;
Tags

Makro

( 449 )

Pemodal Asing Melirik Indonesia Selepas Pilpres

HR1 30 Apr 2024 Kontan

Prospek investasi asing di dalam negeri kembali cerah. Pasca pemilihan umum (Pemilu) 2024 yang kondusif, para investor asing semakin optimistis terhadap penanaman modal di Indonesia. Investor Inggris misalnya. Berdasarkan hasil survei British Chamber of Commerce Indonesia (Britcham), indeks kepercayaan bisnis alias International Business Confidence Index 2024 tercatat sebesar 66%, jauh meningkat dari posisi akhir survei pada tahun 2020 yang sebesar 31%. Angka tersebut bahkan rekor tertinggi kedua dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Pada 2014, indeks kepercayaan bisnis menyentuh 71%. 

Sekretaris Britcham Indonesia, Ian Betts mengungkapkan, ada beberapa alasan yang mendorong para pengusaha Inggris yakin untuk melanjutkan bisnis di Indonesia. Pertama, keyakinan terhadap prospek ekonomi makro RI. Kedua, para penanam modal menilai adanya penurunan dari birokrasi yang tidak efisien. Terutama, terkait berkurangnya jumlah sumber daya manusia (SDM) yang kurang mumpuni serta penanggulangan korupsi. Ketiga, pandangan positif terhadap ketersediaan SDM dan keterlibatan aktif dengan serikat pekerja. 

Setali tiga uang, Ketua Korea Chamber of Commerce and Industry (Kocham) Indonesia Lee Kang Hyun menerangkan bahwa pengusaha Korea semakin tertarik membuka peluang investasi di Indonesia pasca Pemilu 2024. "Perusahaan Korea berpikir investasi skala penuh akan dilakukan mulai tahun depan setelah presiden baru memulai masa jabatannya," kata Lee kepada KONTAN, kemarin. Investasi asing memang masih menyokong investasi RI. Kementerian Investasi mencatat, realisasi penanaman modal asing (PMA) di kuartal I-2024 senilai Rp 204,4 triliun, tumbuh 15,5% year on year (yoy). PMA menyumbang 50,9% total realisasi investasi periode ini Rp 401,5 triliun. 

"Ini wujud kepercayaan global kepada Indonesia. Dunia dalam ketidakpastian tetapi foreign direct investment (FDI) kita tetap terjaga," klaim Bahlil Lahadalia, Menteri Investasi/Kepala BKPM kemarin. Ekonom Center of Reform on Economic (Core) Yusuf Rendy mengingatkan tantangan investasi tahun ini masih ada. Misalnya kondisi ekonomi global terutama negara tujuan ekspor seperti China yang diproyeksikan melambat imbas krisis properti tahun lalu, juga era suku bunga global dan domestik yang tinggi dan akan mempengaruhi biaya investasi.

Menkeu Minta Bea Cukai Memperbaiki Layanan

HR1 29 Apr 2024 Kontan

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meminta Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan memperbaiki pelayanannya, sejalan dengan banyaknya isu yang muncul di masyarakat. Hal itu disampaikan Sri Mulyani saat melakukan pertemuan dengan pimpinan Ditjen Bea dan Cukai serta Kantor Bea Cukai Bandara Sekarno Hatta, Sabtu (27/4) malam. Isu yang dimaksud, pertama, terkait pengiriman sepatu dan pengiriman action figure (robotic) yang terdapat keluhan mengenai pengenaan bea masuk dan pajak. 

Dalam kasus tersebut, ditemukan indikasi harga yang diberitahukan perusahaan jasa titipan (PJT) lebih rendah daripada yang sebenarnya ( under invoicing ). Kedua, pengiriman barang untuk Sekolah Luar Biasa (SLB), yakni barang impor berupa keyboard sebanyak 20 buah yang sebelumnya diberitahukan sebagai barang kiriman oleh PJT pada 18 Desember 2022. Namun, karena proses pengurusan tidak dilanjutkan yang bersangkutan tanpa keterangan apapun, maka barang itu ditetapkan sebagai barang tidak dikuasai (BTD).

Rem Rilis Global Bond Saat Pasar Bergejolak

HR1 29 Apr 2024 Kontan

Kementerian Keuangan mencatat, realisasi pembiayaan utang hingga akhir Maret atau kuartal I 2024 mencapai Rp 104,7 triliun. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. "Nilainya turun drastis 53,6% dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp 225,4 triliun," tutur Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Jumat (26/4) pekan lalu. Pembiayaan utang meliputi penerbitan SBN dan pinjaman. Nilai penerbitan SBN hingga kuartal I 2024 sebesar Rp 104 triliun setara 15,6% dari target. Adapun pinjaman senilai Rp 600 miliar, turun 91,9% dari periode sama tahun lalu, dan baru 3,4% dari target. "Kami memahami situasi di pasar keuangan dan pasar surat berharga domestik maupun global saling mempengaruhi. 

