Menjaring Keuntungan dari Window Dressing
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih tertekan pada November 2024 memberi peluang untuk penguatan di Desember melalui fenomena window dressing, yang secara historis memiliki peluang 90% terjadi. William Hartanto, Praktisi Pasar Modal dan Founder WH Project, memprediksi IHSG dapat kembali naik di akhir tahun karena koreksi saat ini dinilai wajar dan bukan karena panic selling.
Menurut Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas, potensi window dressing didukung oleh rebalancing portofolio dari manajer investasi pada indeks mayor seperti IDX30, LQ45, dan MSCI Indonesia. Reza Fahmi Riawan dari Henan Putihrai Asset Management menambahkan bahwa arah kebijakan fiskal dan moneter, baik di Indonesia maupun Amerika Serikat, yang pro-bisnis dapat menjadi pendorong utama, meskipun ada risiko dari ketidakpastian global dan kebijakan ekonomi negara besar.
Namun, Dimas Krisna Ramadhani dari Indo Premier Sekuritas menyebut peluang window dressing tahun ini masih 50:50 karena aliran dana asing yang terus keluar. Saham-saham yang menjadi target window dressing biasanya adalah saham indeks besar seperti LQ45 dan Kompas100, dengan Reza Priyambada dari Reliance Sekuritas menyoroti saham big caps seperti perbankan.
Agung Ramadoni dari Heksa Solution Insurance mengamini potensi saham big caps, seperti BBCA, BMRI, BBNI, TLKM, ISAT, dan EXCL, yang menarik secara valuasi karena tekanan outflow sebelumnya. Audi merekomendasikan pembelian saham BMRI, BBCA, dan TLKM dengan target harga masing-masing Rp 7.100, Rp 10.800, dan Rp 3.050 per saham.
Momentum ini menjadikan Desember sebagai bulan potensial bagi investor yang ingin memanfaatkan window dressing pada saham-saham unggulan.
Tags :
#SahamPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023