiri dari investor saham, obligasi, dan reksa dana meningkat menjadi 14,84 juta investor. Sementara itu, khusus untuk investor saham, terdapat peningkatan lebih dari 1 juta investor saham menjadi 6,37 juta investor saham (Yoga)


Saham Migas Tersulut Sangsi Rusia

KT1 16 Jan 2025 Investor Daily (H)
Pengenaan sanksi oleh Amerika Serikat terhadap perusahaan minyak Rusia, memicu kenaikan harga minyak dunia hingga mencapai level tertinggi dalam empat bulan terakhir. Harga minyak yang diproyeksi naik terus hingga US$ 90 per barel, dipercaya akan menjadi bahan bakar saham-saham terkait komoditas tersebut untuk terus  menanjak, potensi peningkatan harga saham hingga 425 pun terbuka lebar, dengan analis merekomondasikan buy untuk saham migas. Pada awal pekan ini, harga minyak Brent naik US$ 1,25 (1,6%) menjadi US$ 81,01 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik U$ 2,25 (2,9%) menjadi US$ 78,82 per barel. Kenaikan tersebut membawa Brent mencatatkan  penutupan tertinggi sejak 26 Agustus 2024. Kedua acuan harga minyak itu tetap berada dalam overbought untuk dua hari berturut-turut. Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan memperkirakan, pergerakan harga minyak mentah kedepannya akan ditentukan oleh imbas pengenaan sanksi terhadap Rusia. Dengan harga minyak Bren diperkirakan  terus merangkak naik hingga US$ 90 per barel. (Yetede)

Pasar Saham Bangkit

KT1 16 Jan 2025 Investor Daily (H)
Keputusan Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,75% berdasarkan Rapat Dewan Gubernur (RGD) pada Rabu (15/01/2025) disambut positif kalangan perbankan juga pelaku pasar. IHSG ditutup dengan menguat signifikan 1,77% ke level 7.079. Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI) Royke Tumilaar menilai langkah itu bakal berdampak positif pada perbankan. "Itu berarti sinyal banyak hal lah. Impactnya positif," kata Royke. Meski menyambut baik atas putusan itu, Royke belum dapat berkomentar lebih perihal penurunan suku bunga kredit di BNI. Dia menyebut untuk memutus hal itu dia harus melihat terlebih dahulu Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). "Ya belum, kan itu referensinya BI. Nantinya lihat dari SRBI lagi ya mudah-mudahan. Tapi sih saya berharap SRBI turun, kalau turunkan jumlah uang yang ke BI kan turun dan yang beredar banyak spending pemerintah kan tinggi di awal tahun. Di awal ini SRBI bisa dikecilin dikit bunganya diturunin dikit, itu akan banyak," jelasnya. (Yetede)

Dividen Berlimpah Menanti Pemegang Saham

HR1 15 Jan 2025 Bisnis Indonesia (H)

Musim pembagian dividen untuk tahun buku 2024 yang akan dilakukan pada 2025 diperkirakan akan mengalami penurunan, meskipun tetap menarik untuk dicermati oleh investor. Pembagian dividen pada 2024 diperkirakan mencapai Rp322,4 triliun, turun 11,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini terutama disebabkan oleh tidak adanya dividen spesial seperti yang terjadi pada PT Alamtraya Resources Indonesia (ADRO) di 2024.

Namun, sektor finansial dan energi, terutama emiten besar seperti ADRO, Bank BRI (BBRI), Bank BCA (BBCA), dan Bank Mandiri (BMRI), masih diperkirakan akan memberikan dividen yang cukup menarik. Selain itu, perusahaan BUMN juga tetap diharapkan memberikan dividen besar, mengingat kontribusinya yang signifikan terhadap kas negara.

Felix Darmawan, Equity Research Analyst dari Panin Sekuritas, menambahkan bahwa dividen dapat menjadi faktor yang menggairahkan pasar modal, terutama dalam kondisi ketidakpastian global, karena memberikan pengembalian langsung kepada investor. Investor disarankan untuk memilih emiten dengan fundamental yang kuat dan arus kas yang stabil, yang menjamin pembagian dividen berkelanjutan.

Rekomendasi saham dividen tinggi dari Mirae Asset Sekuritas dan Panin Sekuritas mencakup emiten-emiten seperti BBRI, BMRI, PTBA, PGAS, dan TPMA, yang diperkirakan dapat menjadi pilihan menarik di musim pembagian dividen ini.