Situasi global sangat dinamis," ungkap Sri Mulyani. Untuk itu, pemerintah akan tetap mengelola secara fleksibel terkait timing, tenor, currency dan instrumen, untuk mendapatkan pembiayaan yang paling efisien dan optimal. "Ini adalah waktu yang dinamis, karena ada perubahan nilai tukar, suku bunga, yield dan guncangan dari negara maju seperti Amerika, Jepang, Eropa dan Timur Tengah yang harus diperhatikan," jelas Menkeu. Staf Bidang Ekonomi, Industri dan Global Markets Bank Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai, pemerintah bisa merilis SBN dengan memprioritaskan surat utang berdenominasi rupiah ketimbang valuta asing (valas). Kebijakan ini sebagai langkah antisipasi menghadapi ketidakpastian dan volatilitas pasar keuangan global yang saat ini memanas pasca konflik Iran dan Israel. 

 "Kalau kondisi global memanas, bisa ambil cara dengan optimalisasi obligasi domestik, jadi bisa ambil utang di dalam negeri. Kita bisa mendapatkan pembiayaan tingkat risiko eksternal yang relatif rendah, kalau suku bunga global lagi tinggi," tutur Myrdal, Minggu (28/4). "Kemudian, saat risiko eksternal meningkat, kita harus rem penerbitan SBN. Kedua, terkait dengan struktur pembiayaan yang tinggi kita mau tidak mau harus menahan penerbitan utang secara agresif," ungkap Myrdal. Belum lama ini, Direktur Jenderal (Dirjen) Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Suminto menyampaikan, pihaknya akan menekan porsi penerbitan SBN valas pada tahun ini. Ia memerinci, porsi utang valas pemerintah pernah mencapai 40,97% pada tahun 2019. Kemudian turun menjadi 33,57% pada tahun 2020, 30,05% pada tahun 2021, dan 29,61% pada tahun 2022.

Mewaspadai Kenaikan Beban Utang Indonesia

HR1 18 Mar 2024 Kontan

Pemerintah Indonesia tidak boleh lengah dengan posisi utang saat ini. Sebab, rasio pembayaran utang alias debt service ratio (DSR) Indonesia cenderung meningkat, meskipun masih dalam batas aman. Tapi, kenaikan DSR berarti beban membayar utang luar negeri (ULN) Indonesia kian tinggi. Tren utang Indonesia terus meningkat di tengah kinerja ekspor cenderung melandai. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan, ULN RI per Januari 2024 sebesar US$ 405,73 miliar, naik 0,04% secara tahunan year on year (yoy). Secara terperinci, ULN pemerintah tercatat US$ 194,4 miliar, tumbuh 0,1% yoy. Sementara ULN swasta periode tersebut sebesar US$ 196,7 miliar, turun 2,6% yoy. Di sisi lain, kinerja ekspor terus merosot yang membuat surplus neraca perdagangan turun. Pada periode Januari-Februari 2024, surplus neraca dagang tercatat US$ 2,87 miliar, turun 69,18% yoy. Dari data BI, DSR Indonesia pada tahun 2023 mencapai 17%.

Angka ini meningkat dari 2022 yang sebesar 16,57%. Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan, saat ini kemampuan Indonesia untuk membayar ULN secara umum dinilai masih cukup baik. Sebab, ada kemungkinan kinerja ekspor Indonesia akan semakin menyusut seiring dengan perlambatan ekonomi global. Setidaknya, pemerintah harus mewaspadai kinerja ekspor dari dua sisi. Ekonom Center of Reform on Economic (Core) Yusuf Rendy Manilet menilai, meskipun kinerja ekspor dalam tiga tahun terakhir mengalami peningkatan, namun belum sebanding dengan rasio utang terhadap ekspor yang belum turun signifikan. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemkeu) Febrio Kacaribu mengatakan, pemerintah akan terus memantau dampak perlambatan global terhadap ekspor nasional dan menyiapkan langkah antisipasi melalui dorongan terhadap keberlanjutan hilirisasi sumber daya alam (SDA). Juga, peningkatan daya saing produk ekspor nasional, serta diversifikasi mitra dagang utama.

