Saham Defensif Masih Berpeluang Positif
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan dengan koreksi empat hari berturut-turut, ditutup di level 7.157,73 pada 17 Desember 2024. Penurunan ini dipicu oleh derasnya arus dana asing keluar (capital outflow), yang mencapai Rp 1,63 triliun, memicu panic selling di pasar. Bahkan, sektor defensif seperti barang konsumsi primer dan kesehatan turut tertekan.
Menurut William Hartanto, praktisi pasar modal dan pendiri WH-Project, panic selling menyebabkan tekanan menyebar ke berbagai sektor saham tanpa terkecuali. Sementara itu, Abdul Azis Setyo Wibowo dari Kiwoom Sekuritas Indonesia menekankan pentingnya mencermati sentimen yang memengaruhi masing-masing saham, karena tidak semua saham defensif aman dari tekanan pasar.
Sarkia Adelia Lukman, Junior Research Analyst Panin Sekuritas, menyebut bahwa meskipun sektor defensif terkena dampak negatif dalam jangka pendek, kinerjanya masih stabil jika dilihat dalam rentang waktu bulanan. Namun, empat sentimen negatif, yaitu harga bahan baku tinggi, pelemahan daya beli, kenaikan PPN menjadi 12%, dan pengetatan industri asuransi, memberikan tekanan tambahan pada sektor defensif.
Ezaridho Ibnutama, Chief Economist NH Korindo Sekuritas Indonesia, menyarankan pelaku pasar untuk lebih selektif dalam memilih saham defensif, dengan fokus pada emiten yang memiliki pasar nyata dan dikombinasikan dengan analisis teknikal. Di sisi lain, Ekky Topan dari Infovesta Kapital Advisori merekomendasikan strategi wait and see sampai ada tanda pemulihan yang jelas.
Sebagai tambahan, Sarkia menyarankan saham dari sektor perbankan, perunggasan, consumer goods, dan rumah sakit sebagai alternatif defensif yang patut dipertimbangkan oleh investor.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023