;

Serda Mugiyanto, Manis Kelengkeng untuk Memberdayakan Petani

Ekonomi Yoga 18 Nov 2023 Kompas (H)
Serda Mugiyanto,
Manis Kelengkeng untuk
Memberdayakan Petani

Pernah terpuruk karena kehilangan kaki kanannya saat bertugas, Serda Mugiyanto (45) berhasil bangkit. Selain bertugas sebagai Bintara Pembina Desa (Babinsa) Komando Rayon Militer (Koramil) 19/Borobudur, Magelang, Jateng, Mugiyanto juga mengelola perkebunan kelengkeng di Desa Borobudur, Magelang. Perjalanan hidup Mugiyanto berada di titik nadir tatkala dia kehilangan kaki kanan saat bertugas di Ambon, Maluku, pada 27 November 2001. ”Di sana saya kena ranjau antipersonel. Langsung kena kaki saya, langsung hilang kakinya,” ujarnya, Rabu (25/11). Mugiyanto harus menjalani perawatan di rumah sakit selama empat sampai enam bulan. Dia juga dibuatkan kaki palsu agar bisa kembali beraktivitas. Pada 2004, Mugiyanto mengikuti pelatihan vokasi yang digelar Pusat Rehabilitasi Kemenhan. Setelah itu, dia mulai menggeluti aktivitas pertanian dengan mengembangkan kebun kelengkeng. Mulanya, Mugiyanto menyewa lahan 0,25 hektar di Desa Borobudur untuk membudidayakan kelengkeng bersama warga setempat.

Budidaya itu berhasil sehingga kebun kelengkeng yang ia kelola terus bertambah luas. Saat ini Mugiyanto mengelola kebun kelengkeng seluas 40 hektar. Lokasinya bukan hanya di Magelang, melainkan juga di Pemalang, Jateng. Saat ini ada lebih dari 100 petani yang bekerja di kebun kelengkeng yang dikelola Mugiyanto. ”Saya tidak mau sugih (kaya) sendiri. Saya ingin masyarakat ikut andil. Kebun itu dikelola dengan sistem ekonomi kemasyarakatan. Jadi, ada bagi hasil untuk masyarakat,” katanya. Menurut Mugiyanto, budidaya kelengkeng berpotensi mendatangkan pendapatan yang lumayan. Apalagi, kelengkeng bisa berbuah di luar musim. Satu hektar lahan bisa ditanami 230 batang pohon kelengkeng dengan jarak per pohon 7 meter. Dengan asumsi ada 200 batang pohon yang berhasil berbuah dan menghasilkan 75 kg kelengkeng sekali panen per tahun, hasil panen per tahun per hektar mencapai 15 ton.

Dengan harga Rp 50.000 per kg, satu hektar kebun kelengkeng bisa menghasilkan uang Rp 750 juta per tahun. Selain membudidayakan kelengkeng, Mugiyanto juga melakukan pembibitan. Ia juga mengembangkan wisata petik buah. Mugiyanto kerap diundang ke banyak daerah untuk membina para petani. Keberhasilannya mengembangkan kebun kelengkeng dan membina para petani itu membuatnya dijuluki ”Jenderal Lengkeng”. Atas sejumlah prestasi tersebut, Mugiyanto diganjar sejumlah penghargaan. Pada 2019, dia mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa dari Kepala Staf TNI Angkatan Darat. Dari semula kopral kepala, kini ia menyandang pangkat sersan dua. Pada Juni 2023, Mugiyanto mendapat penghargaan sebagai petani yang sukses dalam pengembangan komoditas buah kelengkeng dan pembinaan terhadap 10.000 petani se-Indonesia dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :