Pertanian
( 500 )PENGHILIRAN SEKTOR PERTANIAN : TRANSFORMASI KAKAO JEMBRANA
Kabupaten Jembrana kini memulai langkah baru untuk penghiliran sektor pertanian menyusul hadirnya pabrik pengolahan kakao menjadi cokelat guna mendongkrak pamor UMKM wilayah ini. Apalagi, kabupaten ini merupakan jawara produsen kakao Bali.
Pasalnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jembrana bakal merealisasikan penghiliran kakao dengan pembangunan pabrik cokelat di Desa Kaliakah, Kecamatan Negara. Bupati Jembrana I Nengah Tamba menjelaskan bahwa pembangunan pabrik cokelat akan direalisasikan melalui melalui factory sharing Jembrana. Factory sharing produksi pengolahan biji kakao menjadi cokelat ini, dibangun atas kerja sama sejumlah kementerian seperti Kementerian Pertanian dan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah.
Dia memandang bahwa keberadaan factory sharing ini juga akan menguntungkan sektor hulu pertanian lantaran petani kakao Jembrana tidak akan bingung dalam pemasaran menyusul adanya tempat untuk menjual kakao tentunya dengan harga yang menguntungkan petani.Menurutnya, tujuan dari pembangunan factory sharing ini merupakan bagian dari penghiliran produksi kakao petani Jembrana.
Oleh karena itu, Tamba memadang bahwa dengan berdirinya factory sharing ini, maka pembeli cokelat Jembrana tidak langsung ke petani, tetapi ke factory sharing. Sementara itu, biji cokelat petani itu akan dijual ke koperasi yang ada di factory sharing untuk diolah.
Kendati belum diresmikan, Bupati Jembrana sudah mempunyai nama yang akan menjadi brand cokelat Jembrana yakni cokelat bahagia Jembrana, disingkat Cobana. Segmen pasar Cobana untuk kalangan anak muda. Produk lain diberi nama Coklat Pak Ngak dengan jenis bubuk darkcokelat.
Adapun, Kabupaten Jembrana selama ini memang sudah dikenal memiliki nilai ekonomi tinggi serta penghasil biji kakao kelas dunia. Bahkan, wilayah ini sudah mampu mengekspor ke beberapa negara dan dipercaya sebagai bahan baku pembuatan cokelat dari produk-produk cokelat ternama dunia.
Ketua kelompok tani becik Yeh Embang Gede Kawi Astana mengaku bahwa baru kali ini fokus menanam kakao secara terarah setelah dia bersama 9 anggotanya mulai menanam 600 pohon di atas lahan satu hektare. “Ini penanaman tahap pertama, target kami bisa menghasilkan 4 ton. Dengan terarah seperti ini kami optimis bisa fokus dan menghasilkan kakao yang optimal,” jelasnya.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Bali kala itu, Trisno Nugroho, menjelaskan bahwa Yeh Embang ini akan menjadi sentral kakao baru di Jembrana.Jika langkah tersebut sukses, maka hal tersebut dapat menjadi sumber ekonomi yang bagus bagi masyarakat sekitar.
Jumlah Petani Menyusut, Hati-Hati Inflasi Menanjak
Penurunan jumlah pelaku usaha pertanian di Indonesia membawa kecemasan baru. Pasokan pangan bisa menyusut, hingga ujung-ujungnya berdampak terhadap laju inflasi. Mengacu Sensus Pertanian 2023 Tahap I Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah usaha pertanian tercatat 29,36 juta unit usaha. Angka ini turun 7,42% dibandingkan Sensus Pertanian 2013.
Pelaku usaha pertanian Indonesia dalam 10 tahun terakhir masih didominasi usaha pertanian perorangan (UTP). Pada 2023, UTP mencapai 29,34 juta unit, turun dibandingkan 2013 yang mencapai 31,71 juta unit. Sedangkan sisanya adalah usaha pertanian berbadan hukum (UPB) sebesar 5.705 unit. Angka ini naik 35,54% dibandingkan 2013. Demikian pula usaha pertanian lainnya (UTL) sebesar 12.926 unit atau menanjak 116,08% dari tahun 2013.
Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ferry Irawan bilang, meskipun usaha pertanian menurun, hal itu tak membuat produktivitas pertanian menurun.
Pemerintah terus berupaya mengerek produksi pertanian, baik melalui ekstensifikasi lahan, peningkatan indeks pertanaman, inovasi budidaya maupun mendorong tingkat produktivitas. "Kenaikan tingkat produktivitas salah satunya dilakukan melalui penggunaan teknologi budidaya pertanian. Saat ini, 46,84% petani telah menggunakan teknologi modern untuk budidaya pertanian," tutur Ferry kepada KONTAN, Rabu (6/12).
