Pertanian
( 501 )KOMODITAS PERTANIAN & PERKEBUNAN : URGENSI PENGHILIRAN SUMUT
Provinsi Sumatra Utara berpotensi mengerek angka pertumbuhan ekonomi yang lebih baik di tahun-tahun mendatang dari sektor pertanian. Syaratnya, wilayah ini perlu melakukan transformasi perekonomian dari sektor agraris menjadi sektor industri pengolahan melalui penghiliran. Besarnya potensi sektor pertanian Sumatra Utara (Sumut) tak lepas dari peran subsektor perkebunan yang menjadi salah satu penopang PDRB (produk domestik regional bruto) wilayah ini. Data data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi wilayah ini pada kuartal III/2023 tercatat sebesar 4,94% (year-on-year/YoY). Pada periode tersebut, lapangan usaha yang memiliki andil besar terhadap PDRB adalah pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan kontribusi mencapai 23,71%, disusul oleh sektor perdagangan dan sektor industri pengolahan. Pada sektor pertanian, di dalamnya terdapat subsektor perkebunan a.l sawit, karet, dan kopi. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Sumut IGP Wira Kusuma memandang bahwa secara tahunan, pertumbuhan sektor pertanian yang didalamnya termasuk subsektor perkebunan per November 2023 termoderasi, meskipun kontribusinya masih menjadi yang terbesar bagi PDRB. Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi (Setdaprov) Sumut Agus Tripriyono mengatakan bahwa perekonomian suatu daerah bahkan belum dapat dikatakan cukup kuat jika basisnya masih dari sektor pertanian. Hal ini, imbuhnya, lantaran produktivitas dan kualitas sektor ini sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti cuaca. Menurutnya, kontribusi ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sebagai komoditas utama Sumut pada kuartal III/2023 tercatat sebesar 35,4% dengan nilai ekspor mencapai US$2,6 miliar.
Padahal, nilai ekspor CPO Sumut pada 2022 mencapai US$4,1 miliar. Dia berpandangan bahwa sektor pertanian dapat didorong dengan meningkatkan produktivitas tanaman pangan maupun melalui program peningkatan penghiliran. Agus mengatakan bahwa industri hilir pangan dari sektor pertanian yang dapat dikembangkan a.l pasta cabai, cabai kering, pasta tomat, termasuk buah-buahan, seperti markisa dan jeruk yang produksinya melimpah di provinsi ini.
Adapun, komoditas kopi, karet, serta sawit merupakan beberapa komoditas perkebunan primadona ekspor Sumut yang penghilirannya cukup berkembang pesat di wilayah ini.
Di sisi lain, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumut Firsal Dida Mutyara mengatakan bahwa sejumlah anggota Kadin Sumut tercatat bergerak di sektor hilir produk pertanian dan perkebunan. Dia juga mengungkapkan bahwa besarnya peluang industri hilir pertanian maupun perkebunan di kawasan ini sejalan dengan tingginya produksi komoditas tersebut.
Sementara itu, ekonom dari Universitas Islam Sumatra Utara (UISU) Gunawan Benjamin sepakat bahwa penghiliran produk pertanian (perkebunan) diperlukan untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah. Apalagi, imbuhnya, untuk komoditas yang memiliki ratusan potensi turunan seperti sawit. Riset PalmOil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) menunjukkan bahwa terdapat tiga jalur penghiliran kelapa sawit yakni jalur oleopangan (oleofood complex) dengan mengolahnya menjadi (contohnya) margarin, jalur oleokimia (oleochemical complex) yang menghasilkan produk oleokimia dasar, dan jalur biofuel atau bioenergi.
Gunawan mengungkapkan bahwa bentuk dukungan itu bisa dengan memberikan insentif, keringanan pajak, maupun bentuk-bentuk kemudahan berusaha lainnya seperti akses infrastruktur, yang membuat pelaku usaha (swasta) tertarik untuk berinvestasi. Dia juga memberi catatan pada upaya pemerintah untuk mendorong penghiliran tanaman pangan demi menjaga stabilisasi pasokan dan harga pangan strategis.
Bertumpu pada Impor Kedelai
Gelar Unjuk Rasa, Petani Kepung Paris
Pendidikan Modern Hambat Regenerasi
”Model pendidikan saat ini sifatnya modern teknis yang tidak berhubungan secara langsung dengan pertanian,” kata Yusuf, Sabtu (27/1/2024). Ia menilai, berbagai upaya sektor pendidikan untuk mengembalikan lagi mahasiswa ke sektor pertanian, seperti melalui kuliah kerja nyata (KKN), pengabdian, dan sosialisasi, sering kali hanya formalitas. (Yoga)
”Food Estate” dan Korporasi Swadaya Petani
Polemik lumbung pangan baru atau food estate memanas selama
sepekan pasca debat calon wakil presiden pada 21 Januari 2024. Sejumlah pihak
mengecap program food estate gagal dan beberapa pihak lain mengklaim kesuksesan
food estate. Sementara tanpa berkoar-koar, sejumlah korporasi swadaya petani
terus tumbuh mandiri mengepakkan sayapnya. Food estate merupakan bagian dari
Program Strategis Nasional (PSN) 2020-2024 yang menyasar pencetakan kawasan pangan
baru, terutama di Sumut, Kalteng, NTT, dan Papua. Awalnya, lumbung pangan baru
yang tercipta ditargetkan 2,41 juta hektar (ha). Namun, setelah dimatangkan
kembali, pemerintah hanya mampu merencanakan lumbung pangan baru seluas total
82.778 ha dalam kurun waktu 2020-2023. Pada tahun pertama ditargetkan
terealisasi seluas 30.000 ha, tahun kedua 30.778 ha, tahun ketiga 12.000 ha,
dan di tahun keempat 10.000 ha.
Program itu tidak hanya sekadar mencetak sawah baru, tetapi
juga mengembangkan tanaman pangan selain padi, seperti jagung, singkong, dan
bawang putih. Sejumlah lumbung pangan itu bakal diintegrasikan dengan
perkebunan dan peternakan sehingga menjadi kawasan sentra produksi pangan
terpadu, modern, dan berkelanjutan. Guru Besar Sosiologi IPB University Rilus A
Kinseng pernah menyebutkan kegagalan lumbung padi di Dadahup, Kabupaten Kapuas,
Kalteng, lantaran infrastruktur pengairan (modal fisik) belum memadai. Akibatnya,
produktivitas padi rendah, kurang dari 2,5 ton per ha, menyebabkan banyak
petani akhirnya beralih menjadi pekerja di kebun sawit (Kompas, 26/4/2023).
Di Desa Fatuketi, Belu, NTT, terdapat lumbung jagung yang
diresmikan pada 2022. Namun hingga kini, persoalan air, serta kondisi tanah
yang kering dan berkapur di lumbung pangan jagung, belum teratasi meski dibangun
Bendungan Rotiklot. (Kompas 20/10/2023). Pada 18 Agustus 2023, Presiden Jokowi mengakui
program food estate ada yang berhasil, setengah berhasil, dan yang belum
berhasil. Membangun lumbung pangan bukanlah pekerjaan gampang. Baru biasanya
pada penanaman keenam atau ketujuh itu baru pada kondisi normal. Sementara itu
di Demak, Jateng, 126 petani yang mengelola sawah seluas total 300 ha membentuk
Koperasi Citra Kinaraya. Dengan penggilingan padi modern, mereka mengolah gabah
petani menjadi beras khusus, seperti beras putih aromatik, beras merah, beras
hitam, dan beras coklat. Beras-beras itu telah dipasarkan ke Jakarta, Bandung,
Bali, dan Kalsel.
