Tags
Saham
( 1722 )IPO dan Saham PUPS AADI: Potensi atau Risiko?
HR1
27 Nov 2024 Kontan
IPO PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) menawarkan dua opsi menarik bagi pemegang saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO): (1) berpartisipasi dalam Penawaran Umum Pemegang Saham (PUPS) AADI atau (2) hanya menikmati dividen. Pemegang saham ADRO berpotensi menerima dividen sebesar US$ 2,62 miliar (sekitar Rp 1.335 per saham) dan dapat membeli saham AADI melalui skema PUPS dengan rasio 100:23.
Hendriko Gani, Investment Analyst Stockbit Sekuritas, menjelaskan tiga skenario bagi AADI dan ADRO, Skenario dasar terdiri dari PE AADI diproyeksikan 5 kali di harga Rp 10.900, sementara ADRO mencapai 6,6 kali di Rp 1.900, Skenario bullish terdiri dari PE AADI naik menjadi 5 kali, sementara ADRO mencapai 8,9 kali di Rp 2.850, Skenario bearish terdiri dari PE ADRO turun ke 3,8 kali di harga Rp 1.110.
Hendriko menegaskan, investor ADRO yang hanya menerima dividen tanpa berpartisipasi dalam PUPS AADI berpotensi menghadapi penurunan harga saham ADRO tanpa mendapat keuntungan dari kenaikan harga AADI.
Sukarno Alatas, Head of Research Kiwoom Sekuritas, melihat peluang kenaikan harga saham AADI usai IPO. Investor yang membeli saham AADI melalui PUPS cenderung mendapatkan volume lebih besar, meskipun ada risiko penurunan harga ADRO setelah cum date dividen.
Indri Liftiany, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, menilai saham AADI berpotensi tinggi diminati pasar, meskipun ada risiko odd lot (jumlah saham kecil) sulit dijual. Ia juga mencatat kemungkinan penurunan laba ADRO pasca-spin-off AADI, yang akan memengaruhi pembagian dividen di masa depan.
Opsi berpartisipasi dalam PUPS AADI dianggap lebih menarik karena potensi kenaikan harga saham AADI, tetapi investor perlu mempertimbangkan risiko penurunan harga saham ADRO.
Dorongan Orang Dalam Topang Kinerja Saham
HR1
27 Nov 2024 Kontan
Aksi akumulasi saham oleh "orang dalam" emiten, seperti direksi, komisaris, dan pemegang saham pengendali, ramai terjadi di tengah kondisi pasar yang tertekan. Misalnya, jajaran direksi dan komisaris PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) serta PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) membeli saham perusahaan mereka. Selain itu, konglomerat Prajogo Pangestu meningkatkan kepemilikan saham di PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Petrosea Tbk (PTRO).
Menurut Hendra Wardana, Founder Stocknow.id, aksi pembelian saham oleh orang dalam sering kali menjadi sinyal kepercayaan terhadap valuasi perusahaan yang dianggap murah dan prospek jangka panjang yang menjanjikan, terutama di tengah ketidakpastian pasar. Praktisi pasar modal Agus Pramono menambahkan bahwa pembelian saham ini menunjukkan keyakinan terhadap kinerja fundamental perusahaan, terlepas dari gejolak pasar.
Fendi Susiyanto, Founder & CEO Finvesol Consulting, menjelaskan bahwa kondisi pasar yang tertekan memberi momentum bagi orang dalam untuk melakukan akumulasi, yang sekaligus menunjukkan komitmen mereka terhadap pengelolaan perusahaan. Daniel Agustinus, Certified Elliott Wave Analyst, menyoroti pentingnya sosok yang melakukan aksi tersebut, karena reputasi mereka dapat mempengaruhi sentimen pasar.
Namun, Daniel mengingatkan agar investor tidak serta-merta mengikuti langkah manajemen tanpa menganalisis fundamental perusahaan. Pendapat ini didukung oleh Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, yang menegaskan bahwa setiap investor harus menyesuaikan strategi investasi dengan profil risiko dan target masing-masing.
Sebagai rekomendasi, Hendra menyarankan speculative buy untuk saham BREN dengan target harga Rp 7.600, serta trading buy untuk saham BMRI dan JSMR dengan target harga masing-masing Rp 6.800 dan Rp 4.800.
