Saham
( 1722 )Suku Bunga BI Jadi Penentu Arah Bursa Saham
Momentum Kebangkitan Saham BUMN
Meskipun saham-saham BUMN, seperti BBRI, BMRI, BBNI, dan TLKM, telah menjadi sasaran aksi jual investor asing dan mengalami kinerja yang kurang baik belakangan ini, terdapat sejumlah sentimen positif yang dapat memicu rebound pada saham-saham tersebut. Beberapa faktor yang mendukung potensi pemulihan ini antara lain konsolidasi di kalangan BUMN Karya, program pemerintah yang melibatkan BUMN dalam Program Makan Bergizi Gratis, serta pembentukan Danantara yang bertujuan untuk mengonsolidasikan BUMN. Selain itu, peraturan pemerintah yang membebaskan bank-bank BUMN dari risiko politik terkait kredit macet UMKM turut memberikan sentimen positif.
Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst dari Mirae Asset Sekuritas, meyakini bahwa perombakan pengurus BUMN yang dilakukan oleh pemerintah dapat meningkatkan kinerja emiten BUMN, asalkan pengurus yang baru berkompeten dan memiliki komitmen terhadap good corporate governance. Ia juga merekomendasikan investor untuk "buy on weakness" pada saham-saham pelat merah, termasuk BBNI, TLKM, BMRI, JSMR, PTBA, dan ADHI, mengingat prospek positif yang masih ada hingga akhir tahun.
Namun, beberapa analis, seperti Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas, memperingatkan investor untuk berhati-hati terhadap saham BUMN, karena pergerakan indeks BUMN20 saat ini berada dalam tren menurun (downtrend). Felix Darmawan dari Panin Sekuritas juga menekankan bahwa untuk membalikkan tren negatif ini, diperlukan sentimen yang kuat, seperti stabilitas ekonomi global dan kinerja keuangan yang solid.
Kementerian BUMN, melalui Menteri Erick Thohir, tetap fokus pada pembenahan dan peningkatan kualitas BUMN, termasuk memperkuat kerja sama dengan sektor swasta, guna menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif dan mencapai keseimbangan antara BUMN, swasta, UMKM, serta investor.
Secara keseluruhan, meskipun ada tantangan yang dihadapi saham BUMN, potensi rebound tetap ada dengan adanya berbagai inisiatif dari pemerintah dan perbaikan di tubuh BUMN. Namun, investor disarankan untuk tetap berhati-hati dan memperhatikan perkembangan sentimen pasar dan kebijakan pemerintah.
Membangun Kepercayaan Investor di Saham BUMN
Saham-saham BUMN menghadapi tekanan jual signifikan dari investor asing, terutama emiten besar seperti BBRI, BMRI, BBNI, dan TLKM, yang menyebabkan indeks IDX BUMN20 mengalami penurunan sebesar 11,58% (year-to-date/YtD) hingga pertengahan November 2024. Penyebab utama dari tekanan tersebut adalah sentimen eksternal, seperti terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat dan kebijakan proteksionisme yang berpotensi mempengaruhi ekonomi global. Hal ini, ditambah dengan sikap hawkish dari Bank Sentral AS (The Fed) dan ketidakpastian geopolitik, membuat investor asing kembali menarik dana dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Namun, ada sejumlah sentimen domestik yang berpotensi mengangkat kinerja saham BUMN di masa depan. Beberapa faktor positif tersebut antara lain konsolidasi di kalangan BUMN Karya, seperti rencana penggabungan PT Waskita Karya (WSKT) dan PT Hutama Karya (Persero), serta program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis yang melibatkan BUMN besar seperti BBRI, BMRI, BBNI, TLKM, dan PGAS. Selain itu, Pemerintah juga menerbitkan Peraturan Pemerintah No. 47/2024 tentang Penghapusan Piutang Macet kepada UMKM yang membebaskan bank-bank BUMN dari risiko politik terkait kredit macet, serta perombakan pengurus BUMN yang diharapkan dapat meningkatkan kinerja perusahaan-perusahaan pelat merah.
Menteri BUMN, Erick Thohir, juga mengumumkan pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) yang akan menjadi superholding BUMN. Ada yang memandang bahwa Danantara bisa menjadi katalis positif untuk emiten-emiten pelat merah besar, namun ada pula yang khawatir bahwa perubahan ini bisa menambah tekanan pada saham-saham BUMN. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk memberikan penjelasan yang transparan dan meyakinkan investor mengenai manfaat dan dampak dari Danantara, terutama terkait dengan status saham BUMN yang akan dialihkan ke lembaga baru ini.
Sejumlah analis mengingatkan bahwa meskipun ada potensi pemulihan, perhatian yang lebih besar perlu diberikan untuk memastikan bahwa perubahan struktural ini tidak merugikan investor atau menciptakan ketidakpastian yang lebih besar di pasar saham.
