;

IHSG Diperkirakan Sulit Bangkit Pada Akhir Tahun 2024

Ekonomi Yoga 19 Dec 2024 Kompas
IHSG Diperkirakan Sulit Bangkit Pada Akhir Tahun 2024

Indeks Harga Saham Gabungan yang sempat menunjukkan perbaikan jelang pengujung tahun terus melorot ke level 7.100. Analis membaca, kecil kemungkinan ada sentimen positif yang dapat mendongkrak harga saham domestik dalam waktu kurang dari dua minggu ke depan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (18/12/2024) ditutup di level 7.107, turun 0,7 persen dibandingkandenganperdaganganhari sebelumnya danturun 2,27 persen dari posisi di awal tahun 2024. Pergerakan IHSG juga anjlok sekitar 5 persen dari pekan lalu atau 11 Desember di level 7.529. Kebangkitan IHSG pekan lalu menandai periode window dressing sebagai upaya investor besar untuk mempercantik saham berkapitalisasi besar di pergantian tahun. ”Tetapi, ternyata kita balik lagi ke 7.100 dan kayaknya mesti mencoba level psikologis di 7.000. Mudah-mudahan ada manajer-manajer aset yang mau mendorong agar IHSG di atas 7.000,” kata Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia (NHKSI) Liza Camelia Suryanata dalam acara Market Outlook 2025: New Year New Nationalism di Jakarta hari ini. 

Liza memprediksi, pergerakan IHSG secara teknikal bisa berbalik arah jika berhasil menembus level di bawah 7.000. Namun, sentimen positif dalam waktu kurang dari dua pekan sebelum akhir tahun dibutuhkan. Untuk sementara, Liza pesimistis, sentimen positif datang dari faktor eksternal. Ia menilai, investor asing masih akan cenderung menunggu. Hal ini melihat nilai tukar rupiah yang masih lemah di level harga Rp 16.000 per dollarAS. Kondisi ini, menurut Liza, dipengaruhi penguatan mata uang dollar AS yang tidak hanya disebabkan kebijakan ekonomi AS, tetapi juga peningkatan permintaan dollar AS oleh korporasi dalam negeri dan masyarakat menjelang liburan Natal dan Tahun Baru. Perusahaan sekuritas Mirae Asset Sekuritas baru-baru ini juga mengubah proyeksi IHSG ke level 7.500 di penutupan perdagangan akhir tahun 2024, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya di 7.915. Faktor depresiasi rupiah, pelantikan Donald Trump sebagai Presiden AS, dan implementasi kenaikan PPN menjadi 12 persen membuat investor cenderung menunggu hingga Januari 2025. (Yoga)

Tags :
#Saham
Download Aplikasi Labirin :