;

Bertumpu pada Impor Kedelai

Bertumpu pada Impor Kedelai
Stok kedelai nasional menjadi perhatian karena sebagian besar pasokannya masih bergantung dari impor. Pemerintah memastikan gelombang kedelai impor segera masuk untuk mengantisipasi kelangkaan di pasar. "Keterlambatan kedatangan kedelai ini kan dipengaruhi oleh situasi geopolitik yang terjadi, sehingga mengganggu kelancaran logistik internasional. Namun ini terus kami dorong untuk segera masuk sehingga ketersediaannya stabil," kata Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi kemarin, 30 Januari 2024.

Berdasarkan neraca pangan nasional, produksi kedelai nasional baru 301 ribu ton, sedangkan kebutuhannya mencapai 2,8 juta ton. Defisit kedelai sekitar 2,5 juta ton tersebut diisi dengan kebijakan importasi. Direktur Utama Perum Bulog Bayu Krisnamurthi menuturkan penyebab masalah transportasi kedelai impor, yakni pendangkalan Terusan Suez serta konflik di Israel dan Palestina. Keduanya menjadi kendala bagi kapal kontainer dan hambatan impor kedelai dari negara produsen, Amerika Serikat dan negara di Amerika Latin. Gangguan tersebut membuat kapal pengangkut memutar hingga ke Tanjung Harapan, selatan Afrika, dan menyebabkan keterlambatan hingga tiga pekan.

Bayu mengatakan terbatasnya pasokan kedelai juga disebabkan Bulog pada tahun lalu tidak melakukan importasi. Alhasil impor kedelai sudah dilakukan oleh swasta, dan sudah masuk ke Indonesia. “Sepengetahuan saya, yang sudah masuk kedelai yang diimpor swasta,” kata Bayu. Saat ini kedelai impor sudah tiba di sejumlah daerah, seperti di Jawa Timur dan Banten. Bayu berharap kehadiran kedelai impor dapat menstabilkan harga menjelang Ramadan. Menyitir Data Panel Harga Pangan Bapanas, rata-rata harga kedelai impor secara nasional hari ini berada di level Rp13.180 per kilogram atau turun 1,05 persen dari harga sebelumnya. (Yetede)
Download Aplikasi Labirin :