;
Tags

Saham

( 1722 )

Menjaga Stabilitas Harga Ayam di Pasar

HR1 07 Feb 2025 Kontan
Prospek kinerja PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) diperkirakan membaik berkat stabilisasi harga unggas dan potensi meningkatnya permintaan ayam. Analis Maybank Sekuritas, Jocelyn Santoso, menilai bahwa intervensi pemerintah dalam pengaturan pasokan unggas hidup melalui kuota impor grand parent stock yang lebih rendah serta pemusnahan unggas parent stock secara sukarela akan membantu menstabilkan harga unggas.

Selain itu, JPFA telah menerapkan teknologi kandang tertutup, yang meningkatkan kenyamanan ternak dan menekan tingkat kematian ayam dari 10% menjadi kurang dari 1%, menurut Jocelyn. Penggunaan pengering jagung juga memungkinkan perusahaan memperoleh bahan baku dengan harga lebih murah, yang berkontribusi terhadap peningkatan margin keuntungan. Dengan faktor-faktor ini, Maybank Sekuritas memproyeksi laba JPFA mencapai Rp 3,6 triliun pada 2025, lebih tinggi dari Rp 3,02 triliun pada 2024.

Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano, memperkirakan kelebihan pasokan ayam menurun menjadi 14% pada 2025, dibandingkan 22% pada 2024. Namun, ia juga memperingatkan bahwa margin pakan akan tertekan akibat potensi kenaikan harga jagung dan bungkil kedelai karena curah hujan yang tinggi. Meski begitu, bisnis komersial dan peternakan ayam pembibit diharapkan tetap memberikan margin yang lebih tinggi bagi JPFA.

Dari sisi kebijakan pemerintah, program Makan Bergizi Gratis (MBG) diprediksi akan berdampak positif pada sektor unggas. Analis Mirae Asset Sekuritas, Andreas Saragih, menilai bahwa program MBG, penurunan biaya bahan baku, dan peningkatan daya beli masyarakat akan menguntungkan JPFA. Dengan bertambahnya jumlah dapur umum MBG menjadi 937 unit, permintaan ayam sebagai sumber protein juga diprediksi meningkat.

Dari perspektif investasi, Andreas menyarankan beli saham JPFA dengan target harga Rp 2.400 per saham, sementara Victor menargetkan Rp 2.800 per saham, dan Jocelyn merekomendasikan Rp 2.300 per saham.

JPFA berpotensi mencetak kinerja lebih baik di 2025 berkat stabilisasi harga unggas, intervensi pemerintah, efisiensi operasional, serta dukungan dari program MBG. Meskipun tantangan seperti potensi kenaikan harga bahan baku masih ada, JPFA tetap menjadi pilihan menarik bagi investor dengan proyeksi laba yang meningkat dan rekomendasi beli dari para analis.

Tren Suram di Bursa Saham

HR1 07 Feb 2025 Bisnis Indonesia (H)
Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melempem belakangan ini menjadi indikasi bahwa pasar saham Indonesia rentan terhadap sentimen global dan domestik. Penurunan IHSG yang signifikan, yang tercatat anjlok 2,12% pada 6 Februari 2025, di tengah kinerja pasar regional yang menguat, mengindikasikan adanya reaksi negatif terhadap berbagai faktor, seperti perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan kebijakan pemerintah yang membangkitkan reaksi pasar negatif, misalnya terkait dengan distribusi LPG dan penghematan anggaran aparatur sipil negara (ASN).

Para analis, seperti Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas dan Adityo Nugroho dari Mirae Asset Sekuritas, memberikan pandangan yang beragam. Wicaksana memperkirakan IHSG akan menghadapi tekanan lebih lanjut, dengan potensi penurunan lebih dalam, terutama dipengaruhi oleh saham bank-bank besar yang terkoreksi. Sementara itu, Adityo Nugroho masih mempertahankan proyeksi IHSG hingga akhir tahun di level 8.000, dengan harapan pemulihan akan terjadi jika tekanan berita negatif mereda dan arus dana asing kembali mengalir ke Indonesia.

Beberapa analis, seperti Arief Budiman dari Ciptadana Sekuritas dan Erindra Krisnawan dari BRI Danareksa Sekuritas, memutuskan untuk memangkas target IHSG. Arief memangkas targetnya dari 8.400 menjadi 7.850, dengan alasan sulitnya mencapai target tersebut setelah kinerja IHSG yang negatif pada 2024. Krisnawan dan Wilastita Muthia Sofi juga menyoroti dampak kebijakan perdagangan global, khususnya terkait tarif impor Donald Trump, yang dapat mempengaruhi pasar Indonesia melalui nilai tukar dan penjualan aset berisiko tinggi.

Menanggapi kondisi ini, Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, menyarankan investor untuk berhati-hati dan memperhatikan analisis kebijakan pemerintah, reaksi negara lain, serta tren pasar. BEI juga tengah menyiapkan instrumen keuangan baru, seperti short selling dan intra-day short selling, untuk membantu investor mengelola portofolio mereka di tengah kondisi pasar yang penuh tantangan.

Secara keseluruhan, meskipun IHSG menghadapi tekanan yang cukup besar, investor disarankan untuk tetap waspada dan mengikuti perkembangan pasar dengan cermat, sambil memanfaatkan instrumen keuangan baru yang disiapkan oleh BEI.

Mencari Peluang Pertumbuhan yang Sehat

KT1 07 Feb 2025 Investor Daily (H)

Laju perekonomian nasional  tahun 2025 diyakini masih akan lebih baik dari tahun 2024, walaupun banyak tantangan yang terjadi, baik dari dalam negeri maupun global. Karenanya, pemerintah harus bisa menjalankan iklim investasi dan memberikan  kepastian dalam kebijakan terkait investasi, khususnya melalui sejumlah sektor unggulan. Tercatat pertumbuhan ekonomi pada 2024 sebesar 5,03% pada 2024, melambat dibandingkan 2023 sebesar 5,05% dan 2022, risiko eksternal menjadi ancaman serius ekonomi, terutama setelah Donald Trump menjadi presiden Amerika Serikat. Kemenangan Trump bakal memicu era perang dagang, yang memiliki risiko tinggi terhadap stabilitas nilai tukar dan inflasi.

Trump bukan hanya mengobarkan perang dagang, tetapi juga memanaskan kondisi geopolitik, setelah berencana mengambil Jalur Gaza di palestina. Ini diperparah oleh belum jelasnya penurunan suku bunga acuan global, terutama di AS. Sementara IHSG pada Kamis (06/02/2025) sejak awal perdagangan bergerak di zona merah. IHSG ditutup melemah 2,12% atau 148,6 poin ke level 6.875,5. Perdagangan IHSG mencatatkan 20,1 miliar lembar saham senilai Rp 13,5 triliun dari 1,4 juta kali transaksi. Pada saat IHSG berada di zona merah, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih juga melemah. dari data Bloomberg pada pukul 14.59 WIB di pasar spot exchange, rupiah berada pada level Rp 16.341 per dolar AS atau melemah 48,5 poin (0,30%). (Yetede)

Mimpi Mendorong emiten-emiten BUMN Menjadi Pemain Global

KT1 07 Feb 2025 Investor Daily (H)
Mimpi mendorong emiten-emiten BUMN menjadi pemain  global ditindaklanjuti pemerintah dengan membentuk Badan Pengelolaan Investasi Daya Anagata Nusantara alias BPI Danantara setelah UU BUMN terbaru resmi ketok palu. Dalam aksinya, pengelola Danantara akan terbebas dari tuntutan ganti rugi bilamana investasi Danantara tidak menguntungkan. Celah ini bikin ketar-ketir. Sebab, Danantara memegang modal paling sedikit Rp 1.000 triliun. Sebanyak sembilan emiten BUMN akan masuk dalam pengelolaan Danantara pada tahap awal. Perusahaan-perusahaan tersebut adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), emiten-emiten anggota BUMN Holding Industri Pertambangan alias MIND ID yaitu PT (ANTM) atau Antam, PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Timah Tbbk (TINS), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), serta entitas usaha Pertamina, yakni PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO). Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan bahwa sebagai aset strategis negara, BUMN berperan vital membangun ekonomi nasional. Karena itu, BUMN harus terus ditransformasikan menjadi entitas bisnis yang profesional, efisien, dan berdaya saing global. Antara lain dengan melakukan restrukturisasi, reorganisasi, konsolidasi dan langkah-langkah lain guna menciptakan entitas yang lebih ramping, fokus dan memberikan nilai tambah. (Yetede)

IHSG Terkoreksi Tajam Hingga 2,12% ke Level 6.875,54

KT1 07 Feb 2025 Investor Daily (H)
IHSG terkoreksi tajam hingga 2,12% ke level 6.875,54 pada perdagangan Kamis (06/02/2025). Pelemahan ini dipicu oleh sentimen global yang negatif, di antaranya terkait kebijakan tarif dagang Amerika Serikat terhadap beberapa negara serta kehawatiran terhadap perlambatan ekonomi domestik. Meski demikian, sejumlah analis menilai, kondisi ini dapat menjadi peluang bagi investor untuk mengakumulasi saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) yang tengah mengalami koreksi harga. Di antaranya saham-saham berkapitalisasi besar yang mengalami koreskasi adalah saham perbankan. Head of Costumer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi Kasmarandana menjelaskan, volatilitas pasar saham saat ini mashi cukup tinggi, dengan beberapa faktor eksternal yang menjadi perhatian utama. Ia melihat, setidaknya ada faktor utama yang memengaruhi pasar. "Ketiganya yaitu kebijakan tarif dagang AS terhadap Kanada, Meksiko, dan China; potensi relaksasi kebijakan moneter oleh The Fed dan Bank Indonesia; serta stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Jika ketiga faktor ini berkembang positif, maka pasar berpotensi mengalami rebound," papar Oktavianus. (Yetede)

Harga Batubara Anjlok, Kinerja Tertekan

HR1 06 Feb 2025 Kontan
Kinerja PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) diperkirakan mengalami penurunan pada 2025 akibat turunnya harga batubara, meskipun produksi meningkat.

Analis Maybank Sekuritas, Hasan Barakwan, memperkirakan ITMG akan meningkatkan produksi hingga 21,8 juta ton berkat kontribusi tambang Graha Panca Karsa (GPK) dan Tepian Indah Sukses (TIS). Namun, harga batubara yang telah terkoreksi 10% sejak awal 2025 menjadi US$ 115,25 per ton membuat prospek bisnis ITMG tetap menantang. Hasan juga merevisi asumsi harga jual rata-rata (ASP) batubara 2025 turun 13,3% menjadi US$ 91 per ton, yang berdampak pada penurunan ekspektasi laba bersih sebesar 21,6% menjadi US$ 355 juta.

Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, menilai peningkatan produksi tidak akan banyak membantu karena harga batubara yang terus melemah. Ia memperkirakan ASP ITMG bisa berada di kisaran US$ 75-80 per ton, menyebabkan proyeksi pendapatan turun 13% dan laba turun 26% pada 2025.

Meski begitu, ITMG tetap berkomitmen mempertahankan dividen payout ratio di 70% untuk periode 2024-2026, yang menawarkan imbal hasil dividen di atas 12%. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rizkia Darmawan, memperkirakan pendapatan ITMG pada 2025 mencapai US$ 2,31 miliar dan laba bersih US$ 497 juta, menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, ia menilai manajemen biaya yang disiplin dapat membantu mempertahankan profitabilitas perusahaan.

Dalam rekomendasi saham, Hasan dan Sukarno menyaranakan hold, dengan target harga masing-masing Rp 25.000 dan Rp 28.000 per saham, sedangkan Rizkia mempertahankan peringkat trading buy dengan target harga Rp 29.150 per saham.

Harga Emas yang Menanjak dan Terus Mencatatkan Rekor Baru

KT1 06 Feb 2025 Investor Daily (H)

Harga emas yang menanjak dan terus mencatatkan rekor baru, membawa angin segar pada saham-saham komoditas tersebut di lantai bursa. Saham-saham emas seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT United Tractors Tbk (UNTR), dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) kompak menguat pada perdagangan Rabu (5/2/2025), di saat harga komoditas logam mulia kembali memecah rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 2.869 per troi ons. Tercatat, saham ANTM menguat 3,57% ke level Rp1.450, disusul AMMN melesat 5,07% ke posisi Rp7.250, BRMS menanjak 3,19% ke Rp388, dan UNTR naik 0,6% ke Rp25.150, dan HRTA melonjak 7,31% ke Rp 470.

Kinerja positif saham-saham itu terjadi ditengah memerahnya IHSG sepanjang perdagangan kemarin, yang akhirnya ditutup turun 0,7% ke level 7.024. "Penguatan sebagian besar saham emas tersebut sebagai dampak dari kenaikan harga komoditasnya," kata Senior Market Charist Mirea Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama kepada Investor Daily. Nafan memperkirakan, harga komoditas emas masih akan terius menanjak hingga US$ 3.000 per trai ons di tahun ini. Reli emas yang berkelanjutan disebabkan oleh kuatnya permintaan produk safe haven ini. Ditengah ketidakpastian kebijakan perdaangan Trump, ketegangan geopolitik yang terus berlanjut di Timur Tengah, dan konflik Rusia-Ukraina yang berkepanjangan. (Yetede)

Harga Emas Antam Hari Ini Rp 1.670.000 per Gram

KT1 06 Feb 2025 Tempo
Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk. atau Antam mencetak rekor tertingginya pada perdagangan hari ini, Kamis pagi, 6 Februari 2025. Mengutip dari laman resmi Logam Mulia, harga emas Antam hari ini berada di level Rp 1.670.000 per gram. Harga emas Antam terpantau meningkat Rp 7 ribu bila dibandingkan dengan harga perdagangan kemarin. Pada Rabu, 5 Februari 2025, emas Antam per gram tercatat seharga Rp 1.663.000. Sementara pada Kamis pekan lalu, harga emas batangan Antam berada di angka Rp 1.606.000 per gram. Artinya, harga emas Antam meningkat Rp 64 ribu selama seminggu terakhir.

Adapun sejak awal Januari 2025, harga emas dari perusahaan BUMN ini terpantau melesat Rp 146.000 per gramnya. Emas Antam tercatat diperdagangkan sebesar Rp 1.524.000 per gram pada Kamis pagi, 2 Januari 2025 lalu. Sementara, harga jual kembali atau buyback emas batangan Antam pada hari ini juga mengalami kenaikan dibandingkan harga buyback pada 5 Februari 2025. Harga buyback emas Antam hari ini tercatat di level Rp 1.521.000 per gram. Harga ini naik Rp 7 ribu dibandingkan harga pada perdagangan Rabu, yang tercatat berada di level Rp 1.514.000 per gramnya.  Semua transaksi jual kembali dengan nilai di atas Rp 10 juta akan dikenakan pajak penghasilan atau PPh 22 sebesar 1,5 persen. Aturan ini berlaku sesuai dengan Perubahan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 112/PMK.03/2022 tentang Nomor Pokok Wajib Pajak untuk individu, badan usaha, dan instansi pemerintah. 

