Bunga
( 411 )Mulai Terkena Dampak Kenaikan Suku Bunga
Dunia usaha mulai kelimpungan setelah BI menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate. Kemarin, bank sentral kembali mengerek suku bunga sebesar 50 basis point (bps) ke level 4,75 %, demi menjangkar inflasi yang terus meningkat hingga mendekati 6 %. Wakil Ketua Umum Kadin Koordinator Bidang Maritim, Investasi, dan Luar Negeri, Shinta Kamdani, berujar pengusaha kini terimpit di tengah dinamika perekonomian yang tak menentu, yaitu tekanan inflasi, pelemahan kurs rupiah, hingga ancaman perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat penurunan permintaan dan konsumsi masyarakat.
Kenaikan suku bunga membuat biaya ekspansi usaha menjadi lebih mahal, terlebih ketika harus meminjam dana dari perbankan ataupun lembaga pembiayaan lainnya. Ombang-ambing kurs rupiah yang kini berada di atas Rp 15 ribu per dolar AS juga membuat pelaku usaha terpukul karena tingginya ketergantungan terhadap penggunaan dolar AS dalam perdagangan, khususnya impor. Terakhir, risiko kenaikan inflasi diprediksi masih akan terus berlanjut hingga awal tahun depan dan diprediksi akan menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi domestik.
“Hal terbaik yang bisa kami lakukan pada saat ini adalah mengelola dampak yang mungkin terjadi, dengan meningkatkan efisiensi, memastikan kelancaran arus kas, dan kecukupan modal,” kata Shinta. “Kami perkirakan dalam jangka pendek, 3-6 bulan ke depan akan ada semakin banyak sektor yang melakukan penyesuaian harga di pasar, karena efek domino dari kenaikan harga BBM.”. (Yoga)
Tahun 2023, Puncak Suku Bunga
Agresivitas penaikan suku bunga acuan bank sentral di berbagai negara akan terus terjadi dan mencapai puncaknya tahun 2023. Setelah menaikkan bunga acuan 50 basis poin, BI akan menyesuaikan kebijakannya dengan langkah The Federal Reserve (Fed) yang saat ini mematok suku bunga acuan di level 3,25%. Kami perkirakan FFR akhir tahun ini di level 4,50% dan pada tahun depan mencapai puncak tertinggi, 4,75%,” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Kamis (20/10). Langkah agresif menaikkan suku bunga acuan tidak hanya dilakukan The Fed, melainkan bank juga sentral negara lainnya. Kebijakan itu terpaksa diambil untuk mengendalikan inflasi akibat berlanjutnya ketegangan geopolitik yang memicu fragmentasi ekonomi, perdagangan, dan investasi. “Kenaikan inflasi memicu pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif di negara maju. Dampak rambatan fragmentasi ekonomi global diperkirakan dapat menyebabkan perlambatan ekonomi di emerging market,” ujar dia.
Kenaikan suku bunga The Fed akan mendorong makin kuatnya mata uang dolar AS, sehingga memberi tekanan atau depresiasi terhadap nilai tukar negara lain, termasuk Indonesia. Dalam RDG, Kamis (20/10), BI menaikkan BI7DRR untuk ketiga kalinya tahun ini sebesar 50 bps menjadi 4,75%. Bank sentral juga menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 50 bps menjadi 4% dan suku bunga Lending Facility sebesar 50 bps menjadi 5,5%. BI menyebut keputusan itu sebagai langkah front loaded, pre-emptive, dan forward looking untuk menurunkan ekspektasi inflasi yang saat ini terlalu tinggi (overshooting). Sementara itu, kalangan bankir dan ekonom yang dihubungi Investor Daily secara terpisah di Jakarta, Kamis (20/10), menyatakan, penaikan BI7DRR sebesar 50 bps menjadi 4,75% akan berdampak positif terhadap kinerja perbankan dan fundamental ekonomi nasional. Selain meredam pelemahan nilai tukar rupiah dan mengerem laju inflasi, penaikan BI7DRR akan menambah pendapatan bank dari surat berharga negara (SBN) akibat naiknya imbal hasil (yield). Kepemilikan bank di SBN saat ini mencapai Rp 1.620,71 triliun atau 31,77% dari total SBN senilai Rp 5.101,04 triliun. (Yoga)