Asing Masuk Rp 21 Triliun di Pertengahan Maret

HR1 18 Mar 2024 Kontan
Bank Indonesia (BI) mencatat, arus modal asing masih masuk ke pasar keuangan dalam negeri pada pertengahan Maret tahun ini. Berdasarkan data transaksi 13-14 Maret 2024, nonresiden di pasar keuangan domestik tercatat beli neto (net buy) sebesar Rp 21,72 triliun. Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono memerinci, jumlah tersebut terdiri dari beli neto di pasar surat berharga negara (SBN) sebesar Rp 12,44 triliun, beli neto di pasar saham sebesar Rp 8,91 triliun dan beli neto di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar Rp 0,37 triliun. Sementara nilai tukar rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada tanggal 14 Maret 2024 berada di level Rp 15.582 per dolar Amerika Serikat (AS) melemah dari 15 Maret 2024 di level Rp 15.576 per dolar AS. Namun level itu lebih tinggi dari posisi 8 Maret 2024 yang berada di level Rp 15.603 per dolar AS. Dari catatan BI pula, sejak awal tahun hingga 14 Maret 2024, nonresiden tercatat beli neto sebesar Rp 20,18 triliun. Perinciannya, beli neto di pasar saham sebesar Rp 19,68 triliun dan beli neto di SRBI Rp 23,84 triliun. Namun, jual neto di pasar SBN sebesar Rp,23,34 triliun.

Pebisnis Tolak Wajib Kunci Valas Ekspor Tiga Bulan

HR1 14 Mar 2024 Kontan
Para pengusaha mulai gerah dan tak happy dengan aturan penempatan devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA). Pengusaha menyoroti dua hal, yakni kewajiban menyimpan 30% devisa hasil ekspor ke sistem keuangan dalam negeri serta tenor penyimpanan selama tiga bulan. Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Chandra Wahjudi mengatakan setiap sektor usaha punya struktur biaya dan profitberbeda. Oleh karena itu, dia berharap ada skema selain 30% DHE disimpan selama tiga bulan. Chandra tak memungkiri, keluhan pengusaha yang paling banyak terkait arus kas (cashflow). Menurut dia, dengan aturan 30% DHE ditahan tiga bulan, tak mudah bagi pengusaha mengatur cashflow. Dana itu biasanya digunakan pebisnis untuk kegiatan lain seperti membayar supplier, gaji karyawan dan biaya overhead lainnya. "Jadi kalau ada instrumen lain yang bisa membantu cashflow, para eksportir akan sangat baik disamping insentif PPh dan bunga deposito yang kompetitif," terang Chandra. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani juga mengakui kewajiban menahan 30% DHE tiga bulan banyak dikeluhkan pelaku usaha. Pasalnya, angka 30% DHE adalah jumlah yang signifikan untuk pergerakan cashflow. Shinta bilang, ada berbagai alasan mengapa pelaku usaha kesulitan menempatkan DHE di Indonesia. Toh, tidak semua keberatan itu karena masalah pajak atau insentif. "Ada isu yang lebih krusial seperti kebutuhan terhadap efisiensi (kemudahan/kecepatan/biaya) transaksi internasional, daya saing suku bunga, kesepakatan dalam kontrak dagang atau dengan shareholders, cashflow dan lain-lain," kata dia. Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) juga menolak kebijakan DHE. Alasannya, pengusaha manufaktur umumnya membeli bahan baku atau spare part menggunakan dolar AS. Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ferry Irawan menegaskan, sektor manufaktur yang dimaksud sebetulnya manufaktur hasil olahan sumber daya alam, sebagai kebijakan hilirisasi.

Menkeu dan Menhub Bahas Moda Transportasi IKN

HR1 14 Mar 2024 Kontan
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menggelar pertemuan dengan Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi untuk membahas moda transportasi di Ibu Kota Nusantara (IKN). Pertemuan tersebut berlangsung di kantor Kementerian Keuangan RI, Rabu (13/3). Sri Mulyani menyampaikan, pemerintah terus mempercepat pembangunan moda transportasi di IKN. "Hari ini saya kedatangan rekan baik saya, Pak Menhub Budi Karya di kantor Kemenkeu. Kami membahas rancangan moda transportasi di IKN yang saat ini terus diakselerasi pembangunannya," kata Sri Mulyani, kemarin. Menurut catatan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), sejumlah moda transportasi akan dibangun di IKN Nusantara. Beberapa di antaranya adalah kereta bandara, Moda Raya Terpadu (MRT), Lintas Rel Terpadu (LRT), bus antar kota, hingga Bus Raya Terpadu (BRT). Menkeu bilang, selain di IKN, pemerintah berencana membangun moda transportasi baru di Bali, yaitu LRT. Pemerintah berharap, pembangunan LRT di Bali akan semakin mendorong industri pariwisata di wilayah tersebut.