IPO Jumbo Bertebaran di Penghujung 2024
KT1
26 Nov 2024 Investor Daily (H)
Serangkaian aksi penggalangan dana publik melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham akan bertebaran di penghujung 2024. Potensi dana dari emisi tersebut bernilai fantastis seperti yang pernah diungkapkan Bursa Efek Indonesia (BEI), sebagai perusahan berklasifikasi mercusuar alias 'Lighthouse Companies'. Perusahaan-perusahaan mercusuar yang segera melantai di BEI di antaranya, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), anak usaha PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) atau yang kini berganti nama menjadi PT Alamtris Resource Indonesia Tbk. Satu lagi, peritel peralatan dan perabotan rumah tangga, PT Daya Intiguna Yasa Tbk atau populer dengan MR D.I.Y. AADI akan menawarkan sebanyak-banyaknya 778.689.200 atau mencerminkan 10% dari modal dengan membandrol pelaksanaan di kisaran Rp4.590-Rp5.900, sehingga calon emiten tersebut berpeluang meraup dana publik sejumlah Rp4,59 triliun. Sedangkan, MR. D.I.Y bakal menawarkan sebanyak-banyaknya 2.519.039.400 saham atau mencerminkan 10% dari modal dengan harga berkisar Rp 6.650-1.870 per saham. (Yetede)
IHSG BEI Menanti Windows Dressing
KT1
25 Nov 2024 Investor Daily (H)
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) masih menanti window dressing untuk menguatkan dan menepis maraknya sentimen negatif global. Kalangan analis memprediksi window dressing terjadi pada Desember mendatang. Window dressing adalah aksi memoles portfolio oleh fund manager, manajer investasi, dan investor institusi agar bisa berkinerja baik pada tutup tahun. Selama window dressing, terjadi aksi borong saham, sehingga bakal mendongkrak IHSG. Pekan lalu, indeks turun hingga ke level 7.195. Pada pekan ini atau terakhir pada November, IHSD diperkirakan masih fluktuatif untuk mencoba tetap bertahan di atas level 7.150. "Belum tampak indikasi window dressing hingga akhir November 2024. Oleh sebab itu, IHSG diperkirakan masih bergerak fluktuatif dalam rentang 7.150-7.230 pada pekan ini," kata Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan. Valdy mengungkapkan, kondisi eksternal memicu capital outflow dari pasar modal Indonesia. Hal itu membuat momentum window dressing yang biasanya terjadi pada dua bulan terakhir di penghujung tahun belum terlihat. (Yetede)
Dividen Jadi Daya Tarik Saat Pasar Stagnan
HR1
25 Nov 2024 Kontan
Pembagian dividen emiten besar terus menjadi sorotan di pasar saham pekan ini, dengan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) sebagai salah satu yang paling menarik perhatian.
ADRO, yang dimiliki oleh konglomerat Garibaldi Thohir, akan membagikan dividen tunai tambahan senilai US$ 2,62 miliar atau sekitar Rp 1.355 per saham, berdasarkan kurs Rp 15.875 per dolar AS. Jadwal cum dividen ADRO di pasar reguler dan negosiasi jatuh pada 26 November 2024. Dengan dividend yield mendekati 37% dan likuiditas saham yang baik, ADRO dinilai sangat menarik bagi investor, terutama yang fokus pada pendapatan pasif dan potensi capital gain.
Hendra Wardana, Founder Stocknow.id, menyarankan trading buy untuk saham ADRO dengan target harga Rp 3.900 per saham. Sementara itu, William Hartanto, Founder WH Project, memprediksi harga ADRO bisa mencapai Rp 4.200. Keduanya merekomendasikan saham ADRO sebagai pilihan utama di tengah momentum dividen.
Selain ADRO, empat emiten lain yang masuk dalam cum date pekan ini adalah PT Pinago Utama Tbk (PNGO), PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL), PT Idea Indonesia Akademi Tbk (IDEA), dan PT Graha Mitra Asia Tbk (RELF). Namun, saham-saham ini dinilai kurang menarik karena dividend yield yang kecil dan likuiditas rendah.
William Hartanto juga merekomendasikan saham MCOL dengan target harga Rp 5.600–Rp 5.800 per saham, meski daya tariknya lebih rendah dibanding ADRO.
Momentum pembagian dividen ini menjadi peluang strategis bagi investor untuk meraih pendapatan pasif sambil mengejar potensi kenaikan harga saham, terutama di emiten seperti ADRO yang menawarkan dividend yield tinggi.
Pasar Saham Masih Diliputi Ketidakpastian
HR1
25 Nov 2024 Kontan (H)
Kondisi pasar modal Indonesia di tengah ketidakpastian global, seperti ketegangan geopolitik dan terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS, masih penuh tantangan. Hal ini menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level 7.195,56 pada 22 November 2024, dengan penjualan bersih investor asing mencapai Rp 8 triliun dalam dua pekan terakhir.