Jalan Tengah Suku Bunga
Manuver Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan dan upaya fiskal yang dilakukan pemerintah terbukti manjur mengekang gerak inflasi sejauh ini. Kendati demikian, kalangan dunia usaha berharap, ke depan bank sentral tak agresif perihal kebijakan suku bunga. Menurut pengusaha, ancaman resesi di sejumlah negara perlu diperhitungkan dengan cermat agar sasaran ekonomi Tanah Air tetap terjaga. Apalagi, capaian ekonomi pada tahun ini cukup solid dengan realisasi pertumbuhan mencapai 5,44% pada kuartal II/2022. Apabila suku bunga terus dikatrol, maka berisiko menahan laju ekonomi. Demikian pula dengan upaya fiskal yang harus terus dilakukan, salah satunya melalui penebalan bantalan sosial maupun insentif lainnya. Kekhawatiran pelaku usaha itu bukannya tanpa sebab. Dalam 2 bulan terakhir BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis points (bps), untuk memastikan inflasi kembali pada sasaran 2%—4% pada kuartal III/2022. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B. Sukamdani, mengungkapkan nilai suku bunga saat ini sudah cukup ideal bagi pebisnis di Tanah Air. Menurutnya, apabila suku bunga di atas 4,25%, akan berdampak pada kinerja dunia usaha yang saat ini sudah tertekan akibat permintaan ekspor yang menurun.
Suku Bunga BI Bisa Naik 50 Basis Poin
Bank Indonesia (BI) berpeluang mengerek lagi suku bunga acuannya di bulan ini. Proyeksi itu sejalan dengan upaya bank sentral menjangkar inflasi dan menjaga pergerakan kurs rupiah.
Para ekonom yang dihubungi KONTAN memperkirakan, BI bakal mengerek suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin (bps) pada bulan ini. Jika prediksi itu terealisasi, BI 7-
Day Reverse Repo Rate
(BI7DRR) bakal naik ke level 4,75%.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede meyakini, kenaikan suku bunga acuan pada bulan ini merupakan langkah BI untuk menjangkar ekspektasi inflasi, dan merupakan langkah pre-emptive mengantisipasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
Ia berharap, kenaikan suku bunga acuan BI bisa menjaga daya tarik investasi dalam aset keuangan Indonesia.
Naikkanlah Bunga Untuk Jaga Rupiah
Para pelaku bisnis bisa memahami jika BI akhirnya harus menaikkan suku bunga acuan untuk mencegah capital outflow dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Di saat terjadi guncangan di pasar global dan gejolak moneter yang ditandai capital outflow dan depresiasi rupiah terhadap dolar AS yang cukup tajam, stabilitas ekonomi jauh lebih penting dibandingkan ekspansi bisnis. Jika The Federal Reserve (The Fed) menaikkan lagi 125 basis poin suku bunga acuan ke level 4,50% di akhir tahun 2023, BI perlu menaikkan lagi suku bunga acuan, BI 7-day reverse repo rate (BI7DRRR) dari 4,25% ke 5,50%. Selisih suku bunga kedua bank sentral sekitar seratus basis poin cukup aman untuk mencegah capital outflow dan depresiasi rupiah terhadap dolar AS. Dengan kondisi ekonomi yang stabil, pasar modal akan terus bergairah. Demikian dikemukakan narasumber yang dihubungi terpisah Investor Daily, Sabtu (15/10/2022) dan Minggu (16/10/2022).
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja mengatakan, bila The Fed terus menaikkan suku bunga acuannya secara agresif untuk mengontrol inflasi domestiknya, BI tidak punya pilihan selain ikut menaikkan BI7DRRR guna menciptakan kepercayaan yang lebih tinggi terhadap ekonomi nasional. “Ini memang akan menjadi tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi domestik. Tetapi, bila tidak dilakukan, kemungkinan situasinya akan lebih buruk, khususnya dalam mempertahankan arus FDI (investasi langsung asing) ke Indonesia, atau untuk memastikan tidak adanya capital outflow dalam skala yang lebih besar,” ungkap Shinta. Jika respons kebijakan BI dan pemerintah tepat, ke depan, rupiah dan IHSG yang kini tertekan sentimen kenaikan suku bunga Bank Sentral AS dan ancaman resesi global akan rebound, didukung fundamental ekonomi Indonesia yang masih solid. Ketum Kadin Indonesia Arsjad Rasjid mengatakan, anjloknya rupiah dan IHSG di BEI sepekan terakhir jangan menimbulkan kekhawatiran berlebihan, karena secara fundamental ekonomi Indonesia masih tergolong kuat,” ucap Arsjad kepada Investor Daily, pekan lalu. (Yoga)
Bunga KPR segera Disesuaikan
Perbankan nasional belum menyesuaikan suku bunga KPR meski BI telah menaikkan suku bunga acuan 75 basis poin ke level 4,25%. Namun, bulan depan, bunga KPR akan disesuaikan menyusul kenaikan bunga simpanan. Saat ini, bunga KPR berkisar 8-9%. Demikian dikemukakan sejumlah bankir nasional, Selasa (04/10), antara lain, Dirut PT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk Haru Koesmahargyo, Corporate Secretary PT BNI Tbk Okki Rushartomo, dan Direktur Consumer Banking PT Bank Mega Tbk Diza Larentie. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebelumnya mengungkapkan, selalu ada jeda waktu bagi industri perbankan melakukan transmisi penyesuaian bunga acuan ke bunga simpanan dan bunga kredit. Dalam keadaan normal, dibutuhkan waktu sekitar 3-6 bulan. “Penyesuaian bunga KPR paling cepat dikakukan pada akhir bulan ini atau awal bulan depan,” kata Direktur Utama Bank BTN Haru Koesmahargyo kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (04/10). Menurut dia, untuk rumah subsidi, kenaikan suku bunga KPR tidak akan berdampak kepada konsumen atau pun juga pengembang karena sudah ada subsidi dari pemerintah. Sedangkan untuk nonsubsidi pasti ada dampaknya.
Data OJK menunjukkan, suku bunga dasar KPR bergerak turun sejak April 2022 yang sebesar 8,77%, pada Mei turun menjadi 8,74%, Juni sebesar 8,66%, dan pada Juli turun menjadi 8,57%. BI sudah telah dua kali menaikkan BI7 day reverse repo rate (B7DRR) sepanjangahun ini, masing-masing sebesar 25 bps menjadi 3,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 22-23 Agustus, dan 50 bps menjadi 4,25% dalam RDG 21-22 September. Kalangan bankir mendukung langkah Bank Indonesia (BI) menaikkan BI7DRR menjadi 4,25%. Namun perbankan tidak serta merta melakukan transmisi suku bunga karena akan dilakukan secara selektif. Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menyebut BNI tidak langsung mengerek suku bunga untuk semua segmen, karena akan berbeda. “Terkait penyesuaian bunga di sisi kredit, akan dipertimbangkan dari dampak kenaikan bunga acuan terhadap kenaikan biaya dana serta proyeksi ekspansi bisnis BNI. Tentunya penyesuaian bunga kredit tersebut akan dilaksanakan secara selektif dan bertahap mempertimbangkan beberapa faktor termasuk demand dan kondisi usaha debitur,” tutur dia. Direktur Consumer Banking PT Bank Mega Tbk Diza Larentie menyatakan biasanya transmisi suku bunga kredit terjadi 1-2 bulan tergantung masing-masing bank. (Yoga)
Inflasi dan Suku Bunga Membayangi Manufaktur
Kinerja sektor manufaktur terancam kembali redup gara-gara kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Lonjakan inflasi hingga kenaikan suku bunga akan menjadi batu sandungan bagi sektor yang berkontribusi besar terhadap produk domestik bruto (PDB) tersebut. Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia berdasarkan data S&P Global pada bulan September 2022 mencapai level 53,7. Posisi ini naik dibanding hasil per Agustus 2022 yang berada di angka 51,7.Ekonom S&P Global Market Intelligence, Laura Denman mengatakan, penguatan sektor manufaktur Indonesia tersebut didorong kondisi permintaan yang lebih baik. Kondisi ini mendorong kenaikan signifikan pada permintaan hampir selama satu tahun. Beberapa perusahaan, mengkhawatirkan potensi tekanan inflasi ke depan dan dampaknya terhadap perekonomian. Badan Pusat Statistik mencatat untuk bulan September laju inflasi mencapai 1,17% dalam basis bulanan, dan 5,95% jika dihitung year-on-year.