Kelesuan Daya Beli Ganjal Efek Belanja Ramadhan

HR1 13 Mar 2024 Kontan
Di tengah tekanan daya beli masyarakat akibat lonjakan harga pangan, momentum Ramadan dan Lebaran diharapkan bisa menggerakkan roda perekonomian nasional di kuartal I-2024. Secara historis, Ramadan memang selalu menjadi periode andalan bagi perekonomian Indonesia. Di kuartal II-2023 (periode Ramadan tahun lalu), ekonomi Indonesia naik 5,17% year-on-year (yoy). Bahkan di tahun sebelumnya (kuartal II-2022), ekonomi Indonesia tumbuh 5,44% yoy. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Mohammad Faisal memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2024 masih di kisaran 5%. Penyokong pertumbuhan itu antara lain dari industri manufaktur, perdagangan dan pertanian. "Momen Ramadan di bulan Maret juga mendorong sektor ritel perdagangan dan penyediaan makanan minuman," kata dia, kemarin. Faisal bilang, di sektor pertanian juga bakal menjadi penyumbang pertumbuhan di kuartal pertama tahun ini karena memasuki musim panen di Maret, sehingga menambah produktivitas ekonomi. Hanya saja, periode Ramadan tahun ini terusik oleh pelemahan daya beli masyarakat akibat lonjakan harga pangan, sehingga bisa menjadi ganjalan pertumbuhan ekonomi. Faisal juga mengingatkan, hal yang perlu diwaspadai adalah tekanan dari kebijakan fiskal menjelang pemerintahan baru. Ada kecemasan pemerintahan baru cenderung mengejar pemasukan dari belanja yang harus direalisasikan sesuai janji kampanye. Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menyebut pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2024 berkisar 5%-5,1%. Menurut dia, momen Ramadan membawa efek positif ke konsumsi rumah tangga. Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P Sasmita menilai Ramadan dan Lebaran memang menjadi momen konsumsi yang cukup besar pengaruhnya pada pertumbuhan ekonomi. Namun, pertumbuhan konsumsi tercatat belum terlalu tinggi, masih setara atau di bawah pertumbuhan ekonomi.

PPN 12% Mengerek Penerimaan Negara

HR1 13 Mar 2024 Kontan
Pemerintah akan menerapkan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 12% pada tahun depan. Dengan demikian, pundi-pundi penerimaan negara dari setoran PPN bakal bertambah pada tahun depan. Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro da Keuangan Kemenko Perekonomian Ferry Irawan menjelaskan, kenaikan tarif PPN diatur dalam UU Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP). "Tujuan dari penyesuaian tarif tersebut untuk optimalisasi penerimaan negara dengan tetap mewujudkan sistem perpajakan yang berkeadilan dan berkepastian hukum," ujar dia, Minggu (10/3). Pengamat Pajak Center for Indonesia Tax Analysis (CITA) Fajry Akbar memperkirakan kenaikan tarif PPN dari 11% menjadi 12% akan berefek positif terhadap penerimaan pajak, khususnya PPN. Bahkan, dia memprediksi tambahan penerimaan dari kenaikan PPN 12% akan menyumbang lebih dari Rp 80 triliun ke kas negara. Maklum, hingga akhir Maret 2023, pemerintah telah mengantongi Rp 80,08 triliun ke kas negara usai menaikkan tarif PPN menjadi 11% sejak April 2022. Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita menambahkan, tepat atau tidaknya tarif PPN naik menjadi 12% bergantung pada penggunaan anggaran yang didapat.

Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2025 Mulai Disusun

HR1 12 Mar 2024 Kontan
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) menyusun Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2025. RKP tahun depan menjadi jangka menengah pertama dalam mencapai Indonesia Emas 2045 yang difokuskan pada penguatan fondasi transformasi. Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan, RKP 2025 diarahkan untuk menjadi panduan dalam perencanaan, penganggaran dan pelaksanaan pembangunan di seluruh Indonesia. Dokumen ini menjadi dasar transformasi Indonesia menuju tingkat lebih tinggi. "Tujuannya untuk menjadi acuan dalam perencanaan, penganggaran dan pelaksanaan pembangunan, baik oleh pemerintah pusat maupun daerah," kata Suharso dalam keterangan resminya, pekan lalu. Bagi pemerintah pusat, ini digunakan sebagai acuan untuk menyusun rencana kerja pembangunan daerah (RKPD). Adapun arah pembangunan yang termuat bisa menjadi acuan badan usaha milik negara (BUMN) maupun swasta untuk berpartisipasi dan berkolaborasi dalam mendukung pencapaian pembangunan nasional. Adapun tema RKP 2025 adalah akselerasi pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, melalui kebijakan prioritas pembangunan yang meliputi SDM berkualitas, infrastruktur berkualitas dalam pengembangan transisi energi, percepatan infrastruktur IKN, serta reformasi pengelolaan sampah.