;
Tags

Saham

( 1717 )

Minimnya Dukungan Asing di Saham Big Caps

HR1 15 Nov 2024 Kontan (H)
Aksi jual investor asing terus menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dengan net sell asing mencapai Rp 6,34 triliun dalam sepekan terakhir. Sementara itu, investor domestik mendominasi pasar, menyumbang 66% nilai transaksi pada Kamis (14/11).

Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat, menyoroti bahwa saham big cap menghadapi persoalan berat. Dari 10 emiten kapitalisasi pasar terbesar, hanya empat yang dianggap memiliki kinerja konsisten, yaitu PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). Beberapa saham lain, seperti PANI, dinilai mengalami kenaikan kapitalisasi yang tidak wajar.

Menurut Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, hedge fund global seperti Blackrock Inc dan JP Morgan cenderung menghindari saham big cap seperti BYAN, DSSA, dan PANI karena risiko sektor, lingkungan, serta regulasi yang tinggi. Sebaliknya, saham sektor keuangan tetap menarik karena stabilitasnya.

Dana asing yang keluar dari pasar domestik diduga beralih ke pasar saham AS, aset kripto, dan dolar AS. Certified Elliott Wave Analyst, Daniel Agustinus, mengaitkan hal ini dengan kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden AS, serta meningkatnya inflasi AS yang memicu penundaan penurunan suku bunga The Fed.

Menurut Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas, janji Trump terkait insentif sektor teknologi mendorong pasar kripto. Kondisi ini membuat IHSG sulit mencapai target 7.800 di akhir tahun. Teguh memperkirakan IHSG maksimal di 8.000, namun pergerakan saham big cap akan terbatas. Daniel bahkan lebih konservatif, memproyeksikan IHSG di 7.600.

Keberlanjutan arus modal asing ke Indonesia akan sangat bergantung pada kebijakan suku bunga The Fed dan prospek pasar global.

Saham Lapisan Kedua Mulai Tersisih

HR1 15 Nov 2024 Kontan
Saham lapis kedua (second liner) yang sebelumnya sempat menguat kini mulai tertekan, seiring meningkatnya ketidakpastian pasar. Contohnya, saham Grup Bakrie seperti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang mengalami koreksi setelah kenaikan signifikan. Selain itu, IDX SMC Composite juga menunjukkan tekanan serupa. Hal ini diiringi oleh nilai transaksi harian Bursa Efek Indonesia yang menurun menjadi sekitar Rp 10 triliun, dibandingkan rata-rata tahunan Rp 12,8 triliun.

Oktavianus Audi, VP Marketing, Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia, menyatakan pasar sedang wait and see karena pengaruh ketidakpastian global, seperti hasil Pilpres AS dan kebijakan suku bunga. Sementara itu, saham-saham big cap yang sudah terdiskon dari nilai intrinsiknya kembali menarik perhatian investor.

Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, mencatat bahwa aliran dana juga mengarah pada saham-saham IPO, seperti PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) yang terus mencatatkan kenaikan signifikan. Di tengah sentimen ini, ia merekomendasikan strategi membeli saham blue chip yang oversold atau memiliki valuasi terdiskon. Saham sektor keuangan, bahan baku, konsumer, dan energi seperti BMRI, BBCA, BRIS, ICBP, dan ADMR dianggap menarik untuk diakumulasi dengan pendekatan dollar-cost averaging.

Untuk investor jangka pendek, peluang window dressing pada Desember bisa dimanfaatkan untuk meraih keuntungan dari potensi rally pasar. Namun, Audi mengingatkan, untuk saham second liner, investor perlu mencermati momentum pergerakan harga dan berinvestasi dengan strategi jangka pendek. Dengan kondisi pasar saat ini, saham blue chip tetap menjadi opsi utama untuk mengurangi risiko.