DAMPAK KEBIJAKAN BI : REI KHAWATIR PROPERTI TERTEKAN
Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia mengkhawatirkan laju kebangkitan industri properti tertahan pada tahun depan setelah Bank Indonesia menaikkan 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 50 basis poin menjadi 4,25%.
Wakil Ketua Umum Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI), Hari Gani mengatakan industri properti kembali menghadapi ancaman penurunan kinerja akibat kondisi makroekonomi, padahal industri properti komersial pada tahun ini baru saja bangkit dari tekanan pandemi Covid-19.Untuk suku bunga deposit facility naik menjadi 3,5% dan suku bunga lending facility naik menjadi 5%. Pada Agustus, suku bunga BI naik untuk pertama kalinya sejak November 2018.“Kenaikan suku bunga ini tidak langsung menyebabkan kenaikan bunga KPR, perlu waktu sekitar 6 bulan. Kelihatannya dampaknya terasa mungkin di awal tahun depan,” katanya kepada Bisnis, Selasa (27/9).
Berdasarkan paparan APBN Kita oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani, ancaman resesi ekonomi makin kuat akibat pergolakan ekonomi global yang terjadi.
Imbal Hasil Reksadana Pasar Uang Kian Mengembang
Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin (bps) menjadi angin segar bagi reksadana pasar uang. Reksadana ini diperkirakan bisa menghasilkan imbal hasil lebih tinggi.
Head of Fixed Income Avrist Asset Management Zaki Aulia menyebutkan, tren kenaikan bunga ini akan menyeret bunga deposito dan obligasi. Efeknya imbal hasil reksadana pasar uang meningkat. "Ke depan kami memilih memperbesar penempatan dana di obligasi korporasi pasar uang dengan rating minimal AA-," kata dia, kemarin.
Avrist menargetkan imbal hasil reksadana pasar uang bisa di atas 3% pada akhir 2022. Di tahun depan, Zaki memperkirakan reksadana pasar uang bisa memberikan imbal hasil 3,25%-3,5%.
Head of Fixed Income Trimegah Asset Management Darma Yudha bahkan menyebut tahun depan imbal hasil reksadana pasar uang akan lebih baik dibandingkan tahun ini, karena kenaikan suku bunga BI. Per Kamis (22/9), reksadana pasar uang Trimegah, yakni TRIM Kas 2, memberikan imbal hasil 2,54%. Darma bilang ada potensi kenaikan return 1% sampai akhir 2022.
Bunga Tak Segera Naik, Bangkit Optimis KPR Masih Prospek
JAKARTA, ID – Kalangan bankir optimistis penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) tahun ini tetap tumbuh, karena bank tidak akan langsung merespons penaikan suku bunga acuan (BI 7-Day Reverse Repo Rate/BI7DRR) dengan menaikkan suku bunga kredit. Perbankan membutuhkan waktu 3-6 bulan untuk mentransmisikan kenaikan BI7DRR ke dalam suku bunga kredit. Bank pun memberikan suku bunga promo KPR yang menarik. Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Kamis (22/9) menaikkan BI7DRR sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 4,25% yang merupakan kali kedua penaikan suku bunga acuan tahun ini. Sebelumnya (23 Agustus), BI menaikkan BI7DRR sebesar 25 bps menjadi 3,75%. Sementara itu, data BI mencatat penyaluran KPR per Agustus 2022 mencapai Rp 614,7 triliun atau tumbuh 7,4% secara year on year (yoy). Dihubungi secara terpisah, Corporate Secretary PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Aestika Oryza Gunarto mengatakan bahwa kinerja bisnis KPR masih tumbuh positif memasuki kuartal ketiga ini. “Per Agustus 2022 pertumbuhan KPR BRI year to date sebesar 7,66% dan year on year sebesar 10,45%,” ucap Aestika. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Waspada Robot Trading Berbasis MLM dan Ponzi
31 Jan 2022 -
Awasi Distribusi Pupuk
31 Jan 2022 -
Bahaya Pencucian Uang dari NFT
30 Jan 2022 -
Ikhtiar Mengejar Pengemplang BLBI
29 Jan 2022









