e-commerce
( 474 )Tokopedia dan Gojek Dikabarkan Jajaki Merger
Dua perusahaan startup terbesar di Indonesia, PT Tokopedia dan PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek), dikabarkan tengah menjajaki rencana penggabungan usaha atau merger. Tokopedia dan Gojek dilaporkan telah menandatangani sejumlah persyaratan yang rinci untuk melakukan uji tuntas pada bisnis masing-masing. Kesepakatan ini bisa menjadi rekor baru bagi industri start-up di Tanah Air. Para pendiri kedua perusahaan yang telah memiliki hubunngan pertemanan sejak lebih dari 10 tahun lalu akan membuat merger menjadi aliansi yang bersahabat.
Tokopedia tengah mempertimbangkan untuk mengakselerasi rencana menjadi perusahaan publik, namun belum memutuskan pasar dan metode cara spesifik. Gojek konsisten melakukan strategi akuisisi dalam upaya memperkuat ekosistem bisnis. Gojek melalui unit bisnis fintech, Gopay, resmi mengakuisisi 22,16% saham PT Bank Jago Tbk (ARTO). Kolaborasi anatara superapps dan bank digital ini dinilai menjadi yang pertama di Asia Tenggara. Kolaborasi ini akan menjadi awal dari cara baru dalam menawarkan layanan keuangan kepada para pengguna Gojek, juga dapat mengembangkan model agar bisa bermitra dengan berbagai institusi perbankan lainnya.
E-Commerce Dorong Pertumbuhan Ruang Logistik
Di tengah pandemi Covid-19 sektor e-commerce tetap bertumbuh sehingga berdampak terhadap pertumbuhan sektor logistik. Covid-19 membuat masyarakat mulai terbiasa dengan belanja online dan secara bertahap hal itu menjadi norma baru yang diperkirakan meningkat jika aturan pembatasan jarak sosial dilonggarkan. Pertumbuhan elektronik akan mendorong permintaan logistik secara global. Hal ini didorong oleh perkembangan pesat pada internet dan teknologi seluler, sektor ini mengalami pertumbuhan yang luar biasa selama dekade terakhir.
Meskipun mengalami pertumbuhan yang luar biasa, sektor e-commerce dan logistik saat ini di Indonesia masih jauh tertinggal dengan negara tetangga. Hal utama yang menempatkan Indonesia pada peringkat rendah adalah kurangnya infrastruktur transportasi serta pita merah dan peraturan yang rumit, yang mengakibatkan biaya tinggi.
Namun demikian, pertumbuhan e-commerce Indonesia terus mendorong permintaan ruang logistik yang lebih baik, yang memicu lebih banyak perkembangan baru. Hal ini telah menarik sejumlah perusahaan lokal serta investor asing dan internasional serta para pengembang untuk berlomba-lomba mengambil keuntungan sebagai penggerak pertama.
Salah satu pendorong integral pertumbuhan sektor logistik Indonesia adalah kegiatan ekspor dan impor. Meski mengalami penurunan dari tahun sebelumnya, Indonesia masih menempati urutan kelima di antara negara-negara Asia Tenggara. Nilai ekspor dan impor juga merupakan cerminan dari indeks kinerja logistik saat ini.
Isu Merger Tokopedia dan Gojek Mencuat
Setelah isu merger dengan Grab, super app Gojek dikabarkan akan menggabungkan usahanya dengan e-commerce jumbo Tokopedia. Bloomberg melaporkan, dua unicorn ini sudah meneken surat pernyataan uji tuntas. Kedua pihak melihat potensi dari sinergi dan berharap keputusan bisnis terjalin dalam beberapa bulan ke depan.
Kelak, perusahaan hasil merger Gojek dan Tokopedia bakal bernilai US$ 18 miliar. Pertimbangan merger kedua perusahaan sudah bergulir sejak 2018 silam. Pembicaraan itu dipercepat seiring rencana merger Gojek dan Grab yang menemui jalan buntu.