Di Desa Gobleg, Buleleng, Bali, para petani muda membantu
pengembangan pertanian hortikultura organik dengan sistem internet untuk segala
(IoT). Tinggal klik dengan jempol, mereka dapat menyiram tanaman kapan pun dan di
mana pun asal tersambung jaringan internet. Mereka juga dapat memantau kondisi
kebun dan tanaman serta kadar air dan keasaman tanah secara terukur dari genggaman
tangan, membuat mereka dapat membudidayakan sejumlah tanaman hortikultura di
luar musim. Sistem pemasaran secara daring dan luring juga dibangun dengan
baik. Melihat kondisi food estate dan era berkembangnya korporasi swadaya
petani, pemerintah perlu lebih terukur dan realistis membangun kebijakan pangan
nasional. Cukup sudah memperluas food estate yang sulit dikembangkan seturut empat
kaidah akademis. Lebih baik bantu petani yang tengah tertatih-tatih membangun korporasi
petani berdasarkan kluster pangan. (Yoga)
Memperbaiki Kehidupan Petani
Debat cawapres pada Minggu (21/1) malam membahas, antara lain, pangan dan pertanian. Sayang tak satu pun calon wakil presiden menggunakan data Sensus Pertanian 2023 Tahap I BPS. Sensus mengonfirmasi petani semakin menua, berkurang jumlahnya, dan menggurem. Sementara ada tuntutan mandiri pangan. Menurut Sensus Pertanian (SP) 2023-I, dipublikasi 15 Desember 2023, jumlah usaha tani perorangan (UTP) turun 7,45 % dibandingkan dengan 2013 menjadi 29.342.202 unit. Komoditas yang diusahakan sebagian besar tanaman pangan.
Fakta lain, jumlah rumah tangga usaha pertanian (RTUP) gurem bertambah 2,64 juta unit atau naik 18,54 %. RTUP gurem adalah rumah tangga yang menguasai 0,5 hektar atau kurang untuk lahan pertanian dan rumah tinggal. Proporsi RTUP gurem terhadap semua RTUP adalah mayoritas; 55,33 % (14,25 juta unit) pada 2013 dan 60,84 % (16,89 juta unit) pada 2023.
Pada saat bersamaan, lahan pertanian subur, terutama di Jawa, terus beralih fungsi. Perubahan iklim juga mengubah pola cuaca yang memengaruhi pertanian on farm. Indonesia dan banyak negara lain menghadapi masalah penyediaan pangan yang berhubungan dengan perubahan cepat akibat iklim, teknologi, sistem dan usaha agribisnis global di tatanan baru yang multipolar.
Meski demikian, terdapat banyak peluang meningkatkan ketahanan pangan sekaligus kesejahteraan petani. Intinya, petani perlu dipersiapkan dan dibantu. Infrastruktur harus terus dibangun dan ditingkatkan kualitasnya, baik fisik, sosial, maupun ekonomi. Infrastruktur fisik seperti jalan, irigasi, listrik, pasar, telekomunikasi, dan transportasi. Infrastruktur sosial berupa pendidikan, penyuluhan, dan pelatihan.
Infrastruktur ekonomi misalnya kredit, asuransi, jaminan pasar, dan harga. Pemerintah perlu menjamin harga terendah yang diterima petani untuk komoditas pangan penting dan strategis agar petani tertarik memproduksi. Dalam jangka pendek, petani perlu pelatihan dan penyuluhan mengenai dampak dan cara menangani perubahan iklim, pengenalan dan penyediaan teknologi modern, serta respons cepat terhadap pasar.
Pemerintah perlu menyediakan fasilitas serta layanan sarana dan produksi pertanian, seperti pupuk dan benih tepat waktu dan jumlah, serta pembiayaan dengan kredit murah. Insentif penting lain: harga yang baik dan stabil untuk kepastian berusaha. Dalam jangka panjang, sekolah khusus petani perlu ada untuk mengubah perilaku agar menjadi petani andal. Intinya, petani dibekali pengetahuan dasar, memahami usaha taninya hingga pasar. (Yoga)
Digitalisasi Kunci Reforma Agraria
Reforma Agraria untuk Kesejateraan Rakyat
Ekonomi Pangan dan Pertanian RI Belum Stabil
Food Estate, Jurus Indonesia Perkuat Ketahanan Pangan
Pilihan Editor
-
ANCAMAN KRISIS : RI Pacu Diversifikasi Pangan
10 Aug 2022