Pasar Saham Asia Menjanjikan Peluang Baru

HR1 14 Nov 2024 Kontan
Pasar saham Asia, termasuk Indonesia, dinilai memiliki prospek jangka panjang yang menarik di tengah ketidakpastian global. Jonathan Garner, analis Morgan Stanley, memprediksi kapitalisasi pasar Asia akan tumbuh signifikan hingga mencapai USD 40,9 triliun pada 2027, dengan Indonesia diproyeksikan menyumbang lebih dari USD 1 triliun. Potensi ini didukung oleh pertumbuhan ekonomi regional dan besarnya populasi Asia.

Sektor perbankan menjadi sorotan utama sebagai penopang pasar. Nick Lord, analis Morgan Stanley, merekomendasikan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebagai salah satu opsi investasi unggulan. BBCA diperkirakan akan mengalami pertumbuhan kredit stabil di kisaran 13% pada 2024–2026, dengan net interest margin (NIM) yang juga stabil. Target harga BBCA ditetapkan pada Rp 11.741 per saham, menunjukkan potensi menarik bagi investor.

Namun, dalam jangka pendek, pasar saham Indonesia masih menghadapi risiko, termasuk minimnya katalis positif di sektor keuangan dan komoditas. Menurut analis Algo Research, harga saham perbankan rentan terhadap aliran modal asing, sementara sektor komoditas sangat bergantung pada ekonomi China. Kendati demikian, sektor teknologi, seperti PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) dan PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), menawarkan peluang menarik dengan potensi aksi korporasi.

Nafan Aji Gusta, analis Mirae Asset Sekuritas, mengingatkan dampak politik global, seperti pelantikan Donald Trump pada Januari 2025, yang berpotensi memengaruhi pasar Indonesia. Ia merekomendasikan strategi buy on weakness untuk saham BBCA dengan target harga hingga Rp 13.100.

Pasar saham Indonesia menawarkan potensi jangka panjang yang solid, namun investor perlu waspada terhadap risiko jangka pendek dan mencermati sektor-sektor unggulan untuk memaksimalkan peluang investasi.

BEI meluncurkan produk kontrak berjangka saham atau single stock futures

KT3 13 Nov 2024 Kompas

BEI meresmikan peluncuran produk kontrak berjangka saham atau single stock futures. Tiga anggota bursa siap memperdagangkan produk derivatif tersebut. Produk ini diharapkan dapat meningkatkan transaksi di pasar modal. BEI dengan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) serta OJK menyelenggarakan grand launching produk tersebut di Jakarta, Selasa (12/11). Dirut BEI, Iman Rachman, dalam sambutannya, menjelaskan, single stock futures (SSF) merupakan produk derivatif berupa perjanjian atau kontrak di antara dua belah pihak untuk menjual atau membeli suatu saham di masa depan dengan harga dan waktu yang telah ditentukan.

Adapun transaksi SSF dapat diselesaikan secara tunai dalam waktu satu hari bursa (T+1). ”Investor dapat mengambil posisi beli (long) ketika pasar sedang bullish atau posisi jual (short) ketika pasar sedang bearish untuk memperoleh potensi keuntungan,” kata Iman. Nasabah yang memegang kontrak pembelian atau long akan mendapatkan keuntungan jika harga aset dari saham tertentu yang menjadi dasar kontrak future tersebut naik, karena nasabah telah mengunci harga yang lebih rendah dibanding harga di pasar (spot). Sebaliknya, para pemegang kontrak penjualan atau short akan mendapatkan keuntungan jika harga di spot turun.

Sebelumnya, investor yang memegang kontrak penjualan telah mengunci harga aset yang menjadi dasar kontrak tersebut pada harga yang lebih tinggi dibanding harga spot. Jika dalam investasi saham perlu modal 100 % dari nilai transaksi untuk membeli suatu saham, SSF dapat dibeli dengan modal minimal 4 % dari nilai transaksi atau harga saham underlying. Persentase keuntungan yang didapatkan dari SSF berpotensi lebih besar karena biaya investasi lebih sedikit walaupun risiko lebih besar dari perdagangan saham. ”Saat ini akan terdapat 15 seri produk dari SSF, yang terdiri lima saham konstituen indeks LQ45, yaitu BBCA, BBRI, TLKM, ASII, dan MDKA. Masing-masing terdiri dari tiga produk kontrak dalam jangka waktu 1 bulan, 2 bulan, dan 3 bulan,” ujar Iman. (Yoga)


Peluang IHSG untuk Bangkit Kembali

HR1 13 Nov 2024 Bisnis Indonesia (H)

Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tengah menghadapi beberapa tekanan, prospeknya hingga akhir 2024 tetap cerah dengan peluang mencapai level 7.900. Terdapat sejumlah katalis yang diprediksi akan mendukung pergerakan IHSG ke depan, antara lain potensi penurunan suku bunga dari The Federal Reserve dan Bank Indonesia, kinerja emiten yang solid, dan adanya peluang window dressing menjelang akhir tahun.

Pada 12 November 2024, IHSG ditutup pada level 7.321,98, meskipun dalam sebulan terakhir mengalami koreksi sekitar 4%. Meskipun ada tekanan dari euforia kemenangan Donald Trump dalam Pemilu AS, yang memicu capital outflow dan penguatan dolar AS, investor asing tetap menunjukkan minat di pasar domestik dengan net buy YtD mencapai Rp31,11 triliun.

Menurut Rizkia Darmawan, Research Analyst dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, sektor-sektor yang akan mendongkrak IHSG antara lain perbankan, komoditas, dan konsumer, dengan laba bersih emiten-emiten besar yang tumbuh positif. Sektor energi dan perbankan diprediksi akan mendapat dorongan dari stabilitas ekonomi Indonesia dan kebijakan luar negeri AS yang cenderung mendukung penggunaan energi fosil, termasuk batu bara. Selain itu, sektor perkebunan, khususnya CPO, mendapat keuntungan dari harga komoditas yang terus melonjak.

Meskipun terdapat tekanan dari fenomena capital outflow dan penguatan dolar AS, sektor-sektor yang menunjukkan ketahanan seperti perbankan, energi, dan perkebunan memberikan optimisme. Beberapa sekuritas, seperti Maybank Sekuritas, memproyeksikan IHSG akan mencapai 7.900 pada akhir tahun 2024, sementara MNC Sekuritas menargetkan IHSG mencapai 7.700. Selain itu, potensi window dressing di akhir tahun dan rilis emiten jumbo yang berencana melakukan IPO turut meningkatkan prospek pasar saham Indonesia.

Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap positif dan adanya katalis yang mendukung, IHSG berpeluang mencatatkan performa solid hingga tutup buku 2024, meskipun tantangan eksternal masih perlu diwaspadai.


Saham IPO Adaro Melepas 778 Saham

KT1 13 Nov 2024 Investor Daily (H)
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) berencana menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) dengan melepas 778 juta saham atau 10% dan harga penawaran berkisar Rp4.590-5.900 per saham. Dengan demikian, anak usaha PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) di sektor batu bara termal itu akan meraup dana maksimal Rp4,59 triliun. Analis menilai saham IPO ADDI dibawah harga wajar alias undervalued. Ini bisa menarik minat investor. Berdasarkan prospektus ringkas awal IPO AADI, penawaran awal (bookbuilding) aksi korporasi ini dilakukan pada 12-18 November, penawaran umum diperkirakan 29 November, proses penjatahan dan distribusi saham 3 dan 4 Desember  dan pencatatan dalam di BEI pada 5 Desember 2024. Bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek adalah Trimegah Sekuritas, perusahaan sekuritas yang dikendalikan Garibaldi Thohir, pemegang saham Adaro. Pemegang saham Adaro Andalan saat ini adalah PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) sebanyak 99.99% saham dan PT Adaro Strategic Investment 0,01 saham. (Yetede)

Seleksi Ketat dalam Memilih Saham BUMN

HR1 13 Nov 2024 Kontan
Kinerja saham BUMN, khususnya yang tergabung dalam indeks IDX BUMN20, mengalami tekanan sepanjang tahun 2024 dengan koreksi 9,98% secara year to date (ytd). Meskipun demikian, secara fundamental, beberapa BUMN tetap mencatatkan performa keuangan yang solid. Kementerian Keuangan melaporkan bahwa setoran dividen BUMN ke kas negara mencapai Rp 79,7 triliun per Oktober 2024, meningkat 7,5% secara tahunan.

Rizkia Darmawan dari Mirae Asset Sekuritas menyebut keluarnya dana asing sebagai penyebab utama tekanan pada saham BUMN, terutama sektor perbankan, yang memiliki bobot besar di IDX BUMN20. Selain perbankan, saham Telkom Indonesia (TLKM), Semen Indonesia (SMGR), dan Bukit Asam (PTBA) juga mengalami tekanan jual, dipengaruhi sentimen eksternal seperti hasil Pilpres AS.

Namun, Darma memprediksi sentimen negatif ini bersifat sementara. Sektor keuangan diperkirakan menjadi yang pertama pulih saat dana asing kembali masuk, diikuti sektor konsumer dan ritel. Ia merekomendasikan saham-saham seperti BMRI, BBRI, BBNI, dan PTBA dengan target harga Rp 2.500 untuk PTBA.

Fath Aliansyah dari Maybank Sekuritas menilai koreksi harga saham BUMN sebagai peluang pembelian secara bertahap, terutama untuk saham-saham bluechip. Sedangkan Pandhu Dewanto dari Investindo Nusantara Sekuritas melihat koreksi pada saham seperti BBRI dan TLKM memberikan kesempatan buy on weakness, mengingat potensi perbaikan kinerja atau valuasi yang lebih murah.

Pandhu menyarankan target harga Rp 5.500 untuk BBRI dan Rp 3.200 untuk TLKM, serta Rp 655 untuk MTEL. Ia juga mencatat pola kenaikan saham MTEL menjelang akhir tahun, yang berpotensi memberikan peluang investasi.

Momentum "window dressing" di bulan Desember bisa menjadi katalis positif bagi investor untuk memanfaatkan valuasi saham BUMN yang tengah terkoreksi dan potensi rebound di awal tahun mendatang.

IHSG Kembali Mengalami Koreksi 0,28% ke Level 7.266

KT1 12 Nov 2024 Investor Daily (H)

Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) kembali mengalami koreksi 0,28% ke level 7.266 pada penutupan perdagangan Senin (11/11/2024), setelah sempat menyentuh level terendah di 7.182. Penurunan ini dianggap  sejumlah analis sebagai peluang baik investor untuk masuk dan mengakumulasi saham-saham LQ45 berfundamental kuat yang kini terdiskon banyak. Dalam satu pekan terakhir, saham-saham papan atas seperti PT bank Central Asia Tbk (BBCA) telah terkoreksi 3,31%, PT Bank mandiri Tbk (BMRI) melemah  5,93%, PT telkom Indonesia Tbk (TLKM) turun 3,92%, dan anjlok PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) anjlok 8,2%.

Founder Stocknow.id Hendra Wardana menilai bahwa IHSG sebenarnya menunjukkan tanda-tanda perlawanan setelah menyentuh level 7.186, yang berpotensi menjadi titik bottom sementara. "Rebound dari level tersebut dan penutupan di 7.186. Ini bisa menjadi batas bawah pergerakan IHSG dalam jangka pendek, kecuali muncul sentimen negatif tambahan," ujar Hendra. Dengan koreksi IHSG saat ini, menurut dia, beberapa saham dalam indeks LQ45 tetap menarik bagi investor jangka panjang yang memanfaatkan peluang rebound. Saham Bank Mandiri (BMRI) misalnya, direkomondasikan untuk dibeli dengan target harga Rp6.600 Saham Bank BUMN ini telah terkoreksi 5,93% dalam satu pekan terakhir, dengan valuasi yang menarik di PBV 2,18x dan PER 10,58x. "BRI memilih fundamental kuat dan posisi yang kokoh di sektor perbankan nasional," ujar Hendra. (Yetede)