Adrian Joezer, Head of Equity Market Analyst and Strategy Mandiri Sekuritas, menyebut kondisi ini sebagai "The Waiting Game," di mana investor memilih menunggu kepastian global dan domestik. IHSG diprediksi berpotensi mencapai level 8.150 di akhir 2025, dengan sektor konsumsi, pangan, properti, telekomunikasi, transportasi, dan ritel sebagai sektor favorit.
Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, mencatat bahwa investor juga melirik pasar saham China karena stimulus yang diberikan pemerintah China dan peluang di bursa AS setelah terpilihnya Trump. Nico memperkirakan IHSG dapat naik hingga 7.500 pada Desember 2024 jika sentimen window dressing mendukung, dengan support di level 7.120.
Erindra Krisnawan, Kepala Divisi Equity Research BRI Danareksa Sekuritas, menilai IHSG secara valuasi sudah menarik dengan forward PE sebesar 11,9 kali. Meski demikian, risiko masih ada akibat potensi pelebaran yield obligasi dan pelemahan nilai tukar rupiah. Target IHSG di 2025 dipatok pada level 7.448, dengan skenario bullish di 7.700 dan bearish di 7.200.
Meski ada peluang kenaikan, pasar modal menghadapi volatilitas yang tinggi. Investor diharapkan memiliki strategi sektoral yang fokus, terutama pada sektor perbankan, otomotif, dan ritel di kuartal II 2025.
NPI Rawan Terguncang di Kuartal IV
KT1
22 Nov 2024 Investor Daily (H)
Neraca Pembangunan Indonesia (NPI) rawan terguncang di kuartal IV-2024, seiring gejolak di pasar keuangan domestik akibat arus modal keluar (capital outflow) yang begitu masif. Ini tidak lepas dari kemenanagan Trump di Pilpres Amerika Serikat, Data RTI menyebutkan, dalam sebulan terakhir modal asing sebesar Rp 15 triliun keluar dari pasar saham. Kemarin, asing net sell lagi di saham senilai Rp 1,13 triliun. Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terus tertekan dalam sebulan terakhir, sehingga turun 7,6% ke level 7.140. Analis kini menyebut level support kuat indeks di level 7.000-an, dengan prospek masih menjanjikan, menyusul solidnya fundamental sekonomi nasional dan kinerja emiten papan atas. Di pasar global, imbal hasil (yield) SUN tenor 10 tahun sudah menyetuh 7% pada perdagangan kemarin, setelah menyentuh level terendah sepanjang 2024 pada 20 September sebesar 6,4%. Ini menandakan tekanan jual yang besar, sehingga harga turun dan yield naik. Guncangan di saham dan obligasi membuat rupiah terkapar. Kemarin, rupiah melemah 60 poin ke level Rp 15.930 pper dolar AS. (Yetede)
Saham Baru Bersinar dengan Potensi Keuntungan Tinggi
HR1
22 Nov 2024 Kontan
Beberapa saham pendatang baru di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan performa luar biasa, dengan 10 saham mencetak kenaikan hingga ratusan persen dari harga IPO. Contohnya, PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) melonjak 371,59% dalam waktu singkat sejak debutnya pada 11 November 2024. Saham lain seperti PT Remala Abadi Tbk (DATA), PT Newport Marine Services Tbk (BOAT), dan PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) juga mencatatkan kenaikan signifikan.
Menurut Miftahul Khaer, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, volatilitas saham baru sangat tinggi dan dipengaruhi oleh momentum euforia, prospek emiten, valuasi, serta kualitas manajemen. Namun, Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas menilai bahwa lonjakan ini biasanya hanya bertahan dalam jangka pendek akibat euforia IPO. Valuasi yang tinggi sering kali memicu aksi jual, sehingga harga saham berisiko terkoreksi.
Dari 39 emiten baru tahun ini, 17 saham justru jatuh di bawah harga IPO, seperti PT Bersama Mencapai Puncak Tbk (BAIK) dan PT Mitra Pedagang Indonesia Tbk (MPIX), yang turun masing-masing 78,42% dan 76,49%. Nafan mencatat bahwa penurunan tajam ini sering terjadi pada emiten dengan fundamental lemah, menjadikannya lebih cocok untuk trading jangka pendek daripada investasi.
Miftahul mengingatkan bahwa saham IPO memiliki risiko tinggi, sehingga kurang cocok untuk investor pemula. Ia menyarankan investor berhati-hati terhadap saham dengan valuasi yang terlalu tinggi. Namun, DAAZ dianggap masih menarik untuk dicermati di antara saham-saham pendatang baru lainnya.
