Sekitar 1 Juta Petani dan Nelayan Berkurang di 2030
Peningkatan intensitas dan frekuensi anomali iklim berdampak
pada penurunan hasil panen petani dan tangkapan nelayan. Jika kondisi anomali
iklim kian ekstrem, hampir 1 juta petani dan nelayan berpotensi beralih pekerjaan
untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Anomali iklim yang berujung pada
hujan ekstrem ataupun kekeringan berkepanjangan diperkirakan semakin sering
terjadi pada tahun-tahun ke depan. Kecenderungan itu dapat terjadi lantaran
perubahan iklim yang tengah berlangsung. Merujuk data BPS selama 1993-2022,
jumlah pekerja di sector pertanian, kehutanan, dan perikanan rata-rata tumbuh
0,13 % per tahun. Namun, saat terjadi anomali iklim, seperti IOD positif yang
bersifat kering pada 1994, jumlah pekerja turun 2,03 juta orang dibandingkan tahun
sebelumnya.
Saat terjadi La Nina yang bersifat basah pada 2011, jumlah pekerja
turun 2,4 juta pekerja dibandingkan dengan 2010. Tim Jurnalisme Data Harian Kompas
memproyeksikan hingga tahun 2030, jumlah petani dan nelayan akan menurun 2,4 %
atau sekitar 926.492 pekerja yang akan meninggalkan pekerjaannya akibat
perubahan iklim. Jumlah petani dan nelayan yang berusaha sendiri ataupun bekerja
pada orang lain berpotensi menurun jika pola anomali iklim El Nino, La Nina,
ataupun Dipol Samudra Hindia (Indian Ocean Dipole/IOD) makin ekstrem. Lebih
rentan Mereka yang beralih kerja paling banyak diperkirakan buruh yang tidak
memiliki lahan pertanian atau kapal. Angka penurunan buruh tani dan nelayan
2022-2030 diprediksi minimal 20 %. Adapun angka penurunan pekerja yang berstatus
berusaha sendiri minimal 6 %. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023