Financial Technology
( 558 )FINTECH P2P LENDING : Mayoritas Pinjol Merugi
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa sebanyak 61 dari 102 penyelenggara pinjaman online (pinjol) terdaftar, masih merugi. Selain itu, tiga pinjol masih mencatatkan ekuitas yang negatif. Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank Otoritas Jasa Keuangan (IKNB OJK) Ogi Prastomiyono mengatakan bahwa industri pinjol mempunyai potensi yang besar untuk tumbuh. Sebab, kondisi di lapangan masih banyak masyarakat belum terlayani oleh lembaga jasa keuangan (LJK) yang sudah ada, seperti perbankan. OJK pun berupaya menjadikan sektor pinjol terus berkembang dan berkelanjutan. “Bukan hanya euforia yang muncul, lalu tiba-tiba hilang begitu saja,” katanya dalam acara diskusi media pada Jumat (2/12). Menurutnya, saat ini kondisi pinjol banyak yang belum stabil. OJK mencatat bahwa jumlah pinjol yang terdaftar dan berizin mencapai 102 penyelenggara. “Ada 61 yang masih rugi, ada tiga negative equity, ada 21 yang modalnya masih di bawah Rp25 miliar.”
Platform Digital Didorong Optimalkan Penjualan Produk dari Dalam Negeri
JAKARTA, ID – Para pengelola dan penyedia platform digital/start-up di Tanah Air didorong untuk mengoptimalkan penjualan produk dalam negeri (PDN) di tengah ancaman krisis dan resesi global. Mereka juga diminta untuk lebih efisien dalam menjalankan bisnis, tapi diharapkan tidak sampai mem-PHK karyawan. Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate memberikan arahan kepada pelaku ekonomi digital terkait potensi ancaman krisis global pada 2023. Pertama, platform e-commerce diminta untuk memaksimalkan penjualan PDN. Kedua, mereka diminta mengefisienkan bisnisnya dan diharapkan tidak sampai melakukan pemutusan hubungan kerja (PMK/lay off). Ketiga, platform digital juga didorong untuk memaksimalkan sumber pembiayaan yang ada untuk meningkatkan kapasitas bisnisnya. “Pemerintah dalam anggaran sudahmenyiapkan itu, tetapi harus dijaga untuk mendukung dunia usaha. Forum kali ini juga harus memperhatikan lingkungan ekonomi digital, kita siapkan anitisipasi seperti apa?” ujar Johnny, saat membuka Forum Ekonomi Digital Kominfo V bertema ‘Musim Dingin Start-up Digital: Dampak dan Tantangan terhadap Perkembangan Ekonomi Digital di Indonesia’ di Jakarta, Kamis (1/12/2022). (Yetede)
PERBANKAN, Waspadai Penipuan Bermodus ”Soceng”
Penipuan bermodus rekayasa sosial atau social engineering atau soceng masih terjadi dengan mengincar nasabah perbankan. Nasabah diminta lebih berhati-hati dengan tidak memberikan data pribadi, dan mengecek sumber resmi, agar terhindar dari penipuan. Pekan lalu, polisi menangkap penipu yang menyamar sebagai pihak BRI yang menginformasikan perubahan tariff transfer sehingga meminta nasabah mengirimkan sejumlah data pribadi perbankannya. Data ini digunakan pelaku untuk mengambil uang di rekening korban. Bareskrim Polri menangkap tersangka berinisial FI, H, dan N. Ketiganya diduga sebagai pembuat dan pengelola situs palsu. Modusnya berpura-pura sebagai pihak resmi BRI dan menginformasikan tarif perubahan transfer.
Direktur Kepatuhan BRI Ahmad Solichin Lutfiyanto, Minggu (27/11) menyatakan, pihaknya mendukung penangkapan itu. Penanganannya diharapkan meredam kejahatan serupa agar tidak terulang kembali. Di sisi lain, kata Solichin, BRI secara berkala melakukan edukasi pencegahan berbagai modus penipuan, khususnya kejahatan soceng melalui saluran komunikasi resmi perseroan. Hal itu diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat agar terhindar dari modus tersebut. ”BRI mengimbau nasabah agar senantiasa berhati-hati dalam bertransaksi finansial, dengan menjaga kerahasiaan data pribadi dan data perbankan. Nasabah diharapkan tidak memberitahukan informasi yang dapat digunakan (untuk) mengakses akun, seperti password (kata kunci) dan PIN (nomor identitas pribadi),” ujarnya. (Yoga)
Fintech Masih Rajin Ekspansif
Financial technology
(fintech) lending
di tengah ancaman resesi masih ada yang ekspansi. Setelah banyak fintech mengakuisisi bank, kini mereka berlanjut dengan melirik industri multifinance. Tentu, ekspansi pasar menjadi salah satu tujuan.
Terbaru, ada Grup Modalku yang mengakuisisi PT Buana Sejahtera Multidana atau kini berubah nama menjadi PT Modalku Finansial Indonesia (Modalku Finance). Sayang, Modalku tak mengungkap uang yang digelontorkan untuk akuisisi tersebut tak diumumkan.
Kami lihat multifinance saat ini lebih banyak berfokus pada kendaraan bermotor ataupun alat berat. Kita agnostik tidak terafiliasi dengan siapapun, UMKM yang membutuhkan permodalan kita layani, ujar Presiden Direktur Modalku Finance, Steven Gunawan, Selasa (22/11).
Aksi ekspansi ini bukanlah yang pertama kali bagi Modalku. Sebelumnya, melalui anak usahanya Funding Asia Group, Pte. Ltd, Modalku memiliki saham 10% di PT Bank Index Selindo.
Bank Raya Percepat Inklusi Keuangan Dengan Pinang Connect
JAKARTA, ID – PT Bank Raya Indonesia Tbk telah menjalin kolaborasi strategis dengan berbagai ekosistem fintech di Indonesia melalui produk pinjaman perseroan bernama Pinang Connect. Hal ini sebagai komitmen Bank Raya untuk mempercepat inklusi keuangan dan memungkinkan masyarakat maupun pelaku usaha mengakses produk keuangan digital lebih luas. Hingga September 2022, jumlah outstanding produk Pinang Connect mencapai lebih dari Rp 283 miliar. Bank Raya berkomitmen untuk mendorong produktivitas dan peluang pertumbuhan para pelaku usaha di Indonesia melalui layanan Pinang Connect. Ini merupakan salah satu produk pinjaman Bank Raya untuk pelaku usaha melalui penyaluran kepada fintech atau P2P lending. Berkaitan itu, perseroan bekerja sama dengan dengan PT Pasar Dana Pinjaman (Danamas), platform peer to peer lending berbasis teknologi di bawah Sinarmas Financial Services untuk menyalurkan pinjaman modal usaha. Kerja sama ini memungkinkan para pelaku usaha yang ada di ekosistem Danamas untuk mengakses pinjaman produktif lewat Bank Raya. Hal tersebut memberi peluang baru bagi para pelaku usaha untuk mengembangkan bisnis dengan lebih baik. ((Yetede)
Terteror Transaksi Fiktif
Janji manis menggiurkan mendapatkan keuntungan besar secara cepat tanpa modal berbalik menjadi teror yang menghantui ratusan mahasiswa dan warga lainnya dari modus transaksi fiktif di toko daring milik SAN. ”Takut, malu. Sampai saat ini masih ada teror meski tak sesering beberapa bulan dan minggu kemarin. Saya benar tidak tahu apa-apa, tidak tahu ini penipuan,” kata AL (20), salah satu mahasiswi IPB University, Jumat (18/11). AL adalah salah satu dari ratusan korban penipuan yang namanya tidak mau disebut karena takut identitasnya terungkap dan teror penagih utang kembali datang. Mereka terjerat bujuk rayu SAN yang menawarkan para korban membeli barang dari toko daringnya dengan menggunakan fasilitas bayar kemudian (paylater) di lokapasar resmi. Namun, pesanan itu disepakati dari awal sebagai pesanan fiktif alias tidak ada barang riil yang dibeli. SAN menjanjikan ada keuntungan dari pembelian daring walaupun fiktif dan dari pencairan dana hasil pembayaran via paylater. SAN akan memberi 10 % keuntungan dari transaksi fiktif itu kepada para korban. Pembayaran tagihan paylater pun akan diurus SAN. Namun, janji tinggal janji. Tagihan tak dibayar-bayar hingga bunga berbunga dan nilai utangnya membengkak. Bagi hasil pun omong kosong belaka. AL tak mengenal SAN dan bisa tercebur dalam modus investasi bodong tersebut karena mengikuti ajakan kakak tingkat di kampusnya pada Agustus tahun ini. Awalnya, janji bagi hasil dipenuhi oleh SAN. Lama kelamaan, aliran bagi hasil dan pembayaran tagihan paylater terhenti. AL dan para korban lain mulai menanggung utang yang terus bertambah besar karena bunga dan denda menunggak tagihan. Walhasil, Al kini terlilit utang sekitar Rp 6 juta.
Anton Siburian, kuasa hukum para korban, mengatakan, kliennya terbebani dan terus mendapat teror dari para penagih utang. Beberapa korban harus menanggung beban tagihan Rp 10 juta hingga Rp 40 juta. Dari suara korban, lanjut Anton, mereka berharap modus SAN bisa dibongkar tuntas oleh polisi dan OJK bisa memberikan kebijakan khusus, terutama perlindungan bagi para korban. Kapolres Bogor AKBP Iman Imanudin mengatakan, pihaknya menangkap SAN. Dari hasil penyelidikan, SAN menawarkan kerja sama pencairan dana dan bisnis pada toko daring miliknya dengan iming-iming 10 % dari setiap transaksi pembelian barang. ”Namun, ternyata toko online itu milik orang lain. Dugaan kerugian yang ditimbulkan dari tindakan pelaku mencapai Rp 2,3 miliar dari berbagai aplikasi yang ditawarkan pelaku kepada korban,” kata Iman. Mahasiswa IPB University yang jadi korban penipuan ini mencapai 116 orang. Total dengan warga non-mahasiswa kini mencapai 329 korban. Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing menjelaskan, pihaknya telah bertemu dengan pimpinan IPB dan sejumlah mahasiswa yang menjadi korban pada Kamis (17/11) dan memperoleh informasi mengenai modus penipuan tersebut. ”Kasus ini bukan masalah pinjol (pinjaman daring), melainkan penipuan berkedok toko online dengan pembiayaan pembelian barang, ternyata barangnya fiktif, tetapi uangnya mengalir ke pelaku,” kata Tongam. (Yoga)
Tentang Fintech, Multifinance Garap Bisnis Dana Tunai
Di tengah himpitan ekonomi, kebutuhan masyarakat terkait pinjaman uang tunai semakin meningkat. Beberapa pemain multifinance melirik potensi tersebut dengan menyalurkan pinjaman uang tunai dalam bentuk pinjaman multiguna.
Selama ini yang paling getol memberikan layanan ini adalah perusahaan multifinance yang bergerak di pembiayaan sektor otomotif. Di sisi lain, multifinance menggarap pasar pinjaman uang tunai yang merupakan ladang bisnis utama.
Salah satu perusahaan multifinance, Adira Finance yang banyak bergerak di sektor otomotif mulai membidik segmen bisnis tersebut.
"Kami memanfaatkan banyaknya kendaraan bermotor masyarakat untuk menjadi jaminan dalam menyalurkan pinjaman dana tunai. Terutama untuk keperluan lain, seperti pendidikan maupun modal kerja," ujar Direktur Utama Adira Finance, Dewa Made Susila, kemarin.
Mandiri Tunas Finance (MTF) juga termasuk multifinance yang yakin, segmen ini bisa terus tumbuh. Bahkan, Direktur MTF, William Francis berharap, segmen ini bisa menjadi penopang pertumbuhan di saat penjualan kendaraan bermotor bisa lesu di tahun depan.
Bank Sentral Asean-5 Sepakati Kerja Sama Konektivitas Pembayaran
BI bersama bank sentral Filipina, Malaysia, Singapura, dan Thailand menandatangani dokumen kerja sama (MoU) implementasi sistem konektivitas pembayaran lintas negara, yang dilakukan oleh Gubernur BI Perry Warjiyo, Gubernur Bank Negara Malaysia Shamsiah Yunus, Managing Director Monetary Authority of Singapore Ravi Menon, Deputi Gubernur Bank Sentral Pilipinas Mamerto E. Tangonan, dan Deputi Gubernur Bank of Thailand Ronadol Numnonda. Presiden Jokowi dalam sambutannya menilai, Asean lebih maju dalam interkoneksi pembayaran lintas batas. Sebab, sistem pembayaran negara-negara Asean akan saling terhubung.
"Sudah saatnya kerja sama ini diformalkan dalam regional payment connectivity sebagai wujud konkret implementasi G20 road map for enhancing cross border payment," jelas Jokowi dalam sambutannya di acara penandatanganan kerja sama itu di Nusa Dua, Badung, Bali, Senin (14/11). Jokowi mengatakan, agenda transformasi ekonomi digital di sektor keuangan merupakan prioritas bersama. Perry Warjiyo menjelaskan, penandatanganan ini bukan hanya sekadar kerja sama, namun untuk menciptakan warisan dan mence tak sejarah baru di dunia digitalisasi. “Ini adalah mimpi yang telah lama ada, di antara kita, dari pemerintah dan bank sentral untuk memudahkan masyarakat," jelas Perry. (Yoga)
BNI Agen 46 Himpunan DPK Rp 2,66 Triliun
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mencatatkan jumlah Agen46 mencapai 165.059 per September 2022, meningkat 10,7% secara tahunan (year on year/yoy). Selain itu, dana pihak ketiga (DPK) yang terkumpul dari Agen46 mencapai Rp 2,66 triliun atau tumbuh 12,7% (yoy). BNI Agen46 merupakan mitra agen Laku Pandai BNI baik perorangan atau badan hukum yang telah bekerja sama dengan BNI untuk menyediakan layanan perbankan kepada masyarakat berupa layanan laku pandai, layanan keuangan digital (LKD) dan layanan e-payment. Direktur Network and Services BNI Ronny Venir mengungkapkan, jumlah transaksi yang dilakukan masyarakat melalui Agen46 juga terus meningkat. Pada September 2022, transaksi bulanan masyarakat mencapai Rp 10,36 juta. Dia menegaskan, jika berminat menjadi BNI Agen46, pelaku usaha dapat melakukan pendaftaran dengan mendatangi kantor cabang BNI terdekat untuk mengisi formulir dan akan dilayani sampai pengajuan diproses hingga selesai.
Pelaku usaha juga dapat mendaftarkan diri melalui situs registrasi online BNI Agen46 yaitu https://agenbni46.bni.co.id/register dengan melengkapi data-data yang dibutuhkan sesuai formulir. “Jadi pendaftarannya sangat mudah, bisa langsung mendatangi kantor cabang BNI terdekat ataupun melalui layanan registrasi online resmi BNI Agen46,” ungkap Ronny dalam keterangan tertulis, Kamis (10/11). Akses terhadap layanan perbankan masih menjadi tantangan yang dihadapi sebagian kalangan di Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Terlebih bagi masyarakat yang tinggal di daerah Terdepan, Terpencil dan Tertinggal (3T). BNI mencoba untuk mengatasi permasalahan ini dengan mendongkrak peran BNI Agen46 di berbagai daerah 3T tersebut. (Yoga)
Rupiah Digital Dapat Menjadi Alat Bayar
RUU Penguatan dan Pengembangan Sektor Keuangan atau RUU P2SK memungkinkan rupiah digital menjadi alat pembayaran yang sah. Mata uang Negara KesatuanRepublik Indonesia adalah rupiah. Mengubah UU No 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, RUU P2SK mengusulkan rupiah bisa dalam bentuk kertas, logam, dan digital. Usulan dalam RUU P2SK ini mengantisipasi kebutuhan alat pembayaran di tengah perkembangan teknologi digital. Kendati demikian, persiapan pembuatan rupiah digital tetap perlu kehati-hatian agar tetap menjaga stabilitas moneter dan sistem keuangan.
Rupiah digital adalah mata uang digital yang dikeluarkan bank sentral (Central Bank Digital Currency/CBDC). Penerbit rupiah digital adalah BI, sebagaimana otoritas pengatur peredaran uang saat ini. Berbeda dengan uang elektronik, seluruh keberadaan dan proses transaksi rupiah digital di dunia digital. DirekturCenter ofEconomic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira, Rabu (9/11) mengatakan, penerbitan CBDC seperti rupiah digital menjadi jalan tengah dari munculnya berbagai mata uang digital kripto yang tidak dapat diregulasi bank sentral. Bank sentral di dunia, termasuk BI, membuat mata uang digital agar bisa memosisikan aset kripto sebagai komoditas tanpa menggantikan peran rupiah. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Perlu Titik Temu Soal JHT
11 Mar 2022 -
Wapres: Tindak Tegas Spekulan Pangan
12 Mar 2022 -
Kebijakan Edhy Jadi Pemicu Penyuapan
11 Mar 2022