Perubahan ini juga mencakup penggunaan Nomor Induk Kependudukan (NIK) sebagai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). PPh 22 akan dipotong secara otomatis dari total nilai transaksi penjualan atau buyback. Berikut daftar harga dasar emas batangan Antam di situs Logam Mulia untuk perdagangan hari ini: Antam 0,5 gram: Rp 885.000, Antam 1 gram: Rp 1.670.000, Antam 2 gram: Rp 3.280.000, Antam 3 gram: Rp 4.895.000, Antam 5 gram: Rp 8.125.000, Antam 10 gram: Rp 16.195.000, Antam 25 gram: Rp 40.362.000, Antam 50 gram: Rp 80.645.000, Antam 100 gram: Rp 161.212.000, Antam 250 gram: Rp 402.765.000, Antam 500 gram: Rp 805.320.000,Antam 1.000 gram: Rp 1.610.600.000 (Yetede)

Saham GoTo Memanas

KT1 05 Feb 2025 Investor Daily (H)
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali menarik perhatian pelaku pasar modal, seiring santernya kabar penggabungan usaha (merger) dengan raksasa transportasi berbasis online sekaligus kompetitor terkuat yakni Grab. Wacana merger dengan total kapitalisasi pasar (market cap) mencapai lebih dari Rp400 triliun tersebut, mendapat respon positif dari investor. Bahkan, saham GOTO diyakini bisa melaju hinga Rp 150 per saham. Pada perdagangan Selasa (4/2/2025), saham GOTO ditutup menguat 7,41% ke level Rp 87. Sejak awal tahun saham emiten teknologi tersebut telah melesat 22,54%, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 103,63 triliun. Founder Stocknow.id Hendra Wardana mengatakan, kabar merger antara Gojek dan Grab memicu spekulasi besar terhadap prospek saham GOTO. "Jika kesepakatan ini benar-benar terjadi, dampaknya bisa sangat signifikan, baik dari sisi bisnis maupun pergerakan saham," ujar dia kepada Investor Daily. Dari perspektif industri, menurut Hendra penggabungan dua raksasa transportasi digital ini akan memperkuat dominasi di Asia Tenggara, mengurangi persaingan langsung. Da meningkatkan efisiensi operasional. (Yetede)

Tak terbantahkan Lagi Tata Kelola Pekerja Migran jadi Prioritas

KT1 05 Feb 2025 Investor Daily (H)

Tidak terbantahkan lagi bahwa keberadaan pekerja migran Indonesia (PMI) memiliki kontribusi signifikan ke perekonomian nasional, terutama pada penghimpunan devisa dari remitansi yang telah berlangsung sejak tahun 1980-an. Kontribusi lainnya adalah turut memangkas tingkat kemiskinan dan pengangguran sehingga kesejahteraan masyarakat sejumlah daerah di Tanah Air terangkat. Ini di antaranya tergambar pada perbaikan rumah dan  kerbelanjutan sekolah anak-anak. Data Bank Indonesia (BI) menyebutkan, nilai remitansi PMI pada tahun 2023 tercatat sebesar US$ 14,22 atau setara dengan Rp232,71 triliun (kurs Rp 16.365/dolar AS). Nilai ini hampir dua kali lipat atau melonjak hingga 91,64% dari posisi sepuluh  tahun silam yang baru US$ 7,42 miliar atau sekitar RP 121,43 triliun.

Sementara selama 2024 hingga kuartal II, nilai remintansi PMI mencapai US$ 11,63 miliar, naik 10,34% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar US$ 10,54 miliar. Bahkan, data yang sama mengungkapkan, nilai remintansi PM selama 2023 tersebut separuh lebih atau 65,77% dari investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI) ke Indonesia pada periode yang sama yang mencapai US$ 21,62 miliar atau Rp353,81 triliun.  Sedangkan selama 2024, nilai investasi langsung asing yang masuk ke Indonesia mencapai US$ 18,99 miliar, meningkat 15,23% dibandingkan nilai FDI periode sama tahun sebelumnya yang tercatat US$ 16,48 miliar.  (Yetede)