;
Tags

Saham

( 1717 )

NPI Rawan Terguncang di Kuartal IV

KT1 22 Nov 2024 Investor Daily (H)
Neraca Pembangunan Indonesia (NPI) rawan terguncang di kuartal IV-2024, seiring gejolak di pasar keuangan domestik akibat arus modal keluar (capital outflow) yang begitu masif. Ini tidak lepas dari kemenanagan Trump di Pilpres Amerika Serikat, Data RTI menyebutkan, dalam sebulan terakhir  modal asing sebesar Rp 15 triliun keluar dari pasar saham. Kemarin, asing net sell lagi di saham senilai Rp 1,13 triliun. Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terus tertekan dalam sebulan terakhir, sehingga turun 7,6% ke level 7.140. Analis kini menyebut level support kuat indeks di level 7.000-an, dengan prospek masih menjanjikan, menyusul solidnya fundamental sekonomi nasional dan kinerja emiten papan atas. Di pasar global, imbal hasil (yield) SUN tenor 10 tahun sudah menyetuh 7% pada perdagangan kemarin, setelah menyentuh level terendah sepanjang 2024 pada 20 September sebesar 6,4%. Ini menandakan tekanan jual yang besar, sehingga harga turun dan yield naik. Guncangan di saham dan obligasi membuat rupiah terkapar. Kemarin, rupiah melemah 60 poin ke level Rp 15.930 pper dolar AS. (Yetede)

Saham Baru Bersinar dengan Potensi Keuntungan Tinggi

HR1 22 Nov 2024 Kontan
Beberapa saham pendatang baru di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan performa luar biasa, dengan 10 saham mencetak kenaikan hingga ratusan persen dari harga IPO. Contohnya, PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) melonjak 371,59% dalam waktu singkat sejak debutnya pada 11 November 2024. Saham lain seperti PT Remala Abadi Tbk (DATA), PT Newport Marine Services Tbk (BOAT), dan PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) juga mencatatkan kenaikan signifikan.

Menurut Miftahul Khaer, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, volatilitas saham baru sangat tinggi dan dipengaruhi oleh momentum euforia, prospek emiten, valuasi, serta kualitas manajemen. Namun, Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas menilai bahwa lonjakan ini biasanya hanya bertahan dalam jangka pendek akibat euforia IPO. Valuasi yang tinggi sering kali memicu aksi jual, sehingga harga saham berisiko terkoreksi.

Dari 39 emiten baru tahun ini, 17 saham justru jatuh di bawah harga IPO, seperti PT Bersama Mencapai Puncak Tbk (BAIK) dan PT Mitra Pedagang Indonesia Tbk (MPIX), yang turun masing-masing 78,42% dan 76,49%. Nafan mencatat bahwa penurunan tajam ini sering terjadi pada emiten dengan fundamental lemah, menjadikannya lebih cocok untuk trading jangka pendek daripada investasi.

Miftahul mengingatkan bahwa saham IPO memiliki risiko tinggi, sehingga kurang cocok untuk investor pemula. Ia menyarankan investor berhati-hati terhadap saham dengan valuasi yang terlalu tinggi. Namun, DAAZ dianggap masih menarik untuk dicermati di antara saham-saham pendatang baru lainnya.

Sebagai strategi, Nafan menyarankan memperhatikan volume transaksi sebagai indikator minat pasar. Sementara Miftahul merekomendasikan investor pemula fokus pada saham dengan prospek dan kinerja fundamental yang lebih jelas untuk menghindari risiko besar.

Buyback Saham Jadi Jurus Baru Menarik Investor

HR1 22 Nov 2024 Kontan
Menjelang akhir 2024, sejumlah emiten, termasuk PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) dan PT Harum Energy Tbk (HRUM), gencar melakukan aksi pembelian kembali (buyback) saham. TOBA telah mendapatkan persetujuan RUPSLB untuk buyback hingga 10% dari modalnya, dengan anggaran Rp 425,49 miliar. Sementara itu, HRUM menyiapkan anggaran Rp 1 triliun untuk buyback hingga September 2025.

Menurut Miftahul Khaer, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, buyback saham biasanya meningkatkan kepercayaan investor, terutama jika harga saham emiten telah turun signifikan. Aksi ini dapat mendorong nilai pasar saham dalam jangka pendek. Maximilianus Nico Demus, Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, menambahkan bahwa buyback juga berdampak positif pada rasio keuangan emiten, seperti meningkatkan earning per share (EPS) karena jumlah saham yang beredar berkurang, menjadikan saham lebih menarik bagi investor.