Gojek maupun Tokopedia menyangkal kabar yang beredar. Nila Marita, Chief Corporate Affairs Gojek mengatakan pihaknya tak memberikan komentar terhadap spekulasi pasar. Public Relation Lead Tokopedia, Ekhel Liu juga enggan berkomentar untuk spekulasi atau rumor pasar.
Pengamat pasar modal, Teguh Hidayat menilai jika merger Tokopedia dan Gojek benar terjadi, hal ini akan menjadi lampu merah bagi pemain e-commerce lain.
Lima Perusahaan Digital Asing Belum Stor PPN
Penerimaan pajak pertambahan nilai (PPN) yang berasal dari transaksi perdagangan menggunakan sistem elektronik (PMSE) alias e-commerce, hingga 23 Desember 2020, pemerintah pun telah berhasil mengumpulkan penerimaan Rp 616 miliar dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN), atas transaksi PMSE.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, penerimaan pajak tersebut berasal dari setoran PPN 23 perusahaan digital. Dikatakan lebih lanjut bahwa terdapat lima perusahaan digital asing yang belum melakukan kewajiban perpajakannya dengan menyetor PPN.
Hingga saat ini, pemerintah telah menunjuk 46 perusahaan digital asing dan dalam negeri sebagai pemungut PPN 10%. Beberapa di antaranya, yakni Shopee, Netflix, JD.ID. Adapun pemungutan PPN telah berlaku sejak Agustus lalu. Kebijakan merupakan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2020 yang melaksanakan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) No 1 /2020.
Shopee Fasilitasi Ekspor 10 Juta Produk UMKM
Direktur Shopee Indonesia Handhika Jahja, memfasilitasi ekspor 10 juta produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) nasional ke Malaysia, Singapura, dan Filipina hingga Desember 2020. Sekitar 50 ribu produk UMKM Indonesia terjual setiap harinya di aplikasi Shopee Malaysia, Shopee Singapura dan Shopee Filipina. Program yang telah dilaksanakan sejak 2019 ini berkembang pesat tahun ini. Tahun lalu, hanya sekitar 5 ribu produk UMKM saja yang terjual setiap hari. Produk UMKM yang laris dipasarkan antara lain fashion muslim dan pakaian wanita. ini didukung pula promosi dari Shopee Indonesia.
Kendala umum yang dihadapi oleh UMKM Indonesia ketika ingin mengikuti program ekspor adalah cara pemasaran dan bagaimana menghadapi pembeli dari negara lain. Sebab, untuk menjual produk di pasar global, diperlukan penanganan dengan cara global, mulai pemahaman bahasa yang tepat seperti bahasa Inggris.
Head of Public Policy and Goverment Relations Shopee Indonesia Radityo Triatmojo menerangkan sebagai perusahaan e-commerce terdepan, pihaknya menegaskan peran dan fungsi sebagai penyelenggara program untuk mendukung keberlangsungan UMKM, sekaligus wadah untuk memperluas akses penjualan dan pemasaran secara digital. Pencapaian dan realisasi program yang telah diimplementasikan tidak luput dari hadirnya kampanye Shopee yang turut senantiasa secara tidak langsung mendukung produk lokal karya UMKM binaan.
Harbolnas Selama Pandemi, Perusahaan Kurir Kian Untung
Perusahaan jasa pengiriman ekspres mencatat lonjakan volume barang selama Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 12.12, dibandingkan dengan momen yang sama pada 2019, kendati semua bidang usaha terdampak pandemi Covid-19. PT TIki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) yang terkena kampanye negatif boikot JNE juga tetap mendulang pertumbuhan volume hingga 25% selama Harbolnas 12.12. PT Global Jet Express (J&T Express) dan PT Sicepat Ekspress Indonesia juga mencatat kenaikan volume barang masing-masing 10% dan 100%.
Selama Pandemi Covid-19, banyak masyarakat yang lebih senang berbelanja melalui online sehingga pelaku usaha mulai beralih ke ranah digital. Setiap tahun traffic pengiriman meningkat secara konsisten dan pada momentum belanja online. Pencapaian itu didukung kerjasama dengan sejumlah platform e-commerce dengan memfasilitasi layanan pengiriman yang berbasis teknologi informasi. Perseroan telah menunjang kelancaran pengiriman pada saat musim puncak Harbolnas 12.12. Sejauh ini, masih terjadi pergeseran perilaku masyarakat yang beralih ke balanja online di tengah pandemi Covid-19.
Harbolnas 12.12 merupakan salah satu pengiriman terpadat pada hampir semua perusahaan kurir selain momentum Lebaran. e-commerce mendongkrak sebanyak 70% pengiriman. Hal tersebut semakin terasa seiring dengan transformasi digital bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang semakin berkembang dan merambah ke penjualan online. Untuk itu, kinerja logistik perlu ditingkatkan agar dapat memberikan layanan yang terbaik dan melakukan pendekatan kepada pelaku usaha UMKM, agar dapat membangun ekosistem digital yang saling mendukung satu sama lain.
Tren Belanja Iklan 2021, Televisi & Internet Kian Dahaga
Nilai belanja iklan di Indonesia diproyeksi naik di kisaran 7,5%-10% pada 2021 mendatang dengan dominasi pangsa pasar yang cukup kokoh dari televisi dan internet. Dalam kaitan itu, televisi dan digital masing-masing bakal menguasai sekitar 60% dan 25% pangsa iklan sepanjang tahun depan seiring dengan dimulainya proses pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19. Adapun sisanya dibagi untuk media lain seperti radio dan media luar ruang.
Berdasarkan data Nielsen, tingkat penetrasi media luar ruangan masih masuk ke dalam tiga besar media beriklan dengan penetrasi terbesar, diantaranya televisi menjangkau 90% populasi per hari, internet 65%, dan media luar ruang 54%. Dunia usaha telah menunjukkan pergerakan minat dengan bertambahnya perusahaan yang beriklan melalui media sosial dan terjadinya perpindahan klien dari medium konvensional ke direct action media.
Industri periklanan Tanah Air masih berhadapan dengan sejumlah tantangan. Pertama, transformasi digital yang belum merata. Kedua, belanja iklan digital masih dinikmati oleh platform global, bukan publisher lokal. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani berpendapat tren dominasi belanja iklan di platform global akan bergeser ke publisher lokal.
Direktur Nielsen Media Indonesia Cerli Wirsal mengatakan penetrasi media luar ruang didukung oleh keinginan konsumen untuk melakukan aktivitas di luar rumah, sehingga peluang untuk menarik perusahaan dalam memasang iklan di medium tersebut cukup besar. Berdasarkan gross rate card, Nielsen menghitung belanja iklan media luar pada September tahu ini di jakarta mencapai angka lebih dari Rp293 miliar dengan kategori produk properti, korporasi (corporate ads) dan finansial sebagai tiga kategori produk terbesar. Masing-masing kategori, memiliki strategi berikan yang berbeda.
Peluang peningkatan nilai belanja iklan di aplikasi digital tahun depan berkaitan erat dengan melonjaknya minat konsumen terhadap sektor hiburan dan gim daring di perangkat seluler. Meski 40% masyarakat pengguna perangkat mobile diperkirakan mengurangi pengeluaran tahun depan tetapi inovasi di perangkat mobile seperti platform dagang-el, dinilai bakal menjadi tren utama untuk beriklan, sehingga mendorong nilai belanja di medium tersebut.
Deal Besar akan Semarak Hingga Tahun Depan
Aksi merger dan akuisisi mewarnai perjalanan bisnis di sejumlah sektor, mulai dari energi, e-commerce hingga perbankan. Kabar teranyar, raksasa e-commerce Indonesia Tokopedia menjajaki merger dengan perusahaan investasi Bridgetown Holdings. Valuasi Tokopedia diperkirakan mencapai USS 8 miliar hingga US$ 10 miliar.
Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Bima Laga melihat, bisnis e-commerce akan terus tumbuh di Indonesia. “Hal ini mendorong pelaku usaha mengembangkan model bisnis yang disesuaikan dengan situasi dan perencanaan masing-masing, “ kata dia, kemarin.
Konsolidasi di sektor perbankan tak kalah dahsyat. Ada Kookmin Bank asal Korea Selatan yang mengambil alih Bank Bukopin dengan nilai transaksi Rp 2,8 triliun. Kemudian Bangkok Bank mengakuisisi PT Bank Permata dengan nilai total transaksi mencapai Rp 33,3 triliun.
Belakangan ini, bank syariah pelat merah siap menggelar transaksi jumbo. Tiga bank syariah BUMN: Bank Syariah Mandiri, BRI Syariah (BRIS) dan BNI Syariah siap melakukan merger.
Kementerian BUMN telah mengumumkan bank hasil merger akan menggunakan nama baru yaitu PT Bank Syariah Indonesia Tbk, dan tetap menggunakan kode BRIS. Kellk, nilai total aset bank hasil mega merger ini akan mencapai Rp 214,65 triliun.
Jumlah Pembeli Online Naik Dua Kali Lipat di 2020
Nielsen Clicks Study 2020 menemukan bahwa peningkatan jumlah pembeli online di Indonesia hampir mencapai dua kali lipat dari tahun 2018 dengan jumlah perkiraan sekitar 7,3 juta konsumen yang melakukan aktivitas pembelian online di tahun 2020 sebelum Pandemi Covid-19. Online menjadi saluran belanja populer dan menjadi peran penting di pasar. Pemanfaatan omni-channel oleh konsumen online saat ini adalah untuk Melakukan pembelian (72%) dan Mencari Informasi (67%).
Executive Director Consumer Insight Nielsen Indonesia Yudi Suryanata, mengatakan sebagian pembeli online melakukan pembelian untuk kategori fesyen, kosmetik, dan transportasi. Pembeli online paling banyak mengejar voucher diskon (49%), harga yang lebih murah (47%), dan layanan gratis pengiriman/pengembalian barang (33%). Situasi pandemi berdampak pada kategori fesyen, kosmetik, dan transportasi menjadi lebih sedikit dibeli secara online. Sementara kategori pembayaran tagihan (38%), Makanan & Minuman (33%), personal care (33%) dan jasa-jasa seperti delvery (20%) meningkat pada masa Pandemi Covid-19.
Xendit Gandeng Shopee Pay
Xendit, perusahaan payment gateway di Indonesia, menjalin kerjasama dengan Shopee Pay. Xendit dapat menggunakan Shopee Pay untuk menerima pembayaran satu waktu (onetime payment). Juga menerima pembayaran berulang untuk berlangganan (subscription payments). “Proses integrasi ini sangat mudah dan cepat sehingga menguntungkan bagi merchant, “ ujar Mikiko Steven, Head of Customer Solutions, Xendit, Kamis (10/12).
Eka Nilam Dari, Head of Strategic Merchant Acquisition Shopee Pay mengatakan, kerjasama ini membuka peluang mendorong inklusi keuangan lewat pembayaran digital. Setelah kerjasama ini, Shopee Pay dapat menjangkau lebih banyak merchants. Sektor usaha merchant itu antara lain teknologi informasi, platform booking travel dan hotel, platform pendidikan, kecantikan dan platform donasi.
Pilihan Editor
-
Sesat Pikir Ganti Rugi Korupsi
31 Jan 2022 -
Bahaya Pencucian Uang dari NFT
30 Jan 2022 -
Awasi Distribusi Pupuk
31 Jan 2022









