Saham
( 1736 )Mengungkap Kelemahan January Effect
Pasar saham Indonesia pada awal tahun 2025 masih menghadapi tantangan besar, terutama karena minimnya sentimen positif baru yang dapat mendorong penguatan pasar. Tekanan jual dari investor asing terus berlanjut dengan akumulasi net sell yang mencapai Rp2,73 triliun hingga 9 Januari 2025. Selain itu, efek musiman seperti January Effect, yang biasa diharapkan sebagai faktor penguat pasar di awal tahun, dinilai kurang berpengaruh tahun ini, mengingat hanya terjadi lima kali dalam sepuluh tahun terakhir.
Pasar saham Indonesia juga dipengaruhi oleh kondisi pasar global yang lesu, dengan ketidakpastian politik di Amerika Serikat terkait kebijakan tarif impor Donald Trump, yang berpotensi mempengaruhi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Kepala Pasar dan Layanan Sekuritas HSBC Indonesia, Ali Setiawan, menyoroti bahwa meskipun Indonesia bukan target utama tarif Trump, dampak tetap dirasakan melalui tekanan asing yang keluar. Sementara itu, Direktur Utama Mandiri Sekuritas, Oki Ramadhana, menyarankan agar investor fokus pada sektor-sektor tertentu yang potensial, seperti konsumsi, pangan, dan perbankan, meskipun volatilitas pasar diprediksi tetap tinggi.
Para analis pasar, seperti Sukarno Alatas dari Kiwoom Sekuritas dan Abdul Azis Setyo Wibowo, juga mengingatkan bahwa meskipun ada peluang koleksi saham yang murah, faktor sentimen negatif global harus diperhitungkan. Mereka juga menggarisbawahi pentingnya aksi korporasi dan kinerja laporan keuangan emiten dalam mendorong pergerakan saham.
Secara keseluruhan, meskipun pasar saham Indonesia menghadapi tekanan eksternal, sektor-sektor tertentu tetap memiliki potensi untuk memberikan hasil positif jika didorong oleh kinerja emiten yang baik dan aksi korporasi yang signifikan.
Pasar Saham Indonesia Masih Mengalami Tekanan
Saham dengan Dividen Tinggi di Tengah Ancaman Dampak Perang Dagang Global
Investasi Saham di Awal 2025 di Kocok Ulang
IHSG Terkoreksi Signifikan pada Awal Pekan
Indeks harga saham gabungan (IHSG) terkoreksi signifikan
pada awal pekan, tergelincir ke level 7.080,47 atau melemahkan 1,17%. Koreksi
ini memupus harapan terhadap January Effect, yang biasanya menjadi katalis
positif di awal tahun. Pelemahan IHSG juga mencerminkan global yang masih penuh
tantangan. IHSG dibuka pada level 7.176,12 pada Senin (6/1/2025), namun mulai
melemah sejak sesi pertama, menutup hari dengan koreksi sebesar 1,17%. Dalam
perdagangan tersebut, 388 saham tercatat melemah, sementara hanya 221 saham
yang menguat, dan 190 saham lainnya stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp8,06
triliun dengan volume 22,1 miliar saham dan frekuensi perdagangan sebanyak
1.086.728 kali. Hampir semua sektor mengalami koreksi, dengan sektor koreksi,
dengan seksama barang baku mencatatkan
pelemahan terdalam sebesar1,7%. Dalam perdanganan tersebut, 388 saham
tercatat melemah , sementara hanya 221 saham yang menguat, 190 saham
lainnya stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp8,06 triliun dengan volume 22,1 miliar
saham dan frekuensi perdagangan sebanyak 1.086.728 kali. (Yetede)
IHSG Tertekan di Akhir Sesi Pertama Perdagangan Hari Ini
January Effect Diprediksi akan Memompa Penguatan Pasar Lebih Lanjut
IHSG Mengawali Perdagangan Tahun 2025 Dengan Kuat
Efek Januari: Pasar Saham Mulai Bersinar
Prospek Saham Bank Cerah Jika Suku Bunga Mulai Turun
Pilihan Editor
-
Sistem Pangan Harus Berbasis Keberagaman Lokal
31 Dec 2021 -
Perkebunan Sawit Rakyat Tumbuh Berkelanjutan
31 Dec 2021 -
Transformasi Sistem Pangan
31 Dec 2021 -
Mengembangkan EBT harus Utamakan Komponen Lokal
30 Dec 2021