Martha Christina, Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas, menilai bahwa sumber anggaran buyback umumnya berasal dari kas internal yang sedang tidak digunakan untuk ekspansi. Saham hasil buyback akan menjadi saham treasuri yang dapat dilepas kembali ketika harga saham naik, menciptakan fleksibilitas bagi emiten.

Namun, keberhasilan buyback sangat bergantung pada besarnya anggaran. Jika dana buyback kecil, emiten memiliki keterbatasan untuk memengaruhi harga pasar secara signifikan. Oleh karena itu, besaran anggaran menjadi kunci efektivitas aksi ini.

Dari berbagai emiten yang melakukan buyback, Nico merekomendasikan HRUM dengan target harga Rp 1.650 per saham. Sedangkan Miftahul merekomendasikan trading buy untuk TOBA dan HRUM dengan target masing-masing Rp 530 dan Rp 1.220 per saham. Aksi buyback ini memberikan sentimen positif bagi prospek emiten sekaligus meningkatkan daya tarik saham di mata investor.

Saham Grup Bakrie Tetap Menarik Perhatian Investor

HR1 21 Nov 2024 Kontan
Saham emiten yang terafiliasi dengan Grup Bakrie mencatatkan kinerja yang sangat positif sepanjang tahun ini, dengan BRMS dan DEWA menjadi motor penggerak utama. Saham BRMS terbang 155,29%, sementara DEWA melonjak 103,33%. Selain itu, BUMI juga mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 72,94%. Emiten terbaru grup Bakrie, ALII, juga menunjukkan performa yang baik sejak IPO pada Februari 2024.

Kenaikan harga saham ini dipengaruhi oleh ekspektasi fundamental yang kuat, prospek proyek masa depan, dan konsolidasi grup, termasuk masuknya Grup Salim sebagai pemegang saham utama. Angga Septianus, Community Lead di Indo Premier Sekuritas (IPOT), mencatat bahwa proyeksi prospek emiten grup Bakrie, seperti BRMS, BUMI, dan DEWA, menarik perhatian pasar.

Selain itu, faktor eksternal seperti kenaikan harga komoditas, terutama batubara dan energi, juga berperan besar dalam mendorong kenaikan saham emiten Bakrie. Hendra Wardana, Founder Stocknow.id, menilai lonjakan saham ini juga didorong oleh optimisme pasar terkait proyek-proyek baru yang dikembangkan, meskipun ada elemen spekulatif yang mempengaruhi pergerakan saham.

Namun, meski sentimen positif mendukung kenaikan saham, Hendra menegaskan bahwa emiten grup Bakrie perlu langkah konkret untuk memperkuat kinerja keuangan mereka. Dengan strategi yang tepat, seperti perbaikan struktur utang dan pengembangan proyek smelter, prospek jangka panjang masih terbuka lebar.

Suku Bunga BI Jadi Penentu Arah Bursa Saham

HR1 20 Nov 2024 Kontan
Pekan ini, perhatian pelaku pasar tertuju pada keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), yang diperkirakan akan tetap dipertahankan di level 6%. Pelaku pasar akan mencermati pernyataan BI mengenai prospek ekonomi dan strategi menghadapi risiko global yang dapat mempengaruhi arus modal asing. Sukarno Alatas, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai jika BI menurunkan suku bunga, pasar dapat merespons dengan dua skenario: bullish, jika penurunan dianggap mendorong pertumbuhan kredit, atau bearish, jika dikhawatirkan melemahkan nilai tukar rupiah.

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, setuju bahwa pelemahan rupiah akan mendorong BI untuk menahan suku bunga guna menjaga stabilitas pasar. Sektor yang diperkirakan menarik jika suku bunga ditahan adalah finansial, konsumer non-cyclical, dan konsumer cyclical. Namun, jika terjadi pemangkasan suku bunga mendadak, sektor finansial, properti, dan otomotif akan lebih cenderung bergerak.

Pandhu Dewanto, analis Investindo Nusantara Sekuritas, mengingatkan potensi window dressing menjelang akhir tahun. Meredanya tekanan jual akibat capital outflow dapat mendorong arus beli, memberikan peluang bagi saham big caps yang telah terkoreksi untuk mencatatkan kenaikan. Secara keseluruhan, meskipun prospek jangka pendek lebih menarik, pelaku pasar cenderung berhati-hati menunggu keputusan BI terkait suku bunga.