Selain itu, pemerintah terus mendorong penguatan kelembagaan petani melalui beberapa program kerja yang tercantum dalam Peta Jalan Pengendalian Inflasi 2022-2024, di antaranya melalui korporatisasi petani dan peningkatan akses pembiayaan.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede juga bilang, meskipun usaha pertanian menurun, produktivitasnya meningkat dan tidak berdampak pada inflasi. Artinya, kata dia, meski jumlah usaha pertanian menurun, penerapan teknologinya meningkat atau semakin maju sehingga mampu menjaga jumlah produksi tani. "Jadi sebenarnya dampak ke inflasi dari sisi ini cenderung netral," ungkap dia.
Pertanian Didorong Jadi Penopang Sultra
Sektor pertanian, perkebunan, dan kelautan di Sultra diharapkan
terus tumbuh dan menjadi penopang pada masa depan. Namun, sektor tersebut terus
tertekan akibat melentingnya industri pengolahan dan pertambangan nikel yang justru
belum berdampak banyak ke masyarakat. Kepala BPS Sultra Agnes Widiastuti
mengungkapkan, potensi pertanian, perkebunan, dan kelautan di Sultra sangat
besar. Banyak warga yang mendapat penghasilan dari sektor itu. Pada 2023,
jumlah pekerja di sektor ini 30,8 % dari 1,35 juta penduduk yang bekerja di
Sultra.
”Secara peranan dalam postur ekonomi, sektor pertanian juga
tinggi, mencapai 23 %. Artinya, peranan sektor ini sangat tinggi untuk
perekonomian Sultra. Sementara itu, kontribusi industri pengolahan baru 9,68 %
dan pertambangan 2,49 %,” kata Agnes seusai diskusi Sultra Economic Outlook di
kantor Gubernur Sultra, Kendari, Selasa (5/12). Menurut Agnes, banyak komoditas
pertanian dan perkebunan yang bisa dikembangkan di Sultra, misalnya lada, jambu
mete, ubi kayu, dan kakao. Pengembangan potensi pertanian itu didukung oleh ketersediaan
SDM dan permintaan pasar. Meski demikian, sektor pertanian, perkebunan, dan
kelautan di Sultra terus tertekan. Hal ini terlihat dari jumlah rumah tangga
usaha pertanian yang turun di berbagai bidang selama 10 tahun terakhir. (Yoga)
Bom Waktu Lonjakan Petani Gurem
Petani Terus Menua dan Alami Guremisasi
Sepuluh tahun terakhir jumlah usaha pertanian menurun. Di
saat yang sama, jumlah petani berusia tua atau di atas usia 55 tahun dan petani
gurem meningkat. Jika tidak segera diatasi, kondisi itu akan berimplikasi pada regenerasi
dan kesejahteraan petani, ketahanan pangan nasional, serta penanggulangan kemiskinan
ke depan. Ini mengingat sektor pertanian merupakan salah satu mesin penggerak
ekonomi nasional dan penyerap tenaga kerja terbanyak di Indonesia. Hal itu
mengemuka dalam Desiminasi Hasil Sensus Pertanian (ST) 2023 Tahap I yang
digelar BPS secara hibrida di Jakarta, Senin (4/12). Sensus yang digelar setiap
10 tahun sekali itu pada tahun ini dilakukan pada 1 Juni-31 Juli.
Berdasarkan ST 2023 Tahap I, jumlah unit usaha pertania di
Indonesia turun 7,42 % dari hasil ST 2013, yakni 31,71 juta unit menjadi 29,36
juta unit. Adapun unit usaha pertanian perorangan (UTP), jumlahnya turun 7,45 %
dari 31,71 juta unit pada 2013 menjadi 29,34 juta unit pada 2023. Namun, jumlah
rumah tangga usaha pertanian (RTUP) pada 2023 meningkat 8,74 % dari 26,14 juta pada
2013 menjadi 28,42 juta pada 2023. Meskipun meningkat, jumlah RTUP pada semua subsektor
pertanian turun. Penurunan terbesar terjadi pada subsektor kehutanan dan
tanaman pangan masing-masing 48,87 % dan 12,28 %. Dalam 10 tahun terakhir, dari
100 petani yang memiliki usaha pertanian berkurang dari 21 petani menjadi 3
petani. ST 2023 Tahap I juga menunjukkan petani di Indonesia makin menua.
Jumlah petani gurem atau pemilik lahan di bawah 0,5 hektar bertambah. (Yoga)
ASA PETANI GORONTALO KARAM OLEH JAGUNG HIBRIDA
Petani di Gorontalo begitu bergantung pada jagung hibrida.
Namun, kenyataannya, jagung hibrida belum dapat memberikan kesejahteraan kepada
mereka. Siklus berulang pembelian benih jagung hibrida dan ketiadaan industri
pengolahan jagung membuat keuntungan petani menipis. Abdullah Isa (60) lega melihat
langit mendung pada Kamis (30/11). Belakangan ini, hujan sering turun di Desa
Pongongaila diKecamatan Pulubala, Gorontalo. Artinya, bibit-bibit jagung hibrida
yang ia tanam pasti akan tumbuh dan berbuah. ”Kalau tidak ada hujan, milu (jagung)
bakal kecil-kecil. Kalau cuma pupuk, tapi tidak ada hujan, hasilnya sedikit,”
kata Abdullah yang rutin bertani jagung hibrida bersama istrinya, Aminah Manoe
(60), sejak mereka menikah pada 1982. Sekarang Abdullah punya lahan jagung
hibrida seluas 2 hektar tak jauh dari rumahnya. Ia terdaftar dalam kelompok
tani sehingga bisa mendapatkan pupuk bersubsidi. Satu dari empat anaknya juga
tergabung di kelompok tani dengan lahan 1,5 hektar.
Tanaman tersebut menjadi sumber penghasilan utama keluarga
Abdullah meski ia mengakui hasilnya tak seberapa. Di masa panen antara Oktober
dan awal November 2023, hasil dari kebunnya hanya 4 ton. Saat itu, enam gudang
yang tersebar di Kecamatan Pulubala hanya menghargai jagung hibrida Rp 3.800
per kg. Itu pun masih dipotong kadar air tinggi dalam pipilan jagung, di atas
17 %. Jika kadar air menurut penghitungan mesin di gudang mencapai, 22 %,
setiap 100 kg harus dikurangi 22 kg sehingga gudang hanya membayar 78 kg. ”Keuntunganbersih
Cuma Rp 5 juta, tipis. Padahal kalau mau hitung dari tanam, pupuk, semprot obat
(pembasmi) rumput, sampai panen dan bawa ke gudang, bisa habis Rp 10 juta.”
kata Abdullah. Setiap 5 kg bibit perlu 100 kg pupuk. ”Sekarang pupuk sulit.
Biasanya dapat 500 kg Phonska (NPK) dan 500 kg urea, sekarang ureanya cuma
dapat 300 kg,” keluh Aminah. Sudah begitu pun, mereka tak menjemur jagung
terlebih dahulu, sebab petani di perdesaan butuh uang cepat untuk membiayai
kehidupan yang sulit di Provinsi Gorontalo yang sepertiga dari 1,2 juta hektar
wilayah daratannya ditanami jagung hibrida.
Jagung hibrida menjadi komoditas unggulan Gorontalo sejak
pemerintahan gubernur pertama, yakni Fadel Muhammad, sampai hari ini. Akhir tahun
ini, BPS memperkirakan panen jagung pipilan kering berkadar air (JPK KA) 14 5
dari Gorontalo akan mencapai 531.780 ton, terbesar kedelapan di Indonesia, tetapi,
petani jagung seperti Abdullah dan Aminah nyatanya tak bisa benar-benar sejahtera.
Menanam jagung pun menjadi siklus berbiaya besar yang menguras kocek petani demi
penghasilan Rp 5 juta per 3-4 bulan untuk membiayai seluruh kebutuhan keluarga.
Mereka harus bertahan hidup dengan pengeluaran kurang dari Rp 442.194 per
bulan. Ketika tegakan jagung rebah, mereka tetap setia membeli bibit jagung hibrida
lagi dari toko tani dengan harga Rp 2 juta per 20 kg. Mereka juga membeli pupuk
kimia, obat, dan perangsang tumbuh. Setelah panen, mereka akan kembali ke nol. (Yoga)
Mentan-Panglima TNI Teken Nota Kesepahaman soal Lahan Tidur
Sekitar 1 Juta Petani dan Nelayan Berkurang di 2030
Peningkatan intensitas dan frekuensi anomali iklim berdampak
pada penurunan hasil panen petani dan tangkapan nelayan. Jika kondisi anomali
iklim kian ekstrem, hampir 1 juta petani dan nelayan berpotensi beralih pekerjaan
untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Anomali iklim yang berujung pada
hujan ekstrem ataupun kekeringan berkepanjangan diperkirakan semakin sering
terjadi pada tahun-tahun ke depan. Kecenderungan itu dapat terjadi lantaran
perubahan iklim yang tengah berlangsung. Merujuk data BPS selama 1993-2022,
jumlah pekerja di sector pertanian, kehutanan, dan perikanan rata-rata tumbuh
0,13 % per tahun. Namun, saat terjadi anomali iklim, seperti IOD positif yang
bersifat kering pada 1994, jumlah pekerja turun 2,03 juta orang dibandingkan tahun
sebelumnya.