Pilkada, Natal, dan Tahun Baru, Pengaruhi Pasar

HR1 11 Nov 2024 Kontan
Emiten barang konsumsi diprediksi akan mencatatkan kinerja positif pada kuartal IV 2024, didorong oleh momentum Natal, Tahun Baru, dan pilkada serentak. Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, menilai pilkada sering diiringi peningkatan belanja pemerintah, memperkuat daya beli masyarakat dan mendorong pertumbuhan sektor konsumsi. Hal ini dapat membawa pertumbuhan ekonomi ke 5%, menunjukkan resiliensi perekonomian Indonesia.

Andhika Audrey, Analis Panin Sekuritas, menyebut PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) akan mendapatkan dampak positif dari pilkada, meskipun kuartal IV biasanya dikenal sebagai low seasonality. Penjualan ICBP diperkirakan tetap solid.

Selain itu, Putu Chantika Putri dari Ciptadana Sekuritas optimistis terhadap PT Mayora Indah Tbk (MYOR), yang tidak hanya diuntungkan oleh penjualan lokal tetapi juga ekspor, terutama ke China menjelang Tahun Baru Imlek. Kinerja MYOR juga akan didukung oleh peluncuran produk baru dan strategi pemasaran yang bijaksana.

James Stanley Widjaja, Analis Buana Capital, menilai PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) masih menunjukkan kinerja kuat berkat inovasi produk yang konsisten. Emiten ini diyakini akan tetap bertumbuh di akhir tahun.

Namun, sektor ini masih menghadapi tantangan, seperti suku bunga yang meski telah dipangkas, tetap relatif tinggi. Abdul Azis Setyo Wibowo dari Kiwoom Sekuritas mencatat, fluktuasi nilai tukar juga bisa membebani keuangan emiten melalui kenaikan biaya bahan baku.

Kendati demikian, Azis optimistis momentum pilkada, Natal, dan Tahun Baru akan menjadi katalis positif. Ia merekomendasikan saham sektor konsumsi, dengan ICBP dan CMRY sebagai pilihan utama.

Tiupan Angin Segar dari The Fed

KT1 09 Nov 2024 Investor Daily (H)

The Federal Rserve (The Fed) memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 4,50%-4,75%, pada Kamis (07/11/2024). Keputusan ini sesuai harapan pasar, terbukti dengan menguatnya bursa di sejumlah negara termasuk Indonesia. Pemangkasan suku bunga ini diprediksi akan diiukuti oleh bank sentral negara lainnya. Bank Indonesia juga diharapkan segera menurunkan suku bunga sehingga segera menurunkan sektor rill di Tanah Air. Tercatat bursa saham Asia naik secara umum pada perdagangan di hari Jumat (08/1102024), mengkuti kenaikan wall street yang memecah rekor tertingginya. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tutup di zoona hijau.

IHSG berjalan konsisten di zona positif hingga ditutup bertambah 43 poin atau 0,60% menjadi 7.287. Kenaikan IHSG hari ini mengakhiri pelemahan selama 2 hari sebelumnya, yang tertekan akibat hasil Pilpres AS 2024 yang dimenangkan oleh Donald Trumph. Saat IHSG menguat, pasar saham Asia bervariasi. Nikkei 225 Index (Jepang) menguat 0,30% dan Straits Times (Singapura) bertambah 1,39%. Sementara indeks S&P 500 naik 0,7%, melanjutkan tren positif dari hari sebelumnya setelah terpilihnya kembali Donald Trump sebagai presiden AS. Indeks Dow Jones hampir tidak berubah, hanya turun tipis di bawah basis poin walaupun sebelumnya sempat menguat lebih tinggi 80 poin yang bertengger di level Rp15.672 dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp15.740 per dolar AS. (Yetede)