Momentum Kebangkitan Saham BUMN

HR1 19 Nov 2024 Bisnis Indonesia (H)

Meskipun saham-saham BUMN, seperti BBRI, BMRI, BBNI, dan TLKM, telah menjadi sasaran aksi jual investor asing dan mengalami kinerja yang kurang baik belakangan ini, terdapat sejumlah sentimen positif yang dapat memicu rebound pada saham-saham tersebut. Beberapa faktor yang mendukung potensi pemulihan ini antara lain konsolidasi di kalangan BUMN Karya, program pemerintah yang melibatkan BUMN dalam Program Makan Bergizi Gratis, serta pembentukan Danantara yang bertujuan untuk mengonsolidasikan BUMN. Selain itu, peraturan pemerintah yang membebaskan bank-bank BUMN dari risiko politik terkait kredit macet UMKM turut memberikan sentimen positif.

Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst dari Mirae Asset Sekuritas, meyakini bahwa perombakan pengurus BUMN yang dilakukan oleh pemerintah dapat meningkatkan kinerja emiten BUMN, asalkan pengurus yang baru berkompeten dan memiliki komitmen terhadap good corporate governance. Ia juga merekomendasikan investor untuk "buy on weakness" pada saham-saham pelat merah, termasuk BBNI, TLKM, BMRI, JSMR, PTBA, dan ADHI, mengingat prospek positif yang masih ada hingga akhir tahun.

Namun, beberapa analis, seperti Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas, memperingatkan investor untuk berhati-hati terhadap saham BUMN, karena pergerakan indeks BUMN20 saat ini berada dalam tren menurun (downtrend). Felix Darmawan dari Panin Sekuritas juga menekankan bahwa untuk membalikkan tren negatif ini, diperlukan sentimen yang kuat, seperti stabilitas ekonomi global dan kinerja keuangan yang solid.

Kementerian BUMN, melalui Menteri Erick Thohir, tetap fokus pada pembenahan dan peningkatan kualitas BUMN, termasuk memperkuat kerja sama dengan sektor swasta, guna menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif dan mencapai keseimbangan antara BUMN, swasta, UMKM, serta investor.

Secara keseluruhan, meskipun ada tantangan yang dihadapi saham BUMN, potensi rebound tetap ada dengan adanya berbagai inisiatif dari pemerintah dan perbaikan di tubuh BUMN. Namun, investor disarankan untuk tetap berhati-hati dan memperhatikan perkembangan sentimen pasar dan kebijakan pemerintah.



Membangun Kepercayaan Investor di Saham BUMN

HR1 19 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Saham-saham BUMN menghadapi tekanan jual signifikan dari investor asing, terutama emiten besar seperti BBRI, BMRI, BBNI, dan TLKM, yang menyebabkan indeks IDX BUMN20 mengalami penurunan sebesar 11,58% (year-to-date/YtD) hingga pertengahan November 2024. Penyebab utama dari tekanan tersebut adalah sentimen eksternal, seperti terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat dan kebijakan proteksionisme yang berpotensi mempengaruhi ekonomi global. Hal ini, ditambah dengan sikap hawkish dari Bank Sentral AS (The Fed) dan ketidakpastian geopolitik, membuat investor asing kembali menarik dana dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Namun, ada sejumlah sentimen domestik yang berpotensi mengangkat kinerja saham BUMN di masa depan. Beberapa faktor positif tersebut antara lain konsolidasi di kalangan BUMN Karya, seperti rencana penggabungan PT Waskita Karya (WSKT) dan PT Hutama Karya (Persero), serta program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis yang melibatkan BUMN besar seperti BBRI, BMRI, BBNI, TLKM, dan PGAS. Selain itu, Pemerintah juga menerbitkan Peraturan Pemerintah No. 47/2024 tentang Penghapusan Piutang Macet kepada UMKM yang membebaskan bank-bank BUMN dari risiko politik terkait kredit macet, serta perombakan pengurus BUMN yang diharapkan dapat meningkatkan kinerja perusahaan-perusahaan pelat merah.

Menteri BUMN, Erick Thohir, juga mengumumkan pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) yang akan menjadi superholding BUMN. Ada yang memandang bahwa Danantara bisa menjadi katalis positif untuk emiten-emiten pelat merah besar, namun ada pula yang khawatir bahwa perubahan ini bisa menambah tekanan pada saham-saham BUMN. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk memberikan penjelasan yang transparan dan meyakinkan investor mengenai manfaat dan dampak dari Danantara, terutama terkait dengan status saham BUMN yang akan dialihkan ke lembaga baru ini.

Sejumlah analis mengingatkan bahwa meskipun ada potensi pemulihan, perhatian yang lebih besar perlu diberikan untuk memastikan bahwa perubahan struktural ini tidak merugikan investor atau menciptakan ketidakpastian yang lebih besar di pasar saham.