Saat terjadi La Nina yang bersifat basah pada 2011, jumlah pekerja
turun 2,4 juta pekerja dibandingkan dengan 2010. Tim Jurnalisme Data Harian Kompas
memproyeksikan hingga tahun 2030, jumlah petani dan nelayan akan menurun 2,4 %
atau sekitar 926.492 pekerja yang akan meninggalkan pekerjaannya akibat
perubahan iklim. Jumlah petani dan nelayan yang berusaha sendiri ataupun bekerja
pada orang lain berpotensi menurun jika pola anomali iklim El Nino, La Nina,
ataupun Dipol Samudra Hindia (Indian Ocean Dipole/IOD) makin ekstrem. Lebih
rentan Mereka yang beralih kerja paling banyak diperkirakan buruh yang tidak
memiliki lahan pertanian atau kapal. Angka penurunan buruh tani dan nelayan
2022-2030 diprediksi minimal 20 %. Adapun angka penurunan pekerja yang berstatus
berusaha sendiri minimal 6 %. (Yoga)
Serda Mugiyanto, Manis Kelengkeng untuk Memberdayakan Petani
Pernah terpuruk karena kehilangan kaki kanannya saat
bertugas, Serda Mugiyanto (45) berhasil bangkit. Selain bertugas sebagai Bintara
Pembina Desa (Babinsa) Komando Rayon Militer (Koramil) 19/Borobudur, Magelang,
Jateng, Mugiyanto juga mengelola perkebunan kelengkeng di Desa Borobudur, Magelang.
Perjalanan hidup Mugiyanto berada di titik nadir tatkala dia kehilangan kaki
kanan saat bertugas di Ambon, Maluku, pada 27 November 2001. ”Di sana saya kena
ranjau antipersonel. Langsung kena kaki saya, langsung hilang kakinya,”
ujarnya, Rabu (25/11). Mugiyanto harus menjalani perawatan di rumah sakit
selama empat sampai enam bulan. Dia juga dibuatkan kaki palsu agar bisa kembali
beraktivitas. Pada 2004, Mugiyanto mengikuti pelatihan vokasi yang digelar
Pusat Rehabilitasi Kemenhan. Setelah itu, dia mulai menggeluti aktivitas
pertanian dengan mengembangkan kebun kelengkeng. Mulanya, Mugiyanto menyewa
lahan 0,25 hektar di Desa Borobudur untuk membudidayakan kelengkeng bersama
warga setempat.
Budidaya itu berhasil sehingga kebun kelengkeng yang ia kelola
terus bertambah luas. Saat ini Mugiyanto mengelola kebun kelengkeng seluas 40
hektar. Lokasinya bukan hanya di Magelang, melainkan juga di Pemalang, Jateng. Saat
ini ada lebih dari 100 petani yang bekerja di kebun kelengkeng yang dikelola
Mugiyanto. ”Saya tidak mau sugih (kaya) sendiri. Saya ingin masyarakat ikut
andil. Kebun itu dikelola dengan sistem ekonomi kemasyarakatan. Jadi, ada bagi
hasil untuk masyarakat,” katanya. Menurut Mugiyanto, budidaya kelengkeng
berpotensi mendatangkan pendapatan yang lumayan. Apalagi, kelengkeng bisa berbuah
di luar musim. Satu hektar lahan bisa ditanami 230 batang pohon kelengkeng
dengan jarak per pohon 7 meter. Dengan asumsi ada 200 batang pohon yang
berhasil berbuah dan menghasilkan 75 kg kelengkeng sekali panen per tahun,
hasil panen per tahun per hektar mencapai 15 ton.
Dengan harga Rp 50.000 per kg, satu hektar kebun kelengkeng
bisa menghasilkan uang Rp 750 juta per tahun. Selain membudidayakan kelengkeng,
Mugiyanto juga melakukan pembibitan. Ia juga mengembangkan wisata petik buah. Mugiyanto
kerap diundang ke banyak daerah untuk membina para petani. Keberhasilannya
mengembangkan kebun kelengkeng dan membina para petani itu membuatnya dijuluki ”Jenderal
Lengkeng”. Atas sejumlah prestasi tersebut, Mugiyanto diganjar sejumlah penghargaan.
Pada 2019, dia mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa dari Kepala Staf TNI Angkatan
Darat. Dari semula kopral kepala, kini ia menyandang pangkat sersan dua. Pada
Juni 2023, Mugiyanto mendapat penghargaan sebagai petani yang sukses dalam
pengembangan komoditas buah kelengkeng dan pembinaan terhadap 10.000 petani
se-Indonesia dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia. (Yoga)
Pertanian Lahan Pasir
Pilihan Editor
-
Waspada Rambatan Resesi AS
02 Aug 2022 -
Upaya Menegakkan Jurnalisme Berkeadilan
01 Aug 2022 -
Kegagalan Sistem Pangan Indonesia
06 Aug 2022