Sebagai strategi, Nafan menyarankan memperhatikan volume transaksi sebagai indikator minat pasar. Sementara Miftahul merekomendasikan investor pemula fokus pada saham dengan prospek dan kinerja fundamental yang lebih jelas untuk menghindari risiko besar.
Buyback Saham Jadi Jurus Baru Menarik Investor
HR1
22 Nov 2024 Kontan
Menjelang akhir 2024, sejumlah emiten, termasuk PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) dan PT Harum Energy Tbk (HRUM), gencar melakukan aksi pembelian kembali (buyback) saham. TOBA telah mendapatkan persetujuan RUPSLB untuk buyback hingga 10% dari modalnya, dengan anggaran Rp 425,49 miliar. Sementara itu, HRUM menyiapkan anggaran Rp 1 triliun untuk buyback hingga September 2025.
Menurut Miftahul Khaer, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, buyback saham biasanya meningkatkan kepercayaan investor, terutama jika harga saham emiten telah turun signifikan. Aksi ini dapat mendorong nilai pasar saham dalam jangka pendek. Maximilianus Nico Demus, Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, menambahkan bahwa buyback juga berdampak positif pada rasio keuangan emiten, seperti meningkatkan earning per share (EPS) karena jumlah saham yang beredar berkurang, menjadikan saham lebih menarik bagi investor.
Martha Christina, Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas, menilai bahwa sumber anggaran buyback umumnya berasal dari kas internal yang sedang tidak digunakan untuk ekspansi. Saham hasil buyback akan menjadi saham treasuri yang dapat dilepas kembali ketika harga saham naik, menciptakan fleksibilitas bagi emiten.
Namun, keberhasilan buyback sangat bergantung pada besarnya anggaran. Jika dana buyback kecil, emiten memiliki keterbatasan untuk memengaruhi harga pasar secara signifikan. Oleh karena itu, besaran anggaran menjadi kunci efektivitas aksi ini.
Dari berbagai emiten yang melakukan buyback, Nico merekomendasikan HRUM dengan target harga Rp 1.650 per saham. Sedangkan Miftahul merekomendasikan trading buy untuk TOBA dan HRUM dengan target masing-masing Rp 530 dan Rp 1.220 per saham. Aksi buyback ini memberikan sentimen positif bagi prospek emiten sekaligus meningkatkan daya tarik saham di mata investor.
Saham Grup Bakrie Tetap Menarik Perhatian Investor
HR1
21 Nov 2024 Kontan
Saham emiten yang terafiliasi dengan Grup Bakrie mencatatkan kinerja yang sangat positif sepanjang tahun ini, dengan BRMS dan DEWA menjadi motor penggerak utama. Saham BRMS terbang 155,29%, sementara DEWA melonjak 103,33%. Selain itu, BUMI juga mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 72,94%. Emiten terbaru grup Bakrie, ALII, juga menunjukkan performa yang baik sejak IPO pada Februari 2024.
Kenaikan harga saham ini dipengaruhi oleh ekspektasi fundamental yang kuat, prospek proyek masa depan, dan konsolidasi grup, termasuk masuknya Grup Salim sebagai pemegang saham utama. Angga Septianus, Community Lead di Indo Premier Sekuritas (IPOT), mencatat bahwa proyeksi prospek emiten grup Bakrie, seperti BRMS, BUMI, dan DEWA, menarik perhatian pasar.
Selain itu, faktor eksternal seperti kenaikan harga komoditas, terutama batubara dan energi, juga berperan besar dalam mendorong kenaikan saham emiten Bakrie. Hendra Wardana, Founder Stocknow.id, menilai lonjakan saham ini juga didorong oleh optimisme pasar terkait proyek-proyek baru yang dikembangkan, meskipun ada elemen spekulatif yang mempengaruhi pergerakan saham.
Namun, meski sentimen positif mendukung kenaikan saham, Hendra menegaskan bahwa emiten grup Bakrie perlu langkah konkret untuk memperkuat kinerja keuangan mereka. Dengan strategi yang tepat, seperti perbaikan struktur utang dan pengembangan proyek smelter, prospek jangka panjang masih terbuka lebar.
Pilihan Editor
-
Agenda Kebijakan Biden Akan Tersusun di 2022
29 Dec 2021 -
Tujuh Kantor Pajak Besar Penuhi Target Setoran
14 Dec 2021 -
Rencana Riset dan Inovasi 2022 Disiapkan
14 Dec 2021 -
Yuk, Menggali Utang di Negeri Sendiri
14 Dec 2021