Saham Blue Chip Tunggu Sentimen Window Dressing

HR1 19 Nov 2024 Kontan
Saham-saham blue chip mengalami penurunan seiring dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang tercermin dari anjloknya indeks LQ45 sebesar 0,45% pada 18 November 2024. Penyebab utama penurunan ini adalah aksi jual atau capital outflow investor asing, terutama terhadap saham-saham bank besar seperti BBRI, BBCA, dan BMRI, yang terus terjadi sejak Mei 2024. Dimas Krisna Ramadhani, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, mengungkapkan bahwa arah pergerakan saham blue chip sangat bergantung pada aksi pembelian atau penjualan oleh investor asing.

Sementara itu, Pandhu Dewanto, Analis Investindo Nusantara Sekuritas, mencatat bahwa investor juga masih cenderung berhati-hati menunggu kebijakan pemerintah baru di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, yang turut mempengaruhi sentimen pasar. William Hartanto, Pengamat Pasar Modal, memperingatkan bahwa meski ada harapan saham blue chip bisa menguat, pelaku pasar harus tetap selektif dan berhati-hati, mengingat IHSG masih dalam fase pengujian level support.

Di sisi positif, Hendra Wardana, Founder Stocknow.id, melihat potensi window dressing yang bisa mengangkat saham-saham blue chip, dengan suku bunga acuan BI yang berpotensi memberikan sentimen positif, terutama bagi sektor perbankan dan barang konsumsi. Para analis menyarankan untuk buy on weakness pada saham-saham seperti BBRI, BMRI, INDF, dan BBCA, dengan memperhatikan sentimen pasar yang mulai mereda dan volume perdagangan yang menunjukkan tekanan jual berkurang.

Grup Sinar Mas Jual Sebagian Kepemilikannya di Saham Smartfren

KT1 16 Nov 2024 Investor Daily (H)
Emiten Grup Sinar Mas, PT Dian Swatatika Sentosa Tbk (DSSA), menjual sebagian kepemilikan sahamnya di PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) kepada PT Bali Media Telekomunikasi (BMT). Penjualan 22,48 miliar sham FREN (4,72%) senilai Rp 562,16 miliar tersebut, merupakan upaya restrukturisasi internal dan penataan kembali portfolio investasi perseroan. "Melalui penjualan saham, perseroan berharap dapat berfokus pada pengembangan usaha dan pengelolaan portfolio investasi yang lebih sistematis," kata  manajemen Dian Swastika. Manajemen DSSA mengungkapkan,  sejak beberapa tahun terakhir perseroan telah menyusun dan melaksanakan rencana strategis untuk beralih menuju bisnis energi baru dan terbarukan serta pengembangan eksositem digital yang mendukung visi jangka panjang perseroan. Untuk menciptakan landasan bagi tercapainya rencana strategis, memberdayakan aset, dan melakukan penataan kembali porftolio investasi. "Sebagai kelanjutan, pada tanggal 15 November 2024, perseroan melaksanakan transaksi penjualan saham yang dimiliki oleh perseroan dalam FREN dengan nilai transaksi penjualan saham sebesar Rp562,15 miliar," tulis manajemen FREN. (Yetede)

Optimisme di Tengah Potensi Pasar Saham

HR1 16 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat, 15 November, disebabkan oleh aksi jual investor asing yang berfokus pada ketidakpastian global, terutama terkait Pemilu AS dan kebijakan proteksionisme yang mungkin diambil oleh Presiden AS, Donald Trump. Meskipun demikian, Rizky Hidayat, Investment Specialist dari Schroders Indonesia, menilai bahwa valuasi pasar saham Indonesia saat ini masih menarik dengan PE ratio 14 kali, yang terdiskon dibandingkan dengan pasar saham AS, Jepang, atau India. Oleh karena itu, Schroders tetap optimis terhadap prospek jangka panjang pasar saham Indonesia, meskipun kondisi makroekonomi saat ini lebih mempengaruhi sentimen investor.

Selain itu, analis dari Maybank Sekuritas Indonesia merevisi target IHSG untuk 2024 menjadi 7.900, dengan proyeksi pertumbuhan laba yang solid. MNC Sekuritas juga mencatat dampak kebijakan proteksionisme AS terhadap aliran dana keluar dari pasar negara berkembang, sementara Mirae Asset Sekuritas menganggap sentimen positif dari data ekonomi AS bisa membuka peluang bagi pelonggaran kebijakan moneter.

Para analis juga memberikan rekomendasi saham yang berpotensi stabil meskipun pasar sedang tertekan, seperti PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Adaro Energy Indonesia (ADRO), dan PT Bank Mandiri (BMRI). Dengan adanya ketidakpastian global, mereka menekankan pentingnya pemilihan saham yang selektif dan lebih oportunistik dalam menghadapi fluktuasi pasar.