Optimisme di Tengah Potensi Pasar Saham
Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat, 15 November, disebabkan oleh aksi jual investor asing yang berfokus pada ketidakpastian global, terutama terkait Pemilu AS dan kebijakan proteksionisme yang mungkin diambil oleh Presiden AS, Donald Trump. Meskipun demikian, Rizky Hidayat, Investment Specialist dari Schroders Indonesia, menilai bahwa valuasi pasar saham Indonesia saat ini masih menarik dengan PE ratio 14 kali, yang terdiskon dibandingkan dengan pasar saham AS, Jepang, atau India. Oleh karena itu, Schroders tetap optimis terhadap prospek jangka panjang pasar saham Indonesia, meskipun kondisi makroekonomi saat ini lebih mempengaruhi sentimen investor.
Selain itu, analis dari Maybank Sekuritas Indonesia merevisi target IHSG untuk 2024 menjadi 7.900, dengan proyeksi pertumbuhan laba yang solid. MNC Sekuritas juga mencatat dampak kebijakan proteksionisme AS terhadap aliran dana keluar dari pasar negara berkembang, sementara Mirae Asset Sekuritas menganggap sentimen positif dari data ekonomi AS bisa membuka peluang bagi pelonggaran kebijakan moneter.
Para analis juga memberikan rekomendasi saham yang berpotensi stabil meskipun pasar sedang tertekan, seperti PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Adaro Energy Indonesia (ADRO), dan PT Bank Mandiri (BMRI). Dengan adanya ketidakpastian global, mereka menekankan pentingnya pemilihan saham yang selektif dan lebih oportunistik dalam menghadapi fluktuasi pasar.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023