e-commerce
( 474 )Transaksi e-Commerce 2021 Diproyeksi Capai Rp 337 Triliun
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan bahwa Ekonomi dan Keuangan Digital akan meingkat pesat. Pada 2021 nilai transaksi e-commerce akan mencapai Rp 337 Triliun. Hal tersebut didorong oleh tren digitalisasi di Indonesia yang semakin cepat selama masa pandemi Covid-19 dan semakin terakselerasi. Prospek kinerja ekonomi pada 2021 semakin membaik seiring ketidakpastian yang mereda khususnya terkait pandemi Covid-19. Sehingga pertumbuhan ekonomi 2021 akan berada pada kisaran 4,80-5,8% year on year (yoy).
Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan juga akan membaik di posisi 5% di 2021, setelah terpukul dalam selama pandemi dengan kontraksi 3,8% di 2020. hal tersebut didorong oleh dorongan stimulus fiskal dan moneter di sejumlah negara sepeti Amerika Serikat dan Tiongkok, serta meningkatnya mobilitas manusia dan aktivitas perekonomian.
Ekonomi yang pulih di seluruh daerah juga terjadi karena didorong oleh kenaikan ekspor dan perbaikan perekonomian global, juga perbaikan konsumsi rumah tangga yang sejalan dengan stimulus belanja sosial yang digulirkan oleh pemerintah lewat program pemulihan ekonomi nasional (PEN), kemudian investasi belanja modal dan investasi swasta dengan Omnibus Law Cipta Kerja serta meningkatnya mobilitas manusia dengan vaksinasi.
Adaptasi Kebiasaan Baru, Jasa Kurir Lokal Ketiban Berkah
Jasa Kurir ramai bermunculan di Kota Palembang selama masa Pandemi Covid-19. Sebanyak 13 kurir JKP Express secara bersamaan menerima pesan dari perusahaan. Manajer JKP Express Ridho Andi Sucipto pada hari itu membagikan 50 order anter-jemput pesanan kepada awak kurir. Satu jam kemudian, para kurir harus sudah siap pick-up barang untuk diantarkan kepada konsumen sesuai alamat.
Seiring aktivitas di luar rumah yang terbatas sejak pandemi mengepung Kota Palembang, masyarakat cenderung membeli makanan hingga produk fesyen dari rumah. Fenomena belanja tak langsung itulah yang kemudian ditangkap sebagi celah bisnis oleh para pemain baru di layanan kurir. Kekuatan sosil media untuk pemasaran dan promosi jasa cukup ampuh, meskipun tak menampik pendekatan door to door ke calon pengguna jasa tetap ditekuni.
Sejak awal mendirikan JKP Express, pasar yang dibidik adalah UMKM yang dinilai dari penjualan UMKM secara online di kota itu masih terkendala ongkos kirim. JKP Express melayani pengantaran 50 hingga 100 paket per hari. Dengan begitu omzet yang dikantongi berkisar Rp 15 juta per bulan dengan menerapkan konsep bagi hasil dengan mitra pengemudi dengan sistem 30% untuk JKP Express dan 70% untuk awak kurir.
Pemilik usaha Jasa Kurir Antar Pasti Pas (APP), Susmaini juga meraup berkah di balik pandemi Covid-19 dengan mendapat peningkatan pesanan hingga 60% dibandingkan dengan kondisi normal, Jasa kurir tersebut melayani 80 paket setiap hari. Wara-wiri kurir online juga dihadapi jasa kurir Nak Cepet Bae yang bisa melayani hingga 100 pesanan per hari. jumlah itu telah meningkat drastis dibandingkan dengan sebelum wabah virus corona melanda.
Tak seperti layanan on demand yang populer, seperti Gojek dan Grab, pelaku usaha kurir lokal hanya memanfaatkan aplikasi pesan Whatsapp (WA). Namun, bukan berarti pelaku usaha tak punya usaha untuk menyelami teknologi untuk kemajuan usaha kelak. Hal tersebut tidak lebih daripada keinginan pemilik usaha untuk naik kelas dengan mengikuti perkembangan teknologi terkini.
Kompetisi Dompet Digital, Peleburan Platform Jadi Solusi
Ketua Umum Asosiasi Startup Indonesia Handito Joewono menilai jumlah platform dompet digital di Indonesia saat ini sudah kelewat banyak. Idealnya, pasar domestik hanya membutuhkan 3 pemain besar yang masing-masing berasal dari ekosistem badan usaha milik negara (BUMN), perbankan, dan nonperbankan. Dompet digital adalah model bisnis yang mengandalkan kompetisi padat modal. Dengan kata lain, dibutuhkan kapital yang besar untuk mengembangkan ekosistem dan teknologi andal dalam industri pembiayaan elektronik. platform paling masif pun berpeluang lebih besar untuk memenangi persaingan. Terbukti, dari belasan platform dompet digital yang ada di indonesia saat ini, hanya segelintir yang menjadi dominator.
Ekonom Senior Indef Aviliani pun sepakat persaingan ketat di industri dompet digital saat ini berisiko membuat pasar jenuh. Dia menyarankan agar platform dompet digital memperkuat ekosistem yang dimilikinya atau melebur dengn perusahaan dompet digital lain. Bertarung dengan mengandalkan perang promo dinilai hanya akan membuat umur platform dompet digital makin pendek. Ekosistem yang luas merupakan syarat mutlak bagi bisnis dompet digital, seperti model bisnis kartu kredit.
Berdasarkan laporan terbaru Google, Temasek, dan Bain & Company, terjadi peralihan metode pembayaran selama pandemi, dimana porsi transaksi pembayaran uang tunai turun dari 48% saat prapandemi menjadi 37% selama pandemi. Pada waktu yang sama, porsi pembayaran lewat dompet digital meningkat dari 18% sebelum pandemi menjadi 25% sepanjang pandemi.
Chief Marketing Officer Linkaja Edward Kilian Suwignyo mengatakan dalam bersaingan dengan platform dompet digital lainnya, perseroan lebih memilih fokus pada pengembangan ekosistem digital. Linkaja memberi nilai produk yang berbeda kepada penggunanya, melalui kerjasama yang telah terjalin dengan perusahaan ritel raksasa seperti Indomaret dan Alfamart. Linkaja juga memperkuat ekosistemnya di sektor transportasi dan sektor-sektor BUMN lainnya. Head of Corporate Communications OVO Harumi Supit dalam menghadapi ketatnya persaingan, perseroan menerapkan strategi ekosistem terbuka atau berkolaborasi dengan banyak platformagar dapat bersama-sama mendorong transformasi digital di seluruh sektor. OVO terus mengembangkan kemitraan agar bisa menjadi penyedia layanan keuangan digital paling terintegrasi di Indonesia melalui kemitraan strategis dalam layanan asuransi, investasi dan pinjaman modal.
Sementara itu, CEO and Co-Founder DANA menjelaskan tetap fokus untuk mengembangkan teknologi yang akan menjadi jembatan bagi masyarakat Indonesia menuju transformasi keuangan digital yang makin inklusif di Indonesia. Marketing Manager Shopeepay Cindy Candiawan menilai pasar untuk pembayaran digital di Indonesia masih cukup besar dan belum jenuh. Kendati demikian, 52% masyarakat tidak memiliki akses ke layanan perbankan dan 76% transaksi masih dilakukan secara tunai.
Perdagangan Elektronik Dongkrak Penjualan Industri kemasan
Perkembangan pesat perdagangan elektronik (e-commerce) dan
adaptasi kebiasaan baru mendongkrak penjualan kemasan. Berdasarkan data
Indonesia Packaging Federation, kinerja industri kemasan di Tanah Air
diproyeksi tumbuh 6% pada 2020 dari realisasi tahun lalu Rp 98,8 triliun.
Ditinjau dari material, kemasan yang beredar terdiri atas 44% dalam bentuk
kemasan fleksibel, 14% kemasan plastik rigid, dan 28% kemasan paperboard.
Sementara itu, AT Kerney (2019), dalam hasil risetnya di Asia, menyatakan, terdapat beberapa pergeseran paradigma yang terjadi secara makro ekonomi dan memengaruhi tren industri pengemasan. Saat ini, teknologi pengemasan sangat berkembang dengan cepat, di antaranya menggunakan active & intelligent packaging, modified atmosphere packaging (MAP), vacuum pack (preserve the freshness of food), frozen food (freezing food preserves), dan retort packaging (for ready to eat meals)
Media Online Dongkrak Ekonomi Digital Indonesia
Managing Director Google Indonesia, Randy Jusuf membeberkan, porsi bisnis e-commerce mendominasi ekonomi digital di Tanah Air, yakni senilai US$ 32 miliar pada tahun ini, tumbuh 54% dibandingkan tahun lalu. “Pertumbuhan momentum e-commerce di Indonesia juga tercermin dari peningkatan lima kali lipat jumlah supplier lokal yang berjualan online karena Covid-19,” ungkap dia saat paparan virtual, Selasa (24/11).
Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Bima Laga mengakui Indonesia punya potensi besar di bisnis e-commerce. Kita punya bonus demografi yakni kelompok usia milenial. “Jumlah mereka sangat besar dan menjadi pasar digital yang sangat potensial,” kata dia.
Perilaku Isi Saldo Uang Elektronik Berubah
Peningkatan belanja daring selama pandemi Covid-19 dinilai turut mengubah perilaku konsumen dalam mengisi ulang saldo uang elektroniknya.
Sebelum pandemi, menurut Direktur Shopee Indonesia Handhika Jahja, konsumen cenderung mengisi saldo dengan jumlah yang kecil untuk sekali transaksi. “Saat ini, konsumen top up (isi saldo) dalam jumlah besar untuk transaksi berkali-kali,” katanya saat acara klinik media dalam Pekan Fintech Nasional, Senin (23/11/2020).
Menurut Managing Director GoPay Budi Gandasoebrata, inovasi produk serta kemudahan dan kualitas layanan memengaruhi loyalitas pengguna pembayaran digital.UKM IKM Nusantara: Harbonas Gerus Devisa Negara karena Transaksi Online Lintas Negara
Ketua Koordinator Daerah (Korda) Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Usaha Kecil Menengah (UKM) dan Industri Kecil Menengah (IKM) Nusantara Provinsi Sumatera Utara (SU) Binsar M Simatupang SE MM mengatakan, devisa tergerus karena transaksi online lintas negara. Bahkan Hari Belanja Online Nasional (Harbonas) pada November memberi peluang devisa negara ke luar karena kegiatan tersebut melibatkan aplikasi luar negeri.
“Itu sebabnya, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah resesi karena pandemi Covid-19, maksimalkan transaksi hanya di dalam negeri karena uangnya berputar di Indonesia,” tegasnya di Medan, Jumat (13/11) di jeda sosialisasi UKM IKM berbasis hasil pertanian, perkebunan, perikanan dan handcraf Nusantara.
IKM di dalam negeri kisaran 4,4 juta unit usaha atau mencapai 99 persen dari seluruh unit usaha industri di Tanah Air. “Sektor tersebut sudah menyerap hingga 10,5 juta tenaga kerja atau berkontribusi 65 persen dari sektor industri secara keseluruhan. Ada wabah virus corona, pengangguran meningkat. Memecahkannya dengan memberdayakan UKM IKM khususnya di bidang padat karya hingga mengurangi pengangguran,” tambahnya.
Satu antaranya, maksimalkan memakai produk dan jasa dalam negeri. Seperti belanja online, pakai aplikasi Indonesia termasuk dalam memenuhi kebutuhan via aplikasi online. “Di Indonesia bahkan di Medan ada aplikasi buatan dalam negeri seperti Aplikasi Online Mudigo yang jauh lebih lengkap dan murah ketimbang aplikasi berbasis dan dimodali asing,” tutupnya.
Google dan Temasek Sah masuk Tokopedia
Kabar start up e-commerce, Tokopedia kembali mendapatkan suntikan dana terjawab sudah. Akhirnya, CEO Co-Founder Tokopedia William Tanuwijaya menjawab kabar investasi Google dan perusahaan investasi Temasek Holdings.
“Kami sangat senang menyambut Temasek dan Google sebagai pemegang saham Tokopedia. Kami merasa terhormat dan berterima kasih atas kepercayaan dan dukungan mereka kepada Tokopedia dan Indonesia,” kata William dalam unggahan yang diberi judul Generasi Transformasi.
Sebelumnya, pada pemberitaan Bloomberg, Senin (26/10), Google dan Temasek dikabarkan menyuntikkan dana ke Tokopedia dengan total nilai US$ 350 juta. Angka tersebut setara Rp 5,11 triliun (kurs Rp 14.600 per dollar AS).
Mengutip Asia.nikei.com, Sabtu (14/11), Google memiliki 1,6% saham Tokopedia. Adapun Anderson Investments yang terafiliasi dengan Temasek mengempit 3,3% saham. Data itu mengacu dokumen Ditjen Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, pada 4 November 2020.
Saat ini, saham Tokopedia yang dipegang Google bernilai US$ 1,1 juta atau Rp 16,7 miliar. Sedangkan saham yang dimiliki Anderson (Temasek) bernilai Rp 33,4 miliar. Perlu dicatat, angka tersebut adalah total keseluruhan nilai saham yang dimiliki Google dan Anderson di Tokopedia.
Ketua Umum Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA) Bima Laga menilai, perkembangan start-up di Indonesia masih cukup menarik bagi investor. Hal itu didorong potensi pasar digital di Indonesia yang masih sangat besar. Sederet keunggulan Indonesia seperti potensi bonus demografi dengan populasi milenial yang tinggi. Maklumlah, kelompok usia milenial dikenal akrab dengan dunia digital, sehingga investasi di dunia digital menjadi menarik.
Dompet Digital Melaju Di Era Pandemi
Hasil survei Mogan Stanley pada awal November 2020 menyebutkan, Pada 2018, dana dalam dompet digital yang dioperasikan perbankan dan pelaku teknologi finansial atau tekfin di Indonesia sebesar 50 miliar dollar AS. Pada 2020, dana tersebut diperkirakan meningkat menjadi 100 miliar dollar AS.
Bank Indonesia (BI) mencatat, volume transaksi uang elektronik pada akhir 2019 melonjak 79,3 persen menjadi 5,2 miliar transaksi dibandingkan 2018 yang sebanyak 2,9 miliar transaksi. Dalam kurun waktu yang sama, nilai transaksinya pun meningkat sebesar 208,5 persen, yaitu dari Rp 47 triliun pada 2018 menjadi Rp 145,2 triliun pada 2019.
Per Agustus 2020, total transaksi uang elektronik sebesar Rp 127 triliun. Nilai ini akan terus meningkat hingga akhir 2020 menjadi Rp 196,9 triliun.
Dalam peluncuran Indonesia Fintech Society (Ifsoc) pada 9 November 2020, BI menunjukkan, OVO merajai pasar uang elektronik pada 2019, yakni 20 persen. Berikutnya adalah GoPay dan Bank Mandiri dengan porsi pasar masing-masing 19 persen, DANA dan BCA 10 persen, BRI 6,3 persen, LinkAja 5,8 persen, ShopeePay 3,7 persen, BNI 1,3 persen, dan Doku 1,2 persen.
Survei terbaru perusahaan konsultan pemasaran MarkPlus Inc pada 2 September 2020 menyebutkan, setidaknya ada lima dompet digital dengan pangsa pasar terbesar yang tertangkap dalam survei, yakni ShopeePay, GoPay, OVO, DANA, dan LinkAja.
Head of High Tech, Property and Consumer Goods Industry MarkPlus Inc Rhesa Dwi Prabowo mengatakan, ShopeePay adalah dompet digital dengan pangsa pasar dan frekuensi penggunaan tertinggi. Dompet digital tersebut terintegrasi dengan platform e-dagang Shopee.
“Selain karena perubahan kebiasaan belanja menjadi daring, integrasi ShopeePay dengan Shopee sebagai salah satu platform e-dagang terbesar bisa menangkap peluang dengan berbagai penawaran menarik sehingga nilai transaksinya terus meningkat,” katanya.
Faktor lain yang menarik minat orang menggunakan uang elektronik dalam dompet digital adalah kemudahan bertransaksi. Kemudahan itu mencakup langkah-langkah pembayaran yang perlu dilalui ataupun isi saldo dari perbankan.
Ketua Indonesia Fintech Society Mirza Adityaswara mengatakan, tekfin dapat menjadi solusi untuk memberi akses produk finansial kepada masyarakat, khususnya mereka yang tidak mendapatkan akses pada perbankan. Penggunaan tekfin yang pesat selama pandemi ini bisa membantu mencapai target akses inklusi serta literasi keuangan di masyarakat.
Kerja sama dengan pemerintah untuk melibatkan pelaku tekfin dalam program penyaluran perlindungan sosial diharapkan dapat ditingkatkan ke depan. Hubungan antara sektor tekfin dan perbankan juga diharapkan tidak lagi bersifat kompetisi, tetapi kolaborasi.
Mobil Listrik Tesla Bisa Dibeli Online
Prestige Motorcars menggandeng Tokopedia meluncurkan Tesla by Prestige Motorcars. Kolaborasi ini tercipta untuk memudahkan pencinta otomotif membeli mobil listrik Tesla secara online. Di sisi lain, kerjasama ini mendukung agenda pemerintah untuk mewujudkan lebih banyak populasi kendaraan listrik di Tanah Air.
Presiden Direktur Prestige Corp, Rudy Salim mengatakan, rencana Prestige berkolaborasi untuk meningkatkan kepekaan masyarakat terhadap mobil listrik, mengingat pemerintah sedang gencar memfasilitasi pengembangan kendaraan listrik, karena jauh lebih ramah lingkungan.
“Kebetulan mobil listrik yang kami perkenalkan di Indonesia adalah Tesla. Kami harap, dengan kemunculan Tesla di platform online, kesadaran dan penjualan mobil Tesla meningkat drastic,” jelas dia kepada KONTAN, Rabu (11/11).
Rudy bilang, dilihat dari sisi harga, Tesla juga relatif terjangkau dibandingkan mobil lain di Prestige Motorcars. Selain itu, ada beberapa keuntungan memiliki Tesla, seperti bebas aturan ganjil genap di Jakarta dan bebas pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB).
Meski dibeli secara daring, pelanggan bisa melakukan test drive di rumah saja. Untuk urutan prosesnya, konsumen membayar booking fee sebesar Rp 100 juta, setelah itu SPK akan diproses secara online.
Pilihan Editor
-
Awasi Distribusi Pupuk
31 Jan 2022 -
Waspada Robot Trading Berbasis MLM dan Ponzi
31 Jan 2022 -
BUMN Garap Ekosistem Kopi
31 Jan 2022 -
Pusat Data Kecerdasan Buatan Diluncurkan
04 Jan 2022









