;

ASA PETANI GORONTALO KARAM OLEH JAGUNG HIBRIDA

Ekonomi Yoga 05 Dec 2023 Kompas
ASA PETANI GORONTALO
KARAM OLEH JAGUNG HIBRIDA

Petani di Gorontalo begitu bergantung pada jagung hibrida. Namun, kenyataannya, jagung hibrida belum dapat memberikan kesejahteraan kepada mereka. Siklus berulang pembelian benih jagung hibrida dan ketiadaan industri pengolahan jagung membuat keuntungan petani menipis. Abdullah Isa (60) lega melihat langit mendung pada Kamis (30/11). Belakangan ini, hujan sering turun di Desa Pongongaila diKecamatan Pulubala, Gorontalo. Artinya, bibit-bibit jagung hibrida yang ia tanam pasti akan tumbuh dan berbuah. ”Kalau tidak ada hujan, milu (jagung) bakal kecil-kecil. Kalau cuma pupuk, tapi tidak ada hujan, hasilnya sedikit,” kata Abdullah yang rutin bertani jagung hibrida bersama istrinya, Aminah Manoe (60), sejak mereka menikah pada 1982. Sekarang Abdullah punya lahan jagung hibrida seluas 2 hektar tak jauh dari rumahnya. Ia terdaftar dalam kelompok tani sehingga bisa mendapatkan pupuk bersubsidi. Satu dari empat anaknya juga tergabung di kelompok tani dengan lahan 1,5 hektar.

Tanaman tersebut menjadi sumber penghasilan utama keluarga Abdullah meski ia mengakui hasilnya tak seberapa. Di masa panen antara Oktober dan awal November 2023, hasil dari kebunnya hanya 4 ton. Saat itu, enam gudang yang tersebar di Kecamatan Pulubala hanya menghargai jagung hibrida Rp 3.800 per kg. Itu pun masih dipotong kadar air tinggi dalam pipilan jagung, di atas 17 %. Jika kadar air menurut penghitungan mesin di gudang mencapai, 22 %, setiap 100 kg harus dikurangi 22 kg sehingga gudang hanya membayar 78 kg. ”Keuntunganbersih Cuma Rp 5 juta, tipis. Padahal kalau mau hitung dari tanam, pupuk, semprot obat (pembasmi) rumput, sampai panen dan bawa ke gudang, bisa habis Rp 10 juta.” kata Abdullah. Setiap 5 kg bibit perlu 100 kg pupuk. ”Sekarang pupuk sulit. Biasanya dapat 500 kg Phonska (NPK) dan 500 kg urea, sekarang ureanya cuma dapat 300 kg,” keluh Aminah. Sudah begitu pun, mereka tak menjemur jagung terlebih dahulu, sebab petani di perdesaan butuh uang cepat untuk membiayai kehidupan yang sulit di Provinsi Gorontalo yang sepertiga dari 1,2 juta hektar wilayah daratannya ditanami jagung hibrida.

Jagung hibrida menjadi komoditas unggulan Gorontalo sejak pemerintahan gubernur pertama, yakni Fadel Muhammad, sampai hari ini. Akhir tahun ini, BPS memperkirakan panen jagung pipilan kering berkadar air (JPK KA) 14 5 dari Gorontalo akan mencapai 531.780 ton, terbesar kedelapan di Indonesia, tetapi, petani jagung seperti Abdullah dan Aminah nyatanya tak bisa benar-benar sejahtera. Menanam jagung pun menjadi siklus berbiaya besar yang menguras kocek petani demi penghasilan Rp 5 juta per 3-4 bulan untuk membiayai seluruh kebutuhan keluarga. Mereka harus bertahan hidup dengan pengeluaran kurang dari Rp 442.194 per bulan. Ketika tegakan jagung rebah, mereka tetap setia membeli bibit jagung hibrida lagi dari toko tani dengan harga Rp 2 juta per 20 kg. Mereka juga membeli pupuk kimia, obat, dan perangsang tumbuh. Setelah panen, mereka akan kembali ke nol. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :