e-commerce
( 474 )Berencana Listing di AS, Bukalapak Jajaki Merger dengan SPAC
Jakarta - Bukalapak, salah satu e-commerce terkemuka di Indonesia, dikabarkan tengah menjajaki rencana pencatatan saham (listing) di Bursa Saham Amerika Serikat (AS) melalui skema special purpose acquisition company (SPAC). Penggabungan usaha atau merger antara Bukalapak dan SPAC diperkirakan bakal menghasilkan valuasi sebesar US$ 4-5 miliar. Bukalapak sedang berdiskusi dengan sejumlah bank investasi untuk melancarkan aksi korporasi tersebut. Perseroan masih dalam tahap pembicaraan awal dengan beberapa SPAC atau yang populer disebut blank check company.
Bukalapak didirikan pada 2010 dan telah masuk kelompok perusahaan rintisan (start-up) teknologi dengan valuasi lebih dari US$ 1 miliar atau disebut unicorn. Sebagai market place, Bukalapak telah menjaring 13,5 juta penjual online dan 100 juta pengguna. Penjajakan merger Bukalapak dengan SPAC ini menambah daftar rencana serupa yang melibatkan unicorn Indonesia, termasuk Tokopedia dan Traveloka. Bahkan, PT MNC Vision Networks Tbk (IPTV) juga dikabarkan mempertimbangkan merger anak usahanya, Vision+ dengan Malacca Straits Acquisitions Co Ltd.
(Oleh - IDS)
Transaksi E-Commerce Terancam Aturan Pajak
Jakarta - Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) menilai, aturan perpajakan e-commerce dalam Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) mengancam transaksi sektor ini. Sebab, dalam UU itu, pemerintah mewajibkan pemberlakuan nomor induk kependudukan (NIK) dalam faktur pembelian. IdEA juga meminta pemerintah mengevaluasi regulasi sektor e-commerce terkait kewajiban memiliki izin usaha bagi penyelenggara dan pelaku usaha yang memanfaatkan platform itu.
Selain perizinan, pemerintah perlu mengevaluasi aturan e-commerce tentang pengawasan konten, perpajakan, dan pelaporan data. Terkait pengawasan konten berdasarkan Permenkominfo 5/2020, pemerintah perlu menyesuaikan kembali jangka waktu penurunan konten yang dilaporkan. Penurunan konten yang hanya memiliki jangka waktu satu hari sejak diterima dan mendesak dalam waktu empat jam, dapat memberatkan Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE).
(Oleh - IDS)
Google: Orang RI Makin Bergantung Platform Digital
Jakarta - Laporan terbaru dari Google menyebutkan bahwa orang Indonesia (RI) semakin bergantung pada internet dan platform digital untuk meningkatkan kualitas hidupnya di tengah pandemi Covid-19. Orang Indonesia ingin meningkatkan kualitas hidupnya, lebih memprioritaskan kesehatan mental, dan mulai menggunakan internet untuk mengedukasi diri terkait sejumlah isu. Penelusuran kesehatan mental pun naik 70% dan self-care naik 45%.
Orang Indonesia mencari berbagai macam cara untuk lebih bisa membantu masyarakat di sekitarnya dan juga lingkungan. Hal ini diikuti dengan kenaikan jumlah penelusuran kata menyumbangkan sebesar 150%. Pandemi Covid-19 telah mengaburkan garis pembatas kehidupan di kantor dan rumah. Orang Indonesia pun harus bekerja sekaligus berperan sebagai orang tua di rumah. Karena itu, penelusuran terkait kegiatan anak di rumah naik 330% dan e-learning naik 180%.
Dengan keterbatasan pilihan hiburan dan rekreasi, orang Indonesia mencari cara lain untuk relaksasi. Hal ini terlihat dari naiknya penelusuran untuk tanaman rumah sebesar 120% dan hewan peliharaan juga ikut naik 95%. Pandemi juga mengingatkan orang Indonesia untuk mempersiapkan masa depan. Hal ini terlihat dari kenaikan penelusuran daftar usaha sebesar 200% dan digital marketing yang juga naik 35%. Para pemilik brand dan pemasar pun perlu mempelajari dan memahami insight terkait perilaku konsumen terebut saat merencanakan strategi dan kampanye pemasaran perusahaan.
(Oleh - IDS)
Traveloka Lirik IPO di Wall Street
Kabar initial public offering (IPO) unicorn dalam negeri kembali menghangat. Terbaru, Traveloka berencana menghelat IPO di bursa Amerika Serikat (AS).
Reza Amirul Juniarshah, Corporate Communication Traveloka, menyebut, pihaknya saat ini dalam tahap finalisasi perencanaan. Traveloka akan masuk melalui special purpose acquisition company (SAPC) tahun ini.
Dengan melakukan pencatatan di Wall Street, Traveloka akan sejajar dengan perusahaan teknologi dunia. Ini menjadikan Traveloka lebih kompetitif di level global. “Sehingga memungkinkan kami membawa sumber daya ke Indonesia dan Asia Tenggara, “ terang Reza.
Selain Traveloka, Tokopedia dan Gojek dikabarkan bakal IPO lewat SPAC. Kedua start up ini jika digabungkan memiliki valuasi USS 35 miliar-US$ 40 miliar.
Cegah Jadi Tempat Pencucian Uang, OJK Perketat Fintech
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan beleid terbaru untuk mencegah terjadinya perpindahan uang panas ini melalui fintech. Aturan tersebut keluar dalam bentuk Surat Edaran OJK Nomor 6/SEOJK.05/2021 tentang Pedoman Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Penyeleggara Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi.
Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK, Anto Prabowo menjelaskan, industri fintech mengedepankan same bussines, same risks and same rule. “Sehingga assesment OJK, penerapan anti pencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme juga diperlukan untuk fintech, “ terang Anto, Selasa (9/2).
Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Dian Ediana Rae menambahkan, sudah saatnya melakukan pengawasan ke fintech lending. “Meskipun fintech belum ditetapkan sebagai pihak pelapor, PPATK dapat melakukan monitoring terhadap transaksi fintech melalui pelaporan yang disampaikan oleh perbankan ke PPATK. untuk transaksi, “ ujar Dian kepada KONTAN.
Berkah Uang Elektronik Sepanjang Pandemi Covid-19
Pemain financial technology (fintech) sistem pembayaran uang elektronik mendapatkan berkah saat ada pandemi Covid-19. Kebijakan pembatasan sosial menyebabkan masyarakat banyak melakukan transaksi online.
PT Espay Debit Indonesia Koe, pengelola dompet digital Dana membukukan pertumbuhan transaksi hingga 100% sepanjang tahun 2020. CEO dan Co-Founder Dana, Vince Iswara menyatakan top transaksi dari fitur kirim uang, pembayaran tagihan, dan transaksi ecommerce. Selain itu, jumlah pengguna Dana naik 25% yoy dari 40 juta menjadi 50 juta pengguna sepanjang tahun 2020.
PT Fintek Karya Nusantara (Finarya), sebagai pemegang izin uang elektronik plat merah merek LinkAja, juga meraih peningkatan signifikan. Link Aja mencatat terdapat lebih dari 65 juta pengguna hingga akhir Januari 2021.
LinkAja mampu meningkatkan jumlah pengguna hingga 65% menjadi lebih dari 61 juta orang sepanjang tahun 2020. Selain itu, uang elektronik pelat merah ini juga mencatat peningkatan transaksi dan volume transaksi sebesar lebih dari empat kali lipat.
Kemitraan Dukung Pelaku Usaha Kuliner
Grab dan Yummy Corp bekerja sama memberdayakan pelaku usaha kuliner melalui penyediaan restoran virtual. Dapur bersama bagi pelaku usaha berbasis komputasi awan ini menyatukan layanan pengantaran makanan GrabFood dan manajemen operasional makanan Yummy Corp.
Neneng Goenadi, Country Managing Director Grab Indonesia, dalam siaran pers, Senin (8/2/2021), mengatakan, kerja sama ini membuka peluang bagi pelaku usaha untuk terlibat dalam ekosistem digital. Apalagi, jumlah mitra yang aktif di GrabFood terus meningkat. Saat ini Grab dan Yummy Corp mengoperasikan lebih dari 80 cloud kitchen di 7 kota di Indonesia.
KPPU Perkuat Merger dan Akuisisi Digital
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) melakukan pengawasan merger dan akuisisi perusahaan digital akan diperketat untuk mencegah konsentrasi ekonomi digital di kelompok tertentu. Pada 2019, KPPU menerima notifikasi 7 perusahaan ekonomi digital merger atau akuisisi, yang meningkat menjadi 12 perusahaan pada 2020.
Laporan e-conomy SEA 2020 yang dirilis Google, Temasek, dan Bain & Company, nilai ekonomi digital Indonesia pada 2020 sebesar 44 miliar dollar AS.
Tren Belanja Daring, Iklan Digital ADA Tumbuh 25%
PT Ada Asia Indonesia (ADA), anak perusahaan Axiata yang bergerak dalam pemasaran digital terintegrasi, mencatat adanya kenaikan jumlah belanja iklan digital yang signifikan selama pandemi Covid-19. Country Director, Marketing Services ADA in Indonesia Faradi Bachri mengatakan Covid-19 telah membuat sejumlah perusahaan menyadari pentingnya pemasaran digital untuk menjangkau konsumen. Perusahaan tersebut mulai mengalihkan kegiatan pemasarannya dari luring ke daring. ADA mencatat terjadi pertumbuhan jumlah mitra hingga 50% dan peningkatan belanja iklan digital hingga 25% pada 2020 dibandingkan dengan 2019.
Faradi menjelaskan naiknya belanja iklan digital secara signifikan, memperlihatkan bahwa perusahaan mulai beradaptasi dengan cepat terhadap pandemi Covid-19. Mereka juga menyesuaikan pengelolaan pesan dan pendekatan kreatif agar relevan dengan situasi yang dihadapi konsumen, serta platform komunikasi yang digunakan, yaitu secara digital. Faradi menyatakan data dapat membantu perusahaan untuk memahami konsumennya dengan lebih baik, menciptakan pesan yang tepat dan menyebarkan pesan di kanal yang paling efektif. “Di sisi konsumen, mereka akan terbantu karena pesan yang diterima sesuai dengan kebutuhan sehingga tidak terasa mengganggu,” kata Faradi
(Oleh - HR1)
Sewa Ruang Perkantoran 2021, E-Commerce Tetap Mendominasi
Sektor e-commerce diprediksi tetap mendominasi serapan ruang perkantoran di kawasan bisnis terpadu Jakarta pada tahun ini yang masih diwarnai pandemi Covid-19. Senior Advisor Research Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat mengatakan serapan ruang perkantoran di central business district (CBD) Ibu Kota memang menjadi incaran sektor perdagangan eletronik (e-commerce). Selain e-commerce, dia melanjutkan sektor logistik dan fast moving consumer goods (FMCG) juga masih mewarnai serapan pasar perkantoran di Jakarta.
Secara umum, imbuhnya, dari total ruang yang ada me mang terjadi penurunan serapan ruang. Namun, tidak terjadi pada ruang kantor di premium grade A, yang memiliki serapan paling positif saat ini. “Di antaranya karena ada tren lokasi dari para tenant yang memburu gedung dengan kualitas layanan prima dan teknologi yang menunjang protokol kesehatan,” tuturnya
Country Head dari Knight Frank Indonesia Willson Kalip menambahkan kondisi hunian perkantoran Jakarta masih menantang dengan penyerapan ruang yang masih didominasi dari relokasi. Salah satu yang bisa menjadi opsi pada kondisi okupansi perkantoran yang rendah adalah proses due deligence untuk proyek perkantoran yang sedang dikembangkan.
(Oleh - HR1)
Pilihan Editor
-
Euforia Bank Digital Mendongkrak Kekayaan Taipan
21 Feb 2022 -
Perdagangan, Efek Kupu-kupu
18 Feb 2022 -
Ekspor Sarang Walet Sumut Tembus Rp 3,7 Triliun
24 Feb 2022 -
BUMN Garap Ekosistem Kopi
31 Jan 2022









