Kesalahan Kronis Tata Kelola Jagung
NAIKNYA harga pakan ternak karena masalah yang sama menunjukkan pengambil kebijakan tak belajar dari kesalahan sebelumnya. Pemerintah tak punya program yang bisa memastikan pasokan jagung, bahan pakan ternak, tersedia merata sepanjang tahun. Akibatnya, selalu ada periode stok jagung minim, yang berakibat terkereknya harga pakan ternak dan berdampak pada naiknya harga telur serta daging ayam.
Kesalahan pemerintah bahkan sangat mendasar: tak memperhitungkan dampak musim terhadap produksi jagung. Badan Pangan Nasional menyatakan tak menyangka produksi jagung bakal turun drastis pada musim kemarau panjang yang disebabkan oleh El Nino. Padahal El Nino adalah siklus yang bisa diprediksi jauh-jauh hari. Sungguh mengherankan lembaga pemerintah yang bertugas menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan abai akan hal tersebut.
Dalam sepekan terakhir, harga pakan ternak naik hingga 20 persen. Penyebabnya, produksi jagung terus menukik. Pekan lalu, harga rata-rata jagung Rp 6.900 per kilogram. Kini, harganya naik menjadi Rp 7.300-7.500 per kilogram. Di wilayah Solo, misalnya, harga jagung sudah mencapai Rp 9.000 per kilogram, dari harga “normal” Rp 6.000 per kilogram. Padahal harga acuan pembelian yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 5.000 per kilogram.
Setahun terakhir, harga jagung di pasaran sudah di atas harga acuan pembelian. Pada awal 2023, harga rata-rata jagung Rp 5.639 per kilogram, naik dari rata-rata pada 2020. Akibat kenaikan itu, sepanjang tahun lalu, harga pakan ternak berada di atas Rp 7.000 per kilogram, yang menambah beban produksi peternak. (Yetede)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023