Saham Blue Chip Tunggu Sentimen Window Dressing
Grup Sinar Mas Jual Sebagian Kepemilikannya di Saham Smartfren
Optimisme di Tengah Potensi Pasar Saham
Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat, 15 November, disebabkan oleh aksi jual investor asing yang berfokus pada ketidakpastian global, terutama terkait Pemilu AS dan kebijakan proteksionisme yang mungkin diambil oleh Presiden AS, Donald Trump. Meskipun demikian, Rizky Hidayat, Investment Specialist dari Schroders Indonesia, menilai bahwa valuasi pasar saham Indonesia saat ini masih menarik dengan PE ratio 14 kali, yang terdiskon dibandingkan dengan pasar saham AS, Jepang, atau India. Oleh karena itu, Schroders tetap optimis terhadap prospek jangka panjang pasar saham Indonesia, meskipun kondisi makroekonomi saat ini lebih mempengaruhi sentimen investor.
Selain itu, analis dari Maybank Sekuritas Indonesia merevisi target IHSG untuk 2024 menjadi 7.900, dengan proyeksi pertumbuhan laba yang solid. MNC Sekuritas juga mencatat dampak kebijakan proteksionisme AS terhadap aliran dana keluar dari pasar negara berkembang, sementara Mirae Asset Sekuritas menganggap sentimen positif dari data ekonomi AS bisa membuka peluang bagi pelonggaran kebijakan moneter.
Para analis juga memberikan rekomendasi saham yang berpotensi stabil meskipun pasar sedang tertekan, seperti PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Adaro Energy Indonesia (ADRO), dan PT Bank Mandiri (BMRI). Dengan adanya ketidakpastian global, mereka menekankan pentingnya pemilihan saham yang selektif dan lebih oportunistik dalam menghadapi fluktuasi pasar.
Minimnya Dukungan Asing di Saham Big Caps
Saham Lapisan Kedua Mulai Tersisih
Pasar Saham Asia Menjanjikan Peluang Baru
BEI meluncurkan produk kontrak berjangka saham atau single stock futures
BEI meresmikan peluncuran produk kontrak berjangka saham atau single stock futures. Tiga anggota bursa siap memperdagangkan produk derivatif tersebut. Produk ini diharapkan dapat meningkatkan transaksi di pasar modal. BEI dengan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) serta OJK menyelenggarakan grand launching produk tersebut di Jakarta, Selasa (12/11). Dirut BEI, Iman Rachman, dalam sambutannya, menjelaskan, single stock futures (SSF) merupakan produk derivatif berupa perjanjian atau kontrak di antara dua belah pihak untuk menjual atau membeli suatu saham di masa depan dengan harga dan waktu yang telah ditentukan.
Adapun transaksi SSF dapat diselesaikan secara tunai dalam waktu satu hari bursa (T+1). ”Investor dapat mengambil posisi beli (long) ketika pasar sedang bullish atau posisi jual (short) ketika pasar sedang bearish untuk memperoleh potensi keuntungan,” kata Iman. Nasabah yang memegang kontrak pembelian atau long akan mendapatkan keuntungan jika harga aset dari saham tertentu yang menjadi dasar kontrak future tersebut naik, karena nasabah telah mengunci harga yang lebih rendah dibanding harga di pasar (spot). Sebaliknya, para pemegang kontrak penjualan atau short akan mendapatkan keuntungan jika harga di spot turun.
Sebelumnya, investor yang memegang kontrak penjualan telah mengunci harga aset yang menjadi dasar kontrak tersebut pada harga yang lebih tinggi dibanding harga spot. Jika dalam investasi saham perlu modal 100 % dari nilai transaksi untuk membeli suatu saham, SSF dapat dibeli dengan modal minimal 4 % dari nilai transaksi atau harga saham underlying. Persentase keuntungan yang didapatkan dari SSF berpotensi lebih besar karena biaya investasi lebih sedikit walaupun risiko lebih besar dari perdagangan saham. ”Saat ini akan terdapat 15 seri produk dari SSF, yang terdiri lima saham konstituen indeks LQ45, yaitu BBCA, BBRI, TLKM, ASII, dan MDKA. Masing-masing terdiri dari tiga produk kontrak dalam jangka waktu 1 bulan, 2 bulan, dan 3 bulan,” ujar Iman. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Rencana Riset dan Inovasi 2022 Disiapkan
14 Dec 2021 -
Tujuh Kantor Pajak Besar Penuhi Target Setoran
14 Dec 2021 -
Yuk, Menggali Utang di Negeri Sendiri
14 Dec 